MANUSIA KOSONG _(Dyriku 11- 12 Februari 2012)

♠ Posted by Aryni Ayu in
“kamu ya mi maen fisik, kalo aku maen fisik, kamu pasti mati..”

Aku sama sekali tak dengar ocehannya. Komat – kamitnya. Aku sibuk tercengang dengan kata – kata “..matinya”. Kosong benar hati, kosong sikapnya, kosong tindakannya sebagai manusia.

“Asal kau tau, aku bukan seorang ibu yang berumur 20 tahun, usiaku sudah empat puluh tahunan.
Mama tak perlu pendekatan untuk mengenal sifat – sifatnya. Mama sudah tahu seisi kehidupan sosial seumuranmu, apalagi aku sudah cukup jeli sebagai bimbingan konseling, aku tahu urusan kejiwaan nia. Makanya dari sedikit penjelasanmu tadi, aku bisa lihat pedalaman jiwanya.
Tak pernah tersadar olehku bahwa selama ini waktuku terisi oleh seorang yang tak dapat dipercaya. Dengan kata – kata, tindakan, dan sikap yang kosong! Terkecuali mulutnya yang tak pernah kosong.


“Manusia Kosong!”, umpatku. Hey kau, siapa kau! Aku tak mengenalmu, pergi kau, fungsimu sudah tak ada untukku..”kata laki – laki tinggi itu. Tak sempat melawan, air mataku deras menderai dipangkuan ibu. “Tenang nak, ibu ada disini.” Tiba – tiba kabut gelap datang bak televisi hitam putih. Aku berjalan tak tentu arah. Melintasi alam asing berlatar hitam putih, entah terdampar dimana diri yang lemas ini. “Brak..”, kepalaku terbentur sesuatu, tepuk tangan menggelegar pun segera terdengar. Suara jam kian berdentang diantara puing – puing benda kecil nan empuk. Oh, mataku membuka. Pening mengitari kepala. Tak sadar ternyata tubuhku terbengkalai di lantai kamar. Benda kotak ajaib yang biasanya bergosip, berdebat, menyanyi, serta berakting masih menyala – nyala berucap tak jelas. Ya, televisiku terjaga dari kelamnya malam hingga datangnya fajar. Uh, mimpi apa aku tadi, doa tidurku tidak manjur! Lelaki tinggi? Air mata? Ibuku? Pertanda buruk.

Mata masih sayu. Rasanya ingin bergelut lagi dengan mimpi. Berandai – andai memasuki arena tinju, aku ingin menjadi Mike Tyson. Melihat lelaki tinggi itu, yang membuat air mataku keluar. Sungguh, pasti kugigit telinganya sampai lepas. Oh imajinasiku kumat! Kuseka air yang menetes di hidungku. Ih, aku memang selalu pilek tiap pagi. Secarik dua carik kertas tissue kutarik kuat – kuat bak bermain layang - layang diatas atap orang. Masih saja kuseka hidungku yang mancung kedalam ini. Kuusap – usap seraya mata masih terbenam dibalik pelupuk. Aku menjerit terbungkam, warna apa ini Tuhan? Tak pernah aku menemui hal sesakit ini. Hey, siapapun, aku ingin berteriak, tapi tak bisa! Papa mamaku tak boleh tahu soal ini. Soal gampang ini, biarlah sahaya atasi sendiri. Tersentak otakku, kepala makin pening, mulut tersendat – sendat untuk sekedar kaget. Aku…aku, berdarah!

Kilauan hitam berderak – derak di telingaku, di mataku. Kepala tak kalah hebohnya, memutar – mutar layaknya kapal terbang tak tentu arah. Suara parau memanggil – manggil “Nia..nia, bangun, kamu kenapa?” Mataku kembali lunglai, masih tak ingat apa yang terjadi. “ndok bangun, kamu pingsan? Mukamu pucat”. Inderaku belum pulih. Tak ada kata kuucapkan.
Laki – laki berparas tampan, berbaju putih. Datang. Memeriksa ulu nadiku. Meraba – raba bagian mata, telinga, dan tensi darah. Terlihat angka mini sekali. Bertuliskan sembilan puluh / tujuh puluh. “adikku sayang, jangan bertingkah dulu ya, tensi darahmu turun lagi, datang bulanmu pun tiba. Jaga kesehatanmu, jangan memikirkan hal – hal yang bisa membuat otakmu serasa miring”, ucapnya sembari tetap memeriksa – riksa badanku. Pikiran ini melalang buana. Aku ingat malamnya. Sebelum fajar tiba. Di ruangan luas nan megah milik seorang dokter, duduklah aku diperiksanya. Kegiatan rutin setiap bulan yang harus aku penuhi. Aku punya sakit. Ya, aku ingat soal itu.

Serangkaian gambar terhisap dalam otakku. Mata sayu ini mulai membuka. “..apa ma? Kenapa ada disini? Aku..aku baru saja bangun.” “Benar kau tidur barusan? Yakinkan mama kalau kau tidak pingsan”, mulutnya bekomat – kamit, khawatir. “Benar ma, aku tak apa – apa, hanya tertidur, aku sehat - sehat saja”, syarafku memerintahkan dusta. “Ya sudah, bergegas sana, beraktifitas lah, nanti mama telepon.” “..baik”, jawabku ragu.

Matahari terlihat merekah, memerah, dan menguning. Fajar bertambah tinggi. Pemandangan rumah serasa indah. Suara ibu – ibu rumah tangga yang sedang membeli pangan di ‘mlijo’ pun terdengar sedikit bising. Kucing – kucing terlihat saling mengakrabi. Terutama si putih lorek – lorek yang sedang berpacaran itu. Jarang sekali berlibur untuk mengusili masakan dirumahku. Barangkali untuk hadiah sang pacar, aih kucing nakal!

Pagi itu memang cerah, sangat. Kulihat diriku dikaca memakai baju hitam, berselimut jeans, berjaket kuning pucat, terlihat sama dengan wajah ini. Kulengkapi bibir dengan sedikit gincu, bedak, dan cairan tipis hitam diatas kelopak mata. Kini, aku sudah mengkilat. Sembari memasukkan beberapa tebal kertas kedalam tas. Peningku mulai lagi. Tak kuhiraukan. Mungkin cukup mengurangi kegiatan hari ini. Aku ijin tak mengajari anak – anak dulu. SMA itu, untuk hari ini aku tak bisa kesana.

Lagi – lagi ijin untuk menuntut ilmu. Menuju ke kampus, tapi dusta. Ya, rasanya ini bukan diriku. Dalam otakku telah terpancang kegiatan hari ini. Padat. Meski tubuh ini melemah, tapi aku tak mau menjadi manusia kosong. Hidupnya hanya termangu – mangu di depan berhala. Hanya menunggu, menonton, berbicara, dan berharap, tanpa tindakan. Menjijikan!

Berangkatlah aku mengitari jalanan. Pelan – pelan aku membalap. Merasai pagi ini begitu sejuk, begitu nyaring ditemani artis – artis Hollywood. Mereka menyanyi di telingaku. Berteriak – teriak, mengalun merdu. Pikiranku terus beradu. Menghayal bak romeo dan Juliet, bak roro jonggrang dan kebo ireng. Seandainya hubungan ini diketahui papa mama, akan jadi apa aku? Dadar gulung, lumpia, atau benang ruwet? Ah, aku ingin direstui, tapi tak mungkin. Mereka pasti menggantungku. Menjewerku, aih mengigau lagi!

Menit sekitar lima, aku berhenti di sebuah toko roti. Membeli sedikitnya sebungkus untuk orang terkasih. Pun membeli secarik Koran untuk bacaan nanti. Nanti, seandainya aku jadi manusia kosong pula ditempatnya. Meter demi meter aku lalui. Berjalan menapaki aspal, rasanya akan ada buruk yang terjadi. Seandainya ini benar – benar mimpi. Tak lama, aku pun sampai ditempatnya. Kekasihku itu. Ya, orang yang pernah aku sayang. Dia masih ditempatnya, masih dengan keadaannya. Kurang manusia.

Tergopoh – gopoh dia menemuiku, sekedar melempar senyum menyambut kedatanganku yang baru beberapa detik. Aku terhenyak, oh, dia masih begitu. Bingkai senyumnya masih terasa manis di hatiku. Terlalu manis bahkan untuk segenggam cabai pedas sepertiku. Sedikit percakapan membuat hangat suasana pagi itu. Namun aku tak bisa menjelaskannya. Sudah terlalu kaku untuk hari ini, 13 Februari 2012. Aku sudah tak mampu mengingatnya lagi. Simpan saja dalam laci sejarah. Roti yang aku bawakan tertelan enak di mulutnya. Percakapan pagi itu masih indah. “Pi, aku ijin pergi dulu ya..ada urusan ke SMP, cari bahan untuk tugas.”, “ya mi..nanti ketemu disini aja ya..” “ya..” aku tersenyum seraya menggumam, semoga saja aku nanti tak menganggur menemanimu. Sungguh aku merugi jika itu terjadi.

Melawan arus terik mentari yang kian menguat. Ruang jalanan dihiasi kendaraan – kendaraan besi nan bising. Sungguh siang yang padat. Bersama seorang karib. Aku mulai mengerjakan tugasku sebagai mahasiswa. Dua puluh dalam hitungan menit, kami akhirnya sampai di sekolah. Ramainya tak terkirakan. Kebun binatang pun kalah. Apalagi pintu gerbang yang mereka punya hanya satu. Andai ini film buatan tom Cruise, pasti sudah aku terjang pagarnya. Asyik! Huzy, tapi bukan itu tujuanku. Sekedar berbasa – basi sedikit, kami diperbolehkan masuk. Menengok sana – sini para siswa itu. “Hey, kita disangka artis nyasar kawan!”, bisikku pada si karib.

Tak lama, tugas itupun selesai. Aku meminta cepat – cepat undur diri dari guru – guru di sekolah itu. Kupegangi kepalaku. Uh, peningnya mulai lagi. Sejenak bermenit – menit kemudian aku berdiam diri di rumah karibku. Sungguh, aku menghindari warna merah itu lagi. Tak mau aku ada orang yang tahu dan repot gara – gara sakitku. Istirahat sejenak sembari makan siang dirumahnya, membuat diri ini sedikit bugar. Jam dua siang itu juga lagi – lagi aku meminta undur diri dan berucap terima kasih. Ada urusan yang lebih penting, ucapku kepada tuan rumah. Urusan kosong, untuk manusia kosong.

Secepat kilat ku melangkah ke tempatnya. Lagi – dan lagi. Kegiatan dan keadaan yang sama aku temui. Seperti hari – hari yang lalu. Dirinya masih sibuk melayani pelanggan, pun lalu hanya mengotak dan mengatik dunia maya. Menjaga internet. Oh..Tuhan, aku tidak menyalahkan pekerjaannya. Tapi kenapa di mataku itu sungguh membuang – buang waktu. Tak adakah urusan yang lebih penting daripada itu? Tanya ku pada hati dan Tuhanku. Seraya hanya tersenyum kepadanya, lalu duduk sambil membaca lembar demi lembar karya Pramoedya Ananta Toer. Aku masih bisa bertahan. Masih ada yang kukerjakan selain duduk. Selain melihat dunia maya seharian penuh.
“hey mi, kamu baca apa? Novel ya?, “ya”, jawabku singkat. “tunggu ya, aku masih sibuk..”, “ya..its okey”. Memang aku penunggu setia manusia kosong. Menit bergeser. Saat membaca aku melihat seorang teman sedang memperhatikanku. hey, itu kan si Beslin. Sambil memegang handphone-nya dia menghindar. Ah, jujur aku sedikit malu beberapa kali bertemu dengannya di tempat ini. Tak tahu mengapa. Tapi seakan pandangannya menganggapku ikut membuang – buang waktu. Seperti manusia kosong.

Kesibukannya selesai begitu si pelanggan pergi. Aku kembali duduk disebelahnya. Turut mengimbangi kegiatan dunia mayanya. Kami bercakap – cakap luwes tanpa kesan. Aku pun tak mampu menjelaskan secara mendetail. Tahulah, kejadian ini sekali lagi terlalu kaku untuk diingat. Aku dan rasaku sudah mulai sirna. Yang aku ingat. Sore itu masih berhias percakapan – percakapan yang renyah. Begitu akrab, dan dia terlihat sangat lelah. Aku dan tubuhku pun tak bisa diajak kompromi. Rupanya pusingku muncul lagi. Sekilas gelap, tapi aku bertahan. Aku tahu dia sedang bercerita sembarang untuk menghiburku, untuk mengurangi rasa bosanku. Ya, aku benar – benar bertahan. Berdiri sedikit, mungkin aku tak bisa melihat apapun. Beruntung beberapa detik berikutnya kegelapan itu mulai menghilang.

Tiba – tiba aku mengajaknya untuk pergi. “pi..ayo ke tempatmu, aku ingin istirahat, ingin sekedar bersihkan diri..”, ucapku spontan. “nggak bisa mi..trus yang jaga siapa?”, “kan ada temenmu, bisa suruh ngganti..”, “Nggak bisa, udah disini aja”. Disini? Aku membatin, ya, bisa ambruk aku disini. Keadaan tempat mempengaruhi kondisi psikologis, bisa tambah turun tekanan darahku. Tapi aku diam, membisu, membiarkan dia sibuk dengan berhalanya, dunia maya.

Berusaha tersenyum, meskipun kecut. Ya, hanya itu yang bisa kulakukan untuk menutupi kesehatanku. Pun menutupi kekesalanku karena banyak waktu yang terbuang. Percuma bahkan. Petang menampakkan muka. Aku terhenyak, sudah waktunya pulang. Aku mohon diri. Dirinya sekedar mengiyakan sembari selesai membeli sedkit makanan. Dia berucap sesuatu, aku pun menjawab, meski sedikit kecut. Entah aku lupa kata – kata apa yang terlontar saat itu. Spontan dirinya marah. Berkomat kamit “..kenapa baru marah sekarang? Kenapa gak daritadi mi?” Daritadi aku bertahan. Menit – menit menyiksa itu aku gunakan untuk bertahan demi kesehatanku! hatiku berteriak.

Sontak pertengkaran hebat tak terelakkan. Suara – suara saling hantam terdengar cukup keras. Tiba – tiba aku merasa cukup kuat untuk melawan sikapnya. Aku merasa statusku sebagai wanita ‘diremehkan’. Sepatu yang biasanya melekat di kakiku ini. Secara reflek kutimpukkan saja di badannya. “Plak..” suara sepatu – sepatu itu. “Ambil..!” pekikku. “Heh, itu udah kamu buang ke aku, kenapa aku yang kamu suruh ambil? Kamu kalo mau pulang, silahkan, aku gak butuh kamu!” Apa? Jam – jam menyiksa tadi cukup membuang waktu. Daritadi aku bertahan karena sakitku, tapi aku diam. Sekarang berani kau berkata kasar kepadaku? Mana rasa manusia – mu? Tak terasa air mata ini menderai, benarlah terjadi sesuatu yang buruk.

Aku terduduk. Menangis. “kamu ya mi maen fisik, kalo aku maen fisik, kamu pasti mati..” Kata – kata ini sungguh membuat pecah kepalaku, pening kembali muncul dalam kekuatan yang lebih dahsyat, mata pun menjadi gelap kembali. Dia terus mengocehkan sesuatu, sedang aku? Aku tak mendengar sama sekali apa yang dikatakannya. Yang terakhir aku dengar hanya “pulango mi, sebelum aku berubah pikiran”. Pikiran apa yang berubah? Aku bertanya – tanya. Aku sama sekali tak dengar ocehannya. Komat – kamitnya. Aku sibuk tercengang dengan kata – kata “..matinya”. Kosong benar hati, kosong sikapnya, kosong tindakannya sebagai manusia.

Kini pikiranku tak karuan. Tensi darah, aku pastikan ada di titik terendah. Aku mencoba berdiri. Tapi rasa ini kembali lagi. Tiba – tiba saja semuanya menjadi gelap. Seakan aku berada di kekosongan. Dan sesuatu membenturkan kepalaku ke lantai. Detik itu aku tak ingat apa – apa. Mataku menerawang jauh, kosong.
Begitu tersadar, kutemukan dirinya, kebingungan. Kenapa kau kebingungan? Sebentar – sebentar sibuk merawatku yang sudah lemas tak berdaya ini. Menggendongku, menggosok perutku, memeluk. Mengapa tak daritadi saja rasa manusiamu ada? Manusia yang satu ini. sungguh, kadang iblis kadang malaikat. Namun aku tetap berterima kasih kepadanya. Telah merawatku dengan sebaik – baiknya.

Malam. Setelah jejakku pergi dari tempat itu. Orang tuaku datang, sejenak tak terlalu kaget melihatku pingsan. Tapi yang membuat mereka sakit penuh tanda tanya. Anak gadisnya ini tak henti – hentinya meneteskan air mata. Sejenak mereka pura – pura tidak tahu dan segera membawaku berobat. Dibiarkannya aku tidur tenang malam ini, tanpa mimpi.

Esok hari, Papa Mama tidak Suka


Fajar kembali menyingsing, menyingkirkan hari kemarin yang penuh sesak. Aku terbangun dengan muka kusut. Pikiran pun masih hampa, masih terbayang – bayang sesat di hari kemarin. Aku mencoba bersandar di dinding. Meruntuhkan segala perasaan manusia. Sedih senang susah gembira, kucoba menghapus. Beberapa detik aku terdiam, menangis. Oh, rupanya tak bisa menghadapi duka ini sendiri. Aku butuh orang tua. Ingin mendengar pendapat mereka tentang orang yang aku kasihi. Setuju atau tidak, suka atau tidak suka. Pasti aku menerimanya. Sungguh, baru detik itu ada keberanian untuk mengungkapkannya.

Tanpa disangka – sangka, mama menghampiriku. Berbasa – basi. Sekedar bertanya, “Nak, ada masalah apa kamu kemarin? Ceritalah, mama tak bisa dibohongi”, tuturnya dalam bahasa Jawa. Sahaya hanya terdiam lama, menangis lagi, malu, dan terbujur kaku di tempat. “Tak apa – apa ceritalah, kau sudah dewasa, aku tak akan marah, segenting apapun masalah itu. Apakah ini soal teman, jurnalistik, organisasi, atau masalah laki – laki”, tambahnya. Sontak ekspresiku makin beku.

Beberapa detik aku menjawab, “iya ma masalah laki – laki, aku..aku.. kemarin bertengkar sama dia. Aku sayang sama dia. Aku akan tunjukkan pada mama, terserah mama setuju atau tidak…aku terima”.

Mama mendesah panjang lalu berkata “nak, belum – belum kau sudah bertengkar dengannya? Yang namanya jodoh, tak pernah bertengkar hebat bahkan saat mereka pacaran. Tak perlu kau tunjukkan dia padaku, coba ceritakan tentang dia.”

“dia seorang dari B, dan menjalani studi di fakultas T. aku tak tahu ma harus mulai darimana. Yang jelas, dia seorang yang sifatnya tak jauh – jauh dari sifatku, keras. Ibunya seorang sama seperti mama,guru. Ayahnya jatuh sakit, kakaknya sudah bekerja tetap, angkatan laut. Sedang dia…dia..dia sendiri…ehm….”

“kenapa berhenti nia? Dia seorang yang pemalas? Masuk kuliah pun jarang? Apalagi mengerjakan tugas – tugas kuliah, pasti tidak, benar kan?
“iya ma…tapi dia pernah berjanji padaku ‘jika aku bersamanya aku tak mungkin tak punya uang, meskipun pas – pasan’, lalu dia juga bilang kalau dia mau berubah. Aku pun bersamanya karena aku ingin memperbaiki dia..”

“Nia, seorang laki – laki yang baik, tidak akan pernah berani menjajikan sesuatu yang memang belum dia pegang, jangankan dipegang, ulet saja dia tidak. Hanya pembual yang berani menjajikan seperti itu. Dan untuk masalah memperbaiki, sudah! Tak perlu kau teruskan. Sikapnya tak akan pernah berubah, siapa yang berani menjamin kalau nantinya kamu juga ikut terseret dalam kerusakan yang dibuatnya?” aku tahu niatmu baik nak, mama tidak marah. Tapi aku benar – benar tidak mau jika kau memilihnya.”

“iya ma maaf. Tapi bagaimana mama bisa menyimpulkannya begitu detail sedangkan mama sendiri tak pernah bertemu dengannya?”

“Asal kau tau, aku bukan seorang ibu yang berumur 20 tahun, usiaku sudah empat puluh tahunan. Mama tak perlu pendekatan untuk mengenal sifat – sifatnya. Mama sudah tahu seisi kehidupan sosial seumuranmu, apalagi aku sudah cukup jeli sebagai bimbingan konseling, aku tahu urusan kejiwaan nia. Makanya dari sedikit penjelasanmu tadi, aku bisa lihat pedalaman jiwanya.
“heem, aku tak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Mama – lah yang negesin ke dia, aku bawa dia kesini ya?

“Hey, untuk apa mama yang berbicara? Justru mama yang salah. Sekarang begini, anggap saja dia barang yang sudah dibuang, maka tak patut kamu ambil lagi, anggap hilang. Aku benar – benar tak sudi. Seandainya kau menikah dengannya, barang seminggu saja, akan kuboyong kembali kau kerumah ini. Jika dia bertanya, jawab saja orang tua tak setuju dengannya, tak ada jaminan masa depan lelaki seperti itu, nak, percayalah kepadaku.”

“benar apa yang dikatakan mamamu, papa sudah banyak mengenal pemuda – pemuda yang ada di daerah B itu. rata – rata sifatnya sama. Pemabuk, pemalas, keras, dan tak mau bekerja keras. Sungguh merugi jika putri papa dapat laki – laki seperti itu.”

“Sekarang mama tanya, telah berapa janji yang telah dia buat untukmu? Pasti hanya sekedar omongan kosong, tanpa tindakan, benar kan?

“ya pa ma, sifatnya memang pernah seperti itu. Ada yang telah ditinggalkan, ada yang tetap hingga saat ini. Dia selama ini telah banyak berjanji kepadaku. Berjanji akan melakukan A, B, C, D, berjanji akan berubah. Tapi kenyataannya terbalik. Katanya proses, tapi proses itu pun kosong.”

“Ya sudah, bertobatlah. Terimalah laki – laki yang benar – benar kamu cintai, benar – benar baik, dan mapan secara jasmani rohani. Tolong jangan hilangkan kepercayaan orang tua.”

Pembicaraan yang telah aku singkat tersebut terjadi tanggal 12 Februari 2012 lalu. Sontak membuat seluruh nadi cintaku putus, rasa itu tiba – tiba hilang, aku tersadar kata – kata orang tuaku lebih berharga dan lebih benar daripada kalimat yang keluar dari manusia kosong. Tak pernah tersadar olehku bahwa selama ini waktuku terisi oleh seorang yang tak dapat dipercaya. Dengan kata – kata, tindakan, dan sikap yang kosong! Terkecuali mulutnya yang tak pernah kosong. Maaf untuk selamanya, kau sudah kuletakkan di tempat terjauh dari segalanya tentang hidupku.

Sebuah Opini: JURNAL ILMIAH SEBAGAI SYARAT LULUS S1

♠ Posted by Aryni Ayu in
Surat Dirjen Dikti Kemendiknas tertanggal 27 Januari 2012 tentang publikasi karya ilmiah untuk mahasiswa S1, S2 dan S3 sebagai syarat kelulusan yang berlaku mulai Agustus 2012 terkesan terburu-buru tanpa ada persiapan sebelumnya. Dalam surat keputusan tersebut tercatat bahwa program S1 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah, program S2 harus ada makalah yang terbit di jurnal ilmiah terakreditasi Dikti, sedangkan program S3 harus ada makalah yang terbit di jurnal internasional.

Berita ini tentunya mengagetkan beribu-ribu mahasiswa Perguruan Tinggi di Indonesia. Keberadaan jurnal ilmiah di Indonesia yang terhitung hanya sekitar 2000-an sementara mahasiswa Indonesia yang begitu banyak apakah sudah siap untuk mempublikasikan hasil karya mahasiswa tersebut? Sementara telah kita ketahui sendiri bahwa tidak semua mahasiswa memiliki minat dalam hal akademisi bidang kepenulisan. Lebih pentingnya lagi, sampai saat ini masih banyak mahasiswa yang belum mengetahui gambaran dari jurnal ilmiah yang nantinya harus mereka persiapkan sebagai syarat kelulusan S1, S2, maupun S3-nya. Khususnya bagi mahasiswa S1 yang masih menganggap jurnal ilmiah sebagai hal asing yang belum banyak mereka gunakan dalam mengikuti perkuliahan.

Pembicaraan mengenai jurnal ilmiah pun tidak hanya menjadi sorotan dalam setiap pertemuan. Namun, dari berbagai jejaring sosial banyak mahasiswa yang membicarakan tentang ketidaksiapan mereka untuk memproduksi jurnal ilmiah seperti yang diinginkan oleh pemerintah. Tidak hanya itu, mahasiswa juga belum memahami alur yang harus ditempuh untuk dapat menerbitkan makalah ke dalam jurnal ilmiah.

Folklor Di Indonesia

♠ Posted by Aryni Ayu in
PENGERTIAN FOLKLOR DI INDONESIA

MASA DAHULU

Pemerintah colonial Belanda telah mendirikan Panitia Kesusastraan Rakyat, dengan maksud untuk mengumpulkan dan menerbitkan kesustraan tradisional, yang banyak terdapat di Indonesia, namun sampai pada masa itu belum dapat diperoleh oleh umum. ( baca Teeuw, 1967 : 13 ).

Para sarjana yang telah meneliti bahan-bahan folklor Indonesia adalah dari disiplin-disiplin filologi, musikologi, antropologi budaya, teologi, pegawai pamong praja klonial Belanda.
Nama para sarjana filologi itu diantaranya G. A. J. Hazeu ( 1897 ), J.Karts ( 1923 ), H. Kern ( 1887 ), R.M. NG. Poerboatjaraka( 1940 ), Tjan Tjoe Siem (1923 ).
Nama para sarjana musikologi diantaranya Jaap Kunts (1959), suami istri C. dan J. Hooykas (1941). Nama sarjana antropologi budaya antara lain B. J .O. Schrieke ( 1921 dan 1922 ) W. H. Rassers (1959). Nama para Teologi antara lain C. Poensen ( 1870 ), J. Kreemer ( 1888 ). Nama para sarjana ilmu tari yaitu K. E. Mershon ( 1971 ) dan I Made Bandem ( 1972 ) Sarjana dan pelukis antara lain Walter sepies ( 1939 )

Kebanyakan mereka itu adalah orang Eropa, berkebangsaan Belanda hasil karya mereka banyak seperti kita baca dalam buku Bibliography of indonesian people and Cultures 1962. Kita dapat memperoleh kesimpulan bahwa pecinta folklor pada masa silam telah menghasilkan pekerjaan yang sangat berharga, karna dapat dijadikan bahan dasar untuk mengembangkan ilmu folklor Indonesia pada masa kini, sayangnya mereka bukan ahli folklor.
Sebagai contoh George Alexander wilken telah menerapkan Teori Efolosi Religi dalam menganalisa kepercayaan Rakyat Indonesia.


1
Kesimpulanya bahwa kepercayaan orang Jawa tentang padi mempunyai jiwa dan adat memangur gigi adalah bekas peninggalan yang tetap masih hidup (suvival) dari jaman animisme dahulu. (Wilken, 1912 ;III, 1-278;IV, 1-36).

W. H. Rassers & J. P. B de Josselin mempergunakan teori strukturalis sosial dalam menganalisis folklor Indonesia. Rassers misalnya menunjukan adanya kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dari legenda, upacara dan struktur sosial Jawa. Ia telah menganalisa hal itu, yaitu dalam disertainya Wayang Suaisme, Budisme, legenda & keris Jawa ( Rassers 1959 ).

Josselin de Jong mempelajari mitologi Indonesia berkesimpulan bahwa di dalam sistem kepercayaan orang Indonesia ada 2 sampai 3 macam dewa. Peratama mewakili kebajikan dan kehidupan, kedua mewakili kejahatan dan kematian. Sepasang dewa ini mempunyai sifat berlawanan karena keduanya merupakan aspek-aspek dewa, ketiga dewa tertinggi atau pencipta. Dewa yang memiliki keburukan dan kematian mempunyai sifat dualistis. Disatu pihak ia dihubungkan dengan kematian dan kejahatan sehingga di anggap mendekati sifat manusia yang dapat mati namun dipihak lain ia adalah dewa sehingga dianggap luhur dan baik. Di Jawa sifat dualisme ini dimanifestasikan dalam diri seseorang dewa, yang merupakan penghubung diantara manusia dan para dewa. Dewa ini oleh Josselin De Jong disebut dengan julukan de Godelijk Bedrieger atau dewa penipu ( Josselin de Jong, 1929 ).

H.B Sarkar menggunakan teori Solar Mythology dalam menganalisa legenda Jawa Timur. Ia berkesimpulan bahwa tokoh legendaris Panji sebenarnya melambangkan matahari yang menunggang kuda yang senantiasa memburu kecintaanya, sang bulan yang selalu menghilang. Menurutnya cerita panji adalah mite alam dan tidak ada hubungannya tetomisme dan eksogami ( Sarkar, 1934 :356 ).

L.H. Coster-Wijsman telah mempergunakan teori defusionisme untuk membandingkan mengenai tokoh penipu dalam dongeng Indonesia terutama daerah Pasundan, Jawa Barat. Menurutnya cerita Kabayan berasal dari Turki-Arabia ( Coster-Wijsman 1929 ).
2
Di dalam buku-bukunya yang berjudul Het Sprookje Van Sterke Hans in Indonesia ( dongeng tentang si kuat hans di Indonesia ), telah membuktikan pentingnya penelitian dongeng di Indonesia karena di dalam terkandung banyak sekali motif cerita ( tale motif ) yang juga terdapat di Eropa. Indonesia dan Eropa merupakan adaptasi yang berdiri sendiri dari motif cerita yang sama. Defries menganotasikan dongeng Indonesia dengan mempergunakan Tale Tipe Index dari Antti Aarne dan Stith Thompson.

Philip Frick McKean, seorang menganut eclecticisme meneliti tokoh penipu hewan, sang kancil, telah mempergunakan berbagai macam teori dan metodologi seperti difusionisme dan aliran Finlandia dan strukturalisme. Menurutnya pendekatan strukturalis yang telah dikembangkan Alan Dundes dalam menganalisa dengeng Jawa diungkapkan dimensi penting sistem nilai budaya Indonesia.

Kesimpulanya dari penelitian tokoh sang kancil, McKean berpendapat bahwa orang Jawa selalu mendambakan keselarasan keadaan dan menghargai sifat cerdik yang tenang ( Cool Intelegence ) seperti yang dimiliki sang kancil !

Para ahli Antropologi Belanda pada masa itu, seperti G. A. Wilken, A. C. Kruyt, J. P.B. de Josselin de Jong telah banyak melakukan penelitian folklor demi perkembangan ilmu Antropologi Indonesia kecuali Jan de Vries tidak melakukan penelitian. Hal tersebut berhubungan dengan pendapat di Negeri Belanda pada masa itu yang menganggap bahwa folklor adalah kebudayaan petani, desa Eropa dan bukan kebudayaan orang primitif seperti orang Indonesia pada masa itu. Jan de Vries menjadi penting dalam sejarah perkembangan folklor Indonesia karna ia adalah ahli folklor berkebangsaan Belanda satu-satunya yang mempelajari folklor indonesia.

MASA KINI
Dalam rangka mencari identitas bangsa, pada beberapa tahun ini di pusat maupun di daerah telah timbul kegairahanuntuk mengumpulkan folklor Indonesia. Pada umumnya pengumpulan atau inventarisasi folklor ada 2 macam yakni :

3
Pemgumpulan semua judul karangan ( buku dan artikel ) yang pernah ditulis orang mengenai folklor Indonesia untuk kemudian diterbitkan berupa buku bibliografi folklor Indonesia.
Pengumpulan bahan-bahan folklor langsung dari tutur kata orang-orang anggota kelompok yang empunya folklor dan hasilnya kemudian diterbitkan atau diarsipkan.

Metode pengumpulan untuk inventarisasi macam pertama adalah penelitian di perpustakaan ( Lebrary research ) sedangkam macam kedua adalah penelitian ditempat ( Field research ).
Mengenai tujuan inventarisasi yang pertama ada 2 macam yakni :
a.Menghasilkan bobliografi biasa, yakni buku yang hanya memuat daftar judul-judul karangan mengenai folklor, yang juga mengandung nama pengarang, tempat terbit, tanggal terbit, penerbit, judul karangan saja tanpa diberi anotasinya ( ringkasan isi karanagan )
b. Menghasilkan bibliografi yang beranotasi, yakni buku yang bukan saja mengandung daftar judul-judul karangan mengenai folklor, isi karangan, dan penilaian.

Inventarisasi dengan tujuan membuat bibliografi folklore Indonesia pada masa sebelum tahun 1970, yang mengandung banyak karangan mengenai folklore Indonesia.
Buku yang paling terkenal adalah hasil karya Raymond Kenedy (1962). Dan diperluas oleh Tomas W. Maretzky dan H. Th. Fischer termasuk salah satu buku bibliografi yang terlengkap mengenai karangan-karangan tentang kebudayaan Indonesia sebelum tahun 1960.
Dengan diterbitkanya buku bibliografi beranotasi mengenai folklore Jawa oleh Jemes Panandjaja (1972). Kemudian diturutjejaki sarjana lainya seperti I.G.Ng.Arinton Puja (1973) mengenai folklore Bali, Sugiarto Dakung (1973) mengenai golklor Sunda, dan A.A.M. Kalangie Pandey (1978) mengenai pengobatan rakyat Indonesia.

Setelah perang kemerdekaan Indonesia, dan pihak pemerintahan seperti terbitan-terbitan Lembaga Sejarah dan Antropolofi (d.h. Lembaga Adat Istiadat dan Cerita Rakyat) Direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen P dan K, yang berbentuk buku-buku yang berjudul Cerita Rakyat, empat jilid diterbitkan Balai Pustaka (1963-1972).

Di luar negeri koleksi folklore Indonesia dari perpustakaan Universitas Leiden (Pigeid, 1967) terdiri dari kepercayaan, upacara, cerita, prosa rakyat (mite, legenda, dongeng) teater rakyat, musik rakyat. Di Indonesia Arsip semacam itu yang paling menarik adalah koleksi dari Gedong Kirtya di Singaraja, Bali. Arsip ini menarik karena terdiri dari naskah-naskah yang diukir di atas lontar. Gedong Kirtya asalnya yayasan Kirtya Liefrinck-Van der Tuuk (1928) dengan maksud untuk mengumpulkan dan mengarsipkan folklore Bali. Naskah lontar adalah penurunan naskah-naskah lontar yang ada di sana adalah penurunan naskah-naskah lontar asli milik para bangsawan kraton atau merupakan rtanskripsi lansung dari bahan-bahan folklore yang diperoleh tutur kata para informan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali Jawa atau bahasa Bali dan huruf yang digunakan adalah hanacaraka.

Naskah-naskah lontar yang ada di Bali pada umumnya adalah dari jaman sekatang, karena sampai saat ini naskah lontar masih dibuat orang disana. Bahan folklore yang dikumpulkan dalam arsip Gendong Kirtya itu antara lain adalah tentang prosa rakyat seperti satwa, tantri, dan kepercayaan rakyat. Sayangnya pengumpulan ini kurang disertai konteks seperti latar belakang kebudayaan, dan sosial. Yang menurut metode pengumpulan folkor modern mutlak harus dikumpulkan bersama-sama. Departemen P dan K di Jakarta telah mengadakan pengumpulan lagu-lagu rakyat Bugis dari sulawesi Selatan, Ona Niha dari pulau Nias, dan Cirebon dari Jawa Barat. Diantara tahun 1972 dan 1973 di bawah pimpinan James Danandjaja telah diadakan pengumpulan folklor bagi pengarsipan dari beberapa suku bangsa di Indonesia terutama Bali dan Sunda. Pengumpulan ini dilakukan dalam rangka Proyek Tahun Buku internacional yang disponsori oleh pemerintah RI dan UNESCO.

5
Metode tang digunakan Danandjaja sama dengan yang dipergunakan oleh Prof. Dr. Alan Dundes dari Universitas Kalifornia di Berkeley bagi program folklor dan arsip folklornya di sana, yaitu bagi setiap folklor yang dikumpulkan harus disertai dengan keterangan mengenai kontek kebudayaan serta interpretasinya dan juga pendapat informanya mengenai bentuk folklor yang diberikan. Dari pihak pemerintah daerah yang kini telah mempunyai arsip folklor √°dalah Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dengan koleksi folklor Betawi.

Dalam rangka Proyek Study Kebudayan Melayu, yang pada tanggal 28-31 Mei 1973 diadakan Seminar Inventarisasi dan Dokumentasi folklor Indonesia yang bersifat nasional di Jakarta, dan di ketuai oleh J. Danandjaja. Salah satu keputusan yang penting adalah usul yang diajukan kepada pemerintah agar secepat mungkin mendirikan pusat folklor Indonesia di Ibu kota RI. Tugas pusat itu adalah mengkoordinasi penelitian folklor di Indonesiayang mencakup pengumpulan, dokumentasi / pengarsipan dan analisa. Seminar yang ke dua diadakan tujuh tahun kemudian yaitu bulan Juli 1980, tujuan seminar itu adalah persiapn untuk mendirikan pusat penelitian folklor. Seminar ke-3 diadakan 2-4 Maret 1982 di Jakarta, bertema menggali dan menyebar luaskan folklor dalam rangka menunjang pembinaan dan pengembangan budaza nasional.

Pada masa setelah kemerdekaan usaha pengumpulan folklor material semakin diintensifkan. Di Ibu kota usaha itu berupa museum-museum folklor, dan yang paling menarik usaha yang dilakukan Yayasan Harapan Kita di bawah pimpinan Ibi Tien Soeharto, yaitu berupa sebuah museum alam terbuka di pasar Rebo Jakarta. Taman mini itu terdiri dari kompleks-komplek rumah adat dari seluruh nusantara dalam bentuk dan ukuran sebenarnya, bahkan ada yang asli hasil pindahan dari daerah asalnya. Bangunan-bangunan itu lengkap diisi dengan perabotan serta alat-alat perlengkapan lainya yang asli yang diambil dari daerah asalnya. Setiap hari selalu diusahakan agar ada kegiatan dibeberapa kompleks rumah adat daerah tertentu, yaitu berupa kesenian atau demonstrasi pembuatan kerajinan tangan tertentu.



6
Museum-museum folklor material lainya yang Sangat penting bagi pengebangan ilmu folklor di Indonesia adalah yang didirikan Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Koleksi musiem itu adalah golek cepak Cirebon, wayang golek purwa, wayang golek pakuan, wayang kulit Jawa Tengah, dan Yogyakarta, wayang golek kraton yang berusia 300 tahun dan lain-lain.

KEGUNAAN PENELITIAN FOLKLOR INDONESIA

Sebelum kita mendalami masing-masing bentuk folklore Indonesia, perlu kiranya kita mengetahui dahulu sebab-sebabnya mengapa kita perlu meneliti folklor lisan dan sebagian lisan Indonesia. Sebab utamanya adalah bahwa folklore mengungkapkan kepada kita secara sadar atau tidak sadar, bagimana folknya berpikir. Selain itu folklore juga mengabadikan apa-apa yang dirasakan penting (dalam suatu masa) oleh folk pendukungnya, contohnya adalah pribahasa orang Minangkabau yang berlaku pada suatu masa, dan kita dapat mengetahui norma-norma hidup mereka pada waktu itu.

Hal ini berbeda dengan suatu etnografi, karna suatu etnografi (monografi) lebih merupakan hasil rekonstruksi kebudayaan suatu suku bangsa orang peneliti di tempatnya, sehingga apa yang diabadikan sebenarnya adalah apa yang dianggap penting untuk disoroti dan penelitinya dan bukan yang dirasakan penting untuk disajikan pendukung kebudayaan itu sendiri.

Fungsi itu menurut William R. Bascom, seorang guru besar Emeritus dalam ilmu folklor di universitas Kalifornia di Berkeley yang telah almarhum, ada empat yaitu
a.Sebagai system proyeksi yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif.
b.Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.
c.Sebagai alat pendidikn anak.
d.Sebagai alat pemaksa dan dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

Aneh, tapi sayang.. (Dyri, 8 Februari 2012)

♠ Posted by Aryni Ayu in
“satu yang gak bisa aku penuhin, yang dari dulu selalu bikin aku tengkar dengan mantan – mantanku, perhatian!

Perhatian? bukankah itu milik setiap insan? Tiap – tiap mahluk bernyawa menginginkan hal itu. Bukan hanya sekedar memberi, tapi juga meminta. Aku semakin tak punya alasan untuk meruntuhkan segala protesku terhadapnya. Aku benar – benar harus kuat menghadapi keanehan ini. Hari itu benar – benar aku ingat, benar – benar aneh, benar – benar aku sayang.



Pagi itu hampir terang. Bulan di belahan barat pun belum mau menenggelamkan dirinya kedalam sayup – sayup subuh. Masih berkejora, besar, dan sedikit menakutkan. Layaknya vampire – vampire di film. Ketika bulan purnama datang, mereka akan menerjang, dan aku pun telah bersiap – siap menerobos kaca di depan kamarku, kalau – kalau di depan bulan itu muncul sesosok manusia bergigi tajam. Ah, secuil imajinasi membuat kepalaku pusing. Mataku yang sayu memandang jam dinding, berdetak meributkan detik – detik waktu. Sudah pagi ternyata. Pepohonan mengayun – ayun mengikuti sinar di ufuk. Suara dapur berdentum tak karuan, begitupun jantungku. Capek rasanya menjadi juru koki. Membantu manusia yang kusebut ‘ibu’, terkadang membuat dada sesak. Berusaha membantu ini itu, memasak ini itu, dan menerima omelan ini itu, nampaknya cukup membuat wajah ini manyun. Andai aku yang penggemar berat, seberat – beratnya sosok Avril Lavigne ini bukan wanita, sudah kubuang jauh – jauh segala peralatan masak. Lalu kuganti dengan peralatan musik. Rock, blues, pop, atau k – pop yang serba feminim itu, mantap! akan kujadikan rumah ini serba musik. Oh, mulai menghayal lagi!

Membolak – balik halaman milik Pramoedya Ananta Toer, mendengar ocehannya tentang hidup manusia bukan matinya, memberiku banyak tahu. Setidaknya membuatku sadar, kehidupan selayak – layaknya tempatkanlah di kursi yang terbaik. Terbaik, bukan terbalik. Ah, aku rasa itu yang terjadi di pagi kemarin. Pertengkaran kecil dalam egoistis, menjadi makanan pembuka, ya tepatnya setelah membantu ibu. Tergesa – gesa ku pergi ke tempatku belajar menaiki sebuah kendaraan besi keluaran Jepang. Suaranya menderu – deru sepanjang perjalanan, mengalahkan keramaian, berjalan sekilat mungkin, menyaingi kecepatan Valentino Rossi. Tapi kupikir, memberi makanan untuk orang yang kusayangi tampaknya sedikit lebih penting, daripada tergesa – gesa. Kuputar kemudiku, sedikit mengurangi kecepatan menambahnya lagi, mengurangi lagi, terus begitu layaknya pembalap liar.

Menit sekitar lima, aku sampai. Kujumpainya disana. Pakaiannya tampak lelah, wajah yang kusam, tangan yang terus mengotak dan mengatik tombol – tombol computer, lantas tersenyum melihatku. Oh, senyumnya membelah hati yang sedang membara. Kuusap – usapkan mataku, takut – takut aku masih di alam mimpi, tapi lebih baik begitu. Dipersilahkan duduk, akupun duduk. Melihat – lihat dunia maya yang sedang dibukanya. Tuhan, tidakkah dia lelah berada semalaman disini hanya dihibur dengan dunia yang maya itu? belum lagi hiburan, barangkali wanita kasat mata yang menjemukan hati itu, membuat kesedihanku bertambah.

“kamu gak kuliah?”, tegurku, “gak, dosennya gak ada.” “trus, kamu bakal jaga warnet terus? Gak capek?”, “Gak, aku lagi gak ada kerjaan”. Aih jawaban ini, membuat pikiran tak karuan. Waktu itu semakin memudar, kenapa tidak berusaha diisi dengan kegiatan lain? Membersihkan diri kek, belajar sesuatu kek, atau sekedar mengistirahatkan diri, pasti lebih menyehatkan. Dasar anak muda! batinku.

Pagi itu masih dingin. Kubiarkan dirinya mengisi perut dengan bekal yang kubawa. Aku masih belum ingin marah. Dalam hati aku terus mencari – cari bahasa apa dan kata apa yang indah tapi pedas, tak ingin membuatnya sakit. Hanya ingin mengingatkan dengan cara dewasa. “kamu sombong! Gak kirimin aku sms”, “aku lagi males sms-an”, “ya, tapi kan aku jadi bingung aku mau bawain bekal, tapi aku juga gak tahu kamu butuh perhatian atau enggak? Kan orang jadi bingung tanpa perhatian dari cowoknya, kamu gak sms aku seharian, tahu – tahu muncul di fecebook, berkomen – komen ria ama cewek lain”, dia tertawa dan menjawab “udahlah mi, masalah kayak gitu gak usah dibesar – besarin”, aku tertunduk, “oo biar besar sendiri gitu”, dirinya hanya tersenyum “ya enggaklah mi..”

Oalah le, aku ini kekasihmu, pantas toh kalau ingin dapat perhatian? Kenapa jawabanmu masih saja begitu? Dasar orang aneh! Hatiku sedikit mengerang kesakitan. Suasana tempat itu kian ramai. Kuminum setenggak botol dingin, tapi panasnya hati belum juga reda. Jam berdentang menggelitik tubuhku untuk segera pergi meninggalkannya, sekedar mengikuti jam perkuliahan. Aku pamit undur diri, “nanti aku kembali lagi”, ucapku.

Andai tak ada si dosen, aku pasti sudah keburu kabur. Mengitari jalanan raya yang padat, berlalu lalang seperti gembel yang tak memikirkan sesuatu apapun, hanya kesenangan yang ia tahu. Atau paling tidak bernyanyi – nyanyi di tempat karaoke sambil berfoto – foto ala narsis. Tapi aku tertipu, tak seperti yang kuharapkan. Kampus tetap ramai, dosen datang tepat pada waktunya meski pekan ini awal masuk kuliah. Dan aku pun terjebak dalam rutinitas, lagi. Tik dan tok, waktu terus bergulir. Si dosen yang biasanya ‘ogah – ogahan’ ini rupanya sedang terkena ‘demam’. Semangatnya menjadi tumbuh. Mahasiswa diajaknya terus untuk menangkap apa yang sebenarnya dia ajarkan. Bercerita, tertawa, bosan, bercerita lagi, bosan lagi, rasanya ingin cepat pulang. Ingin cepat – cepat tidur, sekedar menulis, membaca buku, atau yang paling nakal ingin berdua – duaan dengan belahan hatiku.

Sekedar bertanya atau mencatat – catat apa yang diocehkannya. Sebosan apapun, aku tetap memperhatikan dosenku itu. Menit ke sekian kalinya, perkuliahan selesai. Aku lega.

Terik matahari siang itu sangat menyengat, bahkan hampir menghapus kulit putihku. Apalagi yang akan kulakukan jika tidak menepati janjiku. Tepat tengah hari aku memutar arus, kembali ke tempatnya. Mataku panas, kepalaku makin menggila pusingnya, ditambah lagi dirinya, masih asyik sekali dengan dunia yang maya itu. rasanya ingin berteriak, ‘Im be frustrated my men’. Maka kuambil secarik Koran yang terbit hari itu, berusaha menenangkan batinku. Tertulis besar – besar di Koran itu, lagi dan lagi pemerintah dipesimisi masyarakat. Ah, lagi – lagi partai ini, orang – orang ini lagi, permasalahan ini lagi. Apa – apaan Indonesia hari ini, terlalu banyak etika yang telah terhapus, batinku.

Sembari mengilustrasikan apa isi Koran itu, mataku berpencar untuk memandang sekeliling. Tepat sekian detik ku memandangnya, masih saja lengket dengan dunia maya, masih saja lekat dengan lusuhnya badan, tak inginkah dia membersihkan diri? “kamu masih juga jaga? Belum mandi juga?”, “belum, lagi males”. Tak menjawab aku, entah kenapa perasaan ini semakin kesal. Dirumah kubayangkan tidur di kasurku yang empuk seperti permen. Membersihkan rumahku yang tengah berdandan, pun belum juga menghadap sang Kuasa untuk hanya sekedar shalat. God, aku benar – benar lelah, kataku dalam hati. Ingin pulang tapi hati ini tak bisa. Aku masih merindukannya, masih ingin mendampinginya. Tapi perut ini bergema, kepala memanggil – manggil pusing, mata yang tak kuat lagi untuk bersinar.

Kucoba menegur, “kamu dari tadi kok sibuk banget sih? Gak bisa gak usah facebook-an? Balesi komen – komen yang gak penting?” protesku. “ya namanya aja di depan komputer mi, pastinya ya aku balesi komen – komennya mereka lah.” “Ooo message – message-an ma cewek – cewek itu juga wajar ya? Sedangkan di sisi lain kamu ga ngasih kabar sama aku seharian, gitu?” sambungku. “ya gak gitu juga mi, mereka kan cuma sekedar temen, mereka dulu yang nyapa aku, jadi wajar donk kubales mereka?”. “iya aku tahu, tapi gak bisa kamu tu cuek ama cewek – cewek itu? kamu tuh dalam posisi punya pacar tau!”, tegasku. “Aku kan cuma berusaha mengakrabi, emang sih aku terkadang suka menggoda, tapi aku tuh sayang ama kamu.” “Oo dengan bikin teori sayang, terus kamu bisa seenaknya akrab – akraban sama mereka? Terus suatu hari bisa jalan ama mereka? Ya udah, urus aja dirimu sendiri, aku gak mau tau dan gak akan pernah menanyakan!”

Lantas aku berdiri terhuyung – huyung, membawa tas keluar dan siap – siap menghidupkan kendaraanku. Dirinya mencoba mengejar, tapi terhalang. Seorang pelanggan mengajaknya bercakap – cakap, lumayan lama. Entah apa yang dibicarakan, rupanya cukup membuat tensi egoku turun.

Setelah pelanggan itu pergi, dia memanggilku, mengajak duduk kembali, dan aku pun lupa apa yang sedang aku perkarakan. Menunjukkanku sebuah berita terbaru. Itu suara – suara aneh yang sedang ‘booming’ di seluruh dunia. Sedikit tertarik dengan berita itu, aku mulai lupa kelelahanku. Menit demi menit berjalan, tampaknya aku mulai bosan. Dirinya mulai mengotak dan atik lagi jejaring sosialnya, perutku pun kembali meraung – raung, hati kembali lelah, mata mulai mengantuk, dan hati mulai kesal, lagi. Aku pun tahu keadaannya sama denganku, mungkin.
“hahahha...lucu – lucu, gokil abis ini pakdekku, ini mi kenalin keluargaku yang ada di Bali”, serunya kepadaku saat melihat foto seorang lelaki membuang hajatnya di toilet umum. Aku hanya tertawa kecil, menyambut dengan sedikit keramahan. Ah, untuk apa seperti itu ditunjukkan padaku. Andai aku bos PLAYBOY, pasti langsung kupampang di cover, tanpa sensor!

Seperti anak kecil, atau wanita pada umumnya. Aku sedang ingin bermanja – manja dengannya, rindu aku, dan ingin diperhatikan. Ah, tapi hari itu dia berbeda. Mungkin kami berdua memang sedang berada dalam kelelahan yang amat sangat. “huu..aku capek, pusing, ngantuk”, “ya udah sana istirahat didalam.” Di dalam? Aih, sama saja aku sendirian di ruang kosong bersama jendela kecil, karpet berwarna gelap, dan nyamuk bergentayangan didalamnya. Aku cuma ingin diperhatikan, bukan dibiarkan sendiri, dasar aneh! Memang jarak kita duduk berdekatan. Tak jauh semeter pun. Tapi tetap, tak ada obrolan yang menenangkan.

Pertengkaran pun terjadi, lagi dan lagi. Hal sama terus didebatkan, antara aku dengannya. “satu yang gak bisa aku penuhin, yang dari dulu selalu bikin aku tengkar dengan mantan – mantanku, perhatian! Kalau aku menginginkan aku kerumahmu sekarang juga untuk meminta restu hubungan kita apa kamu juga bisa menuhin? Gak kan? Tolong jangan minta lebih sama aku!” Raungan dari abjad a hingga z aku dengar. Aku resapi, dan aku sambut juga dengan tangsisan. Raut mukaku serasa kusut. Rasanya sudah tak punya harga diri lagi aku berada di tempat itu. Perhatian? bukankah itu milik setiap insan? Tiap – tiap mahluk bernyawa menginginkan hal itu. Bukan hanya sekedar memberi, tapi juga meminta. Aku semakin tak punya alasan untuk meruntuhkan segala protesku terhadapnya. Aku benar – benar harus kuat menghadapi keanehan ini.

Ingin kutinggalkan. Menghidupkan kendaraan milikku sekeras – kerasnya, biar orang tahu keanehan macam apa yang ada di hadapanku ini. “maksudmu itu apa sih mi? masalahnya itu apa sih?”, tanyanya sambil mengambil kunci sepedaku. “bla….bla….!” Aku membentak tak karuan, sampai terlupa apa yang telah kukatakan. Aku kehilangan kesabaran, dan dirinya meninggalkanku sendiri di teras depan penuh tertawaan satu dua orang yang melihatnya seperti sinetron. Menggeram, meremas – remas tangan, menahan air mata, dan menunggu, hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.

Tak lama dirinya datang, memesan sedikit makanan pada seseorang di sebelahnya. Makanan datang, tak terasa ternyata, lama ada diluar. Dia menyuruh aku masuk kembali. Isyratnya memerintahku untuk makan, bukan bicara dan menangis. Beberapa menit berlalu, percakapan dimulai kembali, siap – siap aku harus mengalami perdebatan sengit itu lagi. Tapi tebakanku meleset total. Pembicaraan ringan, sabar, dan seakan – akan penuh ketenangan itu membuatku segar. Saling berbagi pengalaman di masa lalu membuatku dan dirinya mengerti akan kekurangan masing – masing. Dari umurku tujuh, delapan belas sampai hari ini. Aku dan dirinya bercerita tentang cinta, keluarga, dan segalanya hingga kami benar – benar mengerti. Berharap aku bisa mencintai kekurangannya, begitu sebaliknya. Aneh memang, tapi sayang, se sayang – sayangnya aku mencintainya. Terik berganti senja, berganti pula malam, kami saling menemani. Hari itu benar – benar aku ingat, benar – benar aneh, benar – benar aku sayang.

Permintaan Sederhana

♠ Posted by Aryni Ayu in
Tak satupun orang mengerti. Mungkin hanya menggeleng – gelengkan kepala, diam tertunduk, atau tersenyum mengerikan bagai topeng – topeng seram di Pesta Halloween



Ketika ku menatap langit, tak sedikitpun kemilau bintang tampak. Mungkin dulu, ketika ku masih muda, tak pernah ada keluh kesah terlintas di raut mukaku, di make up-ku, bahkan di setiap lekukan tubuhku. Langit – langit memang gelap, penuh dengan teka – teki dibalik hembusan mendungnya. Bagaikan mendapat hadiah besar ketika banyak beban diletakkan disamping pundakku, tak pernah marah, bahkan egoistis. Tapi akhir – akhir ini, semua berbeda. Beban yang seharusnya lima pounds berubah menjadi lima ton. Entah apa yang ada di benak seorang gadis ini. Begitu rupawan seiring tumbuhnya kedewasaan, namun terkadang drastis di satu post lingkaran kehidupan. Takdir seperti apa sebenarnya yang ditamparkan Tuhan kepadanya? Tak satupun orang mengerti. Mungkin hanya menggeleng – gelengkan kepala, diam tertunduk, atau tersenyum bagaikan topeng – topeng seram di Pesta Halloween.

Mencoba menjadi rupawan yang lain. Ya, itu ucapnya ketika berada diawal puing – puing akademika. Membuat sekat – sekat tebal untuk pertalian sosial. “ah, dengan cara ini aku pasti akan mendapatkan banyak koneksi berkualitas, tak seperti dulu”. Bicaralah hatinya menunjukkan sebuah jalan yang mungkin terlalu lurus. “Apakah mereka temanku? Sepantas apakah mereka mengenalku? Tidak! Mereka terlalu badung, terlalu bodoh, terlalu berlebihan..” terlalu dan terlalu terlalu. Hanya itu saja yang ada dalam penilaian hatinya, justru membuat kehidupan semakin menabrak kebelakang.

Lorong waktu berjalan hingga sampai pada suatu pusaran waktu. Tak terasa langkahnya semakin terhenti. Tersadarlah gadis itu, hanya membuang waktu dengan sibuk memikirkan suatu kesempurnaan. Pernah merasa dirinya merasakan lingkaran kebebasan. Mulai keluar dari sekat, dan menikmati indahnya romantika. Namun ironi, dirinya berada di ambang batas. Bukankah perbatasan itu selalu lebih sulit? Inilah yang dia rasakan. Butuh waktu untuk bisa kembali, merindukan masa – masa indah, atau bahkan sekedar memikirkan kesuksesan. Mungkinkah jika suatu hari dirinya berada di singgasana terhormat untuk merasakan indahnya sebuah kerja keras itu? Ingin rasanya menjadi raja sehari, tapi tidak! untuk apa? Hanya seorang gadis. Tak ingin menjadi raja, sepintas hanya ingin keadilan dan jalan keluar.

“Aku ingin menjadi orang hebat!” Ikrar menggema di kamar tidur miliknya. “Tapi sehebat apakah? Bisakah aku bahagia?” terkadang menampikkan agama, terkadang mengunggulkan ideology, dan rasionalitas. Ah, aku ingin taman firdaus, banyak orang memberi jempol pada setiap usahaku, bukankah….itu permintaan yang sederhana?”