Bayangan Orang Lain

♠ Posted by Aryni Ayu in at 05.45

Menjadi orang lain, bukan jawaban atas kebahagiaan. Tetapi menjadi diri sendiri adalah hal yang patut diperjuangkan, apapun bidangnya, kita semua sama, manusia!



            Menjadi seorang wanita sukses, cerdas, dan kepribadian tentu menjadi dambaan setiap insan. Siapa yang tidak ingin dipuji, diagungkan, dan namanya selalu diperbicangkan oleh semua orang? Tentu hampir semua mengimpikannya. Jika orang tua sebagai orang terdekat kita terkadang tidak bosan-bosannya memberi wejangan bahwa kita harus sukses, tidak peduli apa yang menjadi keinginan kita. Terkadang, disitulah nilai dari seorang manusia mulai hilang, digantikan oleh seorang robot. Yang akan selalu berusaha menyenangkan orang lain, menuruti perintah bahkan jika perintah itu menghilangkan identitasnya sama sekali.

            Tidak ada yang salah memang tentang keinginan tiap-tiap orang untuk sukses. Di dalam ajaran agama pun diajarkan agar seseorang memiliki kemampuan rohani dan intelektualitas yang seimbang. Dalam ilmu psikologis, manusia selaku insani memiliki delapan kecerdasan yang masing-masing tidak sama antar satu dengan lainnya. Maka, manusia dituntut untuk mampu menghadapi berbagai tantangan, dan terus maju kearah kesempurnaan. Tentu hal tersebut harus didukung oleh para rekan terdekat seorang manusia. Tetapi, sangat jarang orang tua ataupun orang terdekat kita yang mengajarkan tentang pentingnya menjadi diri sendiri. Bagaimana mengolah keterampilan diri dengan tanpa dan harus menjadi orang lain. Bukankah manusia adalah mahluk nyata, berperasaan, logis, juga cerdas? Jadi untuk apa menjadi bayangan orang lain?

            Bahkan anak kembar berfisik sama, tak pernah memiliki tingkah, pola, dan pemikiran yang sama. Hari ini, seorang ibu dari seorang temanku ‘Stephani’ sedang bercerita tentang betapa suksesnya anak rekannya yang menjadi seorang pramugari. Dia seorang wanita 24 tahun dengan pacar yang selalu berganti-ganti, dari dokter, manajer hotel, sampai direktur sebuah perusahaan. “Ibu sangat bangga nak dia mampu membiayai biaya umroh untuk kedua orang tuanya, tabungannya 150 juta”, ujar ibunya pada Stephani. Bla..bla...bla, begitulah Stephani mendengar ibunya berbicara, yag sejak duduk di bangku sekolah dasar selalu membicarakan kehebatan anak orang lain. Dia tahu bahwa dirinya bukanlah seseorang yang bisa menyamai kehidupan anak dari rekan ibunya. Karena Stephani bukan orang yang sama, memiliki kehidupan sama seperti orang lain, atau mencoba melakukan imitasi berlebihan sampai merugikan dirinya sendiri hanya untuk menuruti gengsi.


Mungkin tidak hanya Steph saja yang mengalami hal seperti ini. Di berbagai belahan dunia lainnya, seseorang begitu menderita karena mencoba menjadi bayangan orang lain. Bagi Steph, pekerjaannya sebagai pengajar sudah membuat dirinya bahagia, meski harus perlu perjuangan panjang. Menjadi orang lain, bukan jawaban atas kebahagiaan. Tetapi menjadi diri sendiri adalah hal yang patut diperjuangkan, apapun bidangnya, kita semua sama, manusia! 

0 komentar:

Poskan Komentar