Meneropong Peradaban Yunani di Abad 21

♠ Posted by Aryni Ayu in


-Day 6-
15 Juni 2011

IMF bloon! IMF gak Becus! Katanya mau jadi pahlawan tapi malah ngrekcoki cak!haha, tampaknya bule – bule politikus ini geram melihat tingkah IMF, what wrong guys?Nampaknya perbuatan organisasi itu bodoh sekali ya buat kalian, take it easy Men! Ya, sembari menikmati susu cokelat dengan dihiasi suara – suara Gitar Hero ala Slash di game player, saya mencoba membaca ulang bagaimana sebenarnya akar dari peradaban Yunani Klasik itu. Sungguh megah, anggun, dan mempesona. Beda dengan sekarang, ternyata semua kekesalan bule – bule itu gak ada matinya ama permasalahan yang dialami Yunani akhir – akhir ini. Kemiskinan, kelaparan, demonstrasi, korupsi, persis dan sama kayak Indonesia di era Hedonisme. Memalukan BGT (bahasa gaulnya kan gitu,hehe), tapi gak ada yang mau punya malu. Yah, kejujuran memang patut dipertanyakan di tengah negara Kleptokrasi!

Saat membaca berita online sembari memodifikasi akun di blogger, facebook, dan twitter, mempermak semuanya agar laris bak akunnya mbak Avril Lavigne (haha). Saya menemukan banyak berita yang menyatakan kabar kurang mengenakan tentang Yunani. Demonstrasi besar – besaran, pembakaran, bahkan elit – elit yang tampaknya tiada hari tanpa pusing! Memikirkan kehidupan negaranya yang begitu gemilang di masa lampau, kini berubah menjadi negara termiskin diantara negara uni Eropa lainnya. Tak begitu berbeda dengan Indonesia sekali lagi, meskipun Patih Gajah Mada dan Ken Arok berhasil mempersatukan Indonesia dibawah Kemaharajaan Majapahit, Bung Karno cs berhasil meneruskan perjuangan rakyat dengan mendudukan Indonesia sejajar dan disegani di mata internasional. Ironis, pemimpin – pemimpin di abad modern mulai mengacaukan kegemilangan mereka, bahkan mulai menciptakan orde Hedonisme sendiri. Tak berpihak dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat, seperti yang pernah didengung – dengungkan dan diterapkan oleh para elit Yunani Masa Klasik. Kejayaan demokrasi ala Athena di masa klasik pun layaknya utopis ketika Yunani memasuki abad modern. What the hell is going on? Inilah yang akan menjadi substansial kajian kritis kita hari ini. Mengapa kemegahan Masa Lampau rupa – rupanya harus tenggelam saat memasuki masa modern, apakah ada yang salah dengan system pemerintahan mereka? Padahal, system itu tengah menjadi system terlaris didunia untuk mengendalikan masyarakat internasional. Ya, mari kita teropong hal tersebut dengan menggunakan perjalanan historis.

Saat melihat bintang – bintang dilangit yang begitu lengkap dengan rasinya di malam hari. Saya teringat dewa – dewi dalam mitologi Yunani. Kisah – kisahnya tentang Orion yang dikuburkan di langit bersama dua anjing penjaganya Major dan Minor. Sengaja ditempatlkan dua penjaga disana karena Scorpion (Saturnus) yang kini bisa kita lihat rasi bintangnya, masih saja terus mengejar arwah Orion. Lalu dengan kehidupan keluarga dewa – dewi yang tinggal didalam sebuah gunung bernama Acropolis. Disana tinggalah 12 dewa – dewi dengan masing – masing kelemahan dan kelebihannya, begitu juga dengan kisah – kisah yang mengiringi mereka. Ada Poseidon (dewa penguasa lautan), Aphrodite (dewi kesuburan) yang menjadi perebutan diantara dewa – dewa lainnya karena kecantikannya yang begitu luar biasa, Zeus sebagai pemimpin mereka, Athena sebagai lambang dewi perang, Ares, Hermes, dan lain sebagainya. Sering juga terjadi perselisihan diantara mereka menyangkut masalah cinta, keluarga, dan perebutan tahta, persis seperti kehidupan manusia yang begitu berwarna. Selain mitologi, Yunani sangat terkenal dengan berbagai hal menyangkut megahnya sebuah peradaban. Anda tahu sastra – sastra indah karya penulis – penulis modern sekarang ini?mereka semua menjadikan karya – karya Yunani kuno sebagai akar dari berkembangnya tulisan sastra. Bagaimana tidak, saat Indonesia di abad 5 Masehi masih beru saja mengenal tulisan, Yunani sudah melanglangbuana sebagai sebuah peradaban yang kaya akan beribu – ribu karya sastra. Di bidang arsitektur, mereka pun juga tidak kalah unggul dengan bangsa Mikena, Mesir, dan Assyria kuno yang menjadi inspirasi bagi peradaban Yunani. Pahatan – pahatan arsitektural bahkan diukir oleh bangsa Yunani untuk menghormati para dewa – dewi mereka. Belum lagi saat mereka harus menghadapi abad Gelap sekitar abad 500 SM yang didalamnya terdapat peperangan seperti Perang Ionia (Perang Yunani melawan Persia), dan Perang Thermopylae (Athena melawan Sparta), para filosofis (Aristoteles, Plato cs) bahkan mampu berkembang menciptakan berbagai pemikiran luar biasa mereka meski harus berada dalam keadaan yang segenting itu. Walaupun pada akhirnya mereka harus hancur karena system pemerintahan yang sudah tidak bisa dikontrol lagi oleh elit dan rakyatnya, terjadi hubungan horizontal yang tidak seimbang disini. Hingga berdampak pada keadaan Yunani di Abad – 21.

Ketika Anda mengamati keindahan Gedung Acropolis, Patung – patung Hellenistik yang rumit dan mempesona, ditambah dengan karya para filsuf yang sungguh cerdas hingga mempu merenungi berbagai celah kehidupan manusia. Pasti Anda membayangkan sebuah negara yang sangat tersohor bahkan melebihi Adidaya Amerika Serikat hingga mampu menciptakan sebuah perdaban yang begitu megah ini. Belum lagi dengan system ‘demokrasi’- nya yang sangat diminati oleh elit – elit dunia untuk mengendalikan masyarakat Internasional. Dua corak pemerintahan yang begitu terkenal antara militeristik Sparta dengan Demokrasi Athena. Menjadi perwakilan bagi kebanyakan pemerintahan di Timur Tengah dan negara – negara Barat modern. Sungguh kita bisa menganggap bahwa Yunani adalah negara Adidaya di masanya. Namun sangat disayangkan saat kita harus Meneropong Yunani di Abad – 21, kemegahannya di masa lalu, arsitektur – arsitektur, pendidikan, serta filsuf – filsuf menabjubkan yang terlahir dari rahim Yunani bahkan tak mampu membayar kemerosotan mereka di Era Modern. Banyak media Internasional menyebutkan bahwa perekonomian mereka tergolong miskin di kalangan Aliansi Eropa. Demonstrasi, anarki, dan korupsi adalah tema – tema sentral yang kerap menjadi konsumsi sehari – hari warga Yunani. Berlembar – lembar uang dollar Eropa dan A.S digelontorkan untuk memenuhi kebutuhan utang - utang negara Yunani. Bahkan IMF yang beberapa minggu lalu berusaha mencampuri system perekonomian Yunani, mendapat cemooh dan kecaman keras dari para politik serta pengamat ekonomi akibat tindakannya yang dianggap ‘bloon’ dan ‘konyol’ karena semakin menguatkan kemerosotan perekonomian negara pencetus akar peradaban Modern ini.

Jika ada yang mengatakan bahwa Demokrasi adalah produk gagal Yunani dari Masa Kuno. Ya, saya akui itu memang benar. Meskipun hanya sebagai public pendengar, namun sebagai penulis, saya harus bisa memberi penguatan dengan analisa kritis apa yang sedang menjadi pertanyaan dan perdebatan dunia. Aristoteles dan Plato pernah mengatakan dalam bukunya masing – masing bahwa DEMOKRASI adalah produk gagal. Negara yang terlahir dengan produk ini akan tumbuh dewasa bersamaan dengan terbentuknya masyarakat yang anarkis, penuh dengan intrik – intrik kaum elit, dan penghancuran terhadap negara itu sendiri. Benar rupanya ramalan kedua filsuf itu, kita lihat saja Amerika sebagai negara terkuat pendengung Demokrasi. Negara mereka memang kuat secara politik dan ekonomi, tapi secara moral? patut dipertanyakan!karena anarkisme selalu mereka tuangkan kedalam kedaulatan negara – negara lain di belahan dunia Timur.
Sekali lagi coba kita dengungkan dan pertanyakan mengapa Yunani yang begitu megah peradabannya bisa hancur seketika ketika mereka memasuki abad modern? Jawabannya satu, secara politik, akibat system demokrasi. Karena ‘rakyat’ dalam Demokrasi asli versi Yunani Kuno hanyalah rakyat yang terdiri dari kaum kelas berkuasa saja. Meskipun para elit pemerintah modern berkelit bahwa kebobrokan yang terjadi selama ini dalam demokrasi bukan salah sistemnya tapi karena penyelenggaranya. Halo? Yunani Kuno yang anggun, megah, dan menabjubkan itu saja hancur saat menerapkan demokrasi, apalagi mereka yang sedang berada dalam orde Modern? Sering – seringlah berkaca pada Peradaban Yunani Abad – 21!

Bangkitnya Peradaban Islam = Kehancuran Amerika Cs

♠ Posted by Aryni Ayu in

-Day 5-
14 Juni 2011

Ditemani suara adzan magrib yang begitu merdu, tapi sayang yang ngumandangin agak fales dikit suaranya,minum air putih donk! upz, map ya mas.() Ngomongin soal adzan, yupz, pasti gak kalah serunya kalo kita ngebahas soal islam. Tapi jangan terpaku sama isu – isu terorisnya, itu kan cuma manipulasi para kaum adam dan hawa yang missunderstending aja! Coba understand, enggak bakal deh segawat itu keadaannya. Yang America vs Osama lah, Obama love Osama (upz salah), Pemboman menara kembar, Penghancuran negara – negara yang di Cap Teroris lah. Come on, don’t lie to me! Pasti ada dalang dibalik itu semua, impossible kalau kejadian – kejadian itu terjadi secara tidak disengaja. Entah itu dari pihak Barat ataupun Pihak Timur. Ada maling teriak maling disini, ada udang dibalik batu, dimana ada Teroris disitu ada Amerika. Ya, sebagai public, mungkin saya terlalu berani untuk berbicara ranah yang sedemikian pro – kontra ini. Tapi apa daya, sebagai anak muda Indonesia yang provokatif – proaktiv, harus bisa mengkritisi dan menyuarakan apa yang sedang menjadi perdebatan dunia. “Demokrasi !”kata Mr. Obama,isn’t it?

STOP! ketika Anda menemukan tulisan ini, jangan mengklik lainnya, cukup siapkan makanan, music, dan segalanya untuk menikmati sesuap sajian kritis ala Aryni Ayu (That’s me,haha). I gotta sick obsession, secarik lagu dari KE$HA, ya, tampaknya sangat cocok untuk artikel ini. Of course, I gotta sick obsession saat harus melihat berita – berita internasional yang membahas tentang gejolak Timur Tengah. Pagi, siang, sore, malam, para pembuat opini masyarakat tersebut tak bosan – bosannya memutar aksi – aksi para pelaku gejolak. Melaporkan kejadian – kejadian terupdate, bagaimana sikap pemerintah dalam menangani aksi tersebut, bagaimana peran Amerika sebagai Polisi Dunia? Semuanya diputar setiap waktu di acara televisi, asal tidak memutar balik, dan memporak porandakan fakta saja! Bahkan Lady Gaga yang kabarnya menghadiri acara Gay di Jerman beberapa hari lalu, serta berita tentang acara MMVA para musisi Hollywood pun harus tersaingi dengan berita – berita gejolak yang terjadi di Timur Tengah. Ya, inilah yang membuat saya merasa sick obsession jika tidak menulis kisah – kisah mereka dalam memperjuangkan sebuah tsunami revolusi, meskipun penjelasannya hanya berupa tataran global, but why not? Rekonstruksi revolusi mereka masih belum selesai.

Bangkitnya peradaban Islam akan sama saja dengan kehancuran kaum kapitalis. Coba saja dianalisis, pasti statement ini benar. Itulah sebabnya mengapa negara – negara Barat itu berusaha keras mengintervensi urusan dalam negeri negara – negara di Timur Tengah. Secara ekonomi, pasti membutuhkan berliter – liter minyak untuk mendinamiskan pabrik – pabrik teknologi dan industry negara – negara Barat. Dalam perspektif sejarah, kemungkinan besar mereka takut jika peradaban Islam kembali bangkit seperti saat Iskandariyah berhasil dikuasai oleh dinasti Ummayah dibawah Tariq bin Ziyad. Rute perdagangan vital menjadi milik Islam, dan para penguasa Barat pun mau tak mau, suka tidak suka, harus menyingkir dari roda perdagangan untuk sementara hingga akhirnya penguasaan Barat mulai bangkit lagi di masa modern. Kebangkitan Barat yang kemudian harus dikuasai oleh hegemoni besar dengan Amerika Serikat sebagai adidaya tunggal. Ingat saat Jayabaya mengeluarkan ramalannya bahwa bahwa suatu hari para kolonial akan pergi dari tanah air Indonesia. Hampir mirip dengan ramalan salah seorang kaisar Cina di zaman aristokrasi bahwa suatu hari Dunia akan dikuasai oleh keturunan Mongol dan Asia. Pada realnya meski terdengar utopis, ramalan – ramalan ini benar adanya. Amati saja sekarang, perekonomian terbesar Asia sangat bergantung pada negara Cina dan Amerika Serikat, ditambah lagi dengan Iran yang siap menerjang negara – negara Barat. Faktanya, setelah Saddam Hussein tumbang 8 tahun yang lalu, mereka bukan saja menentang kekuasaan dibawah Amerika, bahkan siap dan mampu menyaingi kesetaraan pendidikan dan tekhnologi negara – negara Barat. Itulah yang membuat Amerika tak jemu mendengung – dengungkan pembasmian terhadap nuklir Iran dan siap menggalang sikap renggang terhadap negara tersebut. Karena pertama, jika dianalisis, Iran tidak lagi membutuhkan bahan baku dari Barat untuk memutar roda tekhnologi, mereka bisa membuat sendiri. Kedua, pendidikan mereka yang mulai dilirik oleh masyarakat internasional.

Memang menjadi pertanyaan besar mengapa reformasi di Timur Tengah baru terjadi sekarang di tahun 2011? Akankah Kebangkitan mereka yang nantinya dibawah bendera demokrasi pada akhirnya akan mampu menggeser kekuasaan Amerika Cs (Aliansi Eropa)? Ya, butuh pemikiran yang begitu berani dan kritis untuk menjawab kedua pertanyaan kursial tersebut. Karena tanpa keberanian dari para elit Timur Tengah untuk berkata TIDAK terhadap hegemoni A.S Cs, Timur Tengah untuk yang kedua kalinya akan berada di bawah pressure politik standart ganda yang dijalankan Amerika Serikat. Anda tahu sendiri, selama ini Amerika bermuka dua! Itulah yang disuarakan oleh para pengamat Timur Tengah dan faktanya memang seperti itu. Di satu sisi, mereka begitu semangat menggaung – gaungkan nama HAM dan misi Kemanusiaan untuk mengintervensi Afganistan, Irak, dan Libya. Tapi di sisi lain, ada ‘topeng’ yang tersembunyi disini, dan siapa pun belum mampu membukanya secara gamblang. Kiranya hanya suara Ahmadinejad, seorang pemimpin Iran yang begitu mencerca intervensi NATO dan antek – antek Amerika terhadap Libya karena faktanya berimbas pada warga sipil. Lihat saja berapa warga sipil yang harus rela menjadi korban intervensi asing di negara – negara Timur Tengah.

That’s fact, mari kita flashback secara global bagaimana awal mula gejolak di Timur Tengah itu bisa terjadi. Di awal abad 21, Amerika berpesta pora untuk merayakan kehancuran musuh terbesar mereka, Uni Soviet. Tiada lagi sudah pihak – pihak yang akan menghalangi rencana ‘Orde Satu Dunianya’, yakni penguasaan terhadap belahan bumi Barat dan Timur. Kecuali satu orang disini yang berusaha menjadi batu bagi cita – citanya, yaitu Saddam Hussein. Dia berusaha mengintervensi Iran, dan Anda tahu sendiri tidak begitu buruk jika diintervensi oleh sesama bangsa daripada harus bangsa asing. Amerika yang juga punya misi tertentu terhadap Iran, utamanya sebagai tempat pengerukan bahan baku minyak secara besar – besaran bagi Industrinya. Tentu saja tak akan berhasil jika Saddam Hussein turut menginjakkan kakinya di wilayah harta karun Amerika Serikat tersebut. Well, bisa ditebak, Anda tahun sendiri kan Amerika terus – menerus mengklaim dengan isu – isu yang dibuatnya entah itu real atau tidak kepada Saddam Hussein. Hingga akhirnya Saddam Hussein berhasil dijegalnya 8 tahun lalu, yang sampai sekarang bahkan menyisakan perang saudara yang belum terselelesaikan di Irak, tentu saja akibat intervensi Amerika Cs. Afganistan yang sejak tahun 2001 menjadi sasaran tempur Amerika untuk mencari – cari pelaku pemboman WTC, meski Osama Bin Landen pada bulan Mei 2011 kemarin berhasil dimatikan, namun dampak intervensi mereka masih tersisa hingga sekarang. Satu lagi akar dari berbagai pergolakan di Timur Tengah, yakni perseteruan antara Israel sebagai sekutu Amerika, dan Palestina sebagai pihak yang menderita akibat pengklaiman wilayahnya oleh Israel. Ya, kesemuanya tersebut menjadi lembaran hitam Timur Tengah, menjadi salah satu factor pula mengapa mereka dipimpin oleh para dictator. Di satu sisi, dictator ini bekerja untuk rakyat, namun di satu sisi mereka bisa menjadi sekutu kaum kapitalis.
Meneropong drama kebangkitan kembali negara – negara Islam rupanya masih menorehkan banyak teka – teki. Para pakar politik, dan pengamat Timur Tengah mencoba berbagai penilaian – penilaian serta prediksi kearah mana nantinya gejolak – gejolak tersebut akan bermuara. Setelah rakyat mampu menggeser para dictator itu, akankah mereka mampu memperjuangkan pembangunan bangsa? Ataukah vacuum of power yang pasti terjadi setelah para pemimpin tergeser akan digantikan oleh rakyat atau sekali lagi diperintah oleh tangan – tangan kapitalis barat? Sekali lagi, butuh pemikiran yang tidak saja kritis untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut, namun juga berani!

Bolehlah kita berandai – andai dengan tetap berpegang pada fakta, seandainya gejolak negara – negara di Timur Tengah itu, sebut saja Libya dan Suriah yang hingga kini belum menemukan titik temu. Baik PBB, elit – elit Amerika ataupun Liga – Liga Arab, masih saja berbingung – bingung ria untuk menelurkan sebuah solusi bagi permasalahan yang begitu kursial ini. Andai saja Libya dan Suriah sebagai dua contoh negara yang sedang bergejolak berhasil menggeser kedudukan pemimpin – pemimpin yang begitu dictator itu, dan memiliki inisiatif untuk meniru perjuangan Ayatullah Khomeini dalam menghembuskan semangat revolusi di kalangan rakyat Iran, bukan tidak mungkin jika peradaban Islam yang selama ini terkubur oleh hegemoni kaum kapitalis akan bangkit mengalahkan kawanan Amerika!


Kebangkitan Nasional Indonesia, Utopiskah sekarang?

♠ Posted by Aryni Ayu in
-Day 4-
13 Juni 2011



That’s good, sudah di hari ke – 4 ini saya mencoba merangkai kata demi kata menjadi sebuah rel kereta api tanpa palang bahaya disana - sini, upz, salah!(Just kidd,,). Kebangkitan Nasional Indonesia, Utopiskah sekarang? pasti pemikiran anak – anak muda langsung tertuju pada UTOPIA. Tapi saya percaya bahwa kalian adalah anak muda yang prokatif proaktiv. Tentu Anda bisa merasakan kata – kata Utopis yang begitu sering kita dengar tapi kagak tau artinya?haha, tenang saja kawan! saya bukan mencemooh tapi ‘ngece’ dikit. Of course, itz time to critis!

Utopis! Ya, kata – kata itulah yang sering keluar dari pemikiran kritikus – kritikus Barat mengenai ide Karl Marx, sebuah Communist Society atau masyarakat komunis, mereka juga terbahak – bahak atas ide itu. Tapi disini kita tidak akan membahas tentang komunis, itu sih sudah saya bahas pada artikel sebelumnya. But right now, I have some new Idea, this is about Kebangkitan Nasional Indonesia, sebuah pergerakan yang kini tengah berada dalam keabstrakan di mata bangsanya.

Kebangkitan Nasional Indonesia, utopiskah sekarang? benarkah hal tersebut masih ada di hati setiap muda Indonesia? Hal inilah yang akan saya kaji disini sebagai sebuah bentuk keprihatinan atas kondisi bangsa Indonesia yang kian mengalami degradasi moral, meningkatnya hedonisme, dan berkurangnya nasionalisme. Utopis, ya itu adalah sebuah kata yang menggambarkan betapa khayalnya suatu pemikiran untuk sekedar diwujudkan dan diterapkan dalam masyarakat. Di tengah – tengah mencuatnya berbagai kasus korupsi, skandal penyuapan yang mendera di kalangan elit Indonesia, nasionalisme menjadi taruhannya. Tak ayal jika ada sekolah – sekolah di Karanganyar, Jawa Barat yang meneterapkan anti nasionalisme. Jangankan mengerti arti nasionalisme, Pancasila saja mereka tidak tahu. Bandingkan dengan Inggris yang senantiasa melaksanakan upacara nasionalisme mereka yang bahkan hampir setiap hari tak jemu – jemunya dilaksanakan oleh pihak pengelola pendidikan setempat. Goodness, para pemerhati berita hanya bisa menggeleng – gelengkan kepala melihat kasus yang begitu real tersebut. Mengapa harus terjadi di Indonesia? Apakah mereka tidak mengerti nilai – nilai sejarah peninggalan foundgathers Indonesia?

Of course, berbicara mengenai Kebangkitan Nasional Indonesia di zaman sekarang tentu tak lepas dari kajian sejarahnya. Bahkan tanpa sejarah, Indonesia bukanlah apa – apa, benar kan?
Berawal dari disetujuinya Ide dari ayah Douwess Dekker oleh Ratu Wihelmina (Ratu Belanda) untuk melaksanakan sebuah politik balas budi kepada Indonesia di akhir abad – 19 atas segala income yang telah disumbangkan kepada Belanda. Tahu sendiri bahwa mereka telah mengeruk banyak keuntungan dari Indonesia, infrastruktur Belanda modern ini pasti tak lepas dari keringat deras bangsa Indonesia. Maka lahirlah Politik Etis, sebuah politik yang ditujukan kepada Indonesia mencakup emigrasi, edukasi, dan imgrasi. Meskipun pada realnya politik yang diselenggarakan ini tentu lebih menguntungkan pihak penjajah, rupa – rupanya cukup menjadi senjata ampuh bangsa Indonesia untuk mewujudkan semangat nasionalismenya. Namun sebelum kita menelusuri sebuah kebangkitan nasional Indonesia yang sekarang tengah berada di titik utopis, tentu harus paham terlebih dahulu apa itu sebenarnya ‘nasionalisme’. Bennedict Anderson menjelaskan bahwa nasionalisme tak ayal merupakan sebongkah perasaan bangsa yang ingin merdeka, memiliki kedaulatan, dan memiliki batas territorial bagi negaranya. Di rentang tahun 1901 – 1915, inilah yang menjadi periodisasi kursial, sebuah kesempatan bangsa Indonesia terutama kaum pelajar untuk menyerapi arti penting dari nasionalisme seperti yang telah diungkapkan oleh Bennedict Anderson.

Jika di tahun 2011 para mahasiswa, elit serta rakyat tertarik untuk berbicara hal – hal yang berhubungan dengan globalisme, maka 200 tahun lalu, mahasiswa lulusan sekolah – sekolah Belanda (STOVIA) lebih tertarik untuk membicarakan nasionalisme. Sungguh merupakan pembicaraan yang kontekstual dengan perkembangan zaman. Dulu tentang Nasionalisme dan sekarang tentang Globalisme. Namun ada baiknya jika kedua hal tersebut bisa disinkronisasikan sebagai sebuah wadah cerdas untuk melawan ke – Utopisan sebuah nasionalisme. Karena tanpa nasionalisme, suatu bangsa akan hancur. Ya, kita tinggalkan dulu yang sekarang, mari kita kembali lagi pada sejarahnya. Di awal tahun 1900, Dr. Cipto Mangunkusumo mengajak serta kawan – kawannya yang lulusan STOVIA (sebuah sekolah dokter buatan Belanda) untuk mendengungkan suara – suara nasionalisme di kalangan rakyat. Agar rakyat yang begitu menderita atas lamanya penjajahan kaum colonial mau bersatu dan berjuang untuk memerdekakan bangsanya sendiri, duduk sejajar dengan negara – negara lainnya. Sama seperti Jepang yang mampu membuktikan kepada dunia bahwa dirinya berhasil mengalahkan Barat untuk yang pertama kalinya dalam perang Rusia – Jepang di tahun 1905. Fakta ini bahkan menjadi stimulator tumbuhnya semangat nasionalisme di negara – negara Asia bahwa Kolonialisasi Barat pasti bisa diruntuhkan termasuk di Indonesia. Tertanggal 20 Mei 1908, tiga tahun setelah Jepang menang dari Rusia, lahirlah Budi Utomo sebagai organisasi sekuler pertama kali yang berhasil didirikan oleh putra – putra Indonesia. Tak pernah terpikirkan di pihak Belanda bahwa kebijakannya menjadi bom atom bagi kedudukannya sendiri. Karena di tanggal inilah pergerakan nasionalisme Indonesia semakin mengakar hingga menimbulkan teriakan – teriakan pemberontakan yang lebih keras lagi di kalangan rakyat. Mereka semakin mengerti bagaimana seharusnya perjuangan kemerdekaan Indonesia harus diteruskan sepenuh jiwa bangsa.

Sekali lagi kita ucapkan tanggal 20 Mei 1908, bukan sembarang tanggal, hanya terjadi di Indonesia, bahkan lebih penting dari Hari Valentine yang tampaknya lebih fanatic dirayakan kaum muda dibanding Hari Kebangkitan Nasional. Apalagi setelah terciptanya sebuah ‘manifesto politik’ di tahun 1925 dan ‘sumpah pemuda’ di tahun 1928, persatuan Indoensia semakin bergelora. Kaum radikal (kaum pelajar) dan konservatif (Bung Karno, cs) pun semakin memainkan peranannya masing – masing untuk membawa rakyat kearah kemerdekaan sejati, bukan hadiah dari Belanda!
Berkat kebangkitan nasional yang terlahir dari rahim Budi Utomo, ditambah lagi dengan semangat rakyat sejak jaman kerajaan yang rupa – rupanya menentang keras adanya pembodoh – bodohan colonial selama ini, membuat mereka mampu mewujudkan sebuah Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di tanggal 17 Agustus 1945. Hingga mampu duduk sejajar dengan negara – negara merdeka lainnya. Kini tinggal kita sebagai generasi penerus bangsa yang seharusnya mampu mempertahankan kebangkitan nasionalisme di dalam diri masing – masing guna menyongsong Indonesia yang lebih maju. Jangan biarkan nasionalisme tenggelam dalam dengan utopisme globalisasi. Ingat, konstruksi nasinonalisme kita masih belum selesai!