Bung Karno dan Fidel Castro, Dua Musuh Besar Amerika

♠ Posted by Aryni Ayu in at 07.36
-Day 3-
13 Juli 2011


Nama pertama adalah tokoh besar bangsa kita yang kedudukannya sempat tergeser oleh rezim dictator seperti Suharto dengan dibantu kawakan nasional dan internasional. Kedua, adalah The Survivor, seorang yang bertahan hingga hari ini untuk tetap membela Kuba dibawah bendera komunis.

Menatap indahnya langit biru bercampur keunguan yang terhampar begitu saja didepan mata saya diiringi dengan suara adzan magrib. Kian membuat saya tersadar dan tersentuh untuk mengucapkan sepatah kata ‘selamat menunaikan ibadah shalat magrib’, yuk kita jeda dulu setelah iklan – iklan komersial berikut ini.haha. Sesudah iklan jeda untuk shalat magrib bagi Jakarta dan sekitarnya, saya mencoba mencari – cari pemberitaan tentang Amerika versus Timur Tengah, bagaimana perkembangan mereka disana, serta mencari – cari kabar dua tokoh besar yang kiranya cukup mewakili komunis di masa lampau seperti Bung Karno dan Fidel Castro, yang pernah menjadi musuh besar Amerika.

Atau mensearching berita terkini mengenai Nazarrudin yang kini menjadi buronan 19 negara dunia. Benar – benar kejadian paling krusial dan sedikit memalukan sebenarnya, karena kasus – kasus seperti korupsi nampaknya selalu diexpose menjadi kuliner masyarakat sehari – hari. Diantaranya ini nih, ada satu kejadian yang membuat lidah saya gatal untuk segera mencela koruptor yang ada didalamnya. Di Metro Tv secara tiba – tiba muncul sebuah pemberitaan yang baru saja diliput mengenai seorang koruptor yang lagi – lagi kabur dari penjara. Seorang wartawan media tersebut memergokinya tengah berada di mall, dan sedang asyik bercakap – cakap bak tersangka yang tak berdosa. Tak ayal saat si wartawan itu mencoba memotret melalui blackberrynya (bukan promosi lho), sang koruptor yang seharusnya berada di penjara itu berlagak layaknya Brad Pitt, memalingkan muka saat sang papparazi berusaha mengambil gambarnya. Yah, mungkin pemirsa hanya bisa berkomentar ‘heran sekali, seharusnya para tikus – tikus ini berada di bawah batu nisan agar mereka tidak bisa kabur lagi’()

Sembari menggeleng – gelengkan kepala, menggerakan tangan, dan memutar – mutar mouse ala DJ yang sedang asyik mencerna music R’n B. Pussycat dolls, Eminem, Rihanna, dan Nelly Fortado terus membuat penulis berkata “come on, shake your body, just get out your the best damn thing, and put your hands up!” Dengan suara dentuman music R’nB yang terus berputar bak lampu diskotik, dan berlagak seperti J.K. Rowling yang menulis Harpotnya dengan serius, pikiran saya terus berjalan mengarungi samudra yang diatasnya terhampar peristiwa – peristiwa sejarah dari berbagai belahan dunia. Meski pemberitaan korupsi hari ini sempat tertera diawal tulisan sebagai coretan headline news bagi pembaca, namun penulis tetap berteriak keras seperti Avril yang sedang konser diatas panggung, “Hey guys,are you ready to rock? Tau gak sih loe? Ternyata Bung Karno dan Fidel Castro itu pernah jadi musuh besar Amerika loh, percaya gak?”

Ditengah berkembangnya poros Liberal yang kian mendunia dalam orde satu dunia yang segera terwujud dibawah simbolisme Amerika. Mungkin Anda perlu mencermati tanda tanya besar, benarkah serang mahernisme seperti Bung Karno yang begitu anti – barat dan Fidel Castro, sang survivor yang hingga sekarang masih bertahan di bawah bendera komunis pernah menjadi musuh besar Amerika di masa lalu? Apakah Indonesia ataupun Kuba disaat ini masih menjadi target sasaran serang Amerika Serikat jika keduanya masih berani menonjolkan bendera komunis? Ya, butuh penalaran yang mendalam dan fakta – fakta kuat untuk memberikan eksplanasi (penjelasan) tentang kedua pertanyaan besar itu. Mungkin, dan mungkin lagi saya adalah orang yang terlalu lancang untuk menuliskan ranah yang begitu konflik ini, karena Amerika beserta kawan – kawannya itu sangat sensitive saat mendengar kata – kata komunis yang terlontar baik dari opini public maupun perseorangan. Namun saya harus mengakui bahwa keberanian adalah kunci dari perfect written, jangan pernah berkata takut untuk menuliskan ranah yang controversial sekalipun. Bukankah kita hidup di dalam orde Demokrasi yang tersulut dibawah bendera Barat, benar kan?

Di suatu negara ada dua penjahat besar yang memiliki sekutu, kinerja, ideologi serta modus kejahatan yang berbeda untuk menjalankan aksinya. Tentu saja keduanya pun saling bertentangan dalam berbagai hal. Jika si penjahat A berkata bahwa sekutunya tidak boleh membawa bendera rivalnya dalam kehidupan sehari – hari, namun ironis tetap dilanggar maka akan terjadi suatu tindakan criminal disana. Dimana salah satu penjahat katakanlah si A, berusaha memerangi sekutu tersebut dengan berbagai cara karena berani membawa bendera si penjahat B dihadapannya. Tak senada, penjahat B rupanya langsung memberikan penyerangan terhadap si penjahat A tanpa terlalu berkoar – koar mengenai tindakan penyerangan yang akan dilakukannya. Penjahat A untuk Amerika dengan ideologi liberalnya, dan Penjahat B untuk Uni Soviet dengan bendera komunisnya. Sebuah perumpaan yang mungkin bisa dipakai untuk memberikan eksplanasi tentang kebenaran dua tokoh besar perwakilan barat dan timur, yang didasarkan dari buku – buku serta dokumentasi dalam pemberitaan internasional. Dua orang yang diharapkan bisa menjadi sekutu Amerika ini pun berbalik menjadi anti – barat. Nampaknya, cukup memberikan analisis bahwa Bung Karno dan Fidel Castro pernah menjadi musuh besar Amerika Serikat. Siapa yang tak kenal keduanya? Nama pertama adalah tokoh besar bangsa kita yang kedudukannya sempat tergeser oleh rezim dictator seperti Suharto dengan dibantu kawakan nasional dan internasional. Kedua, adalah The Survivor, seorang yang bertahan mungkin hingga hari ini untuk tetap membela Kuba dibawah bendera komunis. Mari kita cermati perjalanan historisnya.

Siapa yang tidak tahu saat Amerika bermusuhan dengan Uni Soviet? Bahkan hingga hari ini pun, masih terbesit dipikiran masyarakat internasional betapa dahsayatnya peperangan yang dijalankan keduanya. Perang Dingin yang berlangsung dari tahun 1950 – 1990, selama 40 tahun berhasil membelah korea menjadi dua bagian, memisahkan Jerman, dan meruntuhkan tembok Berlin di tahun 1990. Serta membuat kekuasaan Soekarno tergeser di tahun 1966 dan Fidel Castro menjadi seorang yang mengalami percobaan pembunuhan berulang kali oleh pihak Amerika setelah berani menyatakan dirinya sebagai seorang komunis di tahun 1952. Tak ayal jika perseteruan diantara Amerika dan Uni Soviet melibatkan seluruh negara – negara di berbagai belahan dunia. Dari Asia Timur, Asia Tenggara, Eropa Timur, Eropa Barat, bahkan di benua Amerika sendiri. Dunia Timur dan Barat menjadi saksi perseteruan mereka. Jika di Asia Timur terdapat Cina, dan Korea Utara sebagai komunis hasil kekalahan Amerika, di Eropa Barat yang cenderung Liberal dan Eropa Timur yang berkiblat pada komunisme Lenin. Dan di Asia Tenggara sebagai hasil campur tangan antara Amerika dan Uni Soviet maka tersebutlah nama Bung Karno sebagai tokoh besar Indonesia yang pernah digulingkan oleh pihak CIA.

Sikap permusuhan secara tertutup yang dilayangkan pihak Amerika terhadap Soekarno terlihat sejak Partai Komunis Indonesia mulai berdiri. Kekawatiran mereka terlihat terutama saat Bung Karno menjadi tuan rumah penyelenggara Konferensi Asia Afrika di tahun 1955, muncul kekhawatiran Indonesia akan terseret ke dalam poros komunis. Bahkan di akhir decade 1950, Washington mulai kehilangan kesabaran menghadapi Soekarno yang di Cap Anti – Barat tersebut. Maka melalui pihak CIA, organisasi milik Amerika yang dirasa kini telah banyak menuai kegagalan dalam operasinya, mulai mengadakan penyerangan terhadap Bung Karno melalui cara overt (terbuka) maupun covert (tertutup). Berbagai macam cara mulai dilakukan, pernah suatu waktu pihak Amerika menggunakan gambar Bung Karno di Hollywood sebagai topeng yang kemudian dimainkan oleh pemain film porno, otomatis foto dan film tentang skandal inipun tersebar di Indonesia. Namun sayang, bangsa Indonesia ternyata tak termakan oleh issue murahan tersebut. Ada pula isu dewan jenderal yang disebarkan oleh pihak CIA agar kondisi politik yang terjadi di Indonesia kian memanas. Hingga Amerika pada akhirnya menurut David T. Johnson (1976) membuat 6 opsi scenario yang dijalankannya untuk menyingkirkan Soekarno beserta komunismenya. Opsi, 1) membiarkan saja, 2) membujuk Sukarno mengubah kebijakan, 3) menyingkirkan Soekarno, 4) mendorong angkatan darat mengambil alih kekuasaan, 5) merusak kekuatan PKI, 6) merekayasa kehancuran PKI sekaligus kejatuhan Sukarno. Alhasil, scenario terakhir ternyata dianggap paling tepat oleh pihak Amerika untuk menghancurkan Bung Karno, musuh besarnya di belahan Timur.

Adapun di belahan dunia Barat, jika kita mau menyeberangi Indonesia menuju Amerika Latin tepatnya di daerah Kuba. Maka kita akan menemukan sebuah perjalanan historis yang begitu mengagumkan tentang sosok Fidel Castro, sebagai the Survivor dan musuh besar Amerika di belahan bumi Barat. Di tahun 1952, saat dirinya berhasil mengkudeta (menumbangkan) rezim Batista akibat kepemimpinannya yang buruk. Ditambah lagi dengan adanya pasokan persenjataan besar – besaran yang diberikan oleh pihak Uni Soviet saat Perang Dingin kian memanas, dan hubungan yang buruk dengan pihak Amerika. Maka Fidel Castro yang saat itu berperan sebagai pejuang dan penyambung lidah rakyat Cuba, sontak secara lantang berteriak di depan awak media internasional, menyatakan dirinya sebagai seorang komunis. Terang saja pernyataan yang begitu controversial itu membuat geram Roosevelt, presiden Amerika Serikat dan memutuskan untuk segera membasmi bocah tersebut dengan cara apapun. Dari percobaan pembunuhan melalui CIA yang diperintahkannya untuk meracuni Castro yang dicampurkan didalam microfon, makanan, ataupun pena yang nantinya akan dipakai oleh Sang Survivor. Diantaranya juga terdapat skandal seks yang dibuat oleh pihak Amerika, foto – foto Castro hasil rekayasa saat sedang bersama dua penari bugil nampaknya juga tak membuahkan hasil. Cara overt pun kemudian dipakai Amerika untuk menyingkirkan Fidel Castro. Sebuah perhitungan salah yang dibuat oleh CIA saat melakukan penyerangan di Teluk Babi ternyata mampu membuat aib bagi para elit Amerika. Bahkan John F. Kennedy sampai tak bisa berkata banyak di depan awak media internasional tentang kekalahan pihak Amerika.

Dia hanya berkata lantang “Komunis haruslah Hancur”, ya, nampaknya kata – kata ini terwujud di tahun 1990, meskipun benih – benih komunisme melalui Dunia Timur akan siap lahir kembali di zaman Liberal ini. The Survivor ini pun rupanya tak bisa lenyap begitu saja dengan ucapan JFK, atau oleh ancaman – ancaman Amerika selanjutnya. Bahkan hingga hari ini, Fidel Castro masih bertahan di Cuba dengan berpayung dibawah bendera Komunis.

0 komentar:

Poskan Komentar