Ukiran diatas Kertas, dari Muridku!

♠ Posted by Aryni Ayu in

Masyarakat berpendidikan akan lebih mudah diatur, karena pendidikan adalah biangnya kemajuan. Dan guru adalah kuncinya

            Mungkin anda pernah mendengar ungkapan Confusius yang berbunyi “jika kau akan tinggal disuatu tempat untuk selamanya, ingin maju bersama dengan budayanya, maka mulailah mendidik manusianya”. Ungkapan Confusius mengisyaratkan bahwa pendidikan bukanlah hal untuk disepelekan, tetapi masa depan bagi semua umat manusia. Lihatlah Restorasi Meiji-nya Jepang yang hanya membutuhkan waktu 50 tahun untuk bisa menjadi negara maju dengan cara mengadaptasi segala ilmu dari Barat. Declaration of Independent Amerika di tahun 1776, berhasil menorehkan demokrasi modern pertama didunia berkat bidang pendidikan yang dijunjung tinggi oleh para pemikir dan guru-guru disana. Dan Indonesia, yang baru-baru ini berusaha mengangkat derajat para pendidik untuk kemajuan bangsa, apalagi yang tidak penting dari pendidikan?
            Hal paling penting yang harus dimiliki seorang pendidik adalah hati dan pikiran, mencakup kemampuan akademis bernama Intellegency Quentation, serta kemampuan emosional bernama Emotional Intellegency. Karena menurut Goleman (1980), kemampuan emosional dibarengi dengan kemampuan akademis, akan membuat seorang  pendidik bersemangat dalam mengolah keterampilan yang dimilikinya, baik itu keterampilan logika, nalar, maupun jiwa. Dari sinilah anak-anak bangsa tidak akan lagi mengenal kata “bodoh” yang mungkin akan dilontarkan oleh lingkungan sosialnya di kala dirinya melakukan kesalahan.
Bayangkan apabila guru hanya mengajar dengan kemampuan pikirnya saja tanpa menggunakan hati, atau hanya masuk dan keluar kelas hanya untuk memberi tugas tanpa komunikasi. Dapat dijamin anak-anak didikannya hanya kenal kata-kata “ya, tidak, benar, dan salah” seperti robot, tanpa tahu makna dari pembelajaran yang pernah dipelajarinya. Tentu, sebagai jabatan profesional yang tak kenal lelah untuk mendidik para generasi bangsa guru dituntut untuk senantiasa menyajikan pembelajaran menarik. Meskipun terkadang harus berbingung massal dengan terbitnya kurikulum yang selalu berganti-ganti rupa, tetapi tidak boleh ada kata “menyerah” dari hati seorang guru.
            Tugas kita sekarang adalah, berusaha mendengarkan apa yang ‘diingini’ dan ‘dibutuhkan’ oleh anak didik agar mereka bersedia mematrikan cita-citanya melalui pendidikan. Bukan menjadi teman mereka, tetapi berusaha menjadi teman bagi mereka tanpa meninggalkan profesionalisme. Kelak, ini penting bagi perjalanan karir seorang guru. Salah satu cara yang biasa dilakukan kebanyakan para pendidik adalah membagikan kertas kosong kepada murid, apalgi jika bukan untuk diisi berbagai kritik, saran, kesan, dan pesan. Tidak peduli bagaimana hasilnya, hal itu dapat menjadi evaluasi sosial yang membentuk komunikasi antara guru dan murid sehingga hasil pembelajaran bersifat demokratis dan profesional. Bukankah ini esensi dari pendidikan yang sebenarnya?
            Beberapa hari ini, penulis pun melakukan hal serupa, yakni berusaha menilai pembelajaran bukan dari diri sendiri tapi dari pandangan para peserta didik, berikut cuplikannya :


  
Kelebihan :
  • -          Cara mengajar sudah menarik dan materi mampu diterima oleh siswa
  • -          Banyak motivasi
  • -          Tidak monotun, lucu
  • -          Santai tapi serius
  • -          Nilai tidak pelit
  • -          Teliti

Kelemahan :
  • -          Ketegasan perlu ditambah dosisnya
  • Perhatian pada semua siswa
  • -          Jangan suka mencubit (hahaha)
  • -          Lebih sabar lagi


Dari cuplikan diatas, sangat menunjukkan emosional siswa yang ditekankan lewat tulisan bahwa mereka sangat menyayangi guru mereka. Seorang filosof Prancis berkata “jika kau mencintai seseorang, maka rasa sakit, kecewa, dan bahagia juga akan ikut didalamnya”. Begitu juga dengan murid-muridku, mereka menuliskan rasa sayangnya melalui dualisme sikap, mendukung dan mengkritik karena itulah bagian dari pembelajaran. Terimakasih murid-muridku.


Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia

♠ Posted by Aryni Ayu in


Agama Islam merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Agama ini lahir salah satunya sebagai reaksi atas rendahnya moral manusia pada saat itu. Manusia pada saat itu hidup dalam keadaan moral yang rendah dan kebodohan (jahiliah). Mereka sudah tidak lagi mengindahkan ajaran-ajaran nabi-nabi sebelumnya. Hal itu menyebabkan manusia berada pada titik terendah. Penyembahan berhala, pembunuhan, perzinahan, dan tindakan rendah lainnya merajalela.

Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia

Islam mulai disiarkan sekitar tahun 612 di Mekkah. Karena penyebaran agama baru ini mendapat tantangan dari lingkungannya, Muhammad kemudian pindah (hijrah) ke Madinah pada tahun 622. Dari sinilah Islam berkembang ke seluruh dunia.

Muhammad mendirikan wilayah kekuasaannya di Madinah. Pemerintahannya didasarkan pada pemerintahan Islam. Muhammad kemudian berusaha menyebarluaskan Islam dengan memperluas wilayahnya.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, kepemimpinan Islam dipegang oleh para khalifah. Dibawah kepemimpinan para khalifah, agama Islam mulai disebarkan lebih luas lagi. Sampai abad ke-8 saja, pengaruh Islam telah menyebar ke seluruh Timur Tengah, Afrika Utara, dan Spanyol. Kemudian pada masa dinasti Ummayah, pengaruh Islam mulai berkembang hingga Nusantara.

Teori-Teori Masuknya Islam ke Indonesia
Menurut beberapa sejarawan, agama Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang muslim. Meskipun begitu, belum diketahui secara pasti sejak kapan Islam masuk ke Indonesia karena para ahli masih berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Setidaknya ada tiga teori yang mencoba menjelaskan tentang proses masuknya Islam ke Indonesia yaitu teori Mekkah, teori Gujarat, dan teori Persia.
1. Teori Gujarat, Teori yang dipelopori oleh Snouck Hurgronje ini menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang dari Kambay (Gujarat), India.
2. Teori Persia, Teori ini dipelopori oleh P.A Husein Hidayat. Teori Persia ini menyatakan bahwa agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Persia (sekarang Iran) karena adanya beberapa kesamaan antara kebudayaan masyarakat Islam Indonesia dengan Persia.
3. Teori Mekkah, Teori ini adalah teori baru yang muncul untuk menyanggah bahwa Islam baru sampai di Indonesia pada abad ke-13 dan dibawa oleh orang Gujarat. Teori ini mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Mekkah (arab) sebagai pusat agama Islam sejak abad ke-7. Teori ini didasari oleh sebuah berita dari Cina yang menyatakan bahwa pada abad ke-7 sudah terdapat sebuah perkampungan muslim di pantai barat Sumatera.

Sebuah batu nisan berhuruf Arab milik seorang wanita muslim bernama Fatimah Binti Maemun yang ditemukan di Sumatera Utara dan diperkirakan berasal dari abad ke-11 juga menjadi bukti bahwa agama Islam sudah masuk ke Indonesia jauh sebelum abad ke-13.

Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia

Proses masuk dan berkembangnya islam di Indonesia dilakukan secara damai dengan cara menyesuaikan diri dengan adat istiadat penduduk lokal yang telah lebih dulu ada. Ajaran-ajaran Islam yang mengajarkan persamaan derajat, tidak membeda-bedakan si miskin dan si kaya, si kuat dan si lemah, rakyat kecil dan penguasa, tidak adanya sistem kasta dan menganggap semua orang sama kedudukannya dihadapan Allah telah membuat agama Islam perlahan-lahan mulai memeluk agama Islam.

Proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia dilakukan secara damai dan dilakukan dengan cara- cara sebagai berikut :

1. Melalui Cara Perdagangan

Indonesia dilalui oleh jalur perdagangan laut yang menghubungkan antara China dan daerah lain di Asia. Letak Indonesia yang sangat strategis ini membuat lalu lintas perdagangan di Indonesia sangat padat karena dilalui oleh para pedagang dari seluruh dunia termasuk para pedagang muslim. Pada perkembangan selanjutnya, para pedagang muslim ini banyak yang tinggal dan mendirikan perkampungan islam di Nusantara. Para pedagang ini juga tak jarang mengundang para ulama dan mubaligh dari negeri asal mereka ke nusantara. Para ulama dan mubaligh yang datang atas undangan para pedagang inilah yang diduga memiliki salah satu peran penting dalam upaya penyebaran Islam di Indonesia.

Para pedagang itu datang dan berdagang di pusat-pusat perdagangan di daerah pesisir. Malaka merupakan pusat transit para pedagang. Di samping itu, bandar-bandar di sekitar Malaka seperti Perlak dan Samudra Pasai juga didatangi para pedagang.

Mereka tinggal di tempat-tempat tersebut dalam waktu yang lama, untuk menunggu datangnya angin musim. Pada saat menunggu inilah, terjadi pembauran antarpedagang dari berbagai bangsa serta antara pedagang dan penduduk setempat. Terjadilah kegiatan saling memperkenalkan adat-istiadat, budaya bahkan agama. Bukan hanya melakukan perdagangan, bahkan juga terjadi asimilasi melalui perkawinan.

Di antara para pedagang tersebut, terdapat pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang umumnya beragama Islam. Mereka mengenalkan agama dan budaya Islam kepada para pedagang lain maupun kepada penduduk setempat. Maka, mulailah ada penduduk Indonesia yang memeluk agama Islam. Lama-kelamaan penganut agama Islam makin banyak. Bahkan kemudian berkembang perkampungan para pedagang Islam di daerah pesisir.

Penduduk setempat yang telah memeluk agama Islam kemudian menyebarkan Islam kepada sesama pedagang, juga kepada sanak familinya. Akhirnya, Islam mulai berkembang di masyarakat Indonesia. Di samping itu para pedagang dan pelayar tersebut juga ada yang menikah dengan penduduk setempat sehingga lahirlah keluarga dan anak-anak yang Islam.

Hal ini berlangsung terus selama bertahun-tahun sehingga akhirnya muncul sebuah komunitas Islam, yang setelah kuat akhirnya membentuk sebuah pemerintahaan Islam. Dari situlah lahir kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.

2. Melalui Perkawinan

Bagi masyarakat pribumi, para pedagang muslim dianggap sebagai kelangan yang terpandang. Hal ini menyebabkan banyak penguasa pribumi tertarik untuk menikahkan anak gadis mereka dengan para pedagang ini. Sebelum menikah, sang gadis akan menjadi muslim terlebih dahulu. Pernikahan secara muslim antara para saudagar muslim dengan penguasa lokal ini semakin memperlancar penyebaran Islam di Nusantara.

3. Melalui Pendidikan

Pengajaran dan pendidikan Islam mulai dilakukan setelah masyarakat islam terbentuk. Pendidikan dilakukan di pesantren ataupun di pondok yang dibimbing oleh guru agama, ulama, ataupun kyai. Para santri yang telah lulus akan pulang ke kampung halamannya dan akan mendakwahkan Islam di kampung masing-masing.
4. Melalui Kesenian

Wayang adalah salah satu sarana kesenian untuk menyebarkan islam kepada penduduk lokal. Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh terpandang yang mementaskan wayang untuk mengenalkan agama Islam. Cerita wayang yang dipentaskan biasanya dipetik dari kisah Mahabrata atau Ramayana yang kemudian disisipi dengan nilai-nilai Islam.

5. Peranan Bandar-Bandar di Indonesia

Bandar merupakan tempat berlabuh kapal-kapal atau persinggahan kapal-kapal dagang. Bandar juga merupakan pusat perdagangan, bahkan juga digunakan sebagai tempat tinggal para pengusaha perkapalan. Sebagai negara kepulauan yang terletak pada jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki banyak bandar. Bandar-bandar ini memiliki peranan dan arti yang penting dalam proses masuknya Islam ke Indonesia.

Di bandar-bandar inilah para pedagang beragama Islam memperkenalkan Islam kepada para pedagang lain ataupun kepada penduduk setempat. Dengan demikian, bandar menjadi pintu masuk dan pusat penyebaran agama Islam ke Indonesia. Kalau kita lihat letak geografis kota-kota pusat kerajaan yang bercorak Islam pada umunya terletak di pesisir-pesisir dan muara sungai.

Dalam perkembangannya, bandar-bandar tersebut umumnya tumbuh menjadi kota bahkan ada yang menjadi kerajaan, seperti Perlak, Samudra Pasai, Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Banjarmasin, Gowa, Ternate, dan Tidore. Banyak pemimpin bandar yang memeluk agama Islam. Akibatnya, rakyatnya pun kemudian banyak memeluk agama Islam.

Peranan bandar-bandar sebagai pusat perdagangan dapat kita lihat jejaknya. Para pedagang di dalam kota mempunyai perkampungan sendiri-sendiri yang penempatannya ditentukan atas persetujuan dari penguasa kota tersebut, misalnya di Aceh, terdapat perkampungan orang Portugis, Benggalu Cina, Gujarat, Arab, dan Pegu.

Begitu juga di Banten dan kota-kota pasar kerajaan lainnya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kota-kota pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam memiliki ciri-ciri yang hampir sama antara lain letaknya di pesisir, ada pasar, ada masjid, ada perkampungan, dan ada tempat para penguasa (sultan).

6. Peranan Para Wali dan Ulama

Salah satu cara penyebaran agama Islam ialah dengan cara mendakwah. Di samping sebagai pedagang, para pedagang Islam juga berperan sebagai mubaligh. Ada juga para mubaligh yang datang bersama pedagang dengan misi agamanya. Penyebaran Islam melalui dakwah ini berjalan dengan cara para ulama mendatangi masyarakat objek dakwah, dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.

Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9 wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para wali ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.

Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan atau susuhunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah seperti berikut.

(1) Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Inilah wali yang pertama datang ke Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di sekitar Gresik. Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.

(2) Sunan Ampel (Raden Rahmat). Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan perancang pembangunan Masjid Demak.

(3) Sunan Derajad (Syarifudin). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama di sekitar Surabaya. Seorang sunan yang sangat berjiwa sosial.

(4) Sunan Bonang (Makdum Ibrahim). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Sunan yang sangat bijaksana.

(5) Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said). Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga, dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan setempat.

(6) Sunan Giri (Raden Paku). Menyiarkan Islam di luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode bermain.

(7) Sunan Kudus (Jafar Sodiq). Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.

(8) Sunan Muria (Raden Umar Said). Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.

(9) Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa besar

Biarkan Aku Menjadi Mimpiku!

♠ Posted by Aryni Ayu in


Jika banyak duri bermunculan, bolehkah aku tetap tumbuh menjadi bunga?
Biar mulut – mulut sombong itu menjadi bisu. Agar dunia tahu. Inilah duniaku...

            Sepintas, teringat diri ini saat pertama kali memasuki tahun pertama sebuah universitas. Ideologi yang terburat oleh masa remaja. Kekakuan prestasi yang masih belum menemui titik cairnya. Kenakalan – kenakalan, dan kebodohan – kebodohanku di masa remaja benar – benar ingin aku tebus. Bukan tebusan biasa, jika bisa luar biasa hingga orang lain tak mampu memandangnya dengan sinis. Aku juga ingat betapa selongsong proses belajar di masa itu aku sia – siakan, dengan sebuah apatisisme. Andai mesin waktu telah tercipta, mungkin tak sedetik pun waktu itu akan kuisi dengan kebodohan. Hingga orang lain punya ‘waktunya sendiri’ untuk menghina, meremehkan, bahkan menghakimi otak yang kumiliki. Sungguh, sejak tahun pertama kuliah, semuanya telah aku rancang, sebaik mungkin.
            Di kamar berukuran sempit, berisi televisi, sekotak accesoris, sederet buku, dan segelumit kisah remaja dari bangku smp sma, terpampang mading bertuliskan “Dosen Muda, IPK 3.6, Lulus 3,5 Tahun”. Seperti yang kubilang, itulah rancanganku, mimpiku. Setiap detik menuju menit, menit berganti jam, sehari – hari aku selalu memandanginya, berusaha untuknya. Dengan penuh harap, semoga rancangan itu menemui hasil yang menggembirakan. Hanya dengan bekerja kerass aku bisa mewujudkannya. Tak mudah memang ketika harus belajar disaat orang lain terpejam. Berusaha sekeras mungkin saat orang lain mencoba cara – cara instan. Atau terwujud, disaat mimpi itu berusaha direnggut banyak orang. Jika banyak duri bermunculan, bolehkah aku tetap tumbuh menjadi bunga?
            Tahun ketiga berlalu. Beberapa mimpi mulai terwujud. Indeks prestasi yang sangat memuaskan bagiku, tanpa harus diremehkan manusia lainnya. Sedikit demi sedikit, aku menemukan jalan hidupku. Kemana cita – cita akan mengalir. Kemana pula mimpi harus menjadi nyata. Tahun keempat dimulai. Aku rasa, masa inilah yang paling berat. Suatu masa dimana ruang dan waktu berada dalam kesukaran. Hasil jerih payah yang juga belum tentu mendapat penghargaan. Apalagi, disaat orang tuamu tidak lagi mendukung mimpi – mimpi besarmu. Menangis pun tak tahu pula kemana harus bersandar. Sungguh, inilah masa – masa terberatku. Aku yang sangat menginginkan pendidikan pasca sarjana, rupanya berbeda ingin dengan orang tuaku. Mereka lebih mengarahkanku untuk segara menjadi guru ‘sukwan’ lebih dulu, ikut tes pns, lalu menikah. Pertanyaanku, kapan aku bisa mewujudkan mimpi – mimpiku? Itu desain impian kalian, dan maaf, aku tidak menginginkannya, saat ini.
            Ketika gerbang mimpi mulai terbuka, bolehkah jika aku segera masuk? Dan bolehkah untuk segera membuatnya menjadi nyata? Aku belajar dan berusaha selama ini tak lain, untuk menjadi cita – cita yang lebih besar. Bukan hanya sekedar guru, dosen, jika perlu menjadi seseorang yang lebih besar lagi. Biar mulut – mulut sombong itu menjadi bisu. Agar dunia tahu. Inilah duniaku...


Kamarku, 27 April 2013-04-27, pukul 21.00