Bye – Bye Untuk Kebiasaan Buruk Berbusana

♠ Posted by Aryni Ayu


Banyak wanita merasa sudah berbusana dengan tepat. Sehingga, ia tidak meminta pendapat orang lain atau mencari referensi soal mode. Hal ini membuatnya seringkali terjebak dalam kebiasaan buruk saat berbusana.
Agar Anda terhindar dari masalah ini, ketahui kebiasaan buruk saat berbusana berikut, seperti dilansir dari sheknows.com. Tentunya, agar penampilan Anda semakin maksimal.


- Selalu senada
Konsep senada atau matching, tidak harus selalu diterapkan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jika Anda menyukai warna merah, tidak harus mengenakan baju warna merah, tas merah, sepatu merah dan juga lipstik dengan warna senada. Ini justru akan membuat penampilan terlihat aneh. Pilih dua atau tiga item fashion saja yang senada. Hal ini akan membuat tampilan terlihat jauh lebih menarik.
- Terobsesi tren
Tren tidak harus selalu diikuti, tetapi akan lebih tepat jika Anda menyesuaikannya dengan gaya sendiri. Tidak masalah jika mencari tahu tren terbaru, tetapi akan lebih baik Anda mengembangkan gaya sendiri. Bukan hanya lebih pas dalam hal penampilan, Anda juga memiliki gaya unik tersendiri.
- Aksesori berlebihan
Aksesori memang memiliki efek besar dalam mengubah penampilan. Tetapi jangan mengenakannya secara berlebihan. Jika kalung yang Anda kenakan penuh dengan detail, sebaiknya padukan dengan anting atau gelang yang berdesain simpel. Jangan sampai penampilan Anda terkesan "ramai" karena aksesori.
- Terlalu banyak motif
Motif memang menjadi salah satu tren di 2011, seperti polkadot, bunga-bunga atau abstrak. Tetapi, sebaiknya hindari memadukan atasan dan bawahan dengan motif yang ramai, pilih salah satu saja. Misalnya jika Anda ingin membuat kesan pinggang yang lebih kecil, padukan atasan motif bunga dengan celana warna gelap. Atau, Anda bisa juga memadukan atasan polos dengan rok bermotif polkadot.

Chacapoyas, Peradaban Pra Inca

♠ Posted by Aryni Ayu in


Peradaban Pra Inca, menjadi basis terbentuknya kolaborasi kebudayaan dan mitologi antara suku Inca dengan suku – suku sebelumnya yang pernah hidup di wilayah Peru bernama Chacapoyas. Merupakan seperangkat kota kuno yang berisi peradaban pra Inca yang sempat terkubur selama ratusan tahun dan berhasil diketemukan oleh para ahli erkeologi pada tahun 2008, di Puncak Amazon Peru. Kota kuno bernama “Chachapoyas yang sifat kebudayaannya dilansir oleh para peneliti tidak jauh berbeda dengan suku Inca, yang konon disebut sebagai negeri “orang – orang awan”. Persepsi ini kemungkinan besar timbul akibat acuan puncak pegunungan Andes yang berselimut awan. Meskipun kehidupan dan kebudayaan Chachapoyas telah berlangsung sejak abad ke – 9, namun sampai sekarang masih sedikit pprosentasenya untuk mengungkap tentang kehidupan mereka akibat dari terbatasnya catatan sejarah yang ditinggalkan serta terisolirnya tempat tersebut. Hanya ada serangkaian jejak peradaban kota Chachapoyas sebagai corak dari kebudayaan masyarakatnya yang masih terkubur dalam sejarah. Berikut merupakan bukti – bukti sejarah peninggalan Kota Kuno Chachapoyas yang ditemukan oleh tim ekspedisi Arkeologi pada tahun 2008 di hutan lebat Amazon, yaitu sebagai berikut :
a. Patung – patung Chachapoyas
Patung Negeri Awan



Patung – patung berderet yang ditemukan di kota kuno dan terbuat dari bahan material Clay dan Plant matt ini tak jauh beda dengan tempat pemakaman. Di setiap patung – patung yang berjajar menunjukkan strata, melambangkan tokoh yang dimakamkan disana serta menunujukkan peranan orang – orang yang pada saat itu hadir dalam kehidupan Kota Chachapoyas. Diantaranya seperti patung – patung dengan sebutan “prajurit awan” yang posisinya menghadap kearah matahari. Hingga kini, prajurit – prajurit tersebut tetap berdiri tegak menemani peradaban manusia yang kian maju.

Mereka melambangkan keperkasaan masyarakat Chachapoyas di masa itu. Makam dari tokoh – tokoh ini diantaranya terletak di Chullas yang isi tebingnya dicat dengan atap runcing, khususnya seperti yang ditemukan di daerah Revast. Lebih unik lagi dan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat modern, posisi dari patung – patung berisi mumi tersebut sangat sulit dijangkau. Entah bagaimana masyarakat di zaman itu membawa serta menempatkan hasil budayanya di lokasi tersebut. Hal ini terungkap karena berdasarkan penelitian oleh para ahli arkeolog, tidak ada satupun rute jalan yang bisa diakses untuk menuju lokasi pemakaman, yakni tempat peletakkan patung para tokoh Chachapoyas. Ditambahkan lagi dengan adanya informasi yang menyatakan bahwa situs Karijan tersebut dibangun selama hampir 1 Milennium, turut menambah serangkaian teka – teki yang masih belum terungkap dibalik keberadaan Kota Kuno Chachapoyas.

b. Bangunan – bangunan di Tepi Jurang





Bangunan – bangunan yang berada di tepi jurang turut menambah serangkaian kebudayaan yang terbentang di Kota Chachapoyas, sebuah kota yang masyarakatnya hancur akibat dari penyerangan bangsa Inca di abad – 15. Dimana bangunan – bangunan tersebut ditemukan oleh para ahli arkeologi di tahun 2008 bersamaan dengan temuan benteng – benteng dari batu, sisa – sisa tembok yang didalamnya memuat berbagai pahatan lukisan, dan kesemuanya tersebut tereletak di tepi jurang. Apa yang membuat peninggalan dari karya Kota Chachapoyas tersebut berada di tepi jurang dan tentunya ada pada lokasi yang tinggi lebih diasumsikan karena masyarakatnya ingin melindungi diri mereka dari serangan musuh seperti bangsa Inca.

Komplek Kuelap



Selain itu terdapat pula sebuah tempat bernama “Kuelap”, yakni salah satu peninggalan konstruksi Chachapoyas yang didalamnya terdapat sekitar 400 ratus gedung dengan kemungkinan terbesarnya ditempati oleh 3500 jiwa masyarakat awan. Kuelap ini dianalisis sebagai benteng monumental yang berada 9500 meter di atas permukaan laut dan dialpisi oleh batu – batu besar diluar konstruksi bangunannya. Kompleks Kuelap ini menjadi bagian dari rekaman sejarah masyarakat Kota Chachapoyas yang telah begitu tinggi peradaban serta kebudayaan di masanya yang diperkirakan telah hidup lebih dari 1000 tahun lalu tepatnya sebelum abad ke – 9.
Dibalik kejayaan peninggalan kebudayaannya, serta sedikitnya catatan sejarah yang mereka tinggalkan. Dapat dilansir bahwa diakhir kekuasaannya, masyarakat Chachapoyas seperti yang telah dijabarkan mendapat serangan dari suku Inca yang pada saat itu tengah mengalami kejayaan hegemoninya pada abad – 15. Meskipun mereka mencoba melawan penyerangan secara ofensif dari suku Inca namun nyatanya di abad itu pula menandai hancurnya peradaban masyarakat Chachapoyas. Sejak kehancuran bangsa ini, peradaban Inca terus menerus mecoba mengkolaborasikan kebudayaan mereka dengan kebudayaan Chochopoyas. Ada pula informasi yang menyebutkan bahwa sisa dari suku – suku Chachapoyas berusaha membuat kerjasama dengan bangsa Spanyol yang datang pada tahun 1535,tapi naas, akibat dari datangnya penyakit cacar, peradaban Chachapoyas itu benar – benar hancur dan populasinya pun menghilang. Hal inilah yang juga menyebabkan mengapa begitu sedikit catatan sejarah yang ditinggalkan oleh mereka.

One Opinion About Love

♠ Posted by Aryni Ayu in
Three kinds of false love often distract us away from the real thing. These three kinds are dependency, power and addiction.

We see dependency when people crave to be the center of their partner’s entire universe, demanding to be waited on and fussed over the way a dependant, helpless child is fussed over by their all-protective parent. “If you loved me you would have washed my clothes, gone to the store for me, carried my packages, etc.”

It would be nice to return to childhood and have somebody standing between us and the big bad world, but it is not a fair to our partner, and it weakens us when we refuse to develop our own strengths.
We see power when people play games like always threatening to leave so they will be begged to stay, or holding up some important project of their partner’s until they get their way. At that moment they feel important, they feel “loved.” But that’s just a power trip.

We see addiction when people tell themselves, “I must love my partner so, look how much I need them.” Love and need are completely different things. Someone can be so strung out on another that they chase them the way a crack head chases a pipe, but that’s not really love.

Once we throw out the false loves of dependency, power and addiction, we will be left with true love, or at least with a clear space into which it may enter. Now we can consider how to keep love. In my experience three factors are especially important: equality, honesty and fighting fair.

Equity starts with the notion that my partner is a real person just like me. We work together and there is a basic fairness. What goes for them goes for me. Sounds pretty obvious, but unfortunately it’s not. My European friends tease me about this part of our culture and say that American love is half romanticism and half consumerism…

The romanticism comes from the countless sappy American movies and books, which tell us that there is a “perfect” person out there, and that God or Fate somehow owes us this person. The consumerism comes from being used to getting exactly what we want when we want it. Put these together and it’s hardly surprising that some people feel entitled to a sort of fast food McMate, who is supposed to pop out of the woodwork with nothing better to do in life than serve up everything our way. And since the McMate will be “perfect” – in other words, a narcissistic extension of our own personality – we will never fight or argue. What a dream!

What might not be obvious is that this is really a dream of a product, not a person at all. At best it is a job description: cabin boy on my cruise ship of life. But just as there is no equity between us and cabin boys and waiters there can be no equity between us and persons magically sent by God to be perfect for us. In both cases, the idea is, they work for us. We are entitled to what they give. This leads to one of the greatest paradoxes of all. Someone who is almost the perfect person may be treated as a waiter, while an ordinary ruffian may be treated with greater respect and dignity. This observation is the source of greatest hilarity among my European friends, many of whom have lived here and seen it firsthand.

You can test for equity with the simple “golden rule” test: are there things my partner does or says to me, that they would never suffer to be done or said to them?

Honesty is fairly self-explanatory, but it also means being honest about who you are and not fronting to anyone about that.

Fighting fair means attacking the issue in front of you, fighting foul means attacking the person in front of you. An especially damaging tactic is listing, where every fight brings out a long list of every real or imagined offense you have ever suffered before. Basically, this signals to your partner: “Remember when I said I forgave you for that? I lied.” This erodes your partner’s trust in you when you say important things like, “I forgive you,” or even, “I love you.”
To sum it all up, to have love and a good relationship, remove dependency, power trips, and addiction. In their place, cultivate equity, honesty, and fighting fair.

Eric B. Griswold is Director of the nonprofit Institute for Thought, and a member of the American Association for the Advancement of Science, voting section: Psychology.