Kesenyapan Suara Kartini (The Lower Voice of Kartini)

♠ Posted by Aryni Ayu in
Di masa – masa berat inilah jabang bayi Kartini lahir. Jika dulu pribumi berjuang untuk sesuatu yang pantas diperjuangkan, demi harga diri rakyat. Masa culturstelsel, rakyat berjuang tanpa demi apa – apa.

“Suaraku kian senyap, terdengar parau! Hampir seluruh generasiku, wanita – wanitaku, tak sesuai dengan amanatku dulu! Mereka terlalu lelap dalam buaian kapitalis. Emansipasiku bukan itu, sungguh, kalian salah tafsir!” Seandainya Kartini masih hidup, inilah surat yang mungkin akan ia kirimkan kepada sahabatnya, Estella Zeehandelaar.



Tertanggal dua puluh satu april setiap bulannya. Meski tidak ditandai oleh garis lingkar merah di kalender, namun gaungnya terus terdengar. Ya, hari itu, semua orang hampir di seluruh pelosok negeri ini beramai – ramai merayakan sesuatu. Media televisi dari pagi hingga senja hari, secara kontinyu berlomba – lomba menampilkan sosok Kartini dalam beberapa potret. Ada yang memberitakannya dalam ranah modeling dan fashion. Ranah sosial dan human interest, salah satunya menampilkan sosok wanita yang penuh derita dan kuat memperjuangkan hidupnya, mungkin hanya untuk makan!, Terakhir, ranah independen yang lebih tercermin dalam arti ‘kebebasan’. Bebas berpikir, berbuat, dan bertanggung jawab, mungkin juga untuk statement bebas moral!

Hari itu memang penuh arti. Banyak diantara wanita – wanita kita memakai baju favoritnya. Di tempat pelajar berkumpul, antara guru dan murid diwajibkan untuk berpoles diri ala dirinya. Seorang model berlenggak – lenggok dalam busana Anne Avantie, memakai gincu demikian tebal, raut tubuhnya berkata “Perhatikan aku, aku adalah dirinya dalam balutan batik ini”.
Ya, siapa tak kenal Kartini. Wanita kita yang satu ini adalah symbol kebebasan bagi para wanita lain. Berkat dirinya suara – suara penderitaan ‘kaum lemah’ tak lagi terdengar separau dulu, ketika kebebasan terbelenggu dalam strata unggah – ungguh simbolisme Jawa. Saat gema “merdeka” tersimpan dibalik seragam para colonial Belanda.

Kartini cukup bahagia melihat kaumnya kini tak se-menderita dia dulu, namun suaranya tak lagi lantang. Jauh di dalam kuburnya, mungkin suaranya keras – keras menggema “Wanita – wanitaku, inilah aku, perjuanganku, emansipasiku, adalah untukmu, kumohon jangan salah tafsir!” Dirinya sedih ketika melihat perubahan dunia yang tak lagi seindah dulu, norma – norma kian terdegradasi, perempuan – perempuan yang ia bela justru semakin larut dalam eksploitasi zaman, eksploitasi para kapitalis!

“sungguh aku wanita Jawa yang berhak untuk tidak bodoh, aku akan membela rakyatku, sampai tiitk darah penghabisan, Stella..” (Surat Kartini, 15 Agustus 1900)

Saat itu Jawa bukanlah pulau pendidikan, pulau modern, pulau metropolitan. Jawa hanyalah actor figuran yang ada dibalik suksesnya Belanda menghasilkan berkarung – karung uang dari hasil minyak pribumi. Rakyat terlihat kurus kerontang, tinggal tulang – belulang. Tahun 1830, pasca Perang Jawa besar – besaran, kaum pribumi boleh terdengar hingar bingar. Karena pertempuran mereka membela negeri ini, agak terbayarkan. Minimal, dunia melalui para penulis Barat akan tahu betapa dahsyatnya perlawanan pribumi kepada tuannya. Hutang yang melilit Belanda atas perang ini terlampau tidak sedikit, sebesar 37 f. Jika dibulatkan dengan nominal hari ini, mungkin akan setara dengan penjualan minyak seluruh Jawa ke luar negeri. Sebagai penjajah yang merasa berstrata lebih tinggi, lebih berpengetahuan, seorang Komisaris Jenderal Hindia Belanda memunculkan wajahnya kepada Ratu Wihelmina. Dirinya mempersembahkan rencana – rencana ‘jahat’ lain untuk membayarkan hutang – hutang Belanda kepada dunia internasional. Pasti dan tak mungkin salah, melalui negeri jajahan. Apalagi Indonesia, adalah negara kaya dan dungu, batin seorang Komisaris. Lahirlah ‘culturstelsel’, sebuah arena malapetaka selanjutnya untuk para pribumi. Dipimpin oleh van den bosch, mereka lepas landas menuju Hindia – Belanda.

Lagi dan lagi. Pribumi harus menderita akibat keputusan Nederland untuk menghalalkan rencana – rencana malapetaka baru. Seperlima dari tanah penduduk, kini harus ditumbuhi tanaman – tanaman komersil yang ditetapkan oleh Gubernemen (baca : gubernur pimpinan Belanda) seperti ; kopi, nila, gula, tembakau. Sedangkan hasil, dapat diserahkan pemerintah dengan harga pasar. Dalam laporan – laporan kepada Hindia Belanda, sejenak culturstelsel adalah indah, tanpa penjajahan. Tapi pada realitanya, rakyat semakin tinggal tulang belulang. Lihat saja, banyak diantara mereka bekerja diatas tanahnya sendiri. Jika tak memiliki sebidang tanah, maka akan bekerja untuk Belanda selama enam belas bulan, tanpa biaya transportasi dan tanpa uang upah. Pribumi memiliki tanah, tapi garapannya adalah milik Belanda. Munculah kaum proletar untuk pertama kalinya di Jawa.

Jika dulu pribumi berjuang untuk sesuatu yang pantas diperjuangkan, demi harga diri rakyat. Masa culturstelsel, rakyat berjuang tanpa demi apa – apa. Kini nenek moyang kita terlihat lebih dungu, dan lebih menderita. Cambuk – cambuk Belanda mewarnai warna kulit pribumi setiap harinya, mayat – mayat jatuh bergelimpangan di jalanan, dan para amtenar Jawa, tidak bisa berbuat apa – apa. Selain, hanya mengirimkan surat protes untuk Belanda. Di masa – masa berat inilah jabang bayi Kartini lahir.

Kartini terlahir di sebuah tempat dalam gedung keassistenanwedanan, dahulu merupakan tempat rumah bupati. Ya, karena ayahnya adalah bupati Jepara, seorang bernama Ario Sosroningrat. Beliau adalah bupati pertama meneruskan usaha kakek Kartini, yang berjuang agar rakyat mendapat keringanan akibat culturstelse. Adalah bupati pertama pula yang mempunyai ide dan menerapkan suatu hal, bahwa pendidikan dan pengetahuan akan sangat penting agar anak – anaknya tak semenderita rakyatnya.

Mengenai ibu kandungnya, nyata adanya merupakan selir yang dinikahi ayahnya, bernama Sumirah (Surat, 21 Maret 1902, kepada Nyonya H.G. de Booiji – Boissevain). Meski media massa jarang memberitakan hal ini, bisa dipahami sebabnya. Dahulu, memang peranan wanita jarang atau bahkan tidak ditonjolkan dalam simbolisme Jawa. Jadi wajar saja apabila ibu kandung kartini yang hanya dari seorang rakyat biasa, yang kebetulan saja karena mungkin keindahan dan kemolekan tubuhnya, beruntung dinikahi oleh seorang bangsawan, tidak dipublikasikan. Dalam surat – surat Kartini pun, tidak tertulis nama ibu kandungnya. Kemungkinan besar, dirinya harus menjaga nama baik ayahnya, mengingat kecintaan terhadap jasa – jasa ayahnya yang begitu besar.

Di masa awal, emosionalitas Kartini mengenai kedudukan wanita telah terpancang kuat, sejak dirinya berada di kalangan keasistenanwedana. Didalamnya, terdapat persaingan antara isteri – isteri ayahnya, dan saudara – saudaranya. Jadi, ketika ayahnya menikahi seorang perempuan, dan meninggalkan seorang yang lain, maka tidak ada hukum untuk melarangnya. Pun di luar sana, banyak wanita yang dijadikan selir ataupun gundik (baca : isteri simpanan, biasa dipanggil ‘nyai’) oleh para bangsawan pribumi dan Belanda. Konflik diantara jiwanya semakin terlihat. Ia adalah seorang berani yang menginginkan keadilan menaungi seorang kaum perempuan. Ia ulangi keinginannya dalam kata – kata.

Indah dan mulia tugas yang memanggil kita untuk berjuang bagi kepentingan agung, bekerja buat kemajuan wanita Pribumi yang tertindas, peningkatan rakyat Pribumi, pendeknya menjadi berarti bagi masyarakat.. (Surat panjang 11 Oktober 1901, kepada Estella Zeehandelaar)

Emansipasinya mulai tergerak sejak dirinya mengenal dunia Barat. Secara intuitif, ia ketahui perbedaan, bahkan pertentangan, antara pergaulan Barat dan Pribumi. Di rumahnya sendiri, ia menjadi hamba bagi saudara – saudaranya yang lebih tua, dan siapa saja yang dalam pelapisan tata hidup feodal itu setingkat kebangsawanannya dengannya, tetapi yang umurnya lebih tua daripadanya. Dalam pergaulan dengan kawan – kawan Eropa, yang demikian tidak didapatinya. Ia dapati dunia Barat, setiap anak sama haknya dengan anak yang lain. Di dalam dunia Barat, ia merasa lebih bebas, lebih penuh. Setiap larangan bukan ditentukan oleh suka tidaknya orang – orang yang lebih tua atau lebih berbangsa daripadanya, tetapi berdasarkan alasan – alasan yang bisa diterima (via Pramoedya Ananta Toer, 2009 : 149).

Ketika dewasa, titik kulminatif semakin tampak pada diri Kartini. Wanita pertama yang mengenal demokrasi saat Indonesia masih menjadi Hindia – Belanda. Kaum perempuan terus diperjuangkannya meski harus mendapat penentangan dari berbagai pihak. Mendapat cap – cap kebodohan dari para colonial, namun tindakannya adalah cerdas! Jangan melihat kartini sebagai sosok yang akhirnya dikawinkan dan menjadi seorang biasa. Tapi cerdaslah dalam mengamati perjuangannya. Sungguh tak pernah ada di negara manapun sosok perempuan seperti ini!

“Suaraku kian senyap, terdengar parau! Hampir seluruh generasiku, wanita – wanitaku, tak sesuai dengan amanatku dulu! Mereka terlalu lelap dalam buaian kapitalis. Emansipasiku bukan itu, sungguh, kalian salah tafsir!”

Namun Kartini kini berada dalam kesenyapan. Maka tak bolehlah ada secuil pun dari wanita – wanita masa kini lalu membebaskan dirinya dengan ‘berkedok’ emansipasi. Membebaskan dari segala nilai tatanan dan moral, bebas mengekspolitasi kemolekannya demi sesuap nasi. Kemudian mengakulturasi budaya Barat secara total, seperti hari ini. Memberikan secuil ‘rok mini’ tetap melekat sebagai keindependenan seorang wanita. Dengan tetap ‘berkedok’ dan ‘berekor’ pada emansipasi. Sungguh ini sebuah kebodohan! Emansipasi dalam kamus Kartini adalah wanita berpendidikan dan bermoral. Beranilah dalam hal ini, perjuangkan emsipasiku!

“Barang siapa tidak Berani, dia tidak akan menang, itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan Berani! Pemberani – pemberani memenangkan tiga perempat dunia!” (Kartini via Pramoedya Ananta Toer).

Kisah Penjajahan Jepang Era 1942 - 1945 (Studi Kasus : Lingkungan Kreyongan, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember)

♠ Posted by Aryni Ayu in

Kisah ini ditulis berdasarkan sumber lisan yang diambil dari serangkaian wawancara dengan Ibu Narty, seorang saksi sejarah kelahiran Jember 80 tahunan silam.

Pendahuluan


Perjuangan Kemerdekaan Indonesia memasuki abad intelektual memang tak lagi bernyawa Swarnabumi, Jawadwipa, atupun Borneo. Bangsa yang terdiri dari keberagaman dan kesamaan kebudayaan dari sabang hingga merauke itu telah berubah menjadi suatu bangsa beratribut Indonesia. Bersatu padu tanpa harus lagi ada peperangan demi keabsolutan raja, kegemilangan satu suku, ataupun semangat kedaerahan yang terintrodusir menghambat persatuan. Semua bagian tersebut kemudian berhasil disatupadukan dalam balutan ‘berbangsa satu bangsa Indonesia’, Sumpah Pemuda tertanggal 28 Oktober 1928 (Mohamad Achadi, mantan Menteri Transmigrasi dan Koperasi Kabinet Dwikora). Jika Karl Marx dalam pemikirannya memiliki bangunan awal sebagai pondasi, dan bangunan yang lebih tinggi sebagai tangga menuju keadaan tanpa pertentangan kelas hingga terbentuk communist society (Aku Bukan Seorang Marxis, 2005). Maka sumpah pemuda dapat diibaratkan sebagai bangunan awal dan dengung “Indonesia Merdeka” sebagai bangunan tertinggi. Tentu untuk mencapai bangunan tertinggi ini, butuh perjuangan total.

Tak terelakan memang saat kemajuan revolusi Industri terjadi di negeri – negeri Barat, Indonesia kemudian mereka temukan tepat sebagai bahan bakar negara. Artinya, segalanya yang ada di tanah air loh jinawi ini pantas untuk direbut dan dieksploitasi besar – besaran. Begitulah praktik imperalisme dan kolonialisme Belanda lalu berlaku hingga tiga setengah abad lamanya, untuk kemudian berganti lagi dengan perampok lainnya. Silih berganti, Indonesia diperas! Benar – benar butuh perjuangan total dan berlanjut. Senada dengan wacana ini, nyonya Narty menanggapi “Masa pendudukan Jepang dan Belanda, sama saja kelakuannya! Hanya berbeda rupa!”

Sejarah memang bersifat kontinyu, hanya terjadi sekali (einmalig) dan tak akan terulang kembali (Gottschalk, 1995). Itu sebabnya mengapa meski Sumpah Pemuda telah ada, namun penjajahan masihlah berlanjut, pun karena sejarah Indonesia belum juga berubah. Biasanya, perubahan ini tidak secara serentak terjadi langsung di seluruh sabang sampai merauke, ini bertahap. Begitupun di daerah – daerah terpencil, termasuk tempat tinggal nyonya Narty yang ada di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Masa Penjajahan Jepang

Sore itu beliau hanya seorang biasa yang melakukan rutinitas sehari – hari. Tak tampak sedikitpun oleh penulis bahwa dirinya adalah seorang yang pernah menyaksikan kekejaman penjajah di negeri pertiwi. Saat itu usianya masih balita, “Ya, waktu itu saya masih memang masih kecil sekali, saya terbiasa menjadi boneka kecil bagi Jepang. Saya dibawa dari keluarga saya, dimandikan, dan dipakaikan baju bagus. Meski kecil, namun masih ingat benar di pikiran saya bagaimana tingkah – tingkah mereka terhadap orang – orang kampung, termasuk bapak – ibu saya”.

Sembari membenahi letak duduknya, beliau kemudian melanjutkan cerita. Dulu, dirinya masih kecil, bahkan belum mampu ikut memperjuangkan gaung kemerdekaan. Namun terang sekali di ingatannya, mereka adalah orang – orang paling jahat yang pernah beliau lihat. “Saya tidak terlalu ingat tahun berapa, yang jelas Jepang baru saja datang ke Indonesia kemudian menerapkan penjajahan yang saya kira lebih kejam daripada penjajahan Belanda.”
Beliau menuturkan, jalanan di daerah Kreyongan memang masih berupa hutan – hutan, hanya dua tiga perkampungan penduduk yang ada. Sisanya, berupa jalanan yang masih terjal sekali namun cukup dilewati semacam truk – truk container milik Jepang.

“Bahkan ketika mereka (orang – orang Jepang) datang bersama kendaraan – kendaraan mereka yang besar, kami hanya bisa berlari – lari masuk kedalam rumah atau bersembunyi dibawah jalanan yang sengaja dilubangi untuk tempat persembunyian. Sebelumnya, kami sirami jalanan rumah setiap pukul 4 sore, agar jalanan tidak berdebu, lalu kami sembunyi. Bagi kami, kedatangan jepang dengan sirine – sirinenya yang mengaum di siang, sore ataupun malam hari, bagaikan kiamat. Kami sangat ketakutan, tak satupun dari keluarga saya bahkan yang berani keluar saat mereka berkeliling kampung, tutur Narty.”

Hal ini rupanya identik dengan fakta – fakta yang tertulis dalam buku sejarah nasional Indonesia bahwa terdapat lubang – lubang kecil di jalanan daerah - daerah bumi pertiwi sebagai tempat persembunyian padi ataupun bangsa Indonesia yang sedang terjebak ketika para penjajah sedang berkeliling untuk menjarah hasil bumi rakyat. Wanita paruh baya yang tegas pembawaannya tersebut melanjutkan

“Ya, saat mereka berkeliling desa, orang – orang desa bersembunyi, takut, dan tak berani melihat sedikitpun terhadap apa yang dilakukan oleh para penjajah itu. Ibu saya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, dan saya mencoba memberanikan diri untuk melihat mereka dibalik jendela. Ibu saya menjerit pelan agar saya tidak mengintipnya. Namun apa yang saya lihat? Saya terkejut. Berkata saya kepada Ibu. Bu, kendaraannya besar, dan mengangkut banyak sekali padi dari rumah – rumah tetangga (dalam bahasa Jawa).”

Perjuangan bangsa Indonesia umumnya terjadi melalui dua jalan, militer atau diplomatic. Di masa yang sama, pendudukan Jepang mengundang reaksi yang luar biasa dari rakyat. Bahkan disaat romusha masih digalakkan, rakyat cenderung beromantika dengan penderitaan. Beruntung para elit yang berada di pusat – pusat perjuangan rakyat seperti di daerah Jakarta, kemudian melakukan berbagai perundingan dengan pihak Jepang meski masih mengalami jalan buntu. Di daerah – daerah yang jauh dari pusat perjuangan, penjajahan pun tak kalah hebatnya. Di daerah kreyongan, kabupaten Jember, romusha juga membawa berbagai penderitaan. Dari segi konsumsi, kesehatan, hingga upah, tak pernah sekalipun Jepang berbaik hati kepada rakyat. Konsumsi mereka batasi atau tidak ada sama sekali, kesehatan umumnya selalu mendekati kematian, dan upah, tidak akan pernah ada dalam agenda Jepang.

“Dulu saat romusha, orang – orang di dekat rumah saya itu memakai pakaian dari karung goni, makan dengan sisa – sisa nasi yang kemudian diolah menjadi tiwul, atau hanya dijadikan ketan lalu diberi garam. Penduduk di sekitar saya tak punya uang sepeser pun, jadi hidup hanya untuk makan saat itu. Jika penduduk yang dipaksa romusha itu meminta air, yang saya lihat. Mereka (Jepang) memberi mereka minum dengan semacam selang air yang lalu disemprotkan kepada orang – orang. Siapa yang sempat terkena cipratan air ya beruntung tidak haus, bagi yang tidak ya sudah haus dan lapar jadi satu selama sehari semalam.”

Jepang sebagai negara imperialisme baru, bahkan lebih imperial dari penjajah Barat. Meski sama – sama Asia, namun bangsa ini tetap menganggap bangsa Indonesia masih berada dibawahnya. Seperti yang dianut negeri cauvinisme lain yakni Jerman, bersama dengan Italia dan Jepang, menganggap bahwa negerinya lahir dari ras tertinggi ‘bangsa Arya’. Bangsa – bangsa lain adalah bangsa yang kotor, dan harus dimusnahkan. Cukup dimengerti dasarnya mengapa Jepang ternyata menyandang predikat jauh kebih kejam daripada para penjajah Belanda.

Wanita - Wanita Indonesia

Layaknya laki – laki, wanita - wanita di lingkungan Kreyongan kabupaten Jember pun turut berperan untuk memperjuangkan gaung kemerdekaan. Berdasar keterangan Nyonya Narty, dahulu sekitar tahun 1945 saat Indonesia mulai mendapat titik terang kebebasan. Banyak sekali diantara pemuda – pemudi yang berperan sebagai spionase Indonesia untuk mengawasi gerak – gerik penjajah.

“Markasnya sampeyan tahu mbak, ada di dekat Rumah Sakit Paru – Paru itu, dulunya hutan disitu. Jadi, wanita – wanita yang saya lihat sepulang sekolah itu memakai pakaian hitam, menerabas hutan seperi tentara, begitupun laki – lakinya. Saat malam mereka mendatangi rumah saya dan rumah penduduk – penduduk lain untuk meminta makan dan minum, sekedar mengisi perut. Dan saya tahu, mereka rupanya mata – mata yang terbentuk secara tiba – tiba untuk mengawasi gerak – gerik pasukan Nippon. Saya tidak tahu, setelah beberapa bulan kemudian, pasukan Jepang berubah nama menjadi Nippon. Begitupun, saya memanggil mereka dengan sebutan Nippon, tuturnya.”

Sebutan ini dapat dimaksudkan ketika pasukan Jepang terdesak peperangan di Asia Pasifik akibat tindakannya melakukan pemborbardiran besar – besaran terhadap pangkalan laut terbesar milik Amerika Serikat, Pearl Harbour. Keterdesakannya ini tentu membawa pengaruh besar bagi perpolitikan dan militer Jepang ynag diterapkan kepada negara Jajahan. Penamaan Nippon sebagai pasukan, berisi orang – orang yang lebih kejam untuk memeras rakyat lebih dalam lagi. Penembakan bagi pribumi yang berani meneriakkan kata – kata “Merdeka”, akan berhadiahkan tembakan dari pasukan Jepang.

Wanita – wanita Indonesia. Peran mereka begitu besar, ada yang berperan sebagai pahlawan, pun ada yang terjebak dalam lingkaran hitam, sebagai pemuas hasrat pasukan Jepang. Bu Narty kembali bercerita “Ya, memang perempuan – perempuan di Jember ini termasuk di daerah saya, Kreyongan. Memang banyak sekali dari mereka yang dijadikan alat pemuas nafsu oleh pasukan jepang. Jika beruntung ada yang dijadikan istri, mereka dirawat oleh Jepang, tapi tetap saja mereka (Jepang) kejam. Istri – istri itu mereka jadikan simpanan di negeri orang, diberi pakaian dari bahan – bahan tikar, karung goni, dan perlak (alas untuk tidur seorang bayi). Kalau jalan ya terdengar seperti seseorang yang sedang terseok – seok karena bahan pakaian mereka. Jika mendapat panggilan dari Jepang, mereka kembali tanpa membawa perempuan yang dia jadikan sebagai istri simpanan. Ada juga seorang yang cantik dari sebuah kampung, maka akan dibawa oleh Jepang. Diperkosa ataupun dijadikan Jugun Ianfu, tanpa dijadikan seorang istri simpanan. Ya, tapi saya tidak tahu lagi soal ini.”

Jepang meninggalkan Indonesia

Setelah kekalahan mutlak yang harus diambil Jepang saat perang Dunia Pertama di tahun 1945, akibat serangannya terhadap Pearl Harbour. Otomatis, mandate pemerintahan Japang di negeri – negeri jajahan sebagian besar harus diserahkan kepada sekutu termasuk Indonesia. Meski teks proklamasi telah dikumandangkan tertanggal 17 Agustus 1945, namun Indonesia lagi – lagi harus legawa untuk terombang – ambing kembali dalam penjajahan. Pasukan Jepang secara bergelombang, kemudian berangsur – angsur pulang ke negerinya.

“Saya mengintip mereka dari jendela rumah. Saat pulang itu mereka ada di atas truk – truk container, secara berkelompok. Namun jangan coba – coba melihat mereka secera langsung, maka akan ditembak di tempat.”

Kepulangan Jepang dari bumi pertiwi, dari daerah terpencil di Jember. Cukup membuat traumatis yang cukup besar bagi penduduk pribumi. Dari anak, hingga keluarga yang terbunuh saat bekerja secara romusha, tanpa gaji dan tanpa makan. Rupanya menjadi cerita tersendiri bagi saksi sejarah bernama Narty. Keluarganya yang lain, sudah lama meninggal, termasuk tetangga – tetangganya terdahulu. “Saya beruntung bisa hidup hingga hari ini, saya sudah hapal gerak - gerik penjajah, masih lekat di ingata, meski saat itu saya masih kecil.”

Hilangnya Jepang dari tanah air, hanya membuat rakyat bernapas selama satu hari. Karena hari berikutnya, pasukan Belanda lalu berbondong – bondong datang ke Indonesia. Penjajahan mulai menampakkann raut mukanya kembali, pasca Indonesia merdeka.

AMERIKA

♠ Posted by Aryni Ayu in
SOAL AMERIKA UTS

1.Jelaskan proses penguasaan amerika latin sehingga menjadi jajahan spanyol..
2.Mengapa di negara amerika latin sesudah merdeka sering terjadi refolusi.. (diktatorisme)..
3.Identifikasi atau tunjukkkan ben tuk – bentuk wujud perlindungan AS di kawasan amerika latin yang terjadi dalam kurun abad 19. Masing2 jelaskan..
4.Jlaskan proses meletusnya revolusi AS mulai dari factor penyebab hingga akhir pemerintahannya oleh negara inggris 1783..
5.Jelaskan proses terbentuknya pemerintahan negara federasi AS mulai dari factor yang melatar belakangi hingga disahkannya konstitusi 1787..
6.Jelaskan proses terjadinya perang saudara mulai dari factor penyebab dan jalannya perang dan akibat2nya yang terjadi pada AS….

JAWABAN
1. PENEMUAN DAN PENAKLUKAN AMERIKA LATIN OLEH BANGSA BARAT (SPANYOL DAN PORTUGIS)
Perlu diketahui, sebut “Latin” Pada Amerika Latin berarti “Latium” merupakan rumpun bangsa Romawi termasuk rumpun bangsa-bangsa Portugis, Spanyol, Italia, Inggris serta bangsa-bangsa Eropa lainnya. Amerika Latin mendapat banyak pengaruh dari bangsa-bangsa Eropa, baik politik maupun kebudayaan. Sebagian besar negara Amerika Latin merupakan daerah kekuasaan Spanyol dan Portugis. Namun pada dasarnya Amerika Latin tidak hanya dipengaruhi politik dan kebudayaan Spanyol dan Portugis saja, tetapi juga oleh Inggris, Perancis, Belanda dan Amerika Serikat ( Mukmin, 1981 : 11).
Para penjelajah Eropa mengadakan pelayaran dengan kepentingan pribadi maupun ditugaskan oleh pemerintahnya. Pada dasarnya penjajahan bangsa Barat di Amerika Latin mempunyai persamaan yaitu menemukan daerah-daerah baru kemudian dikuasai dan dijadikan koloni ( Mukmin, 1981 : 24). Perkembangan dunia pelayaran dan kebutuhan akan daerah baru baik untuk keperluan ekonomi maupun politik mendorong bangsa Eropa untuk mencari daerah kekuasaan. Khusus daerah Amerika Latin, merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam terutama bahan tambang yang sangat menggiurkan bangsa Eropa.
A. Spanyol
Politik penjajahan Spanyol di Amerika Latin pada umumnya didasarkan atas alasan, tujuan dan cara sebagai berikut (Mukmin, 1981: 23) :
a. Mengeksploitasi kekayaan setempat terutama bahan tambang emas, perak dan permata, baik sebagai bahan baku industri maupun sebagai cadangan kekayaan Spanyol;
b. Negara-negara jajahan sebagai media untuk memperkuat perdagangan dunia atau sebagai market forces yang baru;
c. Mencari tenaga kerja murah bagi kepentingan ekonominya, antara lain dengan system perbudakan dan pemerasan;
d. Menyebarkan political image Spanyol sebagai kekuatan dunia yang perlu diperhitungkan, baik kawan maupun lawan, antara lain dengan dengan mengintroduksikan sistem politik dan sistem pemerintahan Spanyol di negara-negara jajahan;
e. Politik rasialnya didasarkan atas kemungkinan percampuran darah antara orang-orang Spanyol dan penduduk asli (Indian), namun dengan tetap mempertahankan diskriminasi politik, ekonomi dan sosio-kulturalantara orang-orang Kreol (orang-orang Spanyol yang dilahirkan di daerah jajahan),orang-orang Indian, orang-orang Meztizo ( keturunan campuran Indian dan Eropa) dan orang-orang Negro dari Afrika;
f. Politik kebudayaannya didasarkan atas penamaan kesadaran akan tingginya nilai kebudayaan Spanyol dan kebanggaan dalam penggunaan Bahasa Spanyol sebagai bahasa dunia yang kuat fungsinya. Adapun beberapa negara yang dikuasai oleh Spanyol akan dijelaskan sebagai berikut,
1) Meksiko
Meksiko di temukan oleh penjelajah Spanyol yang bernama Hernando Cortez. Ia mendapat tugas dari salah seorang gubernur di Meksiko yaitu Diego de Velasquez. Tanggal 18 November 1519 Cortez berangkat menuju Pantai Timur Meksiko.
Pada tanggal 21 April 1519, Cortez mendarat di Veracruz. Cortez mendapat perlawanan dari suku asli setempat, yaitu Aztec yang pada waktu itu dipimpin oleh Raja Monteczuma II. Seperti penjajah pada umumnya, perlawanan tersebut dapat dipatahkan oleh Cortez dangan strategi memecah belah dan menghancurkan suku-suku asli tersebut.
Penguassaan terhadap Meksiko membawa Cortez menjadi Gubernur Spanyol Baru. Meksiko berubah nama menjadi Nueva Espana atau Spanyol Baru, untuk membedakan dengan Spanyol Lama atau Spanyol Asli. Namun Cortez dikhianati oleh teman-temannya dan dia kembali ke Spanyol Lama untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Cortez merupakan pionir penjajahan Spanyol atas Meksiko selama tiga abad berikutnya.
2) Peru
Peru ditemukan oleh Francisco Pizarro. Ia juga menemukan Karibia (1509), Panama (1510) dan orang pertama yang menemukan wilayah-wilayah di Pasifik (1513). Pada ekspedisi pertama, Pizzaro gagal menyusuri Pantai Barat Amerika Selatan.
Untuk ekspedisi kedua pada tahun 1526, ia membawa serta seorang pendeta yaitu Hernando de Luque dan walikota Panama, Gaspar de Espinosa. Penjelajahan tersebut membuahkan pengetahuan Pizzaro akan kekayaan suku Inca dan informasi tersebut dilaporkan kepada Raja Charles V. Penemuan tersebut mengangkat Pizzaro sebagai bangsawan Spanyol.
Ekspedisi ketiga pada tahun 1532 mempertemukan Pizzaro dengan Raja Inca yaitu Atahualpa yang sedang bersitegang dengan saudaranya, Huascar. Perselisihan tersebut dimanfaatkan oleh Pizzaro untuk meraup keuntungan. Ia menawan Atahualpa. Pizzaro melepaskan Atahualpa asalkan memberinya ruangan yang diisi dengan emas. Malangnya, Atahualpa tidak dibebaskan melainkan dihukum mati setelah mengisi ruangan dengan emas. Kemudian Pizzaro membangun kota-kota di Lima Trujillo dan Guayaquil dalam tahun 1535.
3) Colombia
Colombia pertama kali di temukan oleh Gonzalo Jimenez de Quesada. Quesada dibantu dengan 6 buah kapal, 600 pasukan infanteri, 200 pelaut, dan 100 ekor kuda.bersama para awak kapalnya, Quesada menjelajahi Sungai Magdalena dan mendaki pegunungan di Colombia Tengah. Selain tu terdapat pula perlawanan dari suku Indian Chibcha. Namun karena suku Indian Chibcha juga saling berperang, dapat dengan mudah dipukul mundur.
Quesada membangun kota Santa Fe de Bogota pada 6 Agustus 1538. Keberhasilannya di Colombia menghasilkan hadiah dari Raja Spanyol. Namun oleh rekan-rekannya, dia dikhianati dan dituduh telah menganiaya suku Indian Chibcha. Oleh karena tuduhan tersebut Quesada diasingkan. Namun pada tahun 1549 dia diangkat menjadi pejabat di Colombia. Pada tahun 1569 ia terlibat pertempuran dengan suku-suku Indian ketika melakukan sebuah ekspedisi. Pada tahun 1579, Quesada meninggal.
4) Chili
Penguasaan atas Chili dimulai ketika penjelajah Pedro de Valdivia mengambil alih tugas Almagro yang menguasai daerah Chili. Pedro memasuki wilayah Chili dengan menghadapi serangan suku Indian Araucania. Pedro sendiri berhasil mendirikan kota Santiago (12 Februari 1541), La Serena, Valparaiso (September 1544), Concepcion (Januari 1550), Imperial (1551) dan Valvidia (1552).
Pada akhirnya Pedro tewas pada perlawanan suku-suku Indian yang dipimpin oleh dua orang pendekar, yaitu Caupolican dan Lautaro (31 Desember 1553).
B. Portugis
Pada dasarnya politik penjajahan Portugis serupa dengan Spanyol, baik secara politik, sosial dan perekonomian. Bahkan sebenarnya Portugis yang lebih dahulu mengeksplorasi daerah-daerah baru. Portugis telah menemukan daerah-daerah baru di Afrika sejak tahun 1400. Sebagai contoh, Bartolomeus Dias menemukan Tanjung Harapan pada tahun 1487, dan Vasco da Gama mengelilingi Afrika demi mencapai India pada tahun 1497-1499.
Pada dasarnya Portugis kurang tertarik pada Amerika Selatan. setelah 1520 terdapat ekspedisi lain. Palam kurun 1526 Diogo Garcia mendarat sekitar Santa Catarina. Kolonialisasi besar-besaran timbul pada tahun 1530 yang dipimpin oleh Martim Alfonso de Sousa ( Mukmin, 1981: 24).
Penguasaan Portugis atas Brasil bermula ketika Pedro Alvares Cabral hendak berlayar ke India dan kemudian terdampar di Bahia (1500). Kemudian Cabral mengklaim Brasil sebagai wilayah Portugis.
Portugis benar-benar tertarik pada Brasil karena
1. menyadari bahwa keuntungan perdagangan di India sudah tidak memadai untuk menanggung biaya kerajaan yang relatif boros. Pada tahun 1532 didirikanlah pemukiman Portugis yang bersifat permanen di Sao Vicente yang menandakan Portugis mulai serius ingin menguasai Brasil.
2. Brasil memiliki bahan tambang berupa emas dan kayu celup yang sangat laku di pasaran Eropa
3. dengan kekayaan alam tersebut, bangsa Eropa lain seperti Perancis dan Spanyol menunjukkan minatnya menguasai Brasil. Untuk itu Portugis secepatnya mengikat Brasil sebagai miliknya.
Untuk mengkonsolidasikan dan memperkuat kendali Portugis atas Brasil, pada tahun 1553 Raja John III membentuk 12 sistem kerajaan kecil meskipun hanya Pernambuco dan Sao Vicente yang benar-benar menguntungkan (Grolier, 1989: 243).
Koloni Brasil sempat dikuasai Spanyol antara tahun 1580-1640. Pada saat itu Raja Philip II dari Spanyol berhasil merebut singgasana Portugis dan menguasai seluruh semenanjung Iberia. Raja Spanyol juga menguasai daerah jajahan Portugis di Afrika, Asia dan Amerika (Grolier, 1989: 234).
Antara Portugis dan Spanyol kemudian terjadi perjanjian Tordesillas (7 Juni 1494), yang membagi daerah kekuasaan mereka menjadi dua bagian dengan satu garis demarkasi yang berawal dari garis meridian 370 sebelah Barat Kepulauan Cape Varde. Pada Perjanjian Zaragoza (22 April 1529) garis demarkasi diperluas hingga ke Samudera Pasifik, sehingga Portugis memperoleh Filipina namun kemudian ditukar dengan Spanyol dengan ganti daerah Amerika Latin, yakni Brasil yang berada di sebelah barat demarkasi Tordesillas.
C. Nilai- Nilai Universal
Dalam penemuan dan penguasaan bangsa Eropa di Amerika Latin terdapat nilai-nilai penting yang patut diketahui, antara lain:
a) Semangat dan keberanian para penjelajah mengarungi lautan unuk menemukan daerah baru. Hal tersebut mengajarkan kita agar selalu kreatifdan tertantang untuk menemukan hal-hal baru.
b) Kecintaan bangsa asli Amerika pada bangsanya terutama mempertahankannya dari penjajah.
c) Semangat persatuan yang harus selalu dijaga agar tidak mudah kuasai dan dipecah belah pihak asing.
DAFTAR PUSTAKA
Mukmin, Hidayat.1981. Pergolakan Di Amerika Latin Dalam Dasawarsa Ini. Jakarta: Ghalia.
Negara Dan Bangsa. 1989. Jakarta Grolier Internasional.
Internet : www.wikipedia.com
Nb : yang aku tandai merah, itu jawabannya, yang lain mungkin bisa jadi referensi.

2. Revolusi diktatorisnya hanya satu, yaitu Revolusi Kuba pimpinan Fidel Castro, merembet ke Chili, lalu negara2 Amerika Latin lainya, mengapa? Karena pasca revolusi Amerika Latin, Amerika sebagai negara adidaya baru tidak ingin rezim Komunis berkuasa. Coba hubungkan dengan buku dan Internet permasalahan ini. ini salah satu alamatnya : http://indonesia.handsoffvenezuela.org/?p=127

3. Jawaban nomor tiga terletak pada kebijakan luar negri A.S, diantaranya ada Good Neighbour Polecy (kebijakan tetangga baik), dan lain sebagainya. Kebijakan tersebut dilakukan agar negara2 di Amerika Latin tidak dikuasai negara2 Eropa, sehingga A.S dengan leluasa dapat menjadi pelindung bagi negara2 di Amerika lainnya. Tentu hal ini dilatorbelakangi oleh beberapa factor. Faktor Eksternal, Amerika ingin eksistensinya sebagai negara kuat baru di dunia semakin mengemuka, dan bahan – bahan mentah yang sangat dibutuhkan Amerika diantara terdapat di negara – negara di Amerika Latin. Faktor Internalnya, di negara2 Amerika Latin, sedang terjadi penjajahan Spanyol, dan perang antar suku akibat persengketaan tanah sering terjadi disini. Ini ada link yang dapat di browsing..
www.scribd.com/doc/61499007/Dominican-Republic
www.digilib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-20156762.pdf
http://darjaman.wordpress.com/author/darjaman/

4. Bisa dilihat di Buku Garis Besar Sejarah Amerika

5. Pembentukan negara Federasi esensinya dilatar belakangi menyatukan koloni – koloni yang ada di Amerika sebagai negara yang sudah berhasil terlepas dari belenggu penjajahan Inggris, dari situlah kemudian demokrasi hidup. Ini link yang Dapat di browsing..
http://id.shvoong.com/books/guidance-self-improvement/1965107-negara-federasi-atau-negara-konfederasi/
http://www.mail-archive.com/permias@listserv.syr.edu/msg08795.html
http://id.wikisource.org/wiki/Konstitusi_Amerika_Serikat
http://ockym.blogspot.com/2011/01/hakikat-bangsa-dan-negara.html

6.Perang Saudara esensinya dipicu akibat kehidupan Industrialisasi di Amerika Utara tidak sebanding dengan kehidupan agraris yang ada di Amerka Selatan. Amerika Utara semakin maju, sedangkan Amerika Selatan tetap stagnan, sehingga banyak buruh dari Amerika Selatan yang terserap ke Amerika Utara. Ironisnya, peraturan – peraturan dan Undang – Undang yang dibuat oleh konstitusi Amerika kurang adil bagi para buruh, sehingga ini yang menjadi salah satu factor pecahnya Perang Saudara. Ini link yang dapat di browsing…
http://pendidikan4sejarah.blogspot.com/2011/11/perang-saudara-amerika-1861-1865.html
http://mr-andry.blogspot.com/2010/07/perang-saudara-amerika-1861-1865.html