Biarkan Aku Menjadi Mimpiku!

♠ Posted by Aryni Ayu in at 09.18


Jika banyak duri bermunculan, bolehkah aku tetap tumbuh menjadi bunga?
Biar mulut – mulut sombong itu menjadi bisu. Agar dunia tahu. Inilah duniaku...

            Sepintas, teringat diri ini saat pertama kali memasuki tahun pertama sebuah universitas. Ideologi yang terburat oleh masa remaja. Kekakuan prestasi yang masih belum menemui titik cairnya. Kenakalan – kenakalan, dan kebodohan – kebodohanku di masa remaja benar – benar ingin aku tebus. Bukan tebusan biasa, jika bisa luar biasa hingga orang lain tak mampu memandangnya dengan sinis. Aku juga ingat betapa selongsong proses belajar di masa itu aku sia – siakan, dengan sebuah apatisisme. Andai mesin waktu telah tercipta, mungkin tak sedetik pun waktu itu akan kuisi dengan kebodohan. Hingga orang lain punya ‘waktunya sendiri’ untuk menghina, meremehkan, bahkan menghakimi otak yang kumiliki. Sungguh, sejak tahun pertama kuliah, semuanya telah aku rancang, sebaik mungkin.
            Di kamar berukuran sempit, berisi televisi, sekotak accesoris, sederet buku, dan segelumit kisah remaja dari bangku smp sma, terpampang mading bertuliskan “Dosen Muda, IPK 3.6, Lulus 3,5 Tahun”. Seperti yang kubilang, itulah rancanganku, mimpiku. Setiap detik menuju menit, menit berganti jam, sehari – hari aku selalu memandanginya, berusaha untuknya. Dengan penuh harap, semoga rancangan itu menemui hasil yang menggembirakan. Hanya dengan bekerja kerass aku bisa mewujudkannya. Tak mudah memang ketika harus belajar disaat orang lain terpejam. Berusaha sekeras mungkin saat orang lain mencoba cara – cara instan. Atau terwujud, disaat mimpi itu berusaha direnggut banyak orang. Jika banyak duri bermunculan, bolehkah aku tetap tumbuh menjadi bunga?
            Tahun ketiga berlalu. Beberapa mimpi mulai terwujud. Indeks prestasi yang sangat memuaskan bagiku, tanpa harus diremehkan manusia lainnya. Sedikit demi sedikit, aku menemukan jalan hidupku. Kemana cita – cita akan mengalir. Kemana pula mimpi harus menjadi nyata. Tahun keempat dimulai. Aku rasa, masa inilah yang paling berat. Suatu masa dimana ruang dan waktu berada dalam kesukaran. Hasil jerih payah yang juga belum tentu mendapat penghargaan. Apalagi, disaat orang tuamu tidak lagi mendukung mimpi – mimpi besarmu. Menangis pun tak tahu pula kemana harus bersandar. Sungguh, inilah masa – masa terberatku. Aku yang sangat menginginkan pendidikan pasca sarjana, rupanya berbeda ingin dengan orang tuaku. Mereka lebih mengarahkanku untuk segara menjadi guru ‘sukwan’ lebih dulu, ikut tes pns, lalu menikah. Pertanyaanku, kapan aku bisa mewujudkan mimpi – mimpiku? Itu desain impian kalian, dan maaf, aku tidak menginginkannya, saat ini.
            Ketika gerbang mimpi mulai terbuka, bolehkah jika aku segera masuk? Dan bolehkah untuk segera membuatnya menjadi nyata? Aku belajar dan berusaha selama ini tak lain, untuk menjadi cita – cita yang lebih besar. Bukan hanya sekedar guru, dosen, jika perlu menjadi seseorang yang lebih besar lagi. Biar mulut – mulut sombong itu menjadi bisu. Agar dunia tahu. Inilah duniaku...


Kamarku, 27 April 2013-04-27, pukul 21.00

2 komentar:

semangat mbak, mari bersama mewujudkan mimpi dari kita masing2.. :)

be the best you are.!

klo luang silahkan mampir ke savestreetchildjember.wordpress.com
fb: save street child Jember
twitter: @sschild_jember
:D

Poskan Komentar