Karnaval Mini Desa Rowosari Located : Kec. Ajung, Kab. Jember

♠ Posted by Aryni Ayu in
Aku lihat pakaian mereka yang benar – benar elektrik, dan lebih dari layak untuk sebuah marching band. Pun dentuman alat – alat musik indah selaras dengan sang pemimpin marcing band Aryni Ayu
Tak terasa sore ini begitu cerah. Langit tak menampakkan jeritan gelapnya, pun matahari enggan meninggalkan sang oranye. Jalanan setengah sesak oleh kendaran berbadan besi. Orang – orang berlalu lalang. Satu mencuci kendaraannya pinggir jalan sembari meringis ketika tubuh ini lewat, satu lagi tampak mengusir – usir burung penganggu di sawah. Aku pun terus berjalan melewati jalanan panjang sekitar berkilo – kilo meter. Tapi jauhnya tak terasa selama bersama seorang rekan, rekan kesukaanku. Muka ini terus berpapas – papas dengan orang di desa itu, senyum mereka, kernyitan dahi, dan tawa bebas mereka, seakan- akan tak pernah terpikir untuk mengejar seonggok Rupiah, berbeda dengan wakil – wakil mereka di kursi jabatan, memang terlahir untuk Rupiah! Semakin lama berjalan, semakin ramai pula jalanan ini. Kadang kendaraan berbadan gajah pun lewat, meraungkan suara belnya yang keras ke depan telingaku, sial! Pikirnya aku ini sudah renta apa, huh! Kesal memang, tapi biarlah. Andai aku spiderman, kulemparkan tubuhmu sampai ke Bunderan HI, tempat kubangan kendaraan mabuk! Kuteruskan saja jalanku, menuju sebuah desa. Desa memang sebutannya, tapi sudah beraspal. Maklum, desa ini adalah kunjunganku kepada teman – teman yang sedang mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat, lagi – lagi bersama rekanku. Rekan yang aku suka! Lima sekitar menit, sampailah di sebuah kantor desa. Tertulis besar – besar di sebuah besi bernama baliho, “Desa Rowosari kecamatan Ajung Kabupaten Jember”, ya inilah sebutan desa itu. Sungguh ‘ndeso’ yang cukup maju menurut kacamataku, cukup banyak pemuda pemudi bersekolah, dan cukup segerombolan manusia intelektual yang mengabdikan diri disana. Tak lupa memperkenalkan diriku dengan kaum intelektual yang mengabdikan diri. Ya kaum intelektual, alias mahasiswa. Mereka seumur dua umur lebih tua dariku, tapi aku tetap ingin belajar dari mereka, belajar pengalaman. Sembari mencakapkan banyak hal, aku pun tak bisa tenang jika tidak mendekatkan diri pada sekelompok bocah – bocah riang di tempat itu. Wajah mereka semakin ceria saat kuajak berfoto – foto ria, benar – benar manis!
Keasyikan ini tiba – tiba tergerai saat datang segerombolan suara, memecah gemuruh sorak sorai kami. Aku pun menoleh layaknya artis yang terkaget – kaget ketika dirinya berada di red carpet hollywood. Dasar memang diriku yang suka keartisan. Diri ini masih terkaget, takut – takut ada paparazi lewat! Tapi khayalan yang bodoh ini langsung buyar. Kekagetan pun belum berhenti, takjub pun iya. Munculah segerombolan marching band ala Dewa Rowosari. Tak begitu banyak memang, tapi sederhana, indah, dan mini aku menyebutnya.
Orang – orang segera berduyun – duyun datang melihat. Ibu – ibu lupa akan kompornya, bapak – bapak lupa akan cangkulnya, apalagi anak – anak yang lupa akan tangisnya. Aku dan rekanku, Yusuf namanya. Yang sibuk bercakap – cakap, pun dengan rayuan mautnya, juga hampir lupa dengan bakso yang kami makan, untungnya lapar sedang mendera! Sembari makan, aku pun memotret.
Bakso yang dilahap belum menemui habisnya, rekanku, Yusuf berusaha mewawancarai penduduk sekitar. Karnaval ini nyatanya diselenggarakan bukan untuk acara pesta apapun, melainkan untuk menyambut sebuah kegiatan pengajian menyambut Sya’ban, notabene memang menjadi tradisi turun – temurun, dari tahun bahula. Biasanya, karnaval sejenis ini hanya terdapat di pusat kota Jember, atau sekiranya daerah yang masih disebut kota. Beda ini tapi. Karnaval mini ini ternyata diikuti oleh sekolah – sekolah di desa setempat. Dari anak – anak yang masih berjubel dengan ‘emaknya’ sampai remaja yang sedang berindah – indahan dengan cinta, semua terlibat didalamnya. Entah siapa yang punya ide brilian ini. Aku lihat pakaian mereka yang benar – benar elektrik, dan lebih dari layak untuk sebuah marching band. Pun dentuman alat – alat musik indah selaras dengan sang pemimpin marcing band. Pantas untuk memperoleh penghargaan besar. Seluruh desa itu wajib melihatnya. Apalagi dunia, harus melihat ini, tradisi Rowosari ini. Tradisi yang memang tak boleh surut oleh banyaknya sajian kapitalistik di dunia yang kian mengglobal. Banyak konflik memang, tapi tradisi tak boleh ikut berkonflik. Indonesia memang plural. Dari desa hingga kota hingga metropolitan, punya budaya, punya tradisinya sendiri. Memang Indonesiaku multikulturalistik, berbeda dan beragam adatnya, tapi indah!
Penulis
Pewawancara

IDE, I miss u!

♠ Posted by Aryni Ayu
Berusaha mengukir prestasi di umur manusia yang mulai dewasa ini, 21? Ah, sudah waktunya bersinar! Aku tak tahu apa yang harus kupikirkan. Ketika melihat kertas – kertas berserakan di lantai, musik cadas menyala kerasnya menggetarkan gendang telinga, tak lupa rambut yang rontok, untung tak botak, rupanya belum cukup memberi ide kepada sang juru tulis. Aku tak tahu apa yang harus aku tulis. Mengetikkan jemari kesana – kemari diatas tombol – tombol ketik, ada hasil tapi belum memuaskan. Sang juru tulis rupa – rupanya menginginkan sepatah banyak patah perfeksionitas. “Berani karena Ngawur”, “Anak Semua Bangsa”, “Laki – Laki Lain dalam Secarik Surat”, judul – judul itu rupanya tergolek lemas. Karangan sang pujangga Sujiwo Tejo, Pramoedya Ananta Toer, dan Budi Darma itu rupanya memanggil – manggil namaku untuk segera membaca tubuhnya. Oh maaf sobat, kali ini aku harus serius dengan esayku, tak ada maksud meng-anaktiri-kan, tapi ini harus selesai tepat waktu. Tik tok! Detik selalu berhasrat lari menjauhi waktu. Dendangan lagu di winamp pun terus berputar, sama seperti suaraku yang terus mengalun – alun hingga 12 lagu lebih, rupanya si Ide belum muncul juga. Ide, dimana kau ide? Munculah! Jangan kemana – mana, jangan menonton sorak sorai di alun – alun Bupati Jembrek. Tahu kah kau Ide? Segerombolan manusia disana sedang saksikan siaran langsung. Sungokong pulang kampung rupanya, membawa sungokong-wati! Dentuman DJ ala mang Linkin Park rupanya lebih mantratap ketimbang acaranya Bupati Jembrek, konon namanya si Dajal! Oh, itu pikiran si Juru Tulis yang ada di sebelah kanan otaknya, sebelah tengah? Masih menantikan sang Ide rupanya, berharap sang wangsit segera pulang ke pelaminan otaknya. Entah sudah berapa lembar corat – coret yang kubuat, berapa helai pula rambut berjatuhan. Terlalu banyak sempurna yang aku pikirkan, terlalu banyak cinta mengejar tak ketemu arahnya. Aku berharap segera datang sang IDE, I MISS U!

Sorak Gembira Pancasila

♠ Posted by Aryni Ayu in
Jember (1/6), Siang ini terlihat panas. Kendaraan berlalu lalang tanpa menolehkan sedikitpun kelelahannya. Suasana kampus pun terlihat hingar bingar seperti biasa, tukang sapu menseok – seokan sapunya di jalanan, guru – guru yang sedang mengikuti program pelatihan di salah satu fakultas terlihat terbahak – bahak menetawarkan tuanya, lalu si ‘gembel’ yang tetap meminta – minta ke orang, memang terlihat biasa! Tapi cobalah teropong lebih dekat lagi. Suas`na di pintu gerbang kampus Universitas Jember rupa – rupanya menawarkan sesuatu yang tidak biasa. Para satpam memberhentikan lalu lalang kendaraan bermotor, mentertibkan yang tak tertib, dan seperangkat tempat dudukan ada di dekat double way gerbang kampus tersedia untuk para tamunya. Tak lupa ada poster – poster bertuliskan “Pekan Revitalisasi Pancasila dan Konstitusi 2012” di iringan – iringan badan jalan Universitas Jember. Ya, inilah hari yang sangat istimewa. Tertanggal 1 Juni 1945, Pancasila lahir dan diisi kelahirannya oleh generasi hari ini di tanggal 1 Juni 2012. Bekerja sama dengan Politeknik Negeri Jember, Universitas Jember yang diselenggarakan oleh UKM AKASIA Fakultas Hukum, berusaha menampilkan yang terbaik agar pancasila tak pernah usang termakan modernisasi. Acara memperingati hari Kelahiran Pancasila ini dikemas dengan memperhatikan empat pilar kebangsaan NKRI yang mengusung kegotongroyongan, kebhineka tunggal ika-an, dan budaya kedaerahan, sehingga cukup fleksibel untuk menyelami hampir seluruh laphsan social masyarakat. Diawali dengan pidato oleh masing – masing ‘kepala suku’ dari universitas, yakni Rektor Politeknik Negeri Jember dan Rektor Universitas Jember, kemudian dilanjutkan dengan acara pelepasan balon berisi pengesahan ‘open ceremonial’ dalam tajuk “Pekan Revitalisasi dan Konstitusi 2012”. Dengan ini dimulailah rangkaian acara berisi pemaknaan tentang esensi Pancasila, open discussion bagi mahasiswa dan guru, serta open talk lainnya dengan Pancasila tetap menjadi tema tunggal yang tertanggal 1 Juni hingga 16 Juni 2012.
Tak seperti acara formal pada umumnya yang terbiasa hadir dalam ruang terbuka dengan kehadiran kaum intelektual ‘melulu’, disini pengemas acara rupanya berhasil mengundang minat banyak masyarakat sekitar untuk ikut menonton dan memaknai siapa itu sebenarnya “Pancasila”. Step by step dari acara pengesahan, berlanjut menuju acara hiburan yang memang tak sembarang hiburan. Berisikan marching band dari politeknik negeri Jember dan SMP Negeri 1 Jember, serta kedatangan pasukan provost POLIJE rupanya menjadi awal tersitanya perhatian masyarakat sekitar dan patut diapresiasi.
Berlanjut kearah pengenalan akulturasi budaya modern dengan tema Pancasila yang diwakili oleh kawan – kawan dari Jember Fashion Carnival. Bagaikan diatas catwalk, mereka pun berjalan dan menari berirama melukiskan Pancasila yang tengah menghadapi modernisasi.
Masyarakat yang berkumpul di dekat pintu gerbang Universitas Jember semakin ramai saja, hari pun semakin sore, hingga dilanjutkan dengan pertunjukkan Reog dan tari – tarian dipersembahkan oleh unit kegiatan mahasiswa seni bekerja sama dengan masyarakat seni yang berasal dari daerah Wuluhan, Ambulu. Terlihat tari – tarian tersebut memberikan pesan bahwa Indonesia tak akan pernah melerai – berai dengan berbagai konflik, kasus, dan ketidakbenaran yang tengah terjadi di negeri ini. Sambil menari – nari, mereka bertitah agar budaya daerah ini menjadi saksi harmonisnya persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pun selang beberapa waktu, masyarakat bercampur dengan dosen dan mahasiswa terus dihibur dengan budaya asli Indonesia, yakni seni beladiri Silat. Dipersembahkan oleh unit kegiatan mahasiswa Universitas Jember dan Politeknik Negeri Jember, pesilat berjumlah lebih dari sepuluh orang ini kemudian menampilkan karya terbaik mereka dalam gerakan silat.
Di penguhujung acara, orang – orang rupanya tetap berada di tempat, semakin ramai malah. Mereka dihibur dengan tarian terakhir yang tetap asli budaya daerah yakni Budaya Jember. Berbasiskan pada structural yang secara garis besar dihuni oleh suku Jawa dan Madura, maka lahirlah Tarian Macan Kaduk, yang menggambarkan suatu keharmonisan masyarakat Jember dalam heterogenitas kebudayaan dan suku – suku.
Sore ini memang terbaik bagi landasan kita yang bernama Pancasila. Namun tak hanya untuk sore ini, tapi seterusnya. Masyarakat dari muda – mudi, anak – anak, mahasiswa, bahkan kaum intelektual universitas kini menyaksikan Pancasila memang benar – benar tak tertinggalkan, dan tetap lahir di hati semua generasi. Dengan serangkaian acara tersebut, mari kita maknai esesnsial Pancasila, semangat kemerdekaan tak akan pernah mati. Dari Jember untuk Pancasila!