Konstitusionalisme ala Indonesia

♠ Posted by Aryni Ayu in

Harapan paling mendasar masyarakat sejak negeri ini terbentuk adalah terbentuknya kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil dan makmur sesuai mukadimmah UUD 1945

            Melihat sejarah panjang bangsa, tak pelak berbagai masa telah dilewati. Dari awal masyarakat ini belum mengenal nama Indonesia, yang terbiasa mempergunakan kata ‘nusantara’ gubahan Gadjah Mada, sebagai tanda kekuasaan nagari Majapahit. Sampai Indonesia berada dalam masa kekinian. Negeri yang terdiri dari lebih dari 2500 bahasa lokal, dan lebih dari 300 suku ini, memiliki hubungan kental antara adat istiadat (customs), kepercayaan, dan kebiasaaan masyarakat yang telah lama dibina. Begitu pula dengan berbagai tata aturan yang diterapkan. Menurut seorang antropolog Jerman, tiada etnis rendah etnis tinggi, kesemua dari mereka pasti memiliki budaya yang didalamnya terdapat aturan-aturan. Konon, nenek moyang Indonesia adalah orang-orang ahli pembuat budaya di masanya. Budaya berupa alat-alat ekonomi, reliji, kebiasaan, khususnya dalam hal tata perilaku yang disampaikan dalam bentuk budaya lisan (oral tradition). Menurut ilmu ketatanegaraan bentuk budaya lisan dapat dikategorikan sebagai peraturan tidak tertulis dan awal dari konstitusionalisme Indonesia.

            Konstitusionalisme. Banyak para muda saat ini yang mungkin lupa apa itu arti dari konstitusionalisme. Jangankan tahu, pernah dengar saja mungkin hanya beberapa orang bahkan mungkin juga tahu setelah membaca tulisan ini. Sisanya hanya memikirkan pacar, gadget, atau sibuk bersikap ‘semau gue’ (just kid). Kembali pada konstitusionalisme, sekiranya menjadi tema besar untuk mengatasi segala persoalan masyarakat dunia. Konstitusionalisme menurut Aristoteles dan Plato (dalam bukunya ‘Republica’) berasal dari kata politiea (Yunani) dan Constitution (Inggris) adalah aturan-aturan yang diciptakan manusia sejak terlahirnya suatu kebudayaan, melekat dalam adat istiadat. Konstitusionalisme disebut-sebut memiliki usia jauh lebih tua dari terbentuknya sebuah negara itu sendiri. Alasannya, sekumpulan orang menyebut dirinya sebagai anggota dari masyarakat/etnis tentu memiliki rule of law yang diciptakan untuk menangani berbagai permasalahan sosial.
Sebagai contoh, permasalahan otoritarianisme (diktator) kerajaan Perancis pimpinan Napoleon Bonaparte dinilai memperkosa hak asasi manusia akibat hedonisme pemimpin, perdagangan budak yang semakin menjadi, dan penghukuman tanpa proses membuat rakyat berani melakukan revolusi menumbangkan kekaisaran Bonaparte dan menghasilkan Déclaration des droits de l'homme et du citoyen tahun 1789. Sebuah deklarasi kemerdekaan untuk hak asasi manusia. Beberapa tahun sebelumnya, Amerika Serikat di tahun 1776 menuntut kemerdekaan dan hak asasi manusia, tertuang dalam Declaration of Independence, yang menandai diterapkannya demokrasi ke seluruh dunia. Magna Charta Inggris 1215 juga menjadi rujukan bagi penerapan konstitusionalisme di berbagai dunia.
Indonesia juga tak mau ketinggalan. Meski konstitusionalisme modern belum terselenggara lebih dulu dibanding negara-negara maju, namun ruh dari konstitusionalisme telah terlihat dari kitab-kitab saduran para empu (guru/penulis) yakni Kitab Sutasoma karangan Mpu tantular salah satunya berisi tentang semboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Mangrwa yang berkaitan dengan unsur pemersatu untuk mendirikan sebuah nation state (negara kebangsaan). Dan kitab Negarakretagama karya Mpu Prapanca yang membuat Soekarno mengambil unsur-unsur penting tentang pancasila karma untuk membentuk pancasila sebagai the way of life bangsa Indonesia.

Konstitusionalisme Indonesia tentu dibatasi oleh sebuah konstitusi baik itu codified constitution (aturan tertulis) ataupun non-codified constitution (aturan tidak tertulis). Bagi bangsa ini, aturan-aturan negara dengan sistem modern tak bisa lepas dari sejarah pembentukan undang-undang yang pertama kali dilakukan sejak diproklamasinya kemerdekaan. Penggunaan UUD 1945 (1945-1949), UUD 1949 (1949-1950), UUD 1950 (1950-1959), dan UUD 1945 (1959-sekarang), kesemuanya merupakan aturan/undang-undang tertulis berdasarkan demokrasi konstitusional yang diambil dari adat istiadat bangsa Indonesia sejak pertama kali membentuk kebudayaan, dan mengalami pembenahan yang terus-menerus karena permasalahan historis karena di tahun 1945-1950 Belanda masih turut campur tangan dalam sistem kenegaraan negeri ini. Hingga undang-undang Indonesia kembali pada UUD 1945 setidaknya diamandemen sebanyak empat kali untuk menjawab berbagai permasalahan yang tengah dihadapi bangsa ini.

Dari permasalahan human trafficking, pelanggaran terhadap asasi anak, diskriminasi etnis Rohingya yang dilempar-lempar begitu saja dari Myanmar hingga akhirnya Indonesia yang harus menampung, serta konflik Timur tengah, kesemuanya menuntut peran indonesia sebagai warga dunia, nyatanya belum terdapat penyelesaian yang kongkrit. Harapan paling mendasar masyarakat sejak negeri ini terbentuk adalah terbentuknya kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil dan makmur sesuai mukadimmah UUD 1945. Semoga konstitusionalisme Indonesia mampu menjawab berbagai tantangan dan menjadi negara seutuhnya disegani bangsa-bangsa lain.



Bayangan Orang Lain

♠ Posted by Aryni Ayu in

Menjadi orang lain, bukan jawaban atas kebahagiaan. Tetapi menjadi diri sendiri adalah hal yang patut diperjuangkan, apapun bidangnya, kita semua sama, manusia!



            Menjadi seorang wanita sukses, cerdas, dan kepribadian tentu menjadi dambaan setiap insan. Siapa yang tidak ingin dipuji, diagungkan, dan namanya selalu diperbicangkan oleh semua orang? Tentu hampir semua mengimpikannya. Jika orang tua sebagai orang terdekat kita terkadang tidak bosan-bosannya memberi wejangan bahwa kita harus sukses, tidak peduli apa yang menjadi keinginan kita. Terkadang, disitulah nilai dari seorang manusia mulai hilang, digantikan oleh seorang robot. Yang akan selalu berusaha menyenangkan orang lain, menuruti perintah bahkan jika perintah itu menghilangkan identitasnya sama sekali.

            Tidak ada yang salah memang tentang keinginan tiap-tiap orang untuk sukses. Di dalam ajaran agama pun diajarkan agar seseorang memiliki kemampuan rohani dan intelektualitas yang seimbang. Dalam ilmu psikologis, manusia selaku insani memiliki delapan kecerdasan yang masing-masing tidak sama antar satu dengan lainnya. Maka, manusia dituntut untuk mampu menghadapi berbagai tantangan, dan terus maju kearah kesempurnaan. Tentu hal tersebut harus didukung oleh para rekan terdekat seorang manusia. Tetapi, sangat jarang orang tua ataupun orang terdekat kita yang mengajarkan tentang pentingnya menjadi diri sendiri. Bagaimana mengolah keterampilan diri dengan tanpa dan harus menjadi orang lain. Bukankah manusia adalah mahluk nyata, berperasaan, logis, juga cerdas? Jadi untuk apa menjadi bayangan orang lain?

            Bahkan anak kembar berfisik sama, tak pernah memiliki tingkah, pola, dan pemikiran yang sama. Hari ini, seorang ibu dari seorang temanku ‘Stephani’ sedang bercerita tentang betapa suksesnya anak rekannya yang menjadi seorang pramugari. Dia seorang wanita 24 tahun dengan pacar yang selalu berganti-ganti, dari dokter, manajer hotel, sampai direktur sebuah perusahaan. “Ibu sangat bangga nak dia mampu membiayai biaya umroh untuk kedua orang tuanya, tabungannya 150 juta”, ujar ibunya pada Stephani. Bla..bla...bla, begitulah Stephani mendengar ibunya berbicara, yag sejak duduk di bangku sekolah dasar selalu membicarakan kehebatan anak orang lain. Dia tahu bahwa dirinya bukanlah seseorang yang bisa menyamai kehidupan anak dari rekan ibunya. Karena Stephani bukan orang yang sama, memiliki kehidupan sama seperti orang lain, atau mencoba melakukan imitasi berlebihan sampai merugikan dirinya sendiri hanya untuk menuruti gengsi.


Mungkin tidak hanya Steph saja yang mengalami hal seperti ini. Di berbagai belahan dunia lainnya, seseorang begitu menderita karena mencoba menjadi bayangan orang lain. Bagi Steph, pekerjaannya sebagai pengajar sudah membuat dirinya bahagia, meski harus perlu perjuangan panjang. Menjadi orang lain, bukan jawaban atas kebahagiaan. Tetapi menjadi diri sendiri adalah hal yang patut diperjuangkan, apapun bidangnya, kita semua sama, manusia! 

Sepatu Heels Cinderella

♠ Posted by Aryni Ayu in


Aku membayangkan bisa menjadi pembicara dalam sebuah seminar dengan memakai sepatu heels Cinderella, aku lebih memiliki energi untuk melakukan itu

            I love Shoes! Well, sepatu mungkin hanya sepasang alas kaki untuk sebagian orang. Tapi untuk wanita kebanyakan, sepatu memberikan arti lebih. Sepatu membuat wanita ingin selalu bergaya, dan berekspresi sesuai karakternya. Ada yang suka sekali dengan sneaker bagi para petualang atau sedikit bergaya boyish, flat bagi pecinta sepatu datar, dan heels untuk mereka yang ingin tampil seksi dalam sebuah pesta. Bagi wanita sepertiku, sepatu heels layaknya barang arkeologi yang tiada tandingannya. Mereka harus selalu dibersihkan, dirawat, kalau perlu diberi parfum agar nuansanya seksinya tetap terasa. Apalagi jika ditambahkan dengan gaun cocktail super glamour, aku serasa berada di red carpet grammy awards. Banyak wanita di dunia ini rela menghabiskan waktu berjam-jam di pusat perbelanjaan hanya untuk sepatu-sepatu yang chic, glamour, dan kalau bisa harganya terjangkau. Apalah arti uang banyak tanpa sepatu yang chic dan glamour? Semua itu hanya bisa terbayar jika punya sepatu bergengsi .
Salah satu sepatu paling berkarakter di www.shopius.com adalah Cinderella-nya Jimmy Choo. Siapa yang tidak tahu dengan Cinderella? Salah satu sosok perempuan paling beruntung di dunia. Dia menjadi wanita paling cantik dan baik yang dinikahi oleh seorang pangeran. Cerita Cinderella makin diminati karena sepatu kacanya tertinggal di tangga kerajaan, membuat sang pangeran berkeliling seantero kota untuk mencarinya. Mana kaki yang cocok, itulah yang akan dijadikan sang permaisuri bagi pangeran. Wanita mana yang tidak ingin meniru keglamoran Cinderella?
            Sampai sekarang, cerita cinderella masih sangat hidup di kalangan masyarakat. Wanita modern pun tak pernah ketinggalan untuk bermimpi seperti Cinderella. Cantik, baik hati, pintar, dan dinikahi oleh pria paling tampan dan kaya. Hampir semua wanita berharap hidupnya berlangsung seperti di negeri dongeng. Kesederhanaan membuat semuanya indah. Cinderella salah satu inspirasi abadi yang tak pernah lekang oleh jaman.
Terinspirasi dari ketenaran Cinderella, maka Jimmy Choo tidak ketinggalan untuk mengeluarkan sepatu heels sama indahnya dengan Cinderella. Maka, itu sangat memberikan mimpi bagiku jika ada seseorang yang bersedia untuk memberikan sepatu Cinderella kepadaku. Bukan hanya aku, mungkin banyak wanita lain yang berharap memiliki sepatu ini. Sepatu berjenis heels itu terlihat seksi, menarik, dan membuat wanita sepertiku bahagia memakainya. Sepatu Cinderella ini telah memberi impian bagiku untuk melakukan sesuatu hal terbaik bagi banyak orang.
            Bukankah wanita akan terlihat lebih anggun jika memakai heels kesayangannya? Apalagi sepatu heels bermerek Cinderella ini, aku bagaikan puteri kerajaan yang siap dipinang oleh pangeran. Bayangkan saja, andai, andai, dan andai memiliki sepatu ini aku akan sangat berterima kasih pada Tuhan karena aku punya sepatu bergengsi. Sepatu heels best seller, yang harganya selangit. Kebanyakan hanya dimiliki kalangan atas termasuk artis-artis Hollywood yang hanya butuh sepenggal dari harta untuk membelinya. Untuk kelas menengah kebawah, sepertiku mustahil. Bahkan gaji beberapa bulan mungkin tidak akan cukup membeli sepatu ini.
Tetapi itulah aku, aku sangat menginginkannya, lebih daripada aku butuh pria saat ini. Mengkoleksi sepatu sama halnya dengan merawat hewan kesayangan. Terpikir didalam naluriku, tanpa sepatu yang cantik, maka wanita tidak akan pernah terlihat seperti wanita. Inner beauty akan tampak lebih terlihat jika dipoles dengan heels yang mewah. Wanita tidak membutuhkan apa-apa, selain penghargaan yang tinggi terhadap pendidikan dan fashion. Karena itulah sangat penting bagiku untuk memiliki heels ini. Selain terlihat supermodis, pemikiran kita pun akan berbeda daripada sebelumnya, malah akan berpikir lebih maju.
            Fashion adalah sebuah pilihan wanita modern saat ini. Bukan menunjuk pada kehidupan yang hedonis, melainkan tubuh dan jiwa kita akan lebih bersemangat jika kita memiliki sesuatu hal yang sangat diinginkan. Aku membayangkan bisa menjadi pembicara dalam sebuah seminar dengan memakai sepatu heels Cinderella, aku lebih memiliki energi untuk melakukan itu. Karena aku tahu, Tuhan akan melindungiku melalui sepatu itu. Sepatu yang membawa inspirasi, semangat, dan energi positif untuk bisa berguna bagi orang lain. Banyak orang menginginkan Cinderella shoes. Tetapi aku lebih menginginkannya. Percayalah.


             

Perang Dingin Tahun 1950, Masih Berlaku!

♠ Posted by Aryni Ayu in

                                                “Konflik Antara A.S dan Korut”

.....karena sudah rahasia umum semua bidang kehidupan manusia dikuasai oleh negara paling adidaya. Konflik perang dingin yang terjadi sejak 1950, harus segera menemui ajalnya!

“Waorenk Soto khas Mak Suri”, “Toko Kelontong Chiak kian Wie”, di depannya adapula seorang laki-laki hitam bertubuh kecil yang berjualan es tebu, dan beberapa laki-laki perempuan mengitari tempat perjudian sekitar pasar. Itulah sebagian kecil pemandangan yang bisa dilihat generasi muda melalui foto-foto bersejarah yang terlukis sekitar tahun 1930 dan tahun 1950-an. Belum lagi, disana juga terpampang para pribumi yang sedang meniti batik selama bertahun-tahun, menyusun bata untuk para pedagang tiongkok. Bukti, bahwa mereka sedang memperjuangkan hidup di tengah seluk beluk penjajahan bangsa-bangsa kapitalis. Bagaimana tidak, jika di dunia bagian lain, sekumpulan kapitalis dan separuh komunis, sebangsa Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Jepang, Jerman, Uni Soviet, beserta antek-anteknya sedang mempersiapkan perebutan kekuasaan. Siapa yang paling berkuasa, siapa yang paling banyak mempengaruhi para penghuni tanah jajahan, maka dialah sang adidaya.
Di tahun 1950, ketika bangsa ini baru saja merdeka dari pontang-panting penjajahan sang Nederland, saudara-saudara Indonesia yang ada di asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Tengah sedangkan merasakan hal yang sama. Selepas perang Dunia 1 dan perang Dunia 2 baru saja menemui ajalnya, dengan kemenangan di tangan kapitalis pimpinan Amerika Serikat. Ada satu negara adidaya lainnya yang siap menabuh genderang untuk memonopoli kekuasaan dunia dan ini membuat negara-negara di Asia harus serba bingung memilih untuk ikut “siapa” dalam menata masa depan negaranya. Karena jika tidak, negara jajahan ‘baru merdeka’ tersebut harus siap mengalami kesulitan diplomatis ketika ingin duduk sejajar dengan negara-negara maju. Untungnya, Indonesia di era pemerintahan Soekarno ini dengan tegapnya bergabung dengan gerakan Non Blok.
Ketika melihat pemberitaan bahwa Amerika Serikat akan bukan lagi menjadi negara adidaya yang sepenuhnya adidaya, maka peperangan dibelakang layar pentas dunia mulai terjadi. Persaingan antara negara-negara ex komunis seperti Cina, Korea Utara, dan Rusia dengan ex kapitalis pimpinan Amerika Serikat semakin tampak di permukaan modernisasi. Hal ini berawal dari perang dingin yang konon secara tertulis melalui perjanjian dikatakan ‘selesai’ pada tahun 1990, namun nyatanya ini masih memanas dengan adanya ancaman-ancaman nuklir yang dilontarkan oleh Korea Utara. Bebarapa mingu lalu, tepatnya pertengahan Desember 2014, penyadapan informasi terkait dengan desain, bahan, dan film yang dimiliki oleh “Sony Pictures” yang merugikan miliaran dollar milik A.S. dengan sekutunya Korea Selatan dituduhkan kepada Korea Utara. Keduanya saling melempar tuduhan. Obama menuduh Korut sebagai dalam peretasan yang wajib dikenai sanksi di pentas PBB. Pemerintahan Korut menuding A.S. sebagai ‘monyet’ yang berani menyebarkan film tidak benar tentang Korut. Cina, sebagai kawan terbaik Korut, menegur A.S. karena tidak menghargai pemerintahan negara lain dengan menayangkan film tersebut (Media Massa, 14-20 Desember 2014).
Hingga detik ini, salah satu pihak mengeluarkan statement bahwa tidak menutup kemungkinan akan muncul Perang Dunia III jika berani menganggu kedaulatan negara lain. Menurut, Leo dalam bukunya “Politik Luar Negeri”, jika negara A berkuasa, negara lain harus mengikut pada negara tersebut, namun jika yang berkuasa bukan hanya tunggal, maka akan terjadi perebutan kekuasaan dengan cara yang lebih modern. Tidakkah bisa dicermati, masing-masing sekutu negara komunis dan kapitalis dua-duanya tidak ingin ada satu pemerintahan mendominasi. Maunya, siapa yang paling kuat, dialah sang Adidaya. Tentunya, sikap negara-negara berkembang tak bisa sembarangan kepada dua-duanya, karena sudah rahasia umum semua bidang kehidupan manusia dikuasai oleh negara paling adidaya. Konflik perang dingin yang terjadi sejak 1950, harus segera menemui ajalnya!


Intrik Politik Era Istanasentris

♠ Posted by Aryni Ayu in
Kini, cara tersebut tidak ditinggalkan begitu saja, bahkan dikembangkan lebih canggih melalui strukturisasi jabatan

14098790731048657797
Sangkakala era modern menandai dimulainya waktu hidup manusia untuk selalu rasional. Tidak sedikit anak muda jaman sekarang sudah mulai ‘lupa’ akan identitas bangsanya, juga pikun ketika ditanya sejarah bangsanya. Ketika kebesaran Majapahit dan Sriwijaya diceritakan kepada mereka, tak pelak seperti ‘dongengan’ masa kuno yang bisa menyebabkan kantuk. Hanya sedikit diantara anak muda, antusias mendengar berbagai kisah raja-raja yang dianggapnya terselubung. Padahal politik masa kini yang demikian rumit itu merupakan warisan dari raja-raja kuno, kepemimpinannya pun tak jauh beda, bahkan tanpa handphone, siaran teleisi, foto-foto terpajang di berbagai sudut kota pun, raja di masa kuno itu sanggup mengontrol daerah-daerah di Nusantara yang jauh ‘mblusuk’ sekalipun. Pergantian tahta yang menyebabkan pertumpahan darah dalam Perang Paregreg1, juga peninggalan ‘mereka’ di masa kini yang selalu mengorbankan banyak orang. Tak dipungkiri, intrik politik tak pernah surut dimakan jaman, apalagi kekuasaan selalu menggiurkan. Benarkah warisan politik di masa kini seluruhnya merupakan peninggalan di masa kuno? Lihatlah, karena sejarah selalu berbicara.
Sang Bhatara Kertajaya di singgasananya terlihat sangat lunglai, geram mendengar kepemimpinan Bhre Tunggul Ametung di Tumapel. Dirinya sebagai penguasa Daha sungguh tidak ingin disaingi, apalagi ada seseorang yang lebih sakti mulai menguasai rakyat. Warisan Maharaja Airlangga (raja Kahuripan) terdiri dari Daha dan Tumapel, dengan luas tepatnya dari Surabaya hingga Lumajang sekarang, harus seluruhnya menjadi kuasa Kertajaya. Wataknya yang serba keras dan sombong membuatnya berunding dengan para Dhyaksa2, Resi, dan para penasehat kerajaan untuk segera menyingkirkan Bhre Tunggul Ametung. Tidak hanya Kertanegara saja yang ingin menghabisi nyawa sang Tunggul Ametung, tetapi Ken Arok yang dulunya hanya seorang anak selir dan tinggal di hutan karena dibuang oleh kerajaan. Kini, dirinya pun ingin merebut Tumapel beserta istrinya Sang Tunggul Ametung, Ken Dedes. Konspirasi dimulai.
Ken Arok dengan lincahnya berkenalan dengan penguasa Tumapel, kemudian melirik Ken dedes yang menurut Kitab Pararaton diceritakan sangat cantik, gemulai, yang menarik hati Ken Arok. Ken dedes diperistrinya yang juga kemudian memperistri Ken Umang sebagai [2]selirnya nanti saat akan mendirikan kerajaan Singasari. Tidak ada yang mengetahui darimana asal Ken Umang. Tapi yang jelas, perempuan ini membantu Ken Arok untuk membunuh Sang Bhre Tunggul Ametung dengan keris Mpu Gandring. Tumapel pun tumbang dibawah kuasa Ken Arok. Begitupun Daha pimpinan Kertajaya, ikut dihabisi pula oleh Ken Arok yang nantinya dirombak menjadi Kerajaan Kadiri3. Demi kekuasaan, kesewenangan pun harus dilakukan, persis seperti yang dipesankan oleh Karl Marx.
Intrik-intrik seperti itu tidak saja terjadi di satu kerajaan, bahkan Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan penyatu nusantara kedua setelah Sriwijaya pun pernah melakukannya. Seperti saat Hayam Wuruk memberikan tanah lungguh kepada Mahapatih Gajdah Mada seluas wilayah Probolinggo, yang juga sebagai tempat tinggal terakhirnya, tidak lain bertujuan untuk mengusir Mahapatih Gadjah Mada dari singgasana Keraton Majapahit selepas perang Bubat. Disinyalir, mahapatih membuat kecewa Hayam Wuruk karena telah bersekongkol membunuh calon pengatinnya, yakni Dhyah Pitaloka, putri dari Prabu Siliwangi4. Intrik Politik kerajaan kuno yang terorganisir. Kini, cara tersebut tidak ditinggalkan begitu saja, bahkan dikembangkan lebih canggih melalui strukturisasi jabatan. Jabatan diberikan atau dicabut tergantung pada titah sang penguasa, atau pihak yang ingin berkuasa. Hingga para elit pun sudah mulai ‘pikun’ ingin membela rakyat atau pemimpin. Maka, belajar bijaklah dari Sejarah.


[1] Perang Paregreg, perang perebutan tahta antara keturunan Majapahit
2 Dhyaksa, pejabat hukum masa kerajaan
3 dalam Buku “Sejarah Kerajaan Singasari”, 2014
4 dalam Buku “Tafsir Kitab Negakretagama”, 2007

Opendeur Politiek 1870, Embrio Kapitalisme Nusantara.

♠ Posted by Aryni Ayu in

Jadilah Nusantara sebagai ladang kapitalisme besar-besaran, yang memeras tenaga rakyat secara habis, untuk hasilnya dinikmati para pemodal asing


            Kala itu masih jaman kalabendu, belum ada mbah google, instagram, atau kicauan burung ala twitter, tempat dimana manusia memfungsikan dirinya sebagai ratu atau pangeran dengan foto jepret sana-sini yang siap diekspos kapan saja. Jaman Kalabendu, atau jaman edan kata resi pandhita era tahun 18-an, yang digambarkan manusia penuh kesenangan ala duniawi tanpa pikir panjang lagi tentang keberadaan Tuhan. “Barang siapa tidak ikut edan, dia tidak akan dapat apa-apa!” salah satu isi dari serat Kalatidha karya Ranggawarsito. “Tanah Jawa diramalkan akan rusak kala ‘balung wesi’ sudah menghiasi sebagian besar kehidupan kaum inlander!”, begitu pula ramalan Jayabaya, sang Raja dari Kediri. Balung wesi digambarkan sebagai kehidupan yang mulai modern, permesinan dari kereta-kereta, otomobil kuno, dan pabrik-pabrik industri mulai didirikan menghiasi kehidupan tanah Jawa yang menandai dimulainya sifat-sifat manusia yang juga modern, tanpa komando dari Tuhan, tepat sejak tempo 1870. Disinilah pemiskinan besar-besaran terjadi sepanjang sejarah Nusantara, bahkan hingga waktu yang tidak ditentukan.
            Tahun 1850, kaum liberal tengah duduk di singgasana parlemen Eropa bersaing dengan kaum konservatif, semacam golongan tua dan golongan muda dalam versi Indonesia. Dua kaum ini sedang ‘bersendiko gusti’ memperjuangkan nasib negaranya yang konon sedang gencar menikmati Revolusi Perancis 1799. Sebuah revolusi yang mampu mengubah pemikiran orang-orang Eropa tentang betapa pentingnya mereka melepas penjajahan kuno, alias gold, glory, apalagi gospel (perluasan jajahan karena agama) dianggap sudah tidak penting lagi bagi mereka, karena Tuhan sudah dianggap tidak campur tangan dlama urusan politik. Apalagi raja bukan lagi perwakilan Tuhan yang bisa dengan seenaknya menerapkan sistem merkantilisme, yakni hasil kerja keras rakyat harus diberikan kepada raja. Revolusi ini menjadi trending topic dan segera saja menyebar di kalangan penjajah Eropa. Imperialisme Kuno sudah berlalu.
Kaum liberal, menginginkan kebebasan di bidang ekonomi harus segera dilaksanakan, pemerintah tidak diperkenankan mencampuri urusan perekonomian negaranya termasuk di daerah jajahan. Orang-orang berpemikiran bebas dan sangat gemar kapitalis ini kemudian memenangkan peradilan di parlemen, dan membuat dinasti penjajahan baru berjudul “Imperialisme Modern”. Apalagi Nusantara yang saat itu tidak tahu menahu urusan politik pemerintahan Belanda, yang mereka tahu hanyalah bekerja terus menerus sampai tulang tinggal kulit, bekerja sebagai kuli di tanah sendiri, nyatanya tanah pribumi segera dibuka untuk umum di tahun 1870, alias penjajahan massal mulai disahkan diatas Bumi Nusantara yang dinamakan sebagai “Opendeur Politiek” atau “Politik Pintu Terbuka (ekonomi liberal)”.
Negara-negara berideologi kapitalis dipersilakan masuk menuju pintu gerbang “Pulau Harta Nusantara”, dengan fasilitas penanaman modal di Indonesia di kepulauan mana saja seenak jidat sang Penjajah, diantaranya Sumatera (swarnadwipa), Jawa (Jawadwipa), Borneo (Kalimantan), Bali, dan Sulawesi. Amerika Serikat, Belgia, Inggris, Jerman, Denmark, dkk, diperbolehkan menanam modal untuk panen rempah-rempah yang digunakan untuk perusahaan farmasi dan industri di Eropa, kemudian emas, tembaga, dan bahan lainnya, diperbolehkan untuk dikembangkan. Tentu saja Belanda sebagai tuan rumah Nusantara tetap mempekerjakan paksa pribumi untuk memuaskan keuntungan ekonomis yang besar bagi kekuatan industri Eropa. Bahkan, kumpeni telah menetapkan Agrarist Wet (penggunaan tanah rakyat untuk pemodal), Poenale Sanctie (kerja paksa kontrak), dan Koeli Ordonantie (hukuman bagi pelanggar kerja paksa), untuk mengikat rakyat Indonesia agar tidak lepas dari pemerasan paling modern sepanjang abad-21. Importir barang kebutuhan rakyat yang dilakukan oleh Belanda seperti : kain Eropa, alat-alat Industri, dan kebutuhan hidup sehari-hari bagi rakyat yang tinggal di pedesaan, mengakibatkan usaha lokal pribumi tidak berkembang, dan mengakibatkan kemerosotan perekonomian sebesar 80% di tahun 1895.

Jadilah Nusantara sebagai ladang kapitalisme besar-besaran, yang memeras tenaga rakyat secara habis, untuk hasilnya dinikmati para pemodal asing. Tidak jauh berbeda dengan keadaan pribumi yang sekarang menjadi bangsa, dari kepulauan Sumatera hingga Irian Jaya tidak dapat dipungkiri telah memiliki berbagai saham milik asing sebesar 600 saham tercatat dari berbagai negara. Benarkah sejarah yang telah dilakukan para ‘kompeni’ berulang kembali bahkan oleh ‘kompeni lokal?’ Satu hal penting yang tanpa disengaja menawarkan pintu masuk pada kapitalisme, benarkah semuanya berasal dari sejarah? Ataukah generasi hari ini yang sulit sekali melawan lupa pada sejarah? Anda yang memutuskan!

Genosida 1965-1966, Tak Ubahnya Penjajah Belanda!

♠ Posted by Aryni Ayu in

Bangsa ini sudah cukup menderita karena ulah para penjajah. Jika sekarang penjajah berganti kulit berwarna cokelat, maka dialah penjajah yang lebih mengerikan dibanding penjajah kulit putih


            Tahun 1965-1966, menjadi masa paling kelam bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Tanah Nusantara yang dulu dinamai Gajah Mada sebagai tanah paling subur dan makmur dibawah payung Majapahit, mulai dilanda kebarbaran, tak ubahnya sikap kejam penjajah Belanda. Apa yang sedang terjadi? Sampai-sampai dunia internasional, mancanagara sebutan raja-raja Hindu1, turut meliput duka mendalam kejadian 1965-1966. Hingga detik ini, melewati dekade yang tengah mengglobal, masyarakat masih saja tidak tahu sepenuhnya benar-salah dari kejadian ini. Banyak laporan palsu telah diciptakan untuk menutupi kebenaran. Tidak ada yang tahu tepatnya berapa jumlah korban bangsa Indonesia yang telah dibunuh, dicincang, dibuang, dihilangkan, dilecehkan di dua tahun tersebut, dan terjadi merata di seluruh wilayah NKRI. Benarkah ini warisan dari penjajah Belanda yang jauh lebih kejam atau barbarisme adalah ideologi bangsa paling baru?
            Kala itu, jenderal Belanda J.P Coen, tengah duduk di singgasananya sebagai the first governor of VOC, gubernur pertama VOC. Tepatnya tahun 1619, Coen berencana memperluas wilayah kekuasaan VOC di Batavia2. Sangat tidak mungkin untuk Coen memperlakukan rakyat dengan cara halus, hanya buang-buang waktu saja. Di hari berikutnya segera pasukan Belanda mengusir penduduk dari tempat persinggahannya. Caranya bermacam-macam ada yang diseret paksa keluar rumah, ada yang langsung dibunuh karena melawan, tidak sedikit pula yang disiksa berhari-hari akibat tidak patuh pada perintah sang gubernur. Tapi, itu hanya sedikit pesakitan yang dibuat Belanda diawal dirinya mengaklamasikan diri sebagai penjajah abadi rakyat Indonesia.
            Seabad kemudian, keadaan Indonesia tidak sepenuhnya membaik. Tahun 1719, nusantara baru saja didera kerja paksa yang mengharuskan pribumi terlunta-lunta dan kurus kering tanpa gizi untuk memenuhi titah sang Penjajah. Sampai biji kopi pun harus digigit secara manual oleh para tetua kita tanpa upah untuk dijadikan barang impor ke negeri Belanda. Pembangunan Anyer-Panarukan karya bangsa Indonesia yang diperintah Herman William Dandels sepanjang 1000 km, tanpa menggunakan alat, tanpa memakai alas kaki, dan tanpa makan. Tidak memungkiri sebanyak 3000 jiwa orang Indonesia berdasarkan arsip kolonial, atau sebanyak 5000 jiwa berdasarkan laporan di lapangan3, harus terbunuh karena pembuatan jalan tersebut.
            Di tahun 1965-1966, tepatnya 2,45 abad setelah mengalami kerja paksa yang serba mengerikan, rakyat harus kembali dihantui oleh peristiwa mengerikan bahkan sulit sekali tidur nyenyak untuk dapat membayangkan pembunuhan yang terjadi setiap hari. Kala itu, bangsa ini sudah mereka dari para penjajah kulit putih. Tidak ada lagi ‘bule bersenjata’ yang [2]berkeliaran di samping rumah-rumah penduduk. Tidak muncul lagi pembunuhan oleh Kapten Westerling yang menghabiskan 400 nyawa penduduk di Sulawesi yang konon dibedil serampangan hanya dalam waktu satu hari. Tetapi rupanya, mimpi buruk bangsa Indonesia kembali datang setelah pecah pembunuhan 7 jenderal penting di Lubang Buaya (Jakarta) yang diisukan ulah PKI. Sehari kemudian, perintah dari pemerintah bekerjasama dengan RPKAD (TNI) diharuskan membunuh semua orang yang terdaftar sebagai PKI ataupun underbouw (bawahan)-nya sekalipun.  
            Malam hari tepatnya bulan November 1965, tidak sedikit warga yang dianggap kekar, punya nyali, anti-PKI, dan mau membunuh, direkrut sebagai algojo. Menurut Anwar Congo, dan Supardi, dua dari ratusan algojo yang pernah membunuh ratusan anggota PKI, para anggota PKI dibunuh berdasarkan perintah dari para letnan “saya tidak tahu siapa yang memerintah, yang jelas sudah ada daftar berisi 200 orang PKI untuk dibunuh setiap harinya, kata Supardi dan Anwar yang kini sudah berusia 71 tahun4. Biasanya, orang-orang yang dianggap PKI ada yang dibunuh langsung dengan cara dipenggal kepalanya dan langsung dikubur dijadikan satu dalam sumur. Ada pula yang masih diinterogasi untuk ditanyai informasi mengenai pusat pergerakan PKI, antek-antek PKI yang lain. Cara untuk menginterogasi pun bermacam-macam, ada yang disetrum memakai listrik, diinjak kakinya dengan kursi penginterogasi, untuk wanita dilecehkan secara seksual, sampai ada yang disekap didalam wc selama tiga tahun5. Kerja paksa membangun jalan, terkadang juga harus dijalani para pemuda-pemudi yang dicap sebagai PKI, sedikit mirip dengan cara yang dilakukan Daendels.
Berbagai bentuk penyiksaan hingga pembunuhan tersebut dilakukan kerena tak lain PKI pun pernah melakukan pembantaian pada kelompok-kelompok pemuda dan pemuka agama di daerah-daerah. Hampir mirip seeprti yang dilakukan Belanda sepanjang tahun 1920an, dimana mereka menyiksa para pekerja paksa yang dianggap lalai melaksanakan tugasnya, jika wanita biasanya akan dijadikan budak seks oleh para kumpeni terutama yang terjadi di perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur.
Bangsa ini sudah cukup menderita karena ulah para penjajah. Jika sekarang penjajah berganti kulit berwarna cokelat, maka dialah penjajah yang lebih mengerikan dibanding penjajah kulit putih. Apakah ini yang dimaksud dengan mewarisi sejarah bangsa? Bukankah hal-hal kelam di masa lalu haruslah dikubur hidup-hidup, bukan dihidupkan kembali untuk menyiksa sesama bangsa. Ini bukan salah siapa yang harus disalahkan, tetapi ini adalah persoalan ideologi yang tak pernah surut hingga saat ini. Betapa sulit terkadang bangsa ini untuk hanya sekedar tahu tentang pentingnya belajar bertoleransi dan mencintai Pancasila.
           
           




[1] Tafsir Kitab Nagarakretagama, Slamet Muljana : 2007
2 Vereenigde Oost Indische Compagnie, at www.leidetuniversity.com
3 dalam Buku ‘History of Java’, Thomas Stanford Raffles
4 dalam Buku “Pengakuan Algojo 1965”, Tempo : 2014
5 Ibid

Truly Underdog

♠ Posted by Aryni Ayu in


Mereka berusaha membunuh karakterku dari awal aku berkarir. Tidak ada yang yang gratis dibawah sinar matahari, dan jangan peduli tentang apa yang orang lain katakan.....

          Bukan pertama kali ini saja perasaanku tidak dihargai, bahkan tubuh pun tidak berdaya karena ucap buruk orang lain. ini terjadi sejak aku masih berada di bangku junior high school. Sebuah tempat dimana anak-anak orang kaya berkumpul, bermanja-manja penuh dengki, dan memaki orang lain yang memiliki kekurangan. Entah apa yang kurasakan dulu, yang jelas aku selalu apatis menghadapi egoisme mereka. Aku bahkan tidak peduli tentang apa yang mereka katakan, sungguh mereka bukan pengasuhku, mereka juga bukan Tuhan yang patut aku hormati, cuih! Tapi itu sudah berlalu lama, nyatanya di masa high school, duniaku penuh dengan kekuasaan. Banyak teman yang rela melakukan apa saja untukku. Ya, aku sudah mulai mahir memainkan kekuasaanku, beginilah rasanya dihargai.
          Sekarang, bukan waktunya menjadi remaja. Sudah waktunya mendidik remaja, karena aku adalah seorang pendidik. Aku sendiri pun tidak menyadari jika aku akan menjadi salah satu orang yang sangat ditiru, dinilai segala tindak tanduknya, dan penuh dengan birokrasi. Inilah dunia dimana orang dapat menjadi kambing hitam kapan saja. Dunia tempat para penjilat, pesombong, pepamer, dan pendengki berkumpul menjadi satu. Dan kau, jika kau bergerak terlalu banyak, mereka akan siap mengikatmu kapan saja seperti kuda poni yang patuh pada majikan. Sungguh, aku bukan orang ala keraton yang siap memakai topeng kapan saja, apalagi ber’sendiko pandhita’ kepada raja dengan tidak sepenuh hati. Apakah Raja akan siap suatu waktu digulingkan oleh orang biasa? Karena dia bukan orang tua yang siap pensiun, melainkan anak muda yang sedang belajar membabat keonaran!
Aku tidak tahu penjajahan apa lagi yang sedang dan akan terjadi padaku, terutama di usia yang sangat bersinar ini, karirku tidak boleh roboh hanya karena para penjajah. Kau tahu apa yang dilakukan penjajah itu? Mereka berusaha membunuh karakterku dari awal aku berkarir. Terkadang mereka mengkritikku tentang hal-hak yang tidak aku mengerti, diantara pendengki itu sangat berharap bahwa aku tidak layak berdiri sejajar dengan mereka. Lihat saja cara mereka berbicara, berekspresi, dan bercanda tawa, tidak pernah membiarkan orang-orang berstrata dibawahnya ikut berbicara, apalagi sekedar menertawakan sesuatu. Ah, memangnya mereka pikir sedang tinggal di Acropolis? Tempatnya para dewa dewi Yunani nan perkasa berkumpul? Jangan berhayal!
Bercita citalah setinggi angkasa, maka jatuh pun kau tetap akan tersasar diantara bintang-bintang, kata seorang filosof Yunani. Menjadi seseorang yang diremehkan memang bukanlah hal yang bisa diapatiskan. Ini menjadi cambuk bagi mimpiku agar segera keluar dari tidurnya, kemudian segera bergegas mewujudkan. Tidak ada yang yang gratis dibawah sinar matahari, dan jangan peduli tentang apa yang orang lain katakan. Karena mereka hanya sekedar berucap, dan kau akan tahu perkataan mereka akan berubah setiap menitnya, mereka tidak akan mudah mengingat siapa diri kita. Well, untuk apa sangat sibuk menuruti perkataan orang lain? Itu akan menyulitkanmu, sungguh!

One Mistake Like Thousand !

♠ Posted by Aryni Ayu in
Satu Kesalahan=Seribu Kesalahan



Ah, memangnya dimana letak kesalahan bisa ditambahkan jika tidak di mulut manusia? Yang salah kecil menjadi tambah salah, yang sudah salah besar bisa menjadi benar! Benarkah ini pertanda jaman edan?

“Tidak ada manusia yang sempurna, dewa pun juga bisa salah”, ungkap Ares, sang dewa Perang Yunani. Setiap mahluk insani, tidak pernah barang secacat pun tidak berbuat kesalahan. Manusia diciptakan memang untuk berbuat kebenaran juga kesalahan. Baik diingini atau tudak, manusia yang ingin sukses harus mau dulu dicekal kesalahan. Meski itu terkadang membuat hati tak berdaya, hati terluka, manusia pun tak berhenti melakukan kesalahan dan mensalahi manusia yang lain. Apalagi di Jaman Edan ini (menurut Serat Centhini Majapahit), barang siapa tak melakukan salah, bisa disalahkan, benar kan?
            Di suatu musim dingin, seorang mahasiswa sedang melakukan tugas ujian akhirnya. Dilihat sederet biografi yang ia miliki, mahasiswa ini berprestasi, keras kepala, susah diatur, namun tak pernah melakukan curang kepada siapapun, apalagi kepada mahadewa guru. Pernah dirinya memberikan contekan kepada beberapa mahasiswa hanya sekedar untuk mengajari bahan yang akan dibuat untuk ujian matakuliah. Tetapi kabar itu bocor, sang mahadewa guru marah dan menyuruh semua anak didiknya di kelas itu untuk mengaku, jika tidak, ujian tidak akan dilaksanakan. Detik berlalu, kelas hening, teman-temannya yang ikut melakukan curang juga diam dalam kesalahan. Tapi sang mahasiswa berdiri, dan mengaku di depan kelas bahwa dirinya melakukan kesalahan. Dialah yang mengajari beberapa mahasiswa lainnya. “Maafkaan saya, telah bersalah, saya siap dihukum apapun!”. Kelas semakin senyap, mereka berdecak kaget bercampur kagum. Mana ada maling yang mengaku? Untung sang Mahadewa Guru bersifat objektif, sehingga tetap memberikan nilai ‘A’ kepada sang mahasiswa, karena sifatnya yang kesatria.
            Tetapi kali ini lain, tugas akhir yang ia lakoni harus segera selesai. Seperti biasa, sifat ambisiusnya selalu muncul setiap kali dia menemukan ‘berkah’ atau ‘tugas’ yang harus diselesaikan. Berlari kesana kemari untuk mencari sumber-sumber tepat, narasumber yang baik, dan tekanan dari beberapa Mahadewa Guru, membuatnya harus segera mengakhiri tugas tersebut. Di tengah perjalanan, tugasnya mulai selesai lima puluh persen. Namun disaat yang sama, sang mahasiswa mendapat tawaran pekerjaan dari dua agency. Satu dari bidang pendidikan dan satu lagi bidang jurnalistik, dua hal yang sangat dia senangi. Bekerjalah ia di bidang pendidikan, sebagai seorang tentor dan pendidik. Dua pekerjaan sekaligus harus ia lakoni, belum lagi tugas akhirnya. Ya, itu sangat menguras tenaga dan bisa saja menghasilkan kesalahan.
            Benar saja, di musim dingin berikutnya, sang mahasiswa melakukan kesalahan. Mungkin fatal bagi beberapa orang. Ya, memalsukan tanda tangan seorang pegawai administrasi, agar ujian akhirnya segera dilaksanakan. Semua orang lalu mulai membicarakannya! Baik di dunianya sebagai mahasiswa, maupun di tempatnya bekerja. Banyak mulut berbicara tidak sesuai dengan fakta. Banyak mulut mencibir kepribadian sang mahasiswa. Dan banyak mulut menjadi berbusa karena membesar-besarkan kesalahan. Belum lagi fitnah yang diterima dari koleganya untuk menjatuhkan sang mahasiswa. Ah, memangnya dimana letak kesalahan bisa ditambahkan jika tidak di mulut manusia? Yang salah menjadi tambah salah, yang sudah salah besar bisa menjadi benar! Benarkah ini pertanda jaman edan?
            Sebagai akibat, dirinya harus memformat ulang ujian yang telah dijalani. Tidak pernah sepintas pun terpikir olehnya bahwa tiga hal sekaligus tidak bisa dicapai secara bersama-sama. Hanya satu kesalahan, namun karena tingkah polah manusia, bisa berubah menjadi seribu kesalahan. Dirinya juga tak pernah menduga jika sang Mahadewa-Mahadewa guru yang dulu sering memujinya, kini berbalik membecinya, bahkan memberinya prasangka yang tak pernah dia buat. “kamu adalah orang yang tidak bisa dipercaya, jika menjadi orang besar kamu akan melakukan korupsi, itu terlihat dari rona wajah kamu yang penuh kerakusan!”, begitulah sang mahadewa guru menguncang sang mahasiswa.
Memang, mahasiswa tersebut melakukan satu kesalahan fatal, bahkan berkat tambahan mulut manusia diatas kesalahannya, kini dia harus dituduh melakukan banyak kesalahan. Dari soal naskah ujian yang dicap tidak bagus, pasti dipalsukan data-datanya, dan segudang hujatan lainnya. Sang mahasiswa hanya bisa terdiam mendengar dan melihat kerja kerasnya selama ini tidak dihargai. Dirinya selalu berkata pada dirinya sendiri, “Aku bukan narapidana yang layak kalian injak, aku bukan pencuri uang, dan aku tidak peduli meski kalian malas melihatku, suatu hari akan datang seorang pembesar kepada kalian yang pernah kalian injak-injak, yaitu Aku! Terimakasih Anda-Anda telah mendidikku menjadi seorang petarung yang siap bertarung demi kemajuan!"
Bukankah menjadi seorang tokoh haruslah mau dihujat dan dihujani berbagai cobaan dan rintangan? Karena dengan cambuk, seseorang bisa berlari cepat menuju cita-citanya. Seorang Einstein pun juga begitu!



Ukiran diatas Kertas, dari Muridku!

♠ Posted by Aryni Ayu in

Masyarakat berpendidikan akan lebih mudah diatur, karena pendidikan adalah biangnya kemajuan. Dan guru adalah kuncinya

            Mungkin anda pernah mendengar ungkapan Confusius yang berbunyi “jika kau akan tinggal disuatu tempat untuk selamanya, ingin maju bersama dengan budayanya, maka mulailah mendidik manusianya”. Ungkapan Confusius mengisyaratkan bahwa pendidikan bukanlah hal untuk disepelekan, tetapi masa depan bagi semua umat manusia. Lihatlah Restorasi Meiji-nya Jepang yang hanya membutuhkan waktu 50 tahun untuk bisa menjadi negara maju dengan cara mengadaptasi segala ilmu dari Barat. Declaration of Independent Amerika di tahun 1776, berhasil menorehkan demokrasi modern pertama didunia berkat bidang pendidikan yang dijunjung tinggi oleh para pemikir dan guru-guru disana. Dan Indonesia, yang baru-baru ini berusaha mengangkat derajat para pendidik untuk kemajuan bangsa, apalagi yang tidak penting dari pendidikan?
            Hal paling penting yang harus dimiliki seorang pendidik adalah hati dan pikiran, mencakup kemampuan akademis bernama Intellegency Quentation, serta kemampuan emosional bernama Emotional Intellegency. Karena menurut Goleman (1980), kemampuan emosional dibarengi dengan kemampuan akademis, akan membuat seorang  pendidik bersemangat dalam mengolah keterampilan yang dimilikinya, baik itu keterampilan logika, nalar, maupun jiwa. Dari sinilah anak-anak bangsa tidak akan lagi mengenal kata “bodoh” yang mungkin akan dilontarkan oleh lingkungan sosialnya di kala dirinya melakukan kesalahan.
Bayangkan apabila guru hanya mengajar dengan kemampuan pikirnya saja tanpa menggunakan hati, atau hanya masuk dan keluar kelas hanya untuk memberi tugas tanpa komunikasi. Dapat dijamin anak-anak didikannya hanya kenal kata-kata “ya, tidak, benar, dan salah” seperti robot, tanpa tahu makna dari pembelajaran yang pernah dipelajarinya. Tentu, sebagai jabatan profesional yang tak kenal lelah untuk mendidik para generasi bangsa guru dituntut untuk senantiasa menyajikan pembelajaran menarik. Meskipun terkadang harus berbingung massal dengan terbitnya kurikulum yang selalu berganti-ganti rupa, tetapi tidak boleh ada kata “menyerah” dari hati seorang guru.
            Tugas kita sekarang adalah, berusaha mendengarkan apa yang ‘diingini’ dan ‘dibutuhkan’ oleh anak didik agar mereka bersedia mematrikan cita-citanya melalui pendidikan. Bukan menjadi teman mereka, tetapi berusaha menjadi teman bagi mereka tanpa meninggalkan profesionalisme. Kelak, ini penting bagi perjalanan karir seorang guru. Salah satu cara yang biasa dilakukan kebanyakan para pendidik adalah membagikan kertas kosong kepada murid, apalgi jika bukan untuk diisi berbagai kritik, saran, kesan, dan pesan. Tidak peduli bagaimana hasilnya, hal itu dapat menjadi evaluasi sosial yang membentuk komunikasi antara guru dan murid sehingga hasil pembelajaran bersifat demokratis dan profesional. Bukankah ini esensi dari pendidikan yang sebenarnya?
            Beberapa hari ini, penulis pun melakukan hal serupa, yakni berusaha menilai pembelajaran bukan dari diri sendiri tapi dari pandangan para peserta didik, berikut cuplikannya :


  
Kelebihan :
  • -          Cara mengajar sudah menarik dan materi mampu diterima oleh siswa
  • -          Banyak motivasi
  • -          Tidak monotun, lucu
  • -          Santai tapi serius
  • -          Nilai tidak pelit
  • -          Teliti

Kelemahan :
  • -          Ketegasan perlu ditambah dosisnya
  • Perhatian pada semua siswa
  • -          Jangan suka mencubit (hahaha)
  • -          Lebih sabar lagi


Dari cuplikan diatas, sangat menunjukkan emosional siswa yang ditekankan lewat tulisan bahwa mereka sangat menyayangi guru mereka. Seorang filosof Prancis berkata “jika kau mencintai seseorang, maka rasa sakit, kecewa, dan bahagia juga akan ikut didalamnya”. Begitu juga dengan murid-muridku, mereka menuliskan rasa sayangnya melalui dualisme sikap, mendukung dan mengkritik karena itulah bagian dari pembelajaran. Terimakasih murid-muridku.


Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia

♠ Posted by Aryni Ayu in


Agama Islam merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Agama ini lahir salah satunya sebagai reaksi atas rendahnya moral manusia pada saat itu. Manusia pada saat itu hidup dalam keadaan moral yang rendah dan kebodohan (jahiliah). Mereka sudah tidak lagi mengindahkan ajaran-ajaran nabi-nabi sebelumnya. Hal itu menyebabkan manusia berada pada titik terendah. Penyembahan berhala, pembunuhan, perzinahan, dan tindakan rendah lainnya merajalela.

Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia

Islam mulai disiarkan sekitar tahun 612 di Mekkah. Karena penyebaran agama baru ini mendapat tantangan dari lingkungannya, Muhammad kemudian pindah (hijrah) ke Madinah pada tahun 622. Dari sinilah Islam berkembang ke seluruh dunia.

Muhammad mendirikan wilayah kekuasaannya di Madinah. Pemerintahannya didasarkan pada pemerintahan Islam. Muhammad kemudian berusaha menyebarluaskan Islam dengan memperluas wilayahnya.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, kepemimpinan Islam dipegang oleh para khalifah. Dibawah kepemimpinan para khalifah, agama Islam mulai disebarkan lebih luas lagi. Sampai abad ke-8 saja, pengaruh Islam telah menyebar ke seluruh Timur Tengah, Afrika Utara, dan Spanyol. Kemudian pada masa dinasti Ummayah, pengaruh Islam mulai berkembang hingga Nusantara.

Teori-Teori Masuknya Islam ke Indonesia
Menurut beberapa sejarawan, agama Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang muslim. Meskipun begitu, belum diketahui secara pasti sejak kapan Islam masuk ke Indonesia karena para ahli masih berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Setidaknya ada tiga teori yang mencoba menjelaskan tentang proses masuknya Islam ke Indonesia yaitu teori Mekkah, teori Gujarat, dan teori Persia.
1. Teori Gujarat, Teori yang dipelopori oleh Snouck Hurgronje ini menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang dari Kambay (Gujarat), India.
2. Teori Persia, Teori ini dipelopori oleh P.A Husein Hidayat. Teori Persia ini menyatakan bahwa agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Persia (sekarang Iran) karena adanya beberapa kesamaan antara kebudayaan masyarakat Islam Indonesia dengan Persia.
3. Teori Mekkah, Teori ini adalah teori baru yang muncul untuk menyanggah bahwa Islam baru sampai di Indonesia pada abad ke-13 dan dibawa oleh orang Gujarat. Teori ini mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Mekkah (arab) sebagai pusat agama Islam sejak abad ke-7. Teori ini didasari oleh sebuah berita dari Cina yang menyatakan bahwa pada abad ke-7 sudah terdapat sebuah perkampungan muslim di pantai barat Sumatera.

Sebuah batu nisan berhuruf Arab milik seorang wanita muslim bernama Fatimah Binti Maemun yang ditemukan di Sumatera Utara dan diperkirakan berasal dari abad ke-11 juga menjadi bukti bahwa agama Islam sudah masuk ke Indonesia jauh sebelum abad ke-13.

Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia

Proses masuk dan berkembangnya islam di Indonesia dilakukan secara damai dengan cara menyesuaikan diri dengan adat istiadat penduduk lokal yang telah lebih dulu ada. Ajaran-ajaran Islam yang mengajarkan persamaan derajat, tidak membeda-bedakan si miskin dan si kaya, si kuat dan si lemah, rakyat kecil dan penguasa, tidak adanya sistem kasta dan menganggap semua orang sama kedudukannya dihadapan Allah telah membuat agama Islam perlahan-lahan mulai memeluk agama Islam.

Proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia dilakukan secara damai dan dilakukan dengan cara- cara sebagai berikut :

1. Melalui Cara Perdagangan

Indonesia dilalui oleh jalur perdagangan laut yang menghubungkan antara China dan daerah lain di Asia. Letak Indonesia yang sangat strategis ini membuat lalu lintas perdagangan di Indonesia sangat padat karena dilalui oleh para pedagang dari seluruh dunia termasuk para pedagang muslim. Pada perkembangan selanjutnya, para pedagang muslim ini banyak yang tinggal dan mendirikan perkampungan islam di Nusantara. Para pedagang ini juga tak jarang mengundang para ulama dan mubaligh dari negeri asal mereka ke nusantara. Para ulama dan mubaligh yang datang atas undangan para pedagang inilah yang diduga memiliki salah satu peran penting dalam upaya penyebaran Islam di Indonesia.

Para pedagang itu datang dan berdagang di pusat-pusat perdagangan di daerah pesisir. Malaka merupakan pusat transit para pedagang. Di samping itu, bandar-bandar di sekitar Malaka seperti Perlak dan Samudra Pasai juga didatangi para pedagang.

Mereka tinggal di tempat-tempat tersebut dalam waktu yang lama, untuk menunggu datangnya angin musim. Pada saat menunggu inilah, terjadi pembauran antarpedagang dari berbagai bangsa serta antara pedagang dan penduduk setempat. Terjadilah kegiatan saling memperkenalkan adat-istiadat, budaya bahkan agama. Bukan hanya melakukan perdagangan, bahkan juga terjadi asimilasi melalui perkawinan.

Di antara para pedagang tersebut, terdapat pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang umumnya beragama Islam. Mereka mengenalkan agama dan budaya Islam kepada para pedagang lain maupun kepada penduduk setempat. Maka, mulailah ada penduduk Indonesia yang memeluk agama Islam. Lama-kelamaan penganut agama Islam makin banyak. Bahkan kemudian berkembang perkampungan para pedagang Islam di daerah pesisir.

Penduduk setempat yang telah memeluk agama Islam kemudian menyebarkan Islam kepada sesama pedagang, juga kepada sanak familinya. Akhirnya, Islam mulai berkembang di masyarakat Indonesia. Di samping itu para pedagang dan pelayar tersebut juga ada yang menikah dengan penduduk setempat sehingga lahirlah keluarga dan anak-anak yang Islam.

Hal ini berlangsung terus selama bertahun-tahun sehingga akhirnya muncul sebuah komunitas Islam, yang setelah kuat akhirnya membentuk sebuah pemerintahaan Islam. Dari situlah lahir kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.

2. Melalui Perkawinan

Bagi masyarakat pribumi, para pedagang muslim dianggap sebagai kelangan yang terpandang. Hal ini menyebabkan banyak penguasa pribumi tertarik untuk menikahkan anak gadis mereka dengan para pedagang ini. Sebelum menikah, sang gadis akan menjadi muslim terlebih dahulu. Pernikahan secara muslim antara para saudagar muslim dengan penguasa lokal ini semakin memperlancar penyebaran Islam di Nusantara.

3. Melalui Pendidikan

Pengajaran dan pendidikan Islam mulai dilakukan setelah masyarakat islam terbentuk. Pendidikan dilakukan di pesantren ataupun di pondok yang dibimbing oleh guru agama, ulama, ataupun kyai. Para santri yang telah lulus akan pulang ke kampung halamannya dan akan mendakwahkan Islam di kampung masing-masing.
4. Melalui Kesenian

Wayang adalah salah satu sarana kesenian untuk menyebarkan islam kepada penduduk lokal. Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh terpandang yang mementaskan wayang untuk mengenalkan agama Islam. Cerita wayang yang dipentaskan biasanya dipetik dari kisah Mahabrata atau Ramayana yang kemudian disisipi dengan nilai-nilai Islam.

5. Peranan Bandar-Bandar di Indonesia

Bandar merupakan tempat berlabuh kapal-kapal atau persinggahan kapal-kapal dagang. Bandar juga merupakan pusat perdagangan, bahkan juga digunakan sebagai tempat tinggal para pengusaha perkapalan. Sebagai negara kepulauan yang terletak pada jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki banyak bandar. Bandar-bandar ini memiliki peranan dan arti yang penting dalam proses masuknya Islam ke Indonesia.

Di bandar-bandar inilah para pedagang beragama Islam memperkenalkan Islam kepada para pedagang lain ataupun kepada penduduk setempat. Dengan demikian, bandar menjadi pintu masuk dan pusat penyebaran agama Islam ke Indonesia. Kalau kita lihat letak geografis kota-kota pusat kerajaan yang bercorak Islam pada umunya terletak di pesisir-pesisir dan muara sungai.

Dalam perkembangannya, bandar-bandar tersebut umumnya tumbuh menjadi kota bahkan ada yang menjadi kerajaan, seperti Perlak, Samudra Pasai, Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Banjarmasin, Gowa, Ternate, dan Tidore. Banyak pemimpin bandar yang memeluk agama Islam. Akibatnya, rakyatnya pun kemudian banyak memeluk agama Islam.

Peranan bandar-bandar sebagai pusat perdagangan dapat kita lihat jejaknya. Para pedagang di dalam kota mempunyai perkampungan sendiri-sendiri yang penempatannya ditentukan atas persetujuan dari penguasa kota tersebut, misalnya di Aceh, terdapat perkampungan orang Portugis, Benggalu Cina, Gujarat, Arab, dan Pegu.

Begitu juga di Banten dan kota-kota pasar kerajaan lainnya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kota-kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam memiliki ciri-ciri yang hampir sama antara lain letaknya di pesisir, ada pasar, ada masjid, ada perkampungan, dan ada tempat para penguasa (sultan).

6. Peranan Para Wali dan Ulama

Salah satu cara penyebaran agama Islam ialah dengan cara mendakwah. Di samping sebagai pedagang, para pedagang Islam juga berperan sebagai mubaligh. Ada juga para mubaligh yang datang bersama pedagang dengan misi agamanya. Penyebaran Islam melalui dakwah ini berjalan dengan cara para ulama mendatangi masyarakat objek dakwah, dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.

Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9 wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para wali ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.

Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan atau susuhunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah seperti berikut.

(1) Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Inilah wali yang pertama datang ke Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di sekitar Gresik. Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.

(2) Sunan Ampel (Raden Rahmat). Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan perancang pembangunan Masjid Demak.

(3) Sunan Derajad (Syarifudin). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama di sekitar Surabaya. Seorang sunan yang sangat berjiwa sosial.

(4) Sunan Bonang (Makdum Ibrahim). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Sunan yang sangat bijaksana.

(5) Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said). Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga, dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan setempat.

(6) Sunan Giri (Raden Paku). Menyiarkan Islam di luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode bermain.

(7) Sunan Kudus (Jafar Sodiq). Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.

(8) Sunan Muria (Raden Umar Said). Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.

(9) Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa besar

Biarkan Aku Menjadi Mimpiku!

♠ Posted by Aryni Ayu in


Jika banyak duri bermunculan, bolehkah aku tetap tumbuh menjadi bunga?
Biar mulut – mulut sombong itu menjadi bisu. Agar dunia tahu. Inilah duniaku...

            Sepintas, teringat diri ini saat pertama kali memasuki tahun pertama sebuah universitas. Ideologi yang terburat oleh masa remaja. Kekakuan prestasi yang masih belum menemui titik cairnya. Kenakalan – kenakalan, dan kebodohan – kebodohanku di masa remaja benar – benar ingin aku tebus. Bukan tebusan biasa, jika bisa luar biasa hingga orang lain tak mampu memandangnya dengan sinis. Aku juga ingat betapa selongsong proses belajar di masa itu aku sia – siakan, dengan sebuah apatisisme. Andai mesin waktu telah tercipta, mungkin tak sedetik pun waktu itu akan kuisi dengan kebodohan. Hingga orang lain punya ‘waktunya sendiri’ untuk menghina, meremehkan, bahkan menghakimi otak yang kumiliki. Sungguh, sejak tahun pertama kuliah, semuanya telah aku rancang, sebaik mungkin.
            Di kamar berukuran sempit, berisi televisi, sekotak accesoris, sederet buku, dan segelumit kisah remaja dari bangku smp sma, terpampang mading bertuliskan “Dosen Muda, IPK 3.6, Lulus 3,5 Tahun”. Seperti yang kubilang, itulah rancanganku, mimpiku. Setiap detik menuju menit, menit berganti jam, sehari – hari aku selalu memandanginya, berusaha untuknya. Dengan penuh harap, semoga rancangan itu menemui hasil yang menggembirakan. Hanya dengan bekerja kerass aku bisa mewujudkannya. Tak mudah memang ketika harus belajar disaat orang lain terpejam. Berusaha sekeras mungkin saat orang lain mencoba cara – cara instan. Atau terwujud, disaat mimpi itu berusaha direnggut banyak orang. Jika banyak duri bermunculan, bolehkah aku tetap tumbuh menjadi bunga?
            Tahun ketiga berlalu. Beberapa mimpi mulai terwujud. Indeks prestasi yang sangat memuaskan bagiku, tanpa harus diremehkan manusia lainnya. Sedikit demi sedikit, aku menemukan jalan hidupku. Kemana cita – cita akan mengalir. Kemana pula mimpi harus menjadi nyata. Tahun keempat dimulai. Aku rasa, masa inilah yang paling berat. Suatu masa dimana ruang dan waktu berada dalam kesukaran. Hasil jerih payah yang juga belum tentu mendapat penghargaan. Apalagi, disaat orang tuamu tidak lagi mendukung mimpi – mimpi besarmu. Menangis pun tak tahu pula kemana harus bersandar. Sungguh, inilah masa – masa terberatku. Aku yang sangat menginginkan pendidikan pasca sarjana, rupanya berbeda ingin dengan orang tuaku. Mereka lebih mengarahkanku untuk segara menjadi guru ‘sukwan’ lebih dulu, ikut tes pns, lalu menikah. Pertanyaanku, kapan aku bisa mewujudkan mimpi – mimpiku? Itu desain impian kalian, dan maaf, aku tidak menginginkannya, saat ini.
            Ketika gerbang mimpi mulai terbuka, bolehkah jika aku segera masuk? Dan bolehkah untuk segera membuatnya menjadi nyata? Aku belajar dan berusaha selama ini tak lain, untuk menjadi cita – cita yang lebih besar. Bukan hanya sekedar guru, dosen, jika perlu menjadi seseorang yang lebih besar lagi. Biar mulut – mulut sombong itu menjadi bisu. Agar dunia tahu. Inilah duniaku...


Kamarku, 27 April 2013-04-27, pukul 21.00

Hargamu Mahal, Jika Tetap Menjadi Emas--

♠ Posted by Aryni Ayu in


laki – laki buruk pun ingin memiliki wanita ‘baik – baik’
Benarkah sebagai wanita kita bersedia untuk dipilih berdasarkan alternatif? I dont think so!

            Ketika dunia berada diambang budaya yang kian bebas, apalagi. Seakan tak ada sekat diantara batas baik dan buruk, wanita tetap punya tanda tanya besar. Antara kebebasan dan kehormatan. Jika pilihan adalah bebas, bolehkan jika wanita tidak memilih sebagai emas? Dan kehormatan, bolekah jika wanita tetap menjadi emas? Seorang konvensional atau wanita modernitas bebas tak terbatas.

            Dari selosongsong kehidupan dunia yang begitu beragam. Tanpa sekat. Tanpa tahu bilik baik dan benar. Tanpa tahu nilai – nilai filosofis manusia. Wanita, tetap dituntut untuk menjadi emas. Semua hal tentang tata adat berpakaian, perilaku yang menurut Gerald I. Nierenberg bukan hanya menjadi pertahanan tapi juga tantangan, menjadi indikator penting bagi nilai seorang wanita. Nyatanya, emansipasi yang dulu digembar – gemborkan oleh R.A Kartini (Indonesia) dan Bella Zavitzky (Amerika) perlu mendapat dukungan yang benar dari wanita saat ini.

            Layaknya partai, kehidupan pasca emansipasi memiliki dualisme. Antara kehidupan baik dan buruk. Meski terlihat samar, keduanya masih bisa dibedakan, apalagi dipilih. Kebenaran yang ditempati para wanita konvensional bernapas monokultural, atau keburukan yang disinggahi wanita berasas modernitas tak terbatas. Memang terlihat menghakimi, namun semua butuh keadilan. Ketika kita melihat seorang laki – laki ingin melamar gadis, apa yang diharapkannya dari gadis itu? Selain cantik, pintar, dan berbobot? apalagi jika bukan bermartabat, benar tidak? Jelas sekali bukanlah hal – hal buruk yang diharapkan. Atau jika memang sangat terpaksa oleh berbagai keadaan, (“tidak virgin, atau MBA”) barulah alternatif ‘buruk’ menjadi pilihan. Benarkah sebagai wanita kita bersedia untuk dipilih berdasarkan alternatif? I dont think so!

Alfian, seorang laki – laki penghafal cafe dan diskotik, mengaku telah berkencan dengan banyak wanita. Dari keterangannya, dalam setahun dia bisa mengencani sekitar 60 wanita di berbagai tempat. Dari wanita perokok, pemabuk, hingga ‘ayam kampus’, semua pernah dicobanya. “mereka sangat menghiburku, membuatku berfantasi, hingga aku lupa bagaimana kehidupan normal. Mereka menyenangkan, namun aku tak menemukan sesuatu yang menarik di mataku. Mereka mudah terlupakan. Aku ingin wanita yang baik – baik, tapi juga tidak kaku” Pengakuan seorang laki – laki yang sekiranya dapat mewakili teman – temannya yang sejenis. Nyatanya, mereka tetap membutuhkan emas.  

Wanita bernapas konvensional, alias emas, sering menjadi pilihan. Potret kehidupannya yang jauh dari kontaminasi diskotik, rokok, minuman keras, dan sex bebas, memang terlihat membosankan. Apalagi jika mereka terkadang terlihat ‘tidak gaul’ saat bergaul dengan wanita modernitas tak terbatas, yang benar – benar memiliki kebebasan tanpa aturan. Bagi sebagian laki – laki pecinta hiburan, mungkin mereka terlihat menarik. Namun siapa sangka, laki – laki buruk pun ingin memiliki wanita ‘baik – baik’. Bukankah ini pertanda bahwa budaya kebebasan masih tetap memiliki kebenaran?

Emas tetaplah emas, jika memang memilih sebagai setengah wanita baik dan buruk, atau totalitas diantara keduanya, tak ada orang berhak melarang. Toh, pilihan jatuh pada pilihan masing – masing satu paket dengan resikonya. Yang jelas, emas masih tetap mahal dan diperebutkan! Tak maukah jika kita memiliki penawaran yang tinggi sebagai seorang wanita? Silahkan memilih. 

Cover, pentingkah?

♠ Posted by Aryni Ayu in


Cover yang memang menggoda, menarik perhatian, dan membuat manusia serasa sempurna, bukankah itu juga berguna untuk menutupi bobrok – bobrok yang kita punya?
Benarkah manusia bahagia dengan sebuah cover?


            Hukum majalah menyatakan “cover itu menjual”, menjual isi, ragam, dan harganya. Seperti manusia yang ada di bumi ini, wajah – wajah yang tak pernah mungkin tidak memakai cover. Seperti wanita memakai gincu, bedak, atau pewarna alis. Laki – laki metroseksual yang sangat mementingkan baju apa yang dipakai. Atau para profesionalitas lain yang butuh cover untuk sebuah pengakuan. Semua orang di dunia rasa – rasanya membutuhkan pembungkus lain selain dirinya sendiri. Pertanyaannya, pentingkah?

            Seberapa banyak perasaan yang kita pakai untuk memakai sebuah cover? Membentuk seakan – akan kita adalah patung sexy yang menggoda. Menyerai bagaikan Tuhan yang tak pernah punya dosa. Menyingkirkan bentuk Iblis dibalik sifat manusia kita. Terkadang juga menyingkirkan hal – hal yang tidak berbau malaikat. Cover yang memang menggoda, menarik perhatian, dan membuat manusia serasa sempurna, bukankah itu juga berguna untuk menutupi bobrok – bobrok yang kita punya?

            Di suatu pagi yang penuh manusia berlalu lalang, melakukan segala kegiatan dunia. Ya sekiranya terdapat manusia terpenjara yang ingin bebas dari sebuah penjara. Berterbangan kemana – kemana mencari seorang pangeran yang akan membawanya bebas. Kiranya, manusia itu sudah tak memikirkan lagi sebuah bentuk kesempurnaan. Dirinya merasa bahagia dengan seseorang yang membuatnya merasa nyaman. Mencoba sesuatu hal yang sudah lama ditinggalkannya, yaitu cinta. Yang membuatnya meninggalkan cover – cover yang dulu dia bentuk. Rasanya, hanya bahagia yang dia ingin, bukan cover!

            Meski sedikit ironi menghadapi tingkah ibunda manusia terpenjara itu. Tanpa mempersilahkan seseorang yang membuat manusia itu bahagia, hanya menyerukan sepatah kata, perintah untuk mengusir. Seakan terdapat tembok emas yang tak boleh diterabas. Hanya cover – cover terbaik yang bisa menembusnya. Tembok yang dipergunakan entah untuk melindungi puterinya atau rasa kaget berlebihan. Entahlah. Betulkah itu pengorbanan yang dilakukan untuk sebuah cover?

Cover. Hanya sebuah pembungkus palsu. Dicitrakan sedemikian rupa agar memagnetisasi banyak hari manusia lain. Untuk urusan harga diri, ini memang penting dilakukan, mengingat manusia adalah campuran baik dan buruk. Menimbang beratnya emas yang harus dimiliki seseorang. Tak lain, agar dihargai. Emas yang membutuhkan cover. Cover yang juga dapat menyakiti manusia lain, sengaja atau tidak. Penting atau tidak, benarkah manusia bahagia dengan sebuah cover?