Folklor Di Indonesia

♠ Posted by Aryni Ayu in
PENGERTIAN FOLKLOR DI INDONESIA

MASA DAHULU

Pemerintah colonial Belanda telah mendirikan Panitia Kesusastraan Rakyat, dengan maksud untuk mengumpulkan dan menerbitkan kesustraan tradisional, yang banyak terdapat di Indonesia, namun sampai pada masa itu belum dapat diperoleh oleh umum. ( baca Teeuw, 1967 : 13 ).

Para sarjana yang telah meneliti bahan-bahan folklor Indonesia adalah dari disiplin-disiplin filologi, musikologi, antropologi budaya, teologi, pegawai pamong praja klonial Belanda.
Nama para sarjana filologi itu diantaranya G. A. J. Hazeu ( 1897 ), J.Karts ( 1923 ), H. Kern ( 1887 ), R.M. NG. Poerboatjaraka( 1940 ), Tjan Tjoe Siem (1923 ).
Nama para sarjana musikologi diantaranya Jaap Kunts (1959), suami istri C. dan J. Hooykas (1941). Nama sarjana antropologi budaya antara lain B. J .O. Schrieke ( 1921 dan 1922 ) W. H. Rassers (1959). Nama para Teologi antara lain C. Poensen ( 1870 ), J. Kreemer ( 1888 ). Nama para sarjana ilmu tari yaitu K. E. Mershon ( 1971 ) dan I Made Bandem ( 1972 ) Sarjana dan pelukis antara lain Walter sepies ( 1939 )

Kebanyakan mereka itu adalah orang Eropa, berkebangsaan Belanda hasil karya mereka banyak seperti kita baca dalam buku Bibliography of indonesian people and Cultures 1962. Kita dapat memperoleh kesimpulan bahwa pecinta folklor pada masa silam telah menghasilkan pekerjaan yang sangat berharga, karna dapat dijadikan bahan dasar untuk mengembangkan ilmu folklor Indonesia pada masa kini, sayangnya mereka bukan ahli folklor.
Sebagai contoh George Alexander wilken telah menerapkan Teori Efolosi Religi dalam menganalisa kepercayaan Rakyat Indonesia.


1
Kesimpulanya bahwa kepercayaan orang Jawa tentang padi mempunyai jiwa dan adat memangur gigi adalah bekas peninggalan yang tetap masih hidup (suvival) dari jaman animisme dahulu. (Wilken, 1912 ;III, 1-278;IV, 1-36).

W. H. Rassers & J. P. B de Josselin mempergunakan teori strukturalis sosial dalam menganalisis folklor Indonesia. Rassers misalnya menunjukan adanya kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dari legenda, upacara dan struktur sosial Jawa. Ia telah menganalisa hal itu, yaitu dalam disertainya Wayang Suaisme, Budisme, legenda & keris Jawa ( Rassers 1959 ).

Josselin de Jong mempelajari mitologi Indonesia berkesimpulan bahwa di dalam sistem kepercayaan orang Indonesia ada 2 sampai 3 macam dewa. Peratama mewakili kebajikan dan kehidupan, kedua mewakili kejahatan dan kematian. Sepasang dewa ini mempunyai sifat berlawanan karena keduanya merupakan aspek-aspek dewa, ketiga dewa tertinggi atau pencipta. Dewa yang memiliki keburukan dan kematian mempunyai sifat dualistis. Disatu pihak ia dihubungkan dengan kematian dan kejahatan sehingga di anggap mendekati sifat manusia yang dapat mati namun dipihak lain ia adalah dewa sehingga dianggap luhur dan baik. Di Jawa sifat dualisme ini dimanifestasikan dalam diri seseorang dewa, yang merupakan penghubung diantara manusia dan para dewa. Dewa ini oleh Josselin De Jong disebut dengan julukan de Godelijk Bedrieger atau dewa penipu ( Josselin de Jong, 1929 ).

H.B Sarkar menggunakan teori Solar Mythology dalam menganalisa legenda Jawa Timur. Ia berkesimpulan bahwa tokoh legendaris Panji sebenarnya melambangkan matahari yang menunggang kuda yang senantiasa memburu kecintaanya, sang bulan yang selalu menghilang. Menurutnya cerita panji adalah mite alam dan tidak ada hubungannya tetomisme dan eksogami ( Sarkar, 1934 :356 ).

L.H. Coster-Wijsman telah mempergunakan teori defusionisme untuk membandingkan mengenai tokoh penipu dalam dongeng Indonesia terutama daerah Pasundan, Jawa Barat. Menurutnya cerita Kabayan berasal dari Turki-Arabia ( Coster-Wijsman 1929 ).
2
Di dalam buku-bukunya yang berjudul Het Sprookje Van Sterke Hans in Indonesia ( dongeng tentang si kuat hans di Indonesia ), telah membuktikan pentingnya penelitian dongeng di Indonesia karena di dalam terkandung banyak sekali motif cerita ( tale motif ) yang juga terdapat di Eropa. Indonesia dan Eropa merupakan adaptasi yang berdiri sendiri dari motif cerita yang sama. Defries menganotasikan dongeng Indonesia dengan mempergunakan Tale Tipe Index dari Antti Aarne dan Stith Thompson.

Philip Frick McKean, seorang menganut eclecticisme meneliti tokoh penipu hewan, sang kancil, telah mempergunakan berbagai macam teori dan metodologi seperti difusionisme dan aliran Finlandia dan strukturalisme. Menurutnya pendekatan strukturalis yang telah dikembangkan Alan Dundes dalam menganalisa dengeng Jawa diungkapkan dimensi penting sistem nilai budaya Indonesia.

Kesimpulanya dari penelitian tokoh sang kancil, McKean berpendapat bahwa orang Jawa selalu mendambakan keselarasan keadaan dan menghargai sifat cerdik yang tenang ( Cool Intelegence ) seperti yang dimiliki sang kancil !

Para ahli Antropologi Belanda pada masa itu, seperti G. A. Wilken, A. C. Kruyt, J. P.B. de Josselin de Jong telah banyak melakukan penelitian folklor demi perkembangan ilmu Antropologi Indonesia kecuali Jan de Vries tidak melakukan penelitian. Hal tersebut berhubungan dengan pendapat di Negeri Belanda pada masa itu yang menganggap bahwa folklor adalah kebudayaan petani, desa Eropa dan bukan kebudayaan orang primitif seperti orang Indonesia pada masa itu. Jan de Vries menjadi penting dalam sejarah perkembangan folklor Indonesia karna ia adalah ahli folklor berkebangsaan Belanda satu-satunya yang mempelajari folklor indonesia.

MASA KINI
Dalam rangka mencari identitas bangsa, pada beberapa tahun ini di pusat maupun di daerah telah timbul kegairahanuntuk mengumpulkan folklor Indonesia. Pada umumnya pengumpulan atau inventarisasi folklor ada 2 macam yakni :

3
Pemgumpulan semua judul karangan ( buku dan artikel ) yang pernah ditulis orang mengenai folklor Indonesia untuk kemudian diterbitkan berupa buku bibliografi folklor Indonesia.
Pengumpulan bahan-bahan folklor langsung dari tutur kata orang-orang anggota kelompok yang empunya folklor dan hasilnya kemudian diterbitkan atau diarsipkan.

Metode pengumpulan untuk inventarisasi macam pertama adalah penelitian di perpustakaan ( Lebrary research ) sedangkam macam kedua adalah penelitian ditempat ( Field research ).
Mengenai tujuan inventarisasi yang pertama ada 2 macam yakni :
a.Menghasilkan bobliografi biasa, yakni buku yang hanya memuat daftar judul-judul karangan mengenai folklor, yang juga mengandung nama pengarang, tempat terbit, tanggal terbit, penerbit, judul karangan saja tanpa diberi anotasinya ( ringkasan isi karanagan )
b. Menghasilkan bibliografi yang beranotasi, yakni buku yang bukan saja mengandung daftar judul-judul karangan mengenai folklor, isi karangan, dan penilaian.

Inventarisasi dengan tujuan membuat bibliografi folklore Indonesia pada masa sebelum tahun 1970, yang mengandung banyak karangan mengenai folklore Indonesia.
Buku yang paling terkenal adalah hasil karya Raymond Kenedy (1962). Dan diperluas oleh Tomas W. Maretzky dan H. Th. Fischer termasuk salah satu buku bibliografi yang terlengkap mengenai karangan-karangan tentang kebudayaan Indonesia sebelum tahun 1960.
Dengan diterbitkanya buku bibliografi beranotasi mengenai folklore Jawa oleh Jemes Panandjaja (1972). Kemudian diturutjejaki sarjana lainya seperti I.G.Ng.Arinton Puja (1973) mengenai folklore Bali, Sugiarto Dakung (1973) mengenai golklor Sunda, dan A.A.M. Kalangie Pandey (1978) mengenai pengobatan rakyat Indonesia.

Setelah perang kemerdekaan Indonesia, dan pihak pemerintahan seperti terbitan-terbitan Lembaga Sejarah dan Antropolofi (d.h. Lembaga Adat Istiadat dan Cerita Rakyat) Direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen P dan K, yang berbentuk buku-buku yang berjudul Cerita Rakyat, empat jilid diterbitkan Balai Pustaka (1963-1972).

Di luar negeri koleksi folklore Indonesia dari perpustakaan Universitas Leiden (Pigeid, 1967) terdiri dari kepercayaan, upacara, cerita, prosa rakyat (mite, legenda, dongeng) teater rakyat, musik rakyat. Di Indonesia Arsip semacam itu yang paling menarik adalah koleksi dari Gedong Kirtya di Singaraja, Bali. Arsip ini menarik karena terdiri dari naskah-naskah yang diukir di atas lontar. Gedong Kirtya asalnya yayasan Kirtya Liefrinck-Van der Tuuk (1928) dengan maksud untuk mengumpulkan dan mengarsipkan folklore Bali. Naskah lontar adalah penurunan naskah-naskah lontar yang ada di sana adalah penurunan naskah-naskah lontar asli milik para bangsawan kraton atau merupakan rtanskripsi lansung dari bahan-bahan folklore yang diperoleh tutur kata para informan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali Jawa atau bahasa Bali dan huruf yang digunakan adalah hanacaraka.

Naskah-naskah lontar yang ada di Bali pada umumnya adalah dari jaman sekatang, karena sampai saat ini naskah lontar masih dibuat orang disana. Bahan folklore yang dikumpulkan dalam arsip Gendong Kirtya itu antara lain adalah tentang prosa rakyat seperti satwa, tantri, dan kepercayaan rakyat. Sayangnya pengumpulan ini kurang disertai konteks seperti latar belakang kebudayaan, dan sosial. Yang menurut metode pengumpulan folkor modern mutlak harus dikumpulkan bersama-sama. Departemen P dan K di Jakarta telah mengadakan pengumpulan lagu-lagu rakyat Bugis dari sulawesi Selatan, Ona Niha dari pulau Nias, dan Cirebon dari Jawa Barat. Diantara tahun 1972 dan 1973 di bawah pimpinan James Danandjaja telah diadakan pengumpulan folklor bagi pengarsipan dari beberapa suku bangsa di Indonesia terutama Bali dan Sunda. Pengumpulan ini dilakukan dalam rangka Proyek Tahun Buku internacional yang disponsori oleh pemerintah RI dan UNESCO.

5
Metode tang digunakan Danandjaja sama dengan yang dipergunakan oleh Prof. Dr. Alan Dundes dari Universitas Kalifornia di Berkeley bagi program folklor dan arsip folklornya di sana, yaitu bagi setiap folklor yang dikumpulkan harus disertai dengan keterangan mengenai kontek kebudayaan serta interpretasinya dan juga pendapat informanya mengenai bentuk folklor yang diberikan. Dari pihak pemerintah daerah yang kini telah mempunyai arsip folklor ádalah Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dengan koleksi folklor Betawi.

Dalam rangka Proyek Study Kebudayan Melayu, yang pada tanggal 28-31 Mei 1973 diadakan Seminar Inventarisasi dan Dokumentasi folklor Indonesia yang bersifat nasional di Jakarta, dan di ketuai oleh J. Danandjaja. Salah satu keputusan yang penting adalah usul yang diajukan kepada pemerintah agar secepat mungkin mendirikan pusat folklor Indonesia di Ibu kota RI. Tugas pusat itu adalah mengkoordinasi penelitian folklor di Indonesiayang mencakup pengumpulan, dokumentasi / pengarsipan dan analisa. Seminar yang ke dua diadakan tujuh tahun kemudian yaitu bulan Juli 1980, tujuan seminar itu adalah persiapn untuk mendirikan pusat penelitian folklor. Seminar ke-3 diadakan 2-4 Maret 1982 di Jakarta, bertema menggali dan menyebar luaskan folklor dalam rangka menunjang pembinaan dan pengembangan budaza nasional.

Pada masa setelah kemerdekaan usaha pengumpulan folklor material semakin diintensifkan. Di Ibu kota usaha itu berupa museum-museum folklor, dan yang paling menarik usaha yang dilakukan Yayasan Harapan Kita di bawah pimpinan Ibi Tien Soeharto, yaitu berupa sebuah museum alam terbuka di pasar Rebo Jakarta. Taman mini itu terdiri dari kompleks-komplek rumah adat dari seluruh nusantara dalam bentuk dan ukuran sebenarnya, bahkan ada yang asli hasil pindahan dari daerah asalnya. Bangunan-bangunan itu lengkap diisi dengan perabotan serta alat-alat perlengkapan lainya yang asli yang diambil dari daerah asalnya. Setiap hari selalu diusahakan agar ada kegiatan dibeberapa kompleks rumah adat daerah tertentu, yaitu berupa kesenian atau demonstrasi pembuatan kerajinan tangan tertentu.



6
Museum-museum folklor material lainya yang Sangat penting bagi pengebangan ilmu folklor di Indonesia adalah yang didirikan Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Koleksi musiem itu adalah golek cepak Cirebon, wayang golek purwa, wayang golek pakuan, wayang kulit Jawa Tengah, dan Yogyakarta, wayang golek kraton yang berusia 300 tahun dan lain-lain.

KEGUNAAN PENELITIAN FOLKLOR INDONESIA

Sebelum kita mendalami masing-masing bentuk folklore Indonesia, perlu kiranya kita mengetahui dahulu sebab-sebabnya mengapa kita perlu meneliti folklor lisan dan sebagian lisan Indonesia. Sebab utamanya adalah bahwa folklore mengungkapkan kepada kita secara sadar atau tidak sadar, bagimana folknya berpikir. Selain itu folklore juga mengabadikan apa-apa yang dirasakan penting (dalam suatu masa) oleh folk pendukungnya, contohnya adalah pribahasa orang Minangkabau yang berlaku pada suatu masa, dan kita dapat mengetahui norma-norma hidup mereka pada waktu itu.

Hal ini berbeda dengan suatu etnografi, karna suatu etnografi (monografi) lebih merupakan hasil rekonstruksi kebudayaan suatu suku bangsa orang peneliti di tempatnya, sehingga apa yang diabadikan sebenarnya adalah apa yang dianggap penting untuk disoroti dan penelitinya dan bukan yang dirasakan penting untuk disajikan pendukung kebudayaan itu sendiri.

Fungsi itu menurut William R. Bascom, seorang guru besar Emeritus dalam ilmu folklor di universitas Kalifornia di Berkeley yang telah almarhum, ada empat yaitu
a.Sebagai system proyeksi yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif.
b.Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.
c.Sebagai alat pendidikn anak.
d.Sebagai alat pemaksa dan dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

Aneh, tapi sayang.. (Dyri, 8 Februari 2012)

♠ Posted by Aryni Ayu in
“satu yang gak bisa aku penuhin, yang dari dulu selalu bikin aku tengkar dengan mantan – mantanku, perhatian!

Perhatian? bukankah itu milik setiap insan? Tiap – tiap mahluk bernyawa menginginkan hal itu. Bukan hanya sekedar memberi, tapi juga meminta. Aku semakin tak punya alasan untuk meruntuhkan segala protesku terhadapnya. Aku benar – benar harus kuat menghadapi keanehan ini. Hari itu benar – benar aku ingat, benar – benar aneh, benar – benar aku sayang.



Pagi itu hampir terang. Bulan di belahan barat pun belum mau menenggelamkan dirinya kedalam sayup – sayup subuh. Masih berkejora, besar, dan sedikit menakutkan. Layaknya vampire – vampire di film. Ketika bulan purnama datang, mereka akan menerjang, dan aku pun telah bersiap – siap menerobos kaca di depan kamarku, kalau – kalau di depan bulan itu muncul sesosok manusia bergigi tajam. Ah, secuil imajinasi membuat kepalaku pusing. Mataku yang sayu memandang jam dinding, berdetak meributkan detik – detik waktu. Sudah pagi ternyata. Pepohonan mengayun – ayun mengikuti sinar di ufuk. Suara dapur berdentum tak karuan, begitupun jantungku. Capek rasanya menjadi juru koki. Membantu manusia yang kusebut ‘ibu’, terkadang membuat dada sesak. Berusaha membantu ini itu, memasak ini itu, dan menerima omelan ini itu, nampaknya cukup membuat wajah ini manyun. Andai aku yang penggemar berat, seberat – beratnya sosok Avril Lavigne ini bukan wanita, sudah kubuang jauh – jauh segala peralatan masak. Lalu kuganti dengan peralatan musik. Rock, blues, pop, atau k – pop yang serba feminim itu, mantap! akan kujadikan rumah ini serba musik. Oh, mulai menghayal lagi!

Membolak – balik halaman milik Pramoedya Ananta Toer, mendengar ocehannya tentang hidup manusia bukan matinya, memberiku banyak tahu. Setidaknya membuatku sadar, kehidupan selayak – layaknya tempatkanlah di kursi yang terbaik. Terbaik, bukan terbalik. Ah, aku rasa itu yang terjadi di pagi kemarin. Pertengkaran kecil dalam egoistis, menjadi makanan pembuka, ya tepatnya setelah membantu ibu. Tergesa – gesa ku pergi ke tempatku belajar menaiki sebuah kendaraan besi keluaran Jepang. Suaranya menderu – deru sepanjang perjalanan, mengalahkan keramaian, berjalan sekilat mungkin, menyaingi kecepatan Valentino Rossi. Tapi kupikir, memberi makanan untuk orang yang kusayangi tampaknya sedikit lebih penting, daripada tergesa – gesa. Kuputar kemudiku, sedikit mengurangi kecepatan menambahnya lagi, mengurangi lagi, terus begitu layaknya pembalap liar.

Menit sekitar lima, aku sampai. Kujumpainya disana. Pakaiannya tampak lelah, wajah yang kusam, tangan yang terus mengotak dan mengatik tombol – tombol computer, lantas tersenyum melihatku. Oh, senyumnya membelah hati yang sedang membara. Kuusap – usapkan mataku, takut – takut aku masih di alam mimpi, tapi lebih baik begitu. Dipersilahkan duduk, akupun duduk. Melihat – lihat dunia maya yang sedang dibukanya. Tuhan, tidakkah dia lelah berada semalaman disini hanya dihibur dengan dunia yang maya itu? belum lagi hiburan, barangkali wanita kasat mata yang menjemukan hati itu, membuat kesedihanku bertambah.

“kamu gak kuliah?”, tegurku, “gak, dosennya gak ada.” “trus, kamu bakal jaga warnet terus? Gak capek?”, “Gak, aku lagi gak ada kerjaan”. Aih jawaban ini, membuat pikiran tak karuan. Waktu itu semakin memudar, kenapa tidak berusaha diisi dengan kegiatan lain? Membersihkan diri kek, belajar sesuatu kek, atau sekedar mengistirahatkan diri, pasti lebih menyehatkan. Dasar anak muda! batinku.

Pagi itu masih dingin. Kubiarkan dirinya mengisi perut dengan bekal yang kubawa. Aku masih belum ingin marah. Dalam hati aku terus mencari – cari bahasa apa dan kata apa yang indah tapi pedas, tak ingin membuatnya sakit. Hanya ingin mengingatkan dengan cara dewasa. “kamu sombong! Gak kirimin aku sms”, “aku lagi males sms-an”, “ya, tapi kan aku jadi bingung aku mau bawain bekal, tapi aku juga gak tahu kamu butuh perhatian atau enggak? Kan orang jadi bingung tanpa perhatian dari cowoknya, kamu gak sms aku seharian, tahu – tahu muncul di fecebook, berkomen – komen ria ama cewek lain”, dia tertawa dan menjawab “udahlah mi, masalah kayak gitu gak usah dibesar – besarin”, aku tertunduk, “oo biar besar sendiri gitu”, dirinya hanya tersenyum “ya enggaklah mi..”

Oalah le, aku ini kekasihmu, pantas toh kalau ingin dapat perhatian? Kenapa jawabanmu masih saja begitu? Dasar orang aneh! Hatiku sedikit mengerang kesakitan. Suasana tempat itu kian ramai. Kuminum setenggak botol dingin, tapi panasnya hati belum juga reda. Jam berdentang menggelitik tubuhku untuk segera pergi meninggalkannya, sekedar mengikuti jam perkuliahan. Aku pamit undur diri, “nanti aku kembali lagi”, ucapku.

Andai tak ada si dosen, aku pasti sudah keburu kabur. Mengitari jalanan raya yang padat, berlalu lalang seperti gembel yang tak memikirkan sesuatu apapun, hanya kesenangan yang ia tahu. Atau paling tidak bernyanyi – nyanyi di tempat karaoke sambil berfoto – foto ala narsis. Tapi aku tertipu, tak seperti yang kuharapkan. Kampus tetap ramai, dosen datang tepat pada waktunya meski pekan ini awal masuk kuliah. Dan aku pun terjebak dalam rutinitas, lagi. Tik dan tok, waktu terus bergulir. Si dosen yang biasanya ‘ogah – ogahan’ ini rupanya sedang terkena ‘demam’. Semangatnya menjadi tumbuh. Mahasiswa diajaknya terus untuk menangkap apa yang sebenarnya dia ajarkan. Bercerita, tertawa, bosan, bercerita lagi, bosan lagi, rasanya ingin cepat pulang. Ingin cepat – cepat tidur, sekedar menulis, membaca buku, atau yang paling nakal ingin berdua – duaan dengan belahan hatiku.

Sekedar bertanya atau mencatat – catat apa yang diocehkannya. Sebosan apapun, aku tetap memperhatikan dosenku itu. Menit ke sekian kalinya, perkuliahan selesai. Aku lega.

Terik matahari siang itu sangat menyengat, bahkan hampir menghapus kulit putihku. Apalagi yang akan kulakukan jika tidak menepati janjiku. Tepat tengah hari aku memutar arus, kembali ke tempatnya. Mataku panas, kepalaku makin menggila pusingnya, ditambah lagi dirinya, masih asyik sekali dengan dunia yang maya itu. rasanya ingin berteriak, ‘Im be frustrated my men’. Maka kuambil secarik Koran yang terbit hari itu, berusaha menenangkan batinku. Tertulis besar – besar di Koran itu, lagi dan lagi pemerintah dipesimisi masyarakat. Ah, lagi – lagi partai ini, orang – orang ini lagi, permasalahan ini lagi. Apa – apaan Indonesia hari ini, terlalu banyak etika yang telah terhapus, batinku.

Sembari mengilustrasikan apa isi Koran itu, mataku berpencar untuk memandang sekeliling. Tepat sekian detik ku memandangnya, masih saja lengket dengan dunia maya, masih saja lekat dengan lusuhnya badan, tak inginkah dia membersihkan diri? “kamu masih juga jaga? Belum mandi juga?”, “belum, lagi males”. Tak menjawab aku, entah kenapa perasaan ini semakin kesal. Dirumah kubayangkan tidur di kasurku yang empuk seperti permen. Membersihkan rumahku yang tengah berdandan, pun belum juga menghadap sang Kuasa untuk hanya sekedar shalat. God, aku benar – benar lelah, kataku dalam hati. Ingin pulang tapi hati ini tak bisa. Aku masih merindukannya, masih ingin mendampinginya. Tapi perut ini bergema, kepala memanggil – manggil pusing, mata yang tak kuat lagi untuk bersinar.

Kucoba menegur, “kamu dari tadi kok sibuk banget sih? Gak bisa gak usah facebook-an? Balesi komen – komen yang gak penting?” protesku. “ya namanya aja di depan komputer mi, pastinya ya aku balesi komen – komennya mereka lah.” “Ooo message – message-an ma cewek – cewek itu juga wajar ya? Sedangkan di sisi lain kamu ga ngasih kabar sama aku seharian, gitu?” sambungku. “ya gak gitu juga mi, mereka kan cuma sekedar temen, mereka dulu yang nyapa aku, jadi wajar donk kubales mereka?”. “iya aku tahu, tapi gak bisa kamu tu cuek ama cewek – cewek itu? kamu tuh dalam posisi punya pacar tau!”, tegasku. “Aku kan cuma berusaha mengakrabi, emang sih aku terkadang suka menggoda, tapi aku tuh sayang ama kamu.” “Oo dengan bikin teori sayang, terus kamu bisa seenaknya akrab – akraban sama mereka? Terus suatu hari bisa jalan ama mereka? Ya udah, urus aja dirimu sendiri, aku gak mau tau dan gak akan pernah menanyakan!”

Lantas aku berdiri terhuyung – huyung, membawa tas keluar dan siap – siap menghidupkan kendaraanku. Dirinya mencoba mengejar, tapi terhalang. Seorang pelanggan mengajaknya bercakap – cakap, lumayan lama. Entah apa yang dibicarakan, rupanya cukup membuat tensi egoku turun.

Setelah pelanggan itu pergi, dia memanggilku, mengajak duduk kembali, dan aku pun lupa apa yang sedang aku perkarakan. Menunjukkanku sebuah berita terbaru. Itu suara – suara aneh yang sedang ‘booming’ di seluruh dunia. Sedikit tertarik dengan berita itu, aku mulai lupa kelelahanku. Menit demi menit berjalan, tampaknya aku mulai bosan. Dirinya mulai mengotak dan atik lagi jejaring sosialnya, perutku pun kembali meraung – raung, hati kembali lelah, mata mulai mengantuk, dan hati mulai kesal, lagi. Aku pun tahu keadaannya sama denganku, mungkin.
“hahahha...lucu – lucu, gokil abis ini pakdekku, ini mi kenalin keluargaku yang ada di Bali”, serunya kepadaku saat melihat foto seorang lelaki membuang hajatnya di toilet umum. Aku hanya tertawa kecil, menyambut dengan sedikit keramahan. Ah, untuk apa seperti itu ditunjukkan padaku. Andai aku bos PLAYBOY, pasti langsung kupampang di cover, tanpa sensor!

Seperti anak kecil, atau wanita pada umumnya. Aku sedang ingin bermanja – manja dengannya, rindu aku, dan ingin diperhatikan. Ah, tapi hari itu dia berbeda. Mungkin kami berdua memang sedang berada dalam kelelahan yang amat sangat. “huu..aku capek, pusing, ngantuk”, “ya udah sana istirahat didalam.” Di dalam? Aih, sama saja aku sendirian di ruang kosong bersama jendela kecil, karpet berwarna gelap, dan nyamuk bergentayangan didalamnya. Aku cuma ingin diperhatikan, bukan dibiarkan sendiri, dasar aneh! Memang jarak kita duduk berdekatan. Tak jauh semeter pun. Tapi tetap, tak ada obrolan yang menenangkan.

Pertengkaran pun terjadi, lagi dan lagi. Hal sama terus didebatkan, antara aku dengannya. “satu yang gak bisa aku penuhin, yang dari dulu selalu bikin aku tengkar dengan mantan – mantanku, perhatian! Kalau aku menginginkan aku kerumahmu sekarang juga untuk meminta restu hubungan kita apa kamu juga bisa menuhin? Gak kan? Tolong jangan minta lebih sama aku!” Raungan dari abjad a hingga z aku dengar. Aku resapi, dan aku sambut juga dengan tangsisan. Raut mukaku serasa kusut. Rasanya sudah tak punya harga diri lagi aku berada di tempat itu. Perhatian? bukankah itu milik setiap insan? Tiap – tiap mahluk bernyawa menginginkan hal itu. Bukan hanya sekedar memberi, tapi juga meminta. Aku semakin tak punya alasan untuk meruntuhkan segala protesku terhadapnya. Aku benar – benar harus kuat menghadapi keanehan ini.

Ingin kutinggalkan. Menghidupkan kendaraan milikku sekeras – kerasnya, biar orang tahu keanehan macam apa yang ada di hadapanku ini. “maksudmu itu apa sih mi? masalahnya itu apa sih?”, tanyanya sambil mengambil kunci sepedaku. “bla….bla….!” Aku membentak tak karuan, sampai terlupa apa yang telah kukatakan. Aku kehilangan kesabaran, dan dirinya meninggalkanku sendiri di teras depan penuh tertawaan satu dua orang yang melihatnya seperti sinetron. Menggeram, meremas – remas tangan, menahan air mata, dan menunggu, hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.

Tak lama dirinya datang, memesan sedikit makanan pada seseorang di sebelahnya. Makanan datang, tak terasa ternyata, lama ada diluar. Dia menyuruh aku masuk kembali. Isyratnya memerintahku untuk makan, bukan bicara dan menangis. Beberapa menit berlalu, percakapan dimulai kembali, siap – siap aku harus mengalami perdebatan sengit itu lagi. Tapi tebakanku meleset total. Pembicaraan ringan, sabar, dan seakan – akan penuh ketenangan itu membuatku segar. Saling berbagi pengalaman di masa lalu membuatku dan dirinya mengerti akan kekurangan masing – masing. Dari umurku tujuh, delapan belas sampai hari ini. Aku dan dirinya bercerita tentang cinta, keluarga, dan segalanya hingga kami benar – benar mengerti. Berharap aku bisa mencintai kekurangannya, begitu sebaliknya. Aneh memang, tapi sayang, se sayang – sayangnya aku mencintainya. Terik berganti senja, berganti pula malam, kami saling menemani. Hari itu benar – benar aku ingat, benar – benar aneh, benar – benar aku sayang.

Permintaan Sederhana

♠ Posted by Aryni Ayu in
Tak satupun orang mengerti. Mungkin hanya menggeleng – gelengkan kepala, diam tertunduk, atau tersenyum mengerikan bagai topeng – topeng seram di Pesta Halloween



Ketika ku menatap langit, tak sedikitpun kemilau bintang tampak. Mungkin dulu, ketika ku masih muda, tak pernah ada keluh kesah terlintas di raut mukaku, di make up-ku, bahkan di setiap lekukan tubuhku. Langit – langit memang gelap, penuh dengan teka – teki dibalik hembusan mendungnya. Bagaikan mendapat hadiah besar ketika banyak beban diletakkan disamping pundakku, tak pernah marah, bahkan egoistis. Tapi akhir – akhir ini, semua berbeda. Beban yang seharusnya lima pounds berubah menjadi lima ton. Entah apa yang ada di benak seorang gadis ini. Begitu rupawan seiring tumbuhnya kedewasaan, namun terkadang drastis di satu post lingkaran kehidupan. Takdir seperti apa sebenarnya yang ditamparkan Tuhan kepadanya? Tak satupun orang mengerti. Mungkin hanya menggeleng – gelengkan kepala, diam tertunduk, atau tersenyum bagaikan topeng – topeng seram di Pesta Halloween.

Mencoba menjadi rupawan yang lain. Ya, itu ucapnya ketika berada diawal puing – puing akademika. Membuat sekat – sekat tebal untuk pertalian sosial. “ah, dengan cara ini aku pasti akan mendapatkan banyak koneksi berkualitas, tak seperti dulu”. Bicaralah hatinya menunjukkan sebuah jalan yang mungkin terlalu lurus. “Apakah mereka temanku? Sepantas apakah mereka mengenalku? Tidak! Mereka terlalu badung, terlalu bodoh, terlalu berlebihan..” terlalu dan terlalu terlalu. Hanya itu saja yang ada dalam penilaian hatinya, justru membuat kehidupan semakin menabrak kebelakang.

Lorong waktu berjalan hingga sampai pada suatu pusaran waktu. Tak terasa langkahnya semakin terhenti. Tersadarlah gadis itu, hanya membuang waktu dengan sibuk memikirkan suatu kesempurnaan. Pernah merasa dirinya merasakan lingkaran kebebasan. Mulai keluar dari sekat, dan menikmati indahnya romantika. Namun ironi, dirinya berada di ambang batas. Bukankah perbatasan itu selalu lebih sulit? Inilah yang dia rasakan. Butuh waktu untuk bisa kembali, merindukan masa – masa indah, atau bahkan sekedar memikirkan kesuksesan. Mungkinkah jika suatu hari dirinya berada di singgasana terhormat untuk merasakan indahnya sebuah kerja keras itu? Ingin rasanya menjadi raja sehari, tapi tidak! untuk apa? Hanya seorang gadis. Tak ingin menjadi raja, sepintas hanya ingin keadilan dan jalan keluar.

“Aku ingin menjadi orang hebat!” Ikrar menggema di kamar tidur miliknya. “Tapi sehebat apakah? Bisakah aku bahagia?” terkadang menampikkan agama, terkadang mengunggulkan ideology, dan rasionalitas. Ah, aku ingin taman firdaus, banyak orang memberi jempol pada setiap usahaku, bukankah….itu permintaan yang sederhana?”