Bung Karno dan Fidel Castro, Dua Musuh Besar Amerika

♠ Posted by Aryni Ayu in
-Day 3-
13 Juli 2011


Nama pertama adalah tokoh besar bangsa kita yang kedudukannya sempat tergeser oleh rezim dictator seperti Suharto dengan dibantu kawakan nasional dan internasional. Kedua, adalah The Survivor, seorang yang bertahan hingga hari ini untuk tetap membela Kuba dibawah bendera komunis.

Menatap indahnya langit biru bercampur keunguan yang terhampar begitu saja didepan mata saya diiringi dengan suara adzan magrib. Kian membuat saya tersadar dan tersentuh untuk mengucapkan sepatah kata ‘selamat menunaikan ibadah shalat magrib’, yuk kita jeda dulu setelah iklan – iklan komersial berikut ini.haha. Sesudah iklan jeda untuk shalat magrib bagi Jakarta dan sekitarnya, saya mencoba mencari – cari pemberitaan tentang Amerika versus Timur Tengah, bagaimana perkembangan mereka disana, serta mencari – cari kabar dua tokoh besar yang kiranya cukup mewakili komunis di masa lampau seperti Bung Karno dan Fidel Castro, yang pernah menjadi musuh besar Amerika.

Atau mensearching berita terkini mengenai Nazarrudin yang kini menjadi buronan 19 negara dunia. Benar – benar kejadian paling krusial dan sedikit memalukan sebenarnya, karena kasus – kasus seperti korupsi nampaknya selalu diexpose menjadi kuliner masyarakat sehari – hari. Diantaranya ini nih, ada satu kejadian yang membuat lidah saya gatal untuk segera mencela koruptor yang ada didalamnya. Di Metro Tv secara tiba – tiba muncul sebuah pemberitaan yang baru saja diliput mengenai seorang koruptor yang lagi – lagi kabur dari penjara. Seorang wartawan media tersebut memergokinya tengah berada di mall, dan sedang asyik bercakap – cakap bak tersangka yang tak berdosa. Tak ayal saat si wartawan itu mencoba memotret melalui blackberrynya (bukan promosi lho), sang koruptor yang seharusnya berada di penjara itu berlagak layaknya Brad Pitt, memalingkan muka saat sang papparazi berusaha mengambil gambarnya. Yah, mungkin pemirsa hanya bisa berkomentar ‘heran sekali, seharusnya para tikus – tikus ini berada di bawah batu nisan agar mereka tidak bisa kabur lagi’()

Sembari menggeleng – gelengkan kepala, menggerakan tangan, dan memutar – mutar mouse ala DJ yang sedang asyik mencerna music R’n B. Pussycat dolls, Eminem, Rihanna, dan Nelly Fortado terus membuat penulis berkata “come on, shake your body, just get out your the best damn thing, and put your hands up!” Dengan suara dentuman music R’nB yang terus berputar bak lampu diskotik, dan berlagak seperti J.K. Rowling yang menulis Harpotnya dengan serius, pikiran saya terus berjalan mengarungi samudra yang diatasnya terhampar peristiwa – peristiwa sejarah dari berbagai belahan dunia. Meski pemberitaan korupsi hari ini sempat tertera diawal tulisan sebagai coretan headline news bagi pembaca, namun penulis tetap berteriak keras seperti Avril yang sedang konser diatas panggung, “Hey guys,are you ready to rock? Tau gak sih loe? Ternyata Bung Karno dan Fidel Castro itu pernah jadi musuh besar Amerika loh, percaya gak?”

Ditengah berkembangnya poros Liberal yang kian mendunia dalam orde satu dunia yang segera terwujud dibawah simbolisme Amerika. Mungkin Anda perlu mencermati tanda tanya besar, benarkah serang mahernisme seperti Bung Karno yang begitu anti – barat dan Fidel Castro, sang survivor yang hingga sekarang masih bertahan di bawah bendera komunis pernah menjadi musuh besar Amerika di masa lalu? Apakah Indonesia ataupun Kuba disaat ini masih menjadi target sasaran serang Amerika Serikat jika keduanya masih berani menonjolkan bendera komunis? Ya, butuh penalaran yang mendalam dan fakta – fakta kuat untuk memberikan eksplanasi (penjelasan) tentang kedua pertanyaan besar itu. Mungkin, dan mungkin lagi saya adalah orang yang terlalu lancang untuk menuliskan ranah yang begitu konflik ini, karena Amerika beserta kawan – kawannya itu sangat sensitive saat mendengar kata – kata komunis yang terlontar baik dari opini public maupun perseorangan. Namun saya harus mengakui bahwa keberanian adalah kunci dari perfect written, jangan pernah berkata takut untuk menuliskan ranah yang controversial sekalipun. Bukankah kita hidup di dalam orde Demokrasi yang tersulut dibawah bendera Barat, benar kan?

Di suatu negara ada dua penjahat besar yang memiliki sekutu, kinerja, ideologi serta modus kejahatan yang berbeda untuk menjalankan aksinya. Tentu saja keduanya pun saling bertentangan dalam berbagai hal. Jika si penjahat A berkata bahwa sekutunya tidak boleh membawa bendera rivalnya dalam kehidupan sehari – hari, namun ironis tetap dilanggar maka akan terjadi suatu tindakan criminal disana. Dimana salah satu penjahat katakanlah si A, berusaha memerangi sekutu tersebut dengan berbagai cara karena berani membawa bendera si penjahat B dihadapannya. Tak senada, penjahat B rupanya langsung memberikan penyerangan terhadap si penjahat A tanpa terlalu berkoar – koar mengenai tindakan penyerangan yang akan dilakukannya. Penjahat A untuk Amerika dengan ideologi liberalnya, dan Penjahat B untuk Uni Soviet dengan bendera komunisnya. Sebuah perumpaan yang mungkin bisa dipakai untuk memberikan eksplanasi tentang kebenaran dua tokoh besar perwakilan barat dan timur, yang didasarkan dari buku – buku serta dokumentasi dalam pemberitaan internasional. Dua orang yang diharapkan bisa menjadi sekutu Amerika ini pun berbalik menjadi anti – barat. Nampaknya, cukup memberikan analisis bahwa Bung Karno dan Fidel Castro pernah menjadi musuh besar Amerika Serikat. Siapa yang tak kenal keduanya? Nama pertama adalah tokoh besar bangsa kita yang kedudukannya sempat tergeser oleh rezim dictator seperti Suharto dengan dibantu kawakan nasional dan internasional. Kedua, adalah The Survivor, seorang yang bertahan mungkin hingga hari ini untuk tetap membela Kuba dibawah bendera komunis. Mari kita cermati perjalanan historisnya.

Siapa yang tidak tahu saat Amerika bermusuhan dengan Uni Soviet? Bahkan hingga hari ini pun, masih terbesit dipikiran masyarakat internasional betapa dahsayatnya peperangan yang dijalankan keduanya. Perang Dingin yang berlangsung dari tahun 1950 – 1990, selama 40 tahun berhasil membelah korea menjadi dua bagian, memisahkan Jerman, dan meruntuhkan tembok Berlin di tahun 1990. Serta membuat kekuasaan Soekarno tergeser di tahun 1966 dan Fidel Castro menjadi seorang yang mengalami percobaan pembunuhan berulang kali oleh pihak Amerika setelah berani menyatakan dirinya sebagai seorang komunis di tahun 1952. Tak ayal jika perseteruan diantara Amerika dan Uni Soviet melibatkan seluruh negara – negara di berbagai belahan dunia. Dari Asia Timur, Asia Tenggara, Eropa Timur, Eropa Barat, bahkan di benua Amerika sendiri. Dunia Timur dan Barat menjadi saksi perseteruan mereka. Jika di Asia Timur terdapat Cina, dan Korea Utara sebagai komunis hasil kekalahan Amerika, di Eropa Barat yang cenderung Liberal dan Eropa Timur yang berkiblat pada komunisme Lenin. Dan di Asia Tenggara sebagai hasil campur tangan antara Amerika dan Uni Soviet maka tersebutlah nama Bung Karno sebagai tokoh besar Indonesia yang pernah digulingkan oleh pihak CIA.

Sikap permusuhan secara tertutup yang dilayangkan pihak Amerika terhadap Soekarno terlihat sejak Partai Komunis Indonesia mulai berdiri. Kekawatiran mereka terlihat terutama saat Bung Karno menjadi tuan rumah penyelenggara Konferensi Asia Afrika di tahun 1955, muncul kekhawatiran Indonesia akan terseret ke dalam poros komunis. Bahkan di akhir decade 1950, Washington mulai kehilangan kesabaran menghadapi Soekarno yang di Cap Anti – Barat tersebut. Maka melalui pihak CIA, organisasi milik Amerika yang dirasa kini telah banyak menuai kegagalan dalam operasinya, mulai mengadakan penyerangan terhadap Bung Karno melalui cara overt (terbuka) maupun covert (tertutup). Berbagai macam cara mulai dilakukan, pernah suatu waktu pihak Amerika menggunakan gambar Bung Karno di Hollywood sebagai topeng yang kemudian dimainkan oleh pemain film porno, otomatis foto dan film tentang skandal inipun tersebar di Indonesia. Namun sayang, bangsa Indonesia ternyata tak termakan oleh issue murahan tersebut. Ada pula isu dewan jenderal yang disebarkan oleh pihak CIA agar kondisi politik yang terjadi di Indonesia kian memanas. Hingga Amerika pada akhirnya menurut David T. Johnson (1976) membuat 6 opsi scenario yang dijalankannya untuk menyingkirkan Soekarno beserta komunismenya. Opsi, 1) membiarkan saja, 2) membujuk Sukarno mengubah kebijakan, 3) menyingkirkan Soekarno, 4) mendorong angkatan darat mengambil alih kekuasaan, 5) merusak kekuatan PKI, 6) merekayasa kehancuran PKI sekaligus kejatuhan Sukarno. Alhasil, scenario terakhir ternyata dianggap paling tepat oleh pihak Amerika untuk menghancurkan Bung Karno, musuh besarnya di belahan Timur.

Adapun di belahan dunia Barat, jika kita mau menyeberangi Indonesia menuju Amerika Latin tepatnya di daerah Kuba. Maka kita akan menemukan sebuah perjalanan historis yang begitu mengagumkan tentang sosok Fidel Castro, sebagai the Survivor dan musuh besar Amerika di belahan bumi Barat. Di tahun 1952, saat dirinya berhasil mengkudeta (menumbangkan) rezim Batista akibat kepemimpinannya yang buruk. Ditambah lagi dengan adanya pasokan persenjataan besar – besaran yang diberikan oleh pihak Uni Soviet saat Perang Dingin kian memanas, dan hubungan yang buruk dengan pihak Amerika. Maka Fidel Castro yang saat itu berperan sebagai pejuang dan penyambung lidah rakyat Cuba, sontak secara lantang berteriak di depan awak media internasional, menyatakan dirinya sebagai seorang komunis. Terang saja pernyataan yang begitu controversial itu membuat geram Roosevelt, presiden Amerika Serikat dan memutuskan untuk segera membasmi bocah tersebut dengan cara apapun. Dari percobaan pembunuhan melalui CIA yang diperintahkannya untuk meracuni Castro yang dicampurkan didalam microfon, makanan, ataupun pena yang nantinya akan dipakai oleh Sang Survivor. Diantaranya juga terdapat skandal seks yang dibuat oleh pihak Amerika, foto – foto Castro hasil rekayasa saat sedang bersama dua penari bugil nampaknya juga tak membuahkan hasil. Cara overt pun kemudian dipakai Amerika untuk menyingkirkan Fidel Castro. Sebuah perhitungan salah yang dibuat oleh CIA saat melakukan penyerangan di Teluk Babi ternyata mampu membuat aib bagi para elit Amerika. Bahkan John F. Kennedy sampai tak bisa berkata banyak di depan awak media internasional tentang kekalahan pihak Amerika.

Dia hanya berkata lantang “Komunis haruslah Hancur”, ya, nampaknya kata – kata ini terwujud di tahun 1990, meskipun benih – benih komunisme melalui Dunia Timur akan siap lahir kembali di zaman Liberal ini. The Survivor ini pun rupanya tak bisa lenyap begitu saja dengan ucapan JFK, atau oleh ancaman – ancaman Amerika selanjutnya. Bahkan hingga hari ini, Fidel Castro masih bertahan di Cuba dengan berpayung dibawah bendera Komunis.

Pendidikan Super Hedonis di Negeri Kleptokrasi

♠ Posted by Aryni Ayu in
-Day 2-
12 Juli 2011


Karena Guru adalah akar dari pendidikan, dan pendidikan adalah akar dari kemajuan bangsa!


Pendidikan Super Hedonis di Negeri Kleptokrasi! Sederet kata yang bisa dijadikan slogan atau judul yang bisa dipampang dimana saja. Entah itu dinding sekolah, on the street, jalanan yang biasanya hanya terpampang sederet corat – coret iklan visual, di bangku kelas mungkin bagi siswa yang sangat gemar melukis diatas meja, maklum, terbiasa menulis contekan di bangku,haha. Atau lebih baik lagi jika sederet judul diatas bisa dipajang di museum, sebagai peninggalan elit – elit tak etis yang terbiasa melakukan pelanggaran terhadap hukum. Agar generasi kita tahu bahwa Indonesia memang kurang terbiasa dengan kejujuran, dan sangat menggemari sebuah mantera “Hedonis”. Well, Hedonis biasanya terlahir dari rahim pendidikan yang memang mungkin kurang mengedepankan moral, rendahnya apresiasi terhadap tunas bangsa yang berprestasi, dan sangat menggemari rupiah. Benar – benar layak disebut negeri Kleptokrasi, hingga mampu menomorduakan bentuk NKRI.

Sambil bergaya ala Avril yang sedang menulis lirik lagunya, Lady Gaga yang sedang duduk bersama ‘bad romance-nya’ untuk memikirkan selusin konsep – konsep gila, serta berlagak bak Einsten yang rambutnya sempat di-blonde gara – gara kebanyakan mikir. Saya mencoba memutar kepala, berpikir hingga roda – roda didalamnya bergerak menyapu debu – debu cinta, broken heart, dan frustasi, Ah! Cinta bak tai kucing rasa cokelat, mengalir di sungai jika sore hari, upz!just kid (). Begitu lama sebenarnya penulis tidak menorehkan pemikirannya untuk menulis artikel, yang ada di pikirannya kemarin hanya tentang love is shit, love is damn, and love are fuck. Really, is so waste my time! Ya, saya kemudian mencoba meneruskan kebiasaan favorit saya untuk memukul – mukul boneka (kalau tembok mah keras,hehe) dan berteriak kencang di depan foto – foto kembaran saya yang ada di Hollywood “Avril, I hate that boy like shit, semua orang sekarang emang Hedonis, 9 logika 1 perasaan!”

Teriakan ini cukup memberikan saya energi tambahan untuk kembali mengungkapkan sebuah opini. Dengan memakai speaker mesjid, penulis mengumumkan bahwa pendidikan Indonesia itu Super Hedonis, bukan Super Man!

Mengapa pendidikan tertulis Hedonis di tulisan ini? Jika Anda melihat pemberitaan di berbagai media cetak ataupun tulis, maka akan banyak sekali fakta – fakta yang lahir untuk mengungkapkannya. Beberapa minggu lalu saat skandal century mulai menguak kembali, kasus suap anggota DPR, skandal, dan berbagai isu bahkan fakta tentang kotornya wajah pemerintahan di Indonesia. Munculah sebuah pemberitaan heboh yang menginformasikan bahwa ada seorang anak SD yang bahkan diusir oleh masyarakat sekelilingnya akibat kejujuran yang dimilikinya, dengan tetap berkata ”tidak” untuk memberikan contekan kepada teman – temannya saat ujian akhir sedang berlangsung. Kejujuran elit kalah telak dengan seorang anak SD.Bila tentang kejujuran, tentu saja ada pihak – pihak yang menegakkan ataupun menghancurkan. Bagi pihak yang memang senang mengutamakan dirinya sendiri (hedonis) daripada harus bernegara, tentu saja kejujuran akan terasa hambar. Hal itu tidak saja terjadi di dunia perpolitikan, namun juga dalam ranah pendidikan. Banyak pihak – pihak berwenang yang lebih melihat hasil daripada proses, mendapatkannya dengan berbagai cara tanpa melihat konsekuensi yang harus ditanggung rakyat. Beban moral menjadi taruhannya.

Pendidikan, adalah akar dari segala pengetahuan. Jika Anda ingin berprofesi sebagai politikus, sejarawan, dokter, pebisnis, guru, ataupun seorang koruptor. Mau tak mau, suka tidak suka, harus menempuh suatu pendidikan, karena semua ada ilmunya. Wajah pendidikan di era reformasi terutama di masa kepemimpinan SBY memang mendapat perhatian serius layaknya pasien sekarat yang harus segera dioperasi dan disembuhkan. Why? Ya, sedikit memalukan sebenarnya, karena pendidikan di negeri kita sebelumnya masih jauh dari standar negara – negara maju. Jangankan memenuhi standar, lha wong guru – guru saja tidak dihargai! Padahal mereka adalah katalis penyambung lidah generasi bangsa yang ingin memajukan Indonesia. Namun itu dulu, sekarang, Indonesia mulai menata lagi wajah pendidikan meski selalu dihiasi dengan mafia pengendus rupiah dan kekuasaan.

Pendidikan di detik ini, masih tetap hedonis. Hal ini tentu mengingatkan saya pada serangkaian perjalanan historis. Dia memperlihatkan bagaimana sifat hedonis (mementingkan kepentingan pribadi) di dunia pendidikan ini, memang telah ada sejak Belanda mengeluarkan sebuah Politik Etis. Rangkaian politik yang didalamnya berisi peningkatan terhadap irigasi, edukasi, dan transmigrasi. Sengaja dibuat berdasarkan keinginan segelintir tokoh di Belanda sana yang memutuskan untuk membalas budi Indonesia yang telah memberikan banyak pemasukan bagi kas negara Belanda. Namun, tidak semua elit Belanda yang mau memahami bahwa politik tersebut seharusnya bisa memberi kemajuan terhadap tanah Hindia – Belanda. Hanya tokoh – tokoh seperti Van Deventer, Van Kol, Abendanon, dan Snouck Hurgronye yang sungguh bercita – cita etis. Sedangkan yang lainnya, no sense! Mereka tetap mementingkan kepentingan pribadi untuk bisa mendapatkan pegawai – pegawai pemerintahan murah dari politik etis tersebut.

Berdirinya sekolah – sekolah di berbagai wilayah Hindia – Belanda di pertengahan abad ke – 19, adalah relevansi dari adanya Politik Etis. Barat dimasa itu memang memiliki prioritas untuk memajukan wilayah jajahannya meskipun pada nantinya akan melahirkan kaum intelektual pencetus anti – Barat. Namun tak seperti Inggris dan Amerikas, pendidikan yang dijalankan oleh pemerintahan Belanda ternyata berjalan lebih lambat dinegeri calon Kleptokrasi ini. Banyaknya pertimbangan – pertimbangan dari Belanda tentang masalah rasial yang sangat takut jika rakyat Indonesia nantinya mampu menyaingi kemampuan kaum kulit putih, serta kepentingan akan eksploitasi yang terus berjalan melalui dunia pendidikan. Membuat Belanda mendirikan berbagai sekolah – sekolah rendah dan kelanjutan di berbagai daerah. Dan sangat ironis sekali hanya anak – anak aristokratlah yang nantinya boleh mengenyam pendidikan ala Barat. Sekilas perjalanan historis ini kiranya cukup menjelaskan berbagai jenis rasa hedonisme pihak Belanda yang menyediakan pendidikan hanya untuk membuat mereka sebagai pegawai rendahan.

Bersyukurlah karena kemudian sejarah mencatat bahwa hasil didikan Belanda ternyata mampu membawa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Meskipun sungguh memalukan jika sekarang rasa hedonism ini kian hidup didalam ranah pendidikan. Lihat saja para mafia pendidikan itu yang berusaha mengeruk keuntungan dari berbagai program pemerintah yang diselenggarakan memang khusus agar para pendidik kita berpredikat professional. Karena Guru adalah akar dari pendidikan, dan pendidikan adalah akar dari kemajuan bangsa!

Hal tersebut juga mengingatkan saya pada sebuah perjalanan historis yang lain. Saat berjalan melewati sederet ruangan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di sebuah universitas. Saya kagum melihat guru – guru yang begitu bersemangat untuk diberi didikan profesional oleh para dosen disana, meski tidak sedikit pula dari mereka yang mengeluhkan banyaknya tugas yang diberikan. Diantaranya ada tugas untuk membuat rancangan pembelajaran, persiapan presentasi, dan lain sebagainya yang menurut saya, itu adalah anugerah bagi seorang pendidik professional seperti guru. Seraya terus berjalan dari koridor ke koridor, ternyata beberapa dari mahasiswa yang ada disana juga menawarkan berbagai jasa. Ada jasa pengetikan, printer, bahkan kantin dadakan juga tak menolak untuk mengambil keuntungan dari sebuah acara profesionalisme guru. Tak hanya mereka, bahkan mafia pendidikan pun tak mau ketinggalan untuk bisa menuai rupiah dari proyek tersebut.

Guru yang seharusnya dididik secara professional dan jujur, harus tergoda dengan para mafia pendidikan ini. Tak ayal jika banyak dari mereka yang melegalkan cara – cara instan untuk sekedar mendapatkan rupiah dari hasil predikat profesionalnya tanpa memperhatikan bagaimana nasib anak didiknya nanti. Dan saya bergumam pada diri saya sendiri, ternyata rasa hedonisme mereka tetap ada, pantas jika pendidikan di negeri Kleptokrasi menjadi Super Hedonis!

Amerika, Negara Adidaya yang Tak Punya Daya

♠ Posted by Aryni Ayu in
-Day 1-
4 Juli 2011


Amerika kini tak punya daya. Jangankan menyelesaikan konflik, si Adidaya ini malah memperkeruh suasana layaknya parasit!

Amerika, Negara Adidaya yang Tak Punya Daya! Silahkan saja Anda meneriakkan hal ini di depan didepan saudara – saudara, mbah – mbah, om – tante kita yang ada di PBB, CIA, atau NATO itu, yah, pokoknya organisasi – organisasi bawahan Amerika. Bukannya dipuja layaknya artis – artis Hollywood yang ada di red carpet itu. Pasti Anda langsung diintervensi atau disingkirkan ke pos – pos pemukiman layaknya warga yang ada di Timur Tengah itu, kan mereka mencoba meneriakkan suara mereka tapi sayang selalu dibungkam dan diintervensi. Wajar, karena kita – kita memang tidak memiliki kontak politik dengan elit – elit Amerika. Jangankan punya kontak politik, tahu idung kita aja mereka enggak,haha (just kid). Tapi bener kok, si penulis buku Membongkar Kegagalan CIA, Tim Weiner mengatakan bahwa Amerika kini tak punya daya. Jangankan menyelesaikan konflik, si Adidaya ini malah memperkeruh suasana layaknya parasit!

Ditemani buku – buku berjudul Kebohongan di Gedung Putih karangan Scoot McClellan yang bercerita bahwa pernah di suatu hari saat anak – anak Bush yang masih dibawah umur sedang asyik – asyiknya menenggak beberapa gelas bir bermerek di diskotik. Ayah mereka beserta prajuritnya di Gedung Putih sedang menyusun puzzle untuk mengembangkan Neoloberalismenya di berbagai belahan dunia. Ya, suatu hal yang sangat kreatif dilakukan oleh keluarga kerajaan ini. Tanpa mau tahu seberapa besar warisan dosa – dosa Bush yang saat ini diberikan kepada penggantinya. Lalu buku berjudul Membongkar Kegagalan CIA karangan Tim Weiner, The Idea of Indonesia karya R.E. Elson, dan Kudeta karangan Edward Lutter serta tak lupa secangkir alunan music pop, rock, dan R’n B. Pikiran saya terus berputar layaknya ban sepeda di OVJ yang sekali kayuh langsung hancur, maklum, terbuat dari kardus (:)).

Ditambah lagi ada seseorang di siang tadi yang mencoba membuat saya terkesan, mengajak saya berjalan mengelilingi kampus hanya memakai kaki tanpa adanya ban sepeda, yah cukup membuat kaki saya bertambah besar layaknya tongkat satpam. I like him, really different! Well just friends, cukup memberikan saya semangat untuk kembali menulis. Kali ini, Amerika memang sebuah Adidaya yang Tanpa Daya!

Amerika! lagi – lagi tentang negara surganya artis – artis Hollywood ini. Kasino, bar, Luxurious Hotel, prostitusi, drugs, criminal action layaknya permainan play station GTA Vice City, bahkan Red Carpet yang super fenomenal itu pun ada. Mau pesan minuman, tekhnologi super canggih, lifestyle bak artis – artis gila ala Lady Gaga, pesta, baju – baju Glamour ala remaja – remaja NYC dan Manhattan, atau senjata – senjata illegal yang biasanya dipakai Tom Cruise dalam filmnya? Semuanya bisa Anda miliki, entah untuk selanjutnya mau digadein, dijual di pasar loak , ataupun dijadiin pepes khas Indonesia. Itu semua terserah Anda, semuanya pasti tersedia asal ada uang. Karena mereka memang penganut demokrasi liberalism ala Yunani, dan materialisme ala Karl Marx. Money is Talk! budaya ini kemudian menular di negara – negara lainnya. Maka jangan heran jika suatu saat di negara - negara berkembang kian memanen runtuhnya harga diri akibat lebarnya jurang pemisah antara elit dan rakyat baik ditinjau dari segi perekonomian maupun sosialnya.
Masyarakat internasional mungkin sempat menahan tawa saat menonton aksi – aksi Amerika yang mengumandangkan bahwa Barat masih tetap berkuasa. Padahal diseberang sana Khadaffi menyerukan bahwa dirinya akan bersiap – siap untuk menyerang balik negara – negara Barat. Ya, suatu aksi yang begitu serius dijawab oleh diktator ini akibat intervensi produk ngawur yang dijalankan oleh NATO, keberadaan PBB yang mayoritas suaranya diisi oleh Amerika sehingga hasil kebijakan pun ternodai oleh berbagai pelanggaran, dan CIA yang secara rahasia mencoba menyembunyikan berbagai rencana – rencana entah itu berkualitas atau tidak dibalik dinding sejarah yang selama ini banyak sekali mereka sembunyikan. Berakibat pada kesimpang siuran Sejarah. Semua intervensi mereka masih penuh dengan tanda tanya, apakah terlibatnya pihak asing mampu memberikan solusi atau kolusi. Hal ini merupakan salah satu bukti di era modern, bahwa hari ini, Amerika adalah negara Adidaya yang memulai kekurangan energinya. Di satu sisi mereka menerapkan standart politik ganda alias bermuka dua, namun di sisi lain, orang – orang berkuasa ini cukup gegabah dalam meneterapkan berbagai kebijakan bagi pihak – pihak yang sedang bertikai. Maunya menjadi penengah, justru menjadi parasit. Banyak organisasi – organisasi dibawah bendera mereka yang tak sedikit menjadi canvas hitam bagi perkembangan sejarah di negara – negara lain, tak terkecuali Indonesia. Bila kita mau menjelajahi perjalanan historisnya, maka ranah sekontra ini akan mampu menjelaskan secara lebih mendetail mengapa Amerika adalah negara Adidaya, namun tak memiliki daya.

Enam puluh satu tahun lalu saat Perang Dingin masih berkobar antara dua adidaya yang begitu berbeda ideologinya, mencoba menghimpun masing – masing basis kekuatan mereka di negara – negara Belahan Timur dan Barat. Amerika yang berideologikan demokrasi – liberal dan Uni Soviet yang tetap berpegang teguh pada sosialis – komunis. Kedua – duanya bahkan menjadi actor terbesar ketika itu. Meski salah satu aktor tersebut kini sudah hancur. Namun sejarah mencatat bahwa Amerika adalah Adidaya yang pernah mengalami kekalahan paling memalukan saat harus menghadapi pengaruh komunis. Vietnam dan Kuba merupakan dua negara perwakilan Timur dan Barat, saksi dari ketidakberdayaan Amerika.

Perwakilan dari Timur, Vietnam, memang sempat terbelah menjadi dua negara berbeda ideologi antara Vietnam Utara dan Selatan. Di sisi utara, adalah wilayah kekuasaan komunis dan selatan yang dikuasai oleh hawa liberal. Ranah ini memang hanya dijabarkan secara singkat karena pertempuran yang pernah terjadi antara utara dan selatan ini pada akhirnya mampu membuat Amerika malu. Bahwa dirinya yang begitu adidaya harus dikalahkan oleh dogmatis komunis yang ternyata mampu menyatukan Vietnam dibawah benderanya.

Kuba sebagai perwakilan Barat, yang menjadi saksi bahwa Amerika pernah mengalami kekalahan paling memalukan dan tak memiliki daya saat mereka menyebut dirinya Adidaya. Ditilik dari perjalanan historisnya saat kudeta di tahun 1952, dimana rakyatnya mencoba merobohkan rezim Batista dibawah kepemimpinan Fidel Castro, adalah awal dari perjalanan Amerika untuk segera memusnahkan semua pendukung komunis. Harry S. Truman, seorang presiden Amerika, di tahun yang sama mulai mendirikan sebuah badan intelejensi pusat yang bertugas untuk memberitahu presiden tentang perkembangan di negara – negara lain, dan bertugas pula untuk menspionase atau memata – matai gerak – gerik Uni Soviet. CIA, Central Intelegensi Agency milik Amerika dan M-15 milik Uni Soviet, harus kita akui pekerjaan menjadi mata – mata memang sangat laris di masa itu. Namun ada ranah yang lebih penting disini, bahwa disaat mereka sedang sibuk menggaung – gaungkan financial, doktrin dan akses politik di negara – negara protektoratnya. Ditambah lagi dengan elit – elit Amerika yang mulai mendengar dari para spionasenya, ada sebuah negara di Amerika Latin yang akan tersedot kedalam poros komunis. Maka disaat itulah Fidel Castro, sebagai revolusioner baru menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Komunis, begitu pula dengan Kuba. Otomatis statement yang begitu berani tersebut mampu membuat Uni Soviet tersenyum ditengah kejengkelan Amerika yang sangat menginginkan seorang Fidel Castro musnah dari belahan dunia manapun.

Berbagai cara di kemudian hari dipakai Amerika untuk membunuh Fidel Castro. Dari cara – cara murahan seperti penyebaran foto – foto Castro bersama dengan dua gadis di Bar, persis seperti apa yang dilakukan CIA terhadap Bung Karno yang dinilai mampu meluaskan pengaruh komunis. Percobaan pembunuhan melalui racun yang disebarkan para ilmuwan Amerika dibawah CIA, beberapa penyerangan kecil hingga pada akhirnya melalui cara – cara penyerangan besar yang terjadi di Teluk Babi semuanya mengalami kegagalan total. Antara militer, sipil dan Amerika saling menyerang di teluk ini. Namun ironis, Amerika harus kalah hingga membuat John F. Kennedy tak dapat berkata banyak di depan para awak media internasional yang membuatnya harus mengakui bahwa Ke-Adidayaan Amerika memang kehilangan daya akibat kesalahan rencana yang dibuat oleh organisasi dibawah benderanya, yakni CIA.

Hingga saat ini pun, organisasi – organisasi yang ada dibawah benderanya turut menggerogoti kedigdayaan Amerika. Lihat saja aksi – aksi yang dilancarkannya di Timur Tengah, sampai detik ini hanya menyisakan permasalahan baru bagi dunia. Amerika benar – benar kehilangan dayanya!