Hargamu Mahal, Jika Tetap Menjadi Emas--

♠ Posted by Aryni Ayu in


laki – laki buruk pun ingin memiliki wanita ‘baik – baik’
Benarkah sebagai wanita kita bersedia untuk dipilih berdasarkan alternatif? I dont think so!

            Ketika dunia berada diambang budaya yang kian bebas, apalagi. Seakan tak ada sekat diantara batas baik dan buruk, wanita tetap punya tanda tanya besar. Antara kebebasan dan kehormatan. Jika pilihan adalah bebas, bolehkan jika wanita tidak memilih sebagai emas? Dan kehormatan, bolekah jika wanita tetap menjadi emas? Seorang konvensional atau wanita modernitas bebas tak terbatas.

            Dari selosongsong kehidupan dunia yang begitu beragam. Tanpa sekat. Tanpa tahu bilik baik dan benar. Tanpa tahu nilai – nilai filosofis manusia. Wanita, tetap dituntut untuk menjadi emas. Semua hal tentang tata adat berpakaian, perilaku yang menurut Gerald I. Nierenberg bukan hanya menjadi pertahanan tapi juga tantangan, menjadi indikator penting bagi nilai seorang wanita. Nyatanya, emansipasi yang dulu digembar – gemborkan oleh R.A Kartini (Indonesia) dan Bella Zavitzky (Amerika) perlu mendapat dukungan yang benar dari wanita saat ini.

            Layaknya partai, kehidupan pasca emansipasi memiliki dualisme. Antara kehidupan baik dan buruk. Meski terlihat samar, keduanya masih bisa dibedakan, apalagi dipilih. Kebenaran yang ditempati para wanita konvensional bernapas monokultural, atau keburukan yang disinggahi wanita berasas modernitas tak terbatas. Memang terlihat menghakimi, namun semua butuh keadilan. Ketika kita melihat seorang laki – laki ingin melamar gadis, apa yang diharapkannya dari gadis itu? Selain cantik, pintar, dan berbobot? apalagi jika bukan bermartabat, benar tidak? Jelas sekali bukanlah hal – hal buruk yang diharapkan. Atau jika memang sangat terpaksa oleh berbagai keadaan, (“tidak virgin, atau MBA”) barulah alternatif ‘buruk’ menjadi pilihan. Benarkah sebagai wanita kita bersedia untuk dipilih berdasarkan alternatif? I dont think so!

Alfian, seorang laki – laki penghafal cafe dan diskotik, mengaku telah berkencan dengan banyak wanita. Dari keterangannya, dalam setahun dia bisa mengencani sekitar 60 wanita di berbagai tempat. Dari wanita perokok, pemabuk, hingga ‘ayam kampus’, semua pernah dicobanya. “mereka sangat menghiburku, membuatku berfantasi, hingga aku lupa bagaimana kehidupan normal. Mereka menyenangkan, namun aku tak menemukan sesuatu yang menarik di mataku. Mereka mudah terlupakan. Aku ingin wanita yang baik – baik, tapi juga tidak kaku” Pengakuan seorang laki – laki yang sekiranya dapat mewakili teman – temannya yang sejenis. Nyatanya, mereka tetap membutuhkan emas.  

Wanita bernapas konvensional, alias emas, sering menjadi pilihan. Potret kehidupannya yang jauh dari kontaminasi diskotik, rokok, minuman keras, dan sex bebas, memang terlihat membosankan. Apalagi jika mereka terkadang terlihat ‘tidak gaul’ saat bergaul dengan wanita modernitas tak terbatas, yang benar – benar memiliki kebebasan tanpa aturan. Bagi sebagian laki – laki pecinta hiburan, mungkin mereka terlihat menarik. Namun siapa sangka, laki – laki buruk pun ingin memiliki wanita ‘baik – baik’. Bukankah ini pertanda bahwa budaya kebebasan masih tetap memiliki kebenaran?

Emas tetaplah emas, jika memang memilih sebagai setengah wanita baik dan buruk, atau totalitas diantara keduanya, tak ada orang berhak melarang. Toh, pilihan jatuh pada pilihan masing – masing satu paket dengan resikonya. Yang jelas, emas masih tetap mahal dan diperebutkan! Tak maukah jika kita memiliki penawaran yang tinggi sebagai seorang wanita? Silahkan memilih. 

Cover, pentingkah?

♠ Posted by Aryni Ayu in


Cover yang memang menggoda, menarik perhatian, dan membuat manusia serasa sempurna, bukankah itu juga berguna untuk menutupi bobrok – bobrok yang kita punya?
Benarkah manusia bahagia dengan sebuah cover?


            Hukum majalah menyatakan “cover itu menjual”, menjual isi, ragam, dan harganya. Seperti manusia yang ada di bumi ini, wajah – wajah yang tak pernah mungkin tidak memakai cover. Seperti wanita memakai gincu, bedak, atau pewarna alis. Laki – laki metroseksual yang sangat mementingkan baju apa yang dipakai. Atau para profesionalitas lain yang butuh cover untuk sebuah pengakuan. Semua orang di dunia rasa – rasanya membutuhkan pembungkus lain selain dirinya sendiri. Pertanyaannya, pentingkah?

            Seberapa banyak perasaan yang kita pakai untuk memakai sebuah cover? Membentuk seakan – akan kita adalah patung sexy yang menggoda. Menyerai bagaikan Tuhan yang tak pernah punya dosa. Menyingkirkan bentuk Iblis dibalik sifat manusia kita. Terkadang juga menyingkirkan hal – hal yang tidak berbau malaikat. Cover yang memang menggoda, menarik perhatian, dan membuat manusia serasa sempurna, bukankah itu juga berguna untuk menutupi bobrok – bobrok yang kita punya?

            Di suatu pagi yang penuh manusia berlalu lalang, melakukan segala kegiatan dunia. Ya sekiranya terdapat manusia terpenjara yang ingin bebas dari sebuah penjara. Berterbangan kemana – kemana mencari seorang pangeran yang akan membawanya bebas. Kiranya, manusia itu sudah tak memikirkan lagi sebuah bentuk kesempurnaan. Dirinya merasa bahagia dengan seseorang yang membuatnya merasa nyaman. Mencoba sesuatu hal yang sudah lama ditinggalkannya, yaitu cinta. Yang membuatnya meninggalkan cover – cover yang dulu dia bentuk. Rasanya, hanya bahagia yang dia ingin, bukan cover!

            Meski sedikit ironi menghadapi tingkah ibunda manusia terpenjara itu. Tanpa mempersilahkan seseorang yang membuat manusia itu bahagia, hanya menyerukan sepatah kata, perintah untuk mengusir. Seakan terdapat tembok emas yang tak boleh diterabas. Hanya cover – cover terbaik yang bisa menembusnya. Tembok yang dipergunakan entah untuk melindungi puterinya atau rasa kaget berlebihan. Entahlah. Betulkah itu pengorbanan yang dilakukan untuk sebuah cover?

Cover. Hanya sebuah pembungkus palsu. Dicitrakan sedemikian rupa agar memagnetisasi banyak hari manusia lain. Untuk urusan harga diri, ini memang penting dilakukan, mengingat manusia adalah campuran baik dan buruk. Menimbang beratnya emas yang harus dimiliki seseorang. Tak lain, agar dihargai. Emas yang membutuhkan cover. Cover yang juga dapat menyakiti manusia lain, sengaja atau tidak. Penting atau tidak, benarkah manusia bahagia dengan sebuah cover?

Bolehkah Jika Wanita Tidak Memilih sebagai Emas?

♠ Posted by Aryni Ayu in


Emas memang begitu berharga, namun jika itu membuat wanita serasa dipenjara dan tak punya kebebasan, bolehkah kita tidak usah memilih sebagai emas?

          
Semua tahu jika wanita itu selalu dan wajib untuk menjunjung tinggi kehormatan. Apalagi saat tata adat Jawa begitu eratnya mengatur pembawaan para wanita di depan publik, wanita seakan harus membuat tembok emasnya sendiri. Dari tata cara berpakaian, tingkah laku, hingga sosialisasi, semuanya diatur. Dan menurut aturan, semuanya tak boleh melewati batas. Jika pun terlewat, caci dan maki tak jarang harus ditanggung. Intinya, wanita itu emas, yang tak boleh disepuh sembarangan.

Ingatkah kita di suatu dulu mahluk yang disebut wanita ini tak boleh sedikit pun keluar bila malam telah tiba? Tak boleh berbicara atau bersifat terbuka kepada kaum laki – laki? Berpakaian menutupi aurat? Juga amat sangat ‘wajib’ menjaga wibawanya di depan masyarakat? Bukankah ini peraturan yang begitu harus ditakuti dan dihormati dibanding aturan – aturan lain sejagad raya ini? Sekiranya, wanita dianggap ‘sempurna’ yang tak boleh ‘tidak sempurna’. Adat tradisional ini, punya ‘sakti’- nya sendiri terhadap keluarga – keluarga yang menyebut dirinya ‘darah biru’. Bagi keluarga ini, sakralitas kesempurnaan wanita benar – benar dijunjung tinggi. Apabila memiliki mata, lihatlah kebaikan. Telinga, dengarlah untuk hal – hal baik. Mulut yang hanya untuk berdoa. Tangan, pergunakan untuk menolong orang lain, dan kaki yang tak boleh terlalu sering berkeliaran. Benar – benar emas!

Tak ada yang bisa menandingi emas, harganya mahal, kualitas maha baik, dan diminati banyak orang, seperti wanita. Namun disaat jaman menuju kebebasannya (global), wanita mulai berpikir “bolehkah aku sebebas kaum pria? Yang dapat tertawa terbahak – bahak tanpa menutupi mulutnya kalau – kalau seorang laki – laki memperhatikan. Berpakaian apa adanya, bersikap apa adanya, terbuka terhadap berbagai derasnya informasi. Bolehkah juga aku menirukan wanita bebas yang tak peduli bagaimana pendapat orang terhadapku?”

Semalam, wanita – wanita yang penulis temui di diskotik juga bersikap apa adanya. Meski pakaian mereka serba ‘mini’, make up bertebaran di muka, asap rokok mengepul dari mulut, dan bau alkohol keluar dari napasnya, namun sikap mereka baik. Tak ada tanda – tanda bahwa mereka penjahat, penggosip, ataupun wanita yang suka mencampuri urusan orang lain. Dari segi sosial, mereka memang terlihat tidak sempurna, bukan seperti emas. Berbeda dengan wanita – wanita dari keluarga berdarah biru yang ‘mungkin’ sempurna. Tak pernah berkeliaran saat malam, selalu menjaga wibawa di depan laki – laki baik dalam bentu ‘diam’ ataupun mereka cerdas, tidak terbuka terhadap derasnya arus informasi, kadang cenderung konservatif, dan orang kebanyakan menganggap diri mereka emas! Namun benarkah mereka lebih baik dari wanita – wanita yang ada di diskotik itu? Apakah sikap mereka sebagai pribadi begitu sempurna seperti penampilannya? Nobody knows!

Tak jarang wanita – wanita ‘sempurna’ itu bersikap ‘tak sempurna’ di belakang orang lain, kadang juga menunjuk wanita ‘tak sempurna’ sebagai pribadi ‘tercela’ tanpa tahu cela dalam dirinya sendiri. 

Wanita modern, sebagian dari mereka sudah tidak peduli dengan ‘apa kata orang lain’ juga tak peduli dirinya emas atau tidak. Mereka bekerja untuk masa depan yang cerah, tanpa tahu bahwa harusnya laki – laki lah yang bekerja, menjadi nomor satu. Namun mereka tetap tidak peduli! Yang terpenting bagi wanita – wanita itu adalah jati diri, bagaimana hidup diatur oleh diri kita sendiri, bukan orang lain! Emas memang begitu berharga, namun jika itu membuat wanita serasa dipenjara dan tak punya kebebasan, bolehkah kita tidak usah memilih sebagai emas?