Reportase : Workshop Nasional Rekonstruksi Kurikulum Berbasis Karakter dalam Rangka Menyongsong Pemberlakuan Kurikulum 2013

♠ Posted by Aryni Ayu in at 04.14


WELCOME TO MY PLACE

Benang merahnya, bangsa Indonesia selalu percaya bahwa pendidikan di kampung halamannya suatu saat, akan mengalami kemajuan jauh melampaui negara – negara lain


Pendidikan, tak ubahnya akar yang menopang sebuah pohon. Di sejumlah negara yang telah modern, arsitektur pendidikan ditingkat masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) kini, kemajuannya tak dapat diprediksikan. Dukungan arus globalisasi kian mendera, mencetak perubahan sebagai arah pasti dari sebuah prediksi. Tentu di negara – negara maju sistem ini kian berlaku, mereka berlomba – lomba memajukan bangsa, harkat dan prestisnya melalui pendidikan. Tak salah jika seorang Pramoedya Ananta Toer berpesan dalam cetakan tulisan – tulisan agungnya bahwa bangsa, yang tak pernah mau memandang pendidikan sebagai empunya, bangsa tersebut akan menjadi pelayan bagi bangsa lain (Pramoedya Ananta Toer, “Semua Anak Bangsa”, 2009). Apalagi di suatu tempat bernama dunia ketiga, pendidikan haruslah benar – benar menjadi akar, bukan sekedar benalu yang menopangkan hidupnya pada negara adidaya. Belahan dunia ketiga itu kini, dituntut untuk mampu memajukan edukasi, begitupun Indonesia.
Indonesia, negeri yang sangat dicintai rakyatnya. Adalah negeri yang tak bisa dedifinisikan. Namun mampu dirasakan sebagai tanah air yang selalu dan selalu berusaha berkembang untuk sejajar dengan negara – negara lain, di berbagai aspek. Pendidikan, menjadi bargaining position vital bagi Indonesia. Berlatar belakang dari ‘maraknya’ pergantian kurikulum, bahkan terdapat istilah trend di masyarakat “ganti menteri ganti kurikulum”. Tentu saja predikat ini cukup membuat kemajuan pendidikan di tanah air ini terbelenggu, sedikit tersesat arah dan tujuannya. Bayangkan saja ketika kita mau melihat kaca besar sejarah pendidikan, terjadi sembilan kali pergantian kurikulum. Dampaknya cukup jelas terlihat, keadaan pendidikan bangsa semakin tertaih – tatih, hanya berprinsip pada ‘gali lubang tutup lubang’ (Kompas, 18 Oktober 2012). Alasannya, karena negara ini memang membutuhkan penyempurnaan sistem pendidikan di setiap langkahnya, meski kesempurnaan itu seringkali menghasilkan keberhasilan yang ambigu. Sehingga patut diapresiasikan setiap kepedulian praktisi pendidikan untuk mensosialisasikan pemberlakuan kurikulum terbaru, kurikulum 2013.
Tertanggal 20 Desember 2012, sebuah workshop nasional tentang “Rekonstruksi Kurikulum berbasis Karakter dalam Rangka Menyongsong Pemberlakuan Kurikulum 2013″  yang diprakarsai oleh Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Jember berjalan sangat hebat dan patut diapresiasi. Pasalnya, workshop yang diikuti oleh lebih dari 1500 orang dengan pendaftar mencapai 3000  ini menghadirkan pembicara dari tim ahli pembuat kurikulum dari pusat diantaranya ; Prof. Dr. Dadang Supardan, M.Pd, dan Prof. Dr. Hariyono, M.Pd, praktisi pendidikan  ; Drs  Imam Edi Priyanto, Drs. Moch. Rifa’i, M. Pd, serta Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah, Dr. Nurul Umamah, M.Pd. Tak hanya pembicara, materi yang disajikan pun sangat relevan dan penting bagi perkembangan pendidikan Indonesia. Peserta mayoritas terdiri dari mahasiswa FKIP Universitas Jember, dan para guru dari berbagai sekolah – sekolah se – keresidenan Besuki.
CIMG0834

CIMG0836
Dibuka dengan acara hiburan melalui nyanyian tradisional hingga modern, tak lupa tarian Labako sebagai tarian daerah Jember, dan karawitan khas budaya Jawa. Rupanya menjadi simbol bahwa penghargaan terhadap budaya Indonesia sangat dijunjung tinggi dalam pelaksanaan workshop tersebut. Diskusi panel pertama, oleh Drs. Imam Edhi Priyanto, M.Pd mengenai Rasionalisasi Pemberlakuan Kurikulum 2013. Diskusi panel kedua, diisi oleh Prof. Dr. Dadang Supardan dengan judul ‘Menyongsong Kurikulum IPS 2013″, berisikan pengantar tentang kurikulum 2013, mencakup pengurangan mata pelajaran, dan penambahan jam pelajaran, pengembangan kompetensi dasar berbasis karakter, serta penjelasan di dua diskusi panel kemudian di dua sesi terakhir yang tetap relevan menyongsong pemberlakuan kurikulum 2013.
Benang merahnya, bangsa Indonesia selalu percaya bahwa pendidikan di kampung halamannya suatu saat, akan mengalami kemajuan jauh melampaui negara – negara lain. Selalu ada optimisme dari pemerintah, rakyat, dan praktisi pendidikan untuk memperbaiki ‘kesemrawutan’ pendidikan yang tengah terjadi. Terbukti akhir – akhir ini, terdengar kabar bahwa kurikulum, sebagai rencana hidup pendidikan bangsa, mulai mengalami penyempurnaan. Terbitlah keputusan untuk memberlakukan Kurikulum 2013 sebagai solusi yang diharapkan mampu menjawab berbagai problematika dunia pendidikan.

0 komentar:

Poskan Komentar