Tiga Republik dalam Satu Indonesia

♠ Posted by Aryni Ayu in
-Day 9-
18 Juni 2011


Tiga Republik dalam satu Indonesia! Masa sih? Di Amerika saja tidak ada, yang ada hanya sebuah bentuk negara serikat. Apalagi di negara saya, republic saja tidak ada, maklum, numpang di tetangga sebelah, Palestina! Begitulah mungkin kata – ibu – ibu Amerika dan Israel saat bertemu ibu – ibu Indonesia di suatu dharma wanita (Just kid :)

Pagi ini di Metro ada kabar bahwa Angelina Jollie, sang artis Hollywood papan atas yang aduhai itu sedang mengunjungi kamp – kamp pengungsian di Turki. Ya, memang suatu pagi yang luar biasa ketika seorang artis Hollywood mendatangi tanah Arab. Lain halnya di Libya, negara tersebut malah mendapat santapan bombardir NATO di pagi hari. Alhasil rumah – rumah hancur dan warga pun berhamburan keluar. Heran saya mendengar dua berita tersebut, kenapa Angelina Jollie tidak sekalian saja berkunjung ke Libya?padahal kan tempat itu yang paling membutuhkan sentuhan perhatian dari seorang Duta Pengungsi PBB. Apa memang sudah ada scenario dari PBB supaya negara yang sedang berkonflik dengan Amerika tidak mendapat kunjungan dari artis Hollywood, isn’t it? Ditambah lagi hari ini warga Libya meminta PBB bertanggung jawab terhadap segala serangan kawan – kawannya.

Itulah tadi sekilas berita mancanegara yang sudah saya sampaikan, sekaligus sedikit mengkritisi dan kesal juga sebenarnya melihat tingkah orang – orang asing yang terus saja mengintervensi Timur Tengah tanpa ada penyelesaian masalah. Dengan tetap menghidupkan siaran televisi, yuk coba kita beralih ke berita dalam negeri. Hari ini ada berita tentang aksi demo mahasiswa di Jakart, mereka terlihat sedang membakar foto – foto Presiden SBY dalam unjuk rasanya. Mendingan bakar sate euy!bisa bikin perut sehat dan kuat (). Pada intinya mereka menilai bahwa SBY tidak tegas dalam memimpin Republik ini. Sebuah demonstrasi yang tampaknya memang real aspirasi dari rakyat dan jika saya boleh menilai, kepemimpinan SBY saat ini memang merosot di kalangan public. Ditambah lagi dengan adanya kesimpangsiuran isu di dalam partainya. Sekali lagi, Kejujuran masih menjadi krisis di Republik ini. Mana NKRI yang dulu diperjuangkan sebagai katalis suara rakyat saat Teks Proklamasi 17 Agustus 1945 diproklamirkan?

Sekali lagi tentang Indonesia, jujur sebagai generasi bangsa saya merasa sangat khawatir dengan nasib NKRI era hedonisme. Apa yang menjadi esensi pancasila sebagai pesan foundgathers kita untuk terus mengisi pembanguan bangsa Indonesia, telah luntur oleh derasnya arus globalisasi. Bung Karno pernah berkata “Jangan sampai kita menjadi pengemis bagi bangsa lain…” Nampaknya pesan ini menjadi terealisasi, riset menyatakan bahwa banyak sekali warga Indonesia yang tinggal di luar negeri untuk sekedar mencari segepok rupiah dan sesuap nasi. Jika untuk menjadi sosok yang begitu dihormati its alright, tapi jiak disana hanya untuk mendapat penyiksaan dari seorang majikan? Hingga artikel ini diturunkan, masih banyak diluar sana saudara – saudara kita setanah air yang masih harus mengalami ketidakadilan Hak Asasi Manusia akibat kurangnya ketegasan dari kaum elit, kebijaksanaan yang terealisasi dengan kepentingan – kepentingan tertentu, serta keruhnya kejujuran. Ironis sekali, tak seharusnya negeri yang pernah memiliki tiga republic dalam satu Indonesia ini mengalami penurunan kredibilitas identitas bangsanya.

Berbicara mengenai Indonesia, tahukah Anda jika Indonesia begitu istimewa dibanding dengan negara lainnya? Benar, Indonesia memang ‘istimewa’, negeri ini pernah memiliki 3 ke-Repubik-an dalam satu kesatuan bangsa. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera Barat, Republik Indonesia Serikat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tiga republik yang bervariasi itu adalah saksi perjuangan rakyat bersama para elit, antara militer dengan pro – diplomasi bersatu untuk mewujudkan sebuah negara merdeka yang tidak boleh ‘mati’ walaupun musuh menyerang. Tanpa kedua republik yang ada diawal kalimat tersebut, Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tenggelam dan putus dari tali proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Anda ingat saat bangsa Indonesia mengalami vacuum of power di bulan April 1945? Jepang yang saat itu sedang mengalami masa kehancuran saat dirinya kalah dalam Perang Dunia II, disusul dengan pembomborbadiran Hirosima dan Nagasaki di tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Nah disaat itulah para pejuang kita mengambil celah semaksimal mungkin untuk mengumandangkan kemerdekaan. Radio sebagai tekhnologi canggih, menjadi media bagi mereka untuk mengobarkan semangat rakyat melawan penjajahan dipimpin oleh Bung Tomo, Tan Malaka sebagai potret golongan radikalis, dan Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Agus Salim sebagai wakil golongan konservatif yang tentu pro – diplomasi. Memang tak jarang terjadi perdebatan masalah kemerdekaan diantara golongan konservatif dan radikalis. Tak ayal jika terjadi peristiwa Rengadengklok sebagai pelengkap perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hingga pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi, desakan kaum muda agar Presiden Soekarno untuk sesegera mungkin mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan dikabulkannya. Meski tentara Jepang tentu masih mencoba menghalang – halangi para pemuda di lapangan Ikada, namun perjuangan mereka terbayarkan sudah ketika Presiden Soekarno mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan pada pukul 12 siang di tanggal 17 Agustus 1945. Ingat, Upacara Kemerdekaan pertama bangsa Indonesia adalah awal negeri itu untuk menapaki masa Revolusi fisik, dan memerangi Neokolonialisme di era modern.

Masa Revolusi fisik sebagai bagian penting dari frame berubahnya NKRI menjadi bentuk PDRI dan RIS, adalah masa yang begitu kursial. Rentang waktu yang terjadi pasca 1945 ini adalah masa perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Melihat Indonesia merdeka menjadi negara bersatu, berdaulat, dan memiliki pemerintahan sendiri, membuat penjajah Belanda tidak bisa membiarkan begitu saja negara jajahannya lepas dari take control para kolonis. Maka dengan segera, Belanda mengibarkan dua Agresi bodohnya. What the hell is that? Belanda tidak menepati janjinya ketika Indonesia sudah berhasil menapaki tanah kemerdekaan. Diakhir tahun 1948, Agresi Militer Belanda II tak terelakan lagi, mereka menyerang Ibukota Jogjakarta sebagai Ibukota darurat. Tidak seperti pemimpin sekarang yang cenderung berpidato terlebih dahulu saat keadaan genting mendera bangsanya. Maka Bung Karno - Hatta memiliki inisiatif untuk mengirimkan sebuah telegram dengan isinya berbunyi, “Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah memulai serangan – nja atas Ibu-kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjiban-nja lagi, kami menegaskan kepada Mr. Sjafrudin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera.” Meski telegram ini tidak sampai ke Bukittinggi, namun Sjarifudin Prawiranegara memiliki inisiatif yang sama untuk mendirikan sebuah pemerintahan darurat somewhere in the jungle di Sumatera Barat. Beliau menjabat sebuah ketua yang setara dengan presiden. Inisiatif ini diambil demi mempertahankan eksistensitas Republik Indonesia, agar Indonesia tidak timbul tenggelam. Bayangkan jika tidak ada Sjarifudin Prawiranegara dan PDRI, maka RI akan mati suri.

Tidak gampang ternyata menenggelamkan Indonesia. Perhitungan Belanda salah besar jika agresi militer itu akan berhasil. Dalam plot selanjutnya, bagaikan sebuah Kristal mahal yang harus selalu dijaga agar tidak diambil oleh para pencuri. Maka itulah yang sedang terjadi pada bangsa Indonesia saat mereka baru saja merdeka. Para kolonis Belanda sebagai sekutu Amerika, begitu keluar sebagai pemenang Perang Dunia II. Maka, cita – cita mereka untuk segera menguasai Indonesia kembali di frame sedemikian rupa, direncanakan serapi – rapinya kedalam bentuk penjajahan yang lain direncanakan dibalik dalih perjanjian bodoh yang mereka sebut Roem – Royen. Dibawah bendera Konferensi Meja Bundar, Belanda memulai penjajahan mereka yang kedua. Hasil konferensi buatan Belanda ini diantaranya meneterapkan dan mengakui kemerdekaan Indonesia sebagai Negara Serikat bukan NKRI. Secara otomatis, Indonesia dibagi menjadi 16 negara bagian seperti Negara Bagian Indonesia Timur, Negara Bagian Sumatera Timur, Negara Bagian Republik Indonesia, dan lain sebagainya. Permasalahannya seperti ini, ketika Soekarno – Hatta menjabat sebagai presiden negara bagian Republik Indonesia. Maka terjadi kekosongan di dalam tubuh Negara Indonesia Serikat itu sendiri, dan dipilihlah Assa’at sebagai presiden Negara Indonesia Serikat. Indonesia saat bermetamorfosa menjadi sebuah bentuk Republik Indonesia Serikat maka, di masa itu pula rakyat Indonesia merasa dikecewakan. Pasalnya, ‘Serikat’ bukanlah aspirasi rakyat yang tertuang dalam teks proklamasi kemerdekaan NKRI. Beruntung negara – negara bagian itu secara bertahap tenggelam dan melebur didalam Negara Bagian Republik Indonesia. Menandakan bahwa NKRI telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Harus kita akui bahwa tokoh – tokoh kita terdahulu adalah orang – orang pemberani dan cerdas. Memframe Indonesia dalam potret Republik PDRI, Republik Indonesia Serikat, dan kembali lagi pada pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bayangkan jika PDRI tidak ada dan bentuk Republik Indonesia itu turut tenggelam seperti negara bagian lainnya, maka hancurlah NKRI sekarang.

Sejak kapan Amerika Menjadi Polisi Dunia?

♠ Posted by Aryni Ayu in
-Day 8-
17 Juni 2011


Amerika? goodness,lari..kita harus cari tempat perlindungan..! eke kan punya tambang minyak!kata si Libya, eke juga yang biasanya distribusiin minyak!kata si Mesir, aku juga mirip banget tu ama si Obama!kata Osama. Udah, kita lari aja yuk daripada ntar diadu domba ama Amerika. Mending kita independen sendiri kayak si Iran, mereka kan sekarang saingannya Amerika. Lagian juga ngapain sih sebenarnya mereka itu kok kayaknya betah banget di Timur Tengah?nyari Onta ya mas Obama?!haha, just kid :)

Sembari menghabiskan secangkir coklat panas di tangan kiri dan buah apel di tangan kanan, saya berteriak keras “Sejak kapan Amerika menjadi Polisi Dunia?” Ya, itulah kajian kritis yang hari ini akan saya coba beberkan. Meski hanya secara global, yang penting tetap provokatif, proaktif, dan berkutat pada fakta, enggak ngawur kayak si Amerika!(upz..). Asli, saya kurang begitu empati terhadap sikap para elit Amerika yang setiap hari kagak bosen – bosennya tampil di tv, memamerkan berbagai pernyataan utopis bahwa mereka adalah orang – orang kuat yang akan mengatasi gejolak di Timur Tengah. Meskipun saya tetap setia sama artis – artis Hollywood. Ke$ha, Avril Lavigne, Daughtry, Linkin Park, Eminem, Simple Plan, Jessie J, Nickie Minaj, Britney Spears. Come on, play your song, DJ what you what you waiting for?
Tapi menjadi pertanyaan besar sekarang, Amerika mengatasi atau malah memperkeruh? Lihat saja, intervensi kalian di negara – negara lain malah memperpanjang daftar korban warga sipil, rumah – rumah hancur, dan tidak sedikit kecurangan yang telah kalian perbuat. Sejak kapan Amerika menjadi polisi dunia?

FBI, CIA, Billdeberg, NATO, dan DEA, berubah menjadi Sailor Moon, dengan kekuatan cinta akan menghukummu! Atau berubah menjadi manusia super berwarna putih, hijau, biru, kuning, dan pink bagaikan Power Ranger! Layaknya pahlawan – pahlawan superhero itu, saat Anda melihat gerak – gerik Amerika selama ini. Intervensi, huru – hara, dan eksploitasi kekayaan dunia, itulah yang selama ini ada di balik layar scenario Amerika. Sebenarnya tak hanya satu aktornya, masih ada actor lain yang berperan sebagai kawannya. Siapa lagi kalau bukan aliansi Eropa. Kasihan sekali Eropa hanya sebagai actor kedua, padahal jika ditelusuri sejarahnya. Amerika tak lebih dari sekedar tanah jajahan negara – negara Eropa. Sebut saja Inggris, Spanyol, Prancis, Jerman. Coba kita analisis, apakah tidak ada sedikitpun cita – cita mereka untuk berperan kembali sebagai penguasa belahan timur dan barat, termasuk Amerika? Melihat latar belakangnya, mereka adalah negara – negara kuat sebagai kolonialis di abad kuno bahkan sebelum Amerika Serikat muncul sebagai polisi dunia. Ya, sendainya aliansi Eropa itu kembali bangkit dan Peradaban Islam pun kian bersatu tanpa harus terpecah – pecah seperti sekarang. Kedudukan Amerika Serikat sebagai negara adidaya pasti akan terombang – ambing layaknya raja yang harus segera lengser dari tahtanya. Tak akan ada lagi polisi dunia dibawah kapitalis Amerika. Namun jangan terburu – buru menyimpulkan hal tersebut tanpa tahu bagaimana fakta – fakta Amerika di masa lampau. Ada ranah yang lebih penting dan tetap menjadi pertanyaan besar disini, “Sejak kapan Amerika menjadi Polisi Dunia?” Marilah kita analisis hal tersebut melalui perjalanan historisnya.

Amerika dulunya bukan terlahir sebagai polisi dunia. Di abad – 16, dirinya baru saja ditemukan oleh bangsa Barat. Sebuah New World, begitulah yang dikatakan oleh Vasco de Gama saat menemukan benua Amerika. Meskipun sebenarnya Vasco de Gama dan Amerigo Vespuci bukanlah orang pertama yang menginjakkan kakinya di benua tersebut, melainkan sudah ada 500 koloni suku Indian disana. Namun seorang professor di sebuah universitas barat menyatakan barat bahwa nama ‘Amerika’ haruslah diambil dari nama seorang Amerigo Vespuci. Perlu Anda ketahui pada mulanya, benua gersang ini dikuasai oleh colonial Inggris di Amerika Utara (Amerika Serikat), dan Spanyol di Amerika bagian Selatan. Perlahan tetapi pasti, Amerika di bagian utara ternyata lebih menunjukkan proses kemajuan yang sangat signifikan sebagai negara Industrialis, ketimbang saudaranya di Selatan yang masih berkecimpung dalam kebudayaan agraris. Kereta api, perkembangan tekhnologi seperti telepon, telegraf, dan listrik bahkan tumbuh menjadi pusat bisnis dunia saat itu. Anda tahu Perusahaan Baja Rockefeller yang terbesar di Amerika Serikat itu?ya, perusahaan itu adalah satu potret kemajuan Amerika Utara di abad – 18. Hingga pada tahun 1776, wilayah ini merdeka dengan Thomas Jefferson sebagai pahlawan populernya. Amerika Utara berubah menjadi negara federasi atau yang lebih kita kenal sekarang sebagai Amerika Serikat. Berbagai consensus, kebijakan luar negri, undang – undang, serta perluasan ke Barat pun dilaksanakan. Dari sinilah perjalanan Amerika Serikat menuju negara Adidaya dimulai.

Di suatu hari saat dunia sedang sibuk – sibuknya ditimpa berbagai peperangan melibatkan seluruh kekayaan vital negara di sekitar tahun 1945 bahkan hingga sekarang. Ada Perang Dunia I, II, Perang Dingin yang melibatkan dua kubu besar yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet. Uni Soviet dianggap sebagai penghalang Amerika untuk memperoleh gelar negara Adidaya Tunggal. Polisi Dunia tidak akan terbentuk jika Uni Soviet pun masih setara kekuatannya dengan Amerika. Di belahan bumi barat, para kapitalis sedang merencanakan sesuatu diatas meja diplomasi. Apa yang dibicarakan mereka tentunya mendapat keamanan super ketat untuk menjaga beragam informasi yang telah diperbicangkan. Baru setelah dunia aman dan damai, dengan welcome mereka membuka rahasia – rahasia tersebut dihadapan public. Begitulah sang sutradara memainkan peranannya. Ada scenario, pasti ada kejadian yang tampaknya terjadi secara spontan namun faktanya sudah direncanakan oleh mereka yang berkuasa.

Anda masih ingat saat saya menyebutkan tentang FBI, Bilderberg, NATO, CIA, dan DEA? Kelima organisasi ini adalah manuver kapitalis untuk mewujudkan sebuah Orde Satu Dunia. FBI, NATO, CIA, dan DEA merupakan organisasi – organisasi bentukan Amerika dengan Aliansi Eropa yang berperan sebagai badan keamanan dunia. Sebuah aturan menyerukan agar mereka tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Ironis pada beberapa kasus faktanya aturan itu hanya tulisan di atas kertas. Ingat saat ada penulis yang menyebutkan dalam bukunya bahwa CIA terlibat dalam peristiwa G 30 S? Ini adalah urusan dalam negeri Indonesia, dan bangsa kami bisa menanganinya. Namun kenapa harus dinodai dengan keterlibatan CIA sebagai penulis scenario drama G 30 S melalui Soeharto?semua financial melalui tangan kanannya digelontorkan secara besar – besaran. Tak ada pilihan lain, menumpas hegemoni Soekarno atau menghacurkan PKI. Terang saja karena disaat itu mereka termasuk Amerika, sangat takut jika Indonesia jatuh ke tangan komunis. Beruntung karena hingga saat ini bangsa Indonesia mengetahui kejadian tersebut tentunya setelah skenario yang telah dibuat itu benar – benar terlaksana sebagai bagian dari Sejarah Indonesia.

Di era modern, kelima organisasi tersebut masih eksis tentunya dengan tetap menciptakan berlembar – lembar scenario baru utamanya untuk memerangi terorisme. NATO yang berperan sebagai tentara dunia, berdalih mengemban tugas Hak Asasi Manusia. Realnya di beberapa kasus, sangat tidak kontekstual dengan misi yang mereka emban. Tidak sedikit kaum sipil Timur Tengah yang menjadi korban dari intervensi mereka. Di satu sisi memang harus diakui organisasi – organisasi tersebut mencoba memerangi terorisme, namun di sisi lain, ada kepentingan – kepentingan tertentu hingga membuat kasus – kasus yang ditangani selalu mengakar kemana – kemana. Namun ada satu organisasi yang sangat jarang sekali bahkan hamper tidak pernah dibeberkan secara gamblang. Bilderberg! Organisasi super rahasia dan bisa dikatakan sebagai organisasi pembuat scenario dunia yang didalamnya terdapat orang – orang besar penentu stabilitas ekonomi dan politik Internasional, semua yang menentang akan digeser. Ya, itu hanyalah sebagian kecil cerita dari polisi dunia kita.

Dulu ketika komunis masih menjadi saingannya, mereka diorentasikan sebagai pembendung komunis agar dunia bisa berada dibawah bendera kapitalis dengan Amerika Serikat sebagai pimpinannya. Kini, ketika Uni Soviet telah terkubur, Amerika Serikat mencoba memainkan peran selanjutnya yakni sebagai Polisi Dunia. Berperan sebagai Polisi yang gajinya adalah kekuasaan Dunia.

Indonesia dibawah Hegemoni Patih Gajah Mada, Soekarno, dan Hedonisme

♠ Posted by Aryni Ayu in
-Day 7-
16 Juni 2011


Indonesia tanah tanah airku, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh! Mengaku kita hancur, berbohong kita Maju! Majulah terus dengan kebohongan sampai kecemplung lubang kuburan baru tahu rasa kalian.(Haha). Kiranya slogan itulah yang cocok mewakili Indonesia angkatan ’45 dengan Indonesia Angkatan ‘Modern. Apapun esensii yang akan tertuang dalam artikel ini, tak lupa penulis mendengarkan lagu – lagu wajib sebelum menulis. Alright, Put your hands up guyz! Turn on the Lights, and shake your body with Ke$ha, Avril Lavigne, Linkin Park, Bruno Mars, and many more artist. Nah, biarkan music – music itu berputar memenuhi pikiran saya dan pikiran Anda, hingga tercetuslah judul artikel “Indonesia dibawah Hegemoni patih Gajah Mada, Soekarno, dan Hedonisme”.

Sekali lagi tentang Indonesia, whats wrong? Ya ber- wrong – wrong kasus yang terjadi diantara elit pemerintah dengan rakyat. Saya itu gak bersalah! Pemerintah aja tu yang gak becus nangkep tikus! Rakyatnya juga gampang banget kena pengalihan isu! Ayo bapak – bapak, ibu - ibu, usir anak yang kagak mau ngasih contekan ke anak – anak kita pas UAN! emangnya anak – anak kita enggak bego apa kalo gak dikasih contekan?(aduh pak bu, salah ngomong tuh kayaknya,). Ya, itulah sedikit kasus kemunafikan yang terjadi diantara elit dan masyarakat baru - baru ini di tanggal 16 Juni 2011. Enggak elitnya, enggak masyarakatnya ‘karepe dewe’!bahasa jawanya sih begitu. Benar – benar agak susah sekali memang mengandalkan kejujuran kita di negeri Kleptokrasi!

Serasa berada dalam kehangatan matahari yang begitu sejuk di pagi hari bila kita mengingat Indonesia dibawah hegemoni Majapahit, begitu pula saat Indonesia baru saja merdeka. Bagaikan hidup di siang hari yang terik dan panas saat konflik – konflik terjadi di masa penjajahan colonial menyelimuti Indonesia, dan bagaikan berada dalam dinginnya malam hari yang pekat saat harus merasakan gelapnya hati para pemimpin yang sudah terbius dalam lembah Hedonisme. Hanya orang – orang jujur Indonesia yang tidak bisa hidup di negeri sarangnya tikus – tikus kantor. Saat para koruptor itu tahu bahwa Indonesia bukanlah lagi negara kuat, yang ditakuti bahkan oleh presiden Amerika saat hegemoni Soekarno memimpin, sejak itu pula pemerintahan mengkerdil. Layaknya Bonsai yang hanya dipajang dalam pameran – pameran public. Pemerintahan kian menguat sebagai symbol belaka tanpa ada ketegasan didalam tubuhnya, benar kan? Lihat saja saat elit tak bertanggung jawab yang sedang asik – asiknya melakukan berbagai pelanggaran itu. Setelah tertangkap yah paling – paling hanya masuk hotel prodeo selama satu atau dua bulan saja. Mungkin khalayak umum berani taruhan bahwa hukuman mereka pasti tidak sesuai dengan masa penahanan yang seharusnya dilakukan. Sebut saja Gayus! Coba divoting, berapa banyak masyarakat yang tidak setuju jika hukuman yang dijatuhkan kepadanya hanya berlaku 7 tahun penjara dengan tingkat korupsi tinggi hingga menyeret para elit lainnya. Belum lagi jika nanti ada intrik – intrik plesiran seperti yang sudah banyak dilakukan oleh para pejabat pemerintahan. Memang terlalu berani untuk mengkritisi ranah sekontra ini. Namun apa salah jika seorang anak muda sebagai public pendengar transparansi pemerintahan yang khawatir terhadap masa depan bangsa, mencoba mengkritisi dan mengemukakan pendapatnya terkait kondisi negara yang begitu memprihatinkan. Menjadi pertanyaan besar, apa yang salah dengan Indonesia? Apakah Demokrasinya, is’nt it?

Bolehlah kita berutopis sedikit, andai saja Indonesia seperti Majapahit yang kuat secara maritim dan agraris hingga mampu menguasai hampir seluruh wilayah Asia Tenggara. Andai Indonesia juga tetap menjadi bangsa saat Era Kemerdekaan berlangsung dengan rasa nasionalisme yang tinggi dan disegani oleh negara – negara lain, bahkan menjadi sorotan yang patut diperhitungkan dalam percaturan politik internasional. Semua khayalan itu memang benar adanya hanya menjadi bagian sejarah dari kegemilangan masa lalu bangsa Indonesia. Namun tidak ada salahnya jika mulai detik ini kita sebagai bangsa mulai mengingat dan memahami Indonesia beserta sejarahnya ketika masih dibawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Presiden Soekarno. Bisa kita bandingkan dengan kepemimpinan Indonesia sekarang yang lebih mengagungkan Hedonisme.
Indonesia dibawah hegemoni Kerajaan Majapahit dan patih Gajah Mada, adalah sebuah negara yang kuat, besar, dan disegani oleh musuh – musuhnya. Adalah kerajaan besar di Indonesia yang bahkan kebesarannya terdengar hingga ke belahan Afrika. Di bawah bendera Majapahit, untuk pertama kalinya penduduk Indonesia mengerti akan bangsanya sendiri, di luar kepulauan – kepulauan luas yang mereka tinggali itu, adalah orang – orang serumpun dan pluralistic. Menjadi bukti bahwa Kesatuan Republik Indonesia memang sudah ada sejak Indonesia itu sendiri belum terbentuk menjadi sebuah negara (state).
“..suatu hari wilayah – wilayah di seluruh kertaning bumi harus tunduk dibawah penyatuan Majapahit…” Seperti itulah kira – kira inti dari sumpah Palapa yang disematkan oleh Mahapatih Gajah Mada saat dilantik sebagai patih amangkubumi di tahun 1334. Menurut Kitab Pararaton, Orang – orang yang berusaha melawan politiknya itu akan disingkirkan agar tidak menjadi batu bagi penyatuan wilayah di bawah bendera Majapahit. Apabila kita mencermati substansial ini tentu tak jauh beda dengan elit sekarang bahkan di zaman Soeharto yang tidak segan – segan melempar orang – orang yang berusaha menentang kekuasaannya. Namun bedanya, politik Gajah Mada ini masih terlepas dari intrik – intrik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Karena tujuannya hanya untuk perluasan wilayah bagi eksistensitas kerajaan dan rakyatnya dengan kepemimpinan tetap diserahkan kepada Hayam Wuruk. Tanpa harus berebut kekuasaan memakai kedok Demokrasi. Memang harus kita akui bahwa kemaharajaan zaman dahulu lebih menitikberatkan perluasan territorial dan militer agar kerajaannya dapat dipertimbangkan oleh musuh. Berbeda dengan sekarang, sebuah negara dapat diukur tingkat kedigdayaannya melalui bidang politik dan ekonomi. Namun kita tetap harus melihat bahwa hanya dengan berbekal aristokrasi kuno, kepemimpinan Majapahit mampu menguasai negara – negara yang sekarang disebut sebagai ASEAN. Ironis wilayah – wilayah itu kemudian mengecil saat Orde Modern memimpin. Bahkan harus kehilangan beberapa kepulaun seperti Lipadan dan Sigitan, akibat kelalaian elit dan ketidak pedulian rakyatnya. Lalu bagaimana dengan NKRI sekarang? Melalui system demokrasi, mampukah Indonesia mempertahankan citranya sebagai negara yang dulu begitu disegani oleh masyarakat internasional?

Coba kita melangkah sedikit ke belakang untuk mencermati satu kepemimpinan lagi yang begitu gemilang setelah beratus – ratus tahun yang lalu Kerajaan Majapahit telah menjadi sejarah di buku – buku sekolah. Sukarnoisme, siapa yang tak kenal dengan ideologi ini? Apakah ada kepemimpinan sekarang yang mampu merancang konstitusi baru seperti yang pernah diciptakan oleh para found fathers kita? Seperti Soekarno, Moh. Yamin, Moh. Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Soekarno adalah penggali Pancasila yang biasanya kita peringati setiap 1 Juni, Moh. Yamin seorang politikus, sejarawan, pembuat undang – undang, dan penyelenggara pendidikan. Moh. Hatta adalah pasangan diplomatic Soekarno, dan Ki Hajar Dewantara adalah pencetus Tut Wuri Handayani sebagai symbol pendidikan Indonesia yang pluralistik. Tebak saja, para elit sekarang enak, hanya tinggal meneruskan dan menikmati saja, begitu pula dengan rakyatnya. Ya, saat kita mencermati keadaan Indonesia dibawah hegemoni Bung Karno memang banyak mendapat sambutan riuh tak hanya oleh bangsa sendiri, namun juga oleh masyarakat internasional. Indonesia dipercaya menjadi pengawas politik saat beberapa negara – negara di Asia Tenggara sedang mencoba memperjuangkan kemerdekaannya. Soekarno sebagai pemimpin negara juga begitu disegani oleh negara – negara besar seperti Amerika. Pemimpin Vatikan bahkan pernah memberikan 3 kali penghargaan kepada presiden Soekarno, hingga menumbulkan iri hati pada pemimpin bangsa lainnya yang belum pernah mendapat penghargaan itu. Indonesia juga berhasil menjadi pendobrak Konferensi Asia Afrika yang hingga kini masih berdiri tegak dengan esesensi yang tentu kontekstual dengan perkembangan zaman.

Bandingkan dengan Orde Hedonisme yang sekarang sedang berkembang di kalangan elit dan rakyat. Indonesia bukan lagi dipimpin oleh figure seorang elit tapi bisa dianalisis bahwa rakyat sedang diperintah oleh Hegemoni Hedonisme. Sebagian besar wakil rakyat di rumah pemerintah bukan lagi menjabat berdasarkan titah aspirasi rakyat, namun lebih mengutamakan kepentingan – kepentingan semata (Hedois). Kejujuran bahkan menjadi suatu utopis disini. Benar – benar menjadi canvas hitam bagi generasi bangsa. Indonesia sekrang tak lagi seperti Kebesaran Hegemoni Majapahit dan Soekarno, ternyata semakin terisolir!