Kemerdekaan Indonesia, Harga Diri yang Tak Boleh Mati!

♠ Posted by Aryni Ayu in at 06.52

Bawalah harga diri Indonesia sebesar mungkin ke hadapan negara adidaya! sikapi kemunduran bangsa ini dengan tindakan – tindakan yang kian positif, bukan hanya berkicau di ruang kosong tanpa ada solusi sedikitpun. Talk less do more!

Pemberitaan Indonesia belum sepenuhnya bersih dari kasus – kasus kleptokrasi! Ada Nazaruddin yang masih menyimpan sejuta rahasia walau rakyat telah bertepuk tangan atas kondisinya yang kini semakin merana setelah berhasil dipulangkan kembali ke Indonesia, adapula kasus – kasus korupsi yang belum terungkap, masih dibiarkan menjadi semakin besar saat rakyat sedang teralih oleh isu – isu tertentu. Namun ada segelintir berita yang menggembirakan, bahwa Indonesia tergolong dalam 4 besar negara berkembang tercepat perekonomiannya dalam pembentukan Masterplan Internasional tertanggal 11 Maret 2011. Para koruptor di bilik – bilik jeruji besi juga boleh tersenyum sesaat karena di hari ini, tepatnya saat Indonesia mereyakan hari Ulang Tahun yang ke – 66, mereka mendapat remisi pembebasan bersyarat dari pemerintah. Ya, semoga saja dapat menambah rasa patriotisme diantara ahli korupsi itu.

Sore ini, Sang Saka Merah Putih telah diturunkan oleh segenap pasukan 17, pasukan 8, dan pasukan 45 dalam balutan suasana upacara penuh khimad di Istana Negara. Presiden ke – 8 kita secara perspektif sejarah, Susilo Bambang Yudono beserta staf kenegaraan duduk bersama menyaksikan upacara peringatan Kemerdekaan Indonesia ke – 66. Tertanggal 17 Agustus 2011, tepat 66 tahun setelah Indonesia berhasil memekikan kata ‘merdeka’ di telinga dunia, membuktikan kepada pihak – pihak imperialis ataupun kepada pihak – pihak yang masih terjajah bahwa kami sebagai bangsa Indonesia, adalah bangsa yang kuat, dan tak butuh belas kasihan dari Portugis, Belanda, Jepang ataupun Amerika untuk memerdekakan rakyat kami. ‘Kemerdekaan Indonesia haruslah 100 % tanpa campur tangan pihak penjajah!’ pekik Tan Malaka dalam rekaman sejarahnya, dia rela perjuangan yang dia gapai harus berhenti ditangan rakyat Indonesia sendiri saat dirinya dituduh sebagai seorang komunis. Hal ini dilakukan demi satu hal, ingatlah bahwa Harga Diri Bangsa tak boleh Mati!

Dalam kepingan sejarah selanjutnya, tercatat dua bulan sebelum kemerdekaan Indonesia terucap, pemuda - pemudi revolusioner seumuran kita, berani memperjuangkan seluruh kemampuannya untuk membakar semangat rakyat tentang kemerdekaan melalui beberapa stasiun radio milik Jepang. Yang kala itu memang sangat sulit dan ketat untuk menyalurkan berbagai angan – angan tentang ‘kemerdekaan’. Bahkan Presiden Soekarno sebagai orang pertama yang mengucapkan proklamasi kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur 56 sekitar pukul 12 siang, rela menjadi abu dari sebuah revolusi yang pasti akan terjadi setelah kata ‘kemerdekaan’ terucap di bumi tanah air Indonesia. Panglima Sudirman yang rela penyakit kronisnya semakin parah saat harus memimpin pertempuran melawan Agresi Militer Belanda II di tahun 1948, serta Moh. Hatta yang rela meletakkan jabatan wakil presidennya di tahun 1956 karena beranggapan bahwa kepemimpinan adalah sebuah amanah, bukanlah kekuasaan yang harus terus dipegang layaknya system pemerintahan sekarang.

Kesemuanya tersebut adalah beberapa kepingan – kepingan sejarah yang selayaknya harus diingat, dihargai secara penuh, dan diisi perjuangannya dengan optimisme sebagai segerombolan generasi muda yang memiliki tanggung jawab besar untuk memajukan bangsa Indonesia apapun konsekuensinya. Bukan hanya sebuah celaan, sindiran, ataupun rasa ketidakpuasan yang banyak terlontar oleh segelintir kalangan muda melalui dunia maya dan dunia nyata atas semakin mundurnya negara kita akibat maraknya tindakan – tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menandakan bahwa mental para pemimpin kita kian turun ke jurang degradasi. Namun bawalah harga diri Indonesia sebesar mungkin ke hadapan negara adidaya! sikapi kemunduran bangsa ini dengan tindakan – tindakan yang kian positif, bukan hanya berkicau di ruang kosong tanpa ada solusi sedikitpun. Talk less do more!

Mungkin juga terlontar pertanyaan besar mengenai kemerdekaan Indonesia, banyak pihak bahkan para generasi muda yang mempertanyakan benarkah Indonesia sudah benar – benar merdeka? nyatanya, negara ini masih begitu miskin untuk menghadapi dan menjawab berbagai tantangan globalisasi yang kian kompleks. Apalagi saat bangsa ini tersangkut problematika serius dengan negara – negara tetangga yang dinilai telah mematikan harga diri bangsa, pantaskah jika bangsa ini disebut – sebut sebagai negara yang telah merdeka?

Sebagai seorang pemudi yang mencoba bersikap proaktif dan provokatif atas berbagai komplekstisitas permasalahan yang terjadi di hampir semua lini kehidupan bangsa Indonesia, maka ijikanlah saya untuk menjelaskan pertanyaan tersebut berdasarkan analisis sejarah.

Indonesia telah memulai perjuangan hidupnya sejak beratus – ratus tahun lalu, bahkan saat seorang diantara mereka masih belum mengetahui bahwa mereka hidup di negara yang bernama “Indonesia’ sekalipun, tepatnya di pertengahan abad – 15, filosofi hidup mereka telah menyatu dalam sebuah Pancasila. Ketuhanan, kemanusiaan, dan sikap gotong royong yang terpancar jelas dalam tindakan rakyat di masa kerajaan, hingga dipertengahan jalan pada akhirnya mampu menyadarkan rakyat untuk mengenal identitas bangsa mereka yang sebenarnya. Apakah mereka berasal dari negeri Sumatera, negeri Jawa, Negeri Sulawesi, dan Negeri – negeri lainnya? Secara berangsur – angsur pertanyaan ini pun menghilang setelah mereka mengerti bahwa negara – negara lain ingin merebut dan memecah belah bangsa mereka, yaitu bangsa Indonesia. Penjajahan yang berlangsung selama beratus – ratus tahun lamanya bukanlah salah para generasi terdahulu, karena mereka telah berhasil memperbaikinya di tanggal 17 Agustus 1945, saat proklamasi Kemerdekaan pertama kali diikrarkan.

Kesalahan terbesar terletak pada generasi hari ini. Mental terjajah yang senantiasa melekat dalam opini publik bukannya segera ditangani, tetapi malah dijadikan akar untuk memperkaya kepentingan pribadi. ‘Kemerdekaan’ adalah sebuah perjuangan, dan perjuangan tersebut harus diteruskan melalui sebuah ‘Revolusi’. Revolusi bukan hanya terjadi di medan perang, tapi perjuangan ‘Kemerdekaan Indonesia’ itu sendiri untuk menjawab tantangan di era globalisasi adalah sebuah bentuk ‘Revolusi’.

Revolusi masih berjalan bung! Dan Kemerdekaan adalah Harga Diri yang Tak boleh Mati! Jangan hanya bernyanyi sumbang diatas keterpurukan yang tengah terjadi pada bangsa Indonesia, tapi berbuatlah sesuatu yang berguna untuk Indonesia! Ingat, semakin kita tak mampu berbuat lebih dalam menjawab tantangan global, semakin harga diri bangsa mati!

0 komentar:

Poskan Komentar