Amerika Pasca Perang

♠ Posted by Aryni Ayu at 03.55

“Kita bangun dunia baru, yang jauh lebih baik—tempat martabat abadi setiap manusia dihormati.” (Presiden Truman, 1945).

Negara adidaya pasca perang rupa – rupanya mampu menangguhkan kredibilitas Amerika di mata dunia dengan gaung “Demokrasi”-nya yang semakin lekat di tengah – tengah tampuk kekuasaan modern. Lahirnya Amerika sebagai pemegang kunci kemenangan pasca Perang Dunia II adalah bukti “high on credibilition” yang dimiliki negara adikuasa tersebut. Tentu fakta ini tak lepas dari serangkaian panjang pergolakan pro – kontra diantara elit dunia tentang hegemoni A.S, sebut saja Uni Soviet. Bahkan Majalah New York Times pernah menuangkan pendapatnya diatas tulisan jurnalistik yang mengatakan bahwa Uni Soviet adalah negara kontras Amerika Serikat. Di satu sisi The American Century (Abad Kejayaan Amerika) membuat rakyat Amerika beserta elitnya merasa percaya diri dan yakin terhadap kemakmuran mereka selama dan pasca perang. Namun di sisi lain, The American’s tetap harus melawan benih – benih komunis yang tumbuh dan berjalan secara domino dalam kehidupan masyarakat internasional. Memang, kedua negara yang kontras tersebut pernah mengesampingkan perbedaan ideologi mereka demi mengalahkan Nazi saat PD II berlangsung. Pada akhir perang, antagonism kembali muncul ke permukaan. Amerika pun berharap bisa bertukar pikiran dengan negara – negara lain tentang model pemerintahan dunia yang tentunya diikuti pula oleh ide – ide demokrasi yang berusaha ditanamkannya di wilayah – wilayah Eropa, Asia, Timur Tengah. Namun rakyat Amerika yang begitu kritis meyakini perlunya pendirian tegas terhadap Uni Soviet dalam Perang Dingin yang berkembang pasca 1945.
Perang dingin menjadi perkara politik dan diplomatic diawal periode pasca perang. Hal ini berakar dari perbedaan pendapat berkelanjutan antara Uni Soviet dan Amerika yang tumbuh sejak pasca Revolusi Rusia pada 1917, Partai Komunis di Uni Soviet pimpinan V. Lenin beranggapan bahwa dirinya sebagai ujung tombak gerakan internasional yang akan menggantikan kekuatan politik yang berkuasa di Barat juga di seluruh dunia. Menimbulkan kecurigaan dan rasa tidak percaya diantara Amerika dan Uni Soviet. Keduanya pun kemudian saling menebarkan embrio – embrio ideology, antara Liberal dan Komunis di negara – negara wilayah Eropa, Asia dan Timur Tengah. Amerika Serikat menerapkan pembendungan ideology komunis Uni Soviet sebagai sebuah kebijakan era pasca perang dengan dalih ingin menanamkan sebuah konsep kemerdekaan, persamaan hak, dan demokrasi, notabenenya tentu juga ingin menigkatkan pertumbuhan ekonomi Amerika, akibat ketakutannya akan depresi besar yang pernah terjadi di negara tersebut. Pada perkembangannya, Perang dingin antara A.S dengan Uni Soviet berjalan tanpa stagnansi dari kedua pihak. Diskriminasi rasial yang terjadi dalam social – politik cultural masyarakat Amerika, peningkatan perekonomian seiring dengan jalannya Perang Dingin, secara kontinuitas silih berganti mewarnai antagonisme keduanya. Hingga melahirkan suatu Dekade Perubahan Amerika di masa 1960 – 1980. Namun ada satu permasalahan yang begitu kursial dan tajam di mata masyarakat – elit Amerika, yakni mengenai efek domino dari persebaran komunis – Uni Soviet. Ketika kedua ideology bercengkrama mempengaruhi masyarakat di negara – negara Eropa, Asia, dan Timur Tengah semakin mendekati titik klimaksnya, sehingga selalu menyisakan keterpisahan social – politik di beberapa negara, yakni antara Utara dan Selatan serta antara Timur dan Barat. Di dalam negeri, masyarakat Amerika tengah berjuang untuk membasmi para Amerika Komunis, yakni orang – orang Amerika yang menganut ideology komunis, dan mereka tersebar dari rakyat hingga para elit Amerika. Di tengah – tengah tsunami persamaan rasial yang disuarakan oleh rakyat Amerika dalam gerakan Hak Asasi (1960 – 1980), gerakan wanita selama 1960 – 1970, Gerakan Masyarakat Amerika Latin masa Kabinet Bill Clinton, dan George W. Bush, pergerakan masyarakat – pribumi Amerika serta ragam konflik yang terjadi diantara kaum elit selama dan pasca Pemerintahan John F. Kennedy.

0 komentar:

Poskan Komentar