Bumi dan Manusia

♠ Posted by Aryni Ayu in at 04.17

 Bergerilya dengan fantasi – fantasi di masa lalu, beranalisis dengan logika, dan aku tahu akhirnya, manusia – manusia itu bukan sahabatku lagi. Mereka sudah lupa pada buminya.

            Alangkah baiknya jika bumi ini penuh dengan penjabaran – penjabaran logika yang dapat dimengerti. Bumi yang dihuni oleh Tuhan yang Maha Esa dan manusia yang terkadang tak meng-esa-kan Tuhan – Nya. Alangkah baiknya pula bila bumi ini tak penuh dengan kesundalan manusia. Kadang berhenti pada titik A dan titik B sebagai perantauan akal yang tak sehat. Begitulah manusia, terkadang apa yang dia rasakan harus dirasakan pula oleh manusia lainnya, tentu bukan rasa yang bagus. Entahlah apa yang harus dijelaskan, penuh dengan logika, mengalahkan magis. Lingkungan di sekitarku, dihiasi manusia – manusia masa lalu yang telah berubah wujud. Dulu, manusia – manusia itu memang sahabat. Laki – laki dan perempuan itu yang dulu menyapaku, menghiburku dengan tulus, tak mengenal suatu pamrih, dan tak mengerti arti material. Kini, berubah. Dulu, dulu, dan dulu yang indah, hari ini telah menghilang. Manusia – manusia yang dulu tahu arti akhirat, detik ini hanya bumi dan seisi – isinya yang mereka kenal.
            Benar – benar manusia kontaminasi. Sel – sel darah merah, otot, otak, raga serta jiwanya telah bercampur baur dengan busuknya bumi. Mereka itu sudah lupa akan buminya. Jika menurut Justin Bieber back down to earth, maka menurutku lupa kulit akan kacangnya. Tahu aku, sepertinya terbalik. Namun dibalik – balik semiring apapun tetaplah manusia – manusia itu busuk, sudah lupa akan hati nuraninya. Aku ditarik dengan kain emas, dibungkus dengan kain – kain yang indah, permata – permata menyilaukan mata,  dan kebaikan hati yang palsu. Apa yang menjadi tujuan manusia – manusia itu, tentu untuk suatu mata uang. Beruntung, akal – akalan busuk melebihi sampah itu tercium olehku. Dan aku terhindar dari lubang hitam.
            Manusia – manusia itu, di masa lalu begitu mulia. Perannya tak pernah terlupakan, sebagai pelipur lara, pelawak, hingga pembelaan sebagai seorang sahabat. Tapi waktu berkata lain, bumi beserta isinya ternyata mampu membuat manusia – manusia itu berpaling pada Tuhan- Nya. Lupa mereka kalau – kalau Tuhan tidak pernah mati. Bumi dan manusia, membuat otak senantiasa berpikir. Bergerilya dengan fantasi – fantasi di masa lalu, beranalisis dengan logika, dan aku tahu akhirnya, manusia – manusia itu bukan sahabatku lagi. Mereka sudah lupa pada buminya.

0 komentar:

Poskan Komentar