Pendidikan Indonesia di Tengah Kepungan Besar Globalisme

♠ Posted by Aryni Ayu in at 03.53

Masih berkeliaran tangan – tangan jahil yang siap menancapkan hedonismenya di dunia pendidikan Indonesia. Jadilah esensi pendidikan Indonesia yang carut marut.

Pendahuluan
Dunia semakin sempit. Tak seluas dulu saat Herodotus (seorang sejarawan barat) berhasil membuat peta dunia. Antara Timur dan Barat yang dulunya sangat berbeda, kini mulai terlihat sama. Pasar internasional sudah mulai bebas, informatika telah mengalami kecanggihan tinggi di berbagai aspek, sehingga tak ada sekat tebal sedikit pun yang mampu menutupi kehidupan dibalik dinding besar negara – negara di berbagai belahan dunia. Saat keadaan mulai mengglobal, manusia dituntut untuk serba bisa, serba cerdas. Negara – negara yang dulunya sempat menjadi korban isme – isme dunia, hingga hari ini pun terus – menerus menyempurnakan ideologi Liberal mereka. Kapitalistik telah menjadi zaman popular. Inilah globalisme, yang kini begitu nyata di hadapan dunia, membuat penghuninya begitu memantapkan diri untuk berubah kearah kemajuan di berbagai aspek kehidupan. Negara - negara di Timur dan Barat telah banyak menyelenggarakan kerjasama internasional menyangkut hampir semua aspek. Dari perekonomian, hukum, perdagangan, kesehatan, terutama pendidikan cukuo menjadi perhatian besar para elit dunia.
Tentunya mereka yang terlibat dalam kerjasama ini harus memiliki nilai tawar (bargaining position). Begitupun Indonesia. Tak mungkin para investor berani menanamkan sahamnya secara besar – besaran, sedangkan hanya segelintir orang Indonesia yang siap menerima berbagai profit dan resiko dari penanaman saham – saham tersebut. Apalagi di bidang pendidikan, mutlaknya menjadi tonggak dan benang merah dari kemajuan bangsa realitanya masih diterapkan tak sesuai dengan esensinya. Masih berkeliaran tangan – tangan jahil yang siap menancapkan hedonismenya di dunia pendidikan Indonesia. Jadilah esensi pendidikan Indonesia yang carut marut.

Problematika
Esensi pendidikan Indonesia di tengah kepungan besar Globalisme adalah mempersiapkan anak didik sesuai dengan tuntutan zaman. Anak didik bermental baja, cerdas, siap bersaing di hadapan negara – negara maju serta dilengkapi dengan tiang agama sebagai filter untuk menghadapi berbagai kebudayaan universal, kebudayaan asing nyatanya jauh dari adat – istiadat ketimuran bangsa Indonesia. Namun pada faktanya, esensi ini masih harus bercampur baur dengan kepentingan penguasa. Elit – elit politis yang menginginkan status quo (kekuasaan) cenderung mempergunakan pendidikan bukan sebagai cita – cita yang seharusnya dijunjung tinggi, melainkan hanya sebagai kedok dari kebrobokannya. Atas nama pendidikan, biaya APBN yang seharusnya 20% total dipergunakan untuk membiayai anggaran pendidikan bangsa, selalu dan selalu berliku – liku di kantong para koruptor.
Desentralisasi yang seharusnya bisa mendorong terlaksananya esensi pendidikan secara murni, hanya melahirkan raja – raja kecil yang gagap dan tak mampu menerima berbagai bentuk rupa globalisme. Alhasil, sarana – prasana pendidikan pun tak secara maksimal bisa dijangkau oleh rakyat. Menggambarkan ketidakbenaran dan ketidaksiapan secara maksimal untuk mempersiapkan esensi pendidikan di tengah kepungan besar globalisme. Inilah esensi pendidikan yang carut marut.

Rekomendasi
a.Pemerintah serta pihak – pihak penyelenggara pendidikan diharapkan tidak tambal sulam untuk mempersiapkan esensi pendidikan menghadapi kepungan besar globalisme
b.Perlu adanya kejujuran berbagai pihak menanggapi kebijakan dari pemerintah tentang pendidikan.
c.Moralitas anak didik yang tak boleh tertinggal.

2 komentar:

Terkadang globalisasi pun gak buruk juga. Pendidikan butuh globalisasi agar tetap dinamis dan bisa ngikutin perkembangan zaman.

Nice share. Salam kenal dari Blogger Cirebon. :)

yap. sayangx arus globalisasi di Indonesia masih kurang dewasa. mereka masih belum siap menghadapi dunia. jadilah globalisasi tambal sulam, terutama bidang pendidikan, yang sering dijadikan alat penguasa. hemm...
Okz kawand, salam kenal juga dari blogger Jember.

Poskan Komentar