Kegaduhan Para Hedonis

♠ Posted by Aryni Ayu in at 18.10
Berbohong, bersilat lidah, mencaci maki para oposisinya, dan berdalih “Hanya kami yang memiliki otak disini, dan kaki hanya berhak menjalankan perintah” Inilah bentuk kegaduhan kaum hedonis, bagaimana jika kerajaan ini dimusnahkan saja?

Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana jadinya negeri ini saat para hedonis berkeliaran bak tikus – tikus got kelaparan, mencari makan kesana kemari. Begitu buta hingga dirinya tak tahu apakah makanan itu legal atau sekedar ‘masturbasi’, menyenangkan diri sendiri. Mereka beranak pinak menghasilkan satu klan hedonis. Segerombol keluarga miskin berwajah kaya dan gila hormat. Menghalalkan segala jalan dengan kegaduhannya.

Bahkan tikus pun mulai gaduh! Saat rakyat melihat pemberitaan di televisi, akan terlihat kaca benggala besar perpolitikan Indonesia. Pejabat berbicara dari media satu ke media lainnya. Berdebat, tertawa terbahak – bahak, bersikukuh ‘benar’ saat tersangkut kasus korupsi kolusi dan nepotisme, bahkan berlagak hebat ketika dirinya bersalah. Jika itu terbukti benar, maka surat rekayasa sakit pun dilayangkan kepada pihak peradilan “Pak Bu, saya ijin ke Singapura dulu untuk mencari surat sakit, kalau kasus sudah reda saya akan kembali ke Indonesia”. Otak macam apa sebenarnya yang dimiliki oleh orang – orang ini? Mencela, saling tuding, berbohong, serta membuat program kerja ala ‘kadarnya’ untuk rakyat dengan keuntungan semaksimal mungkin. Mengotak – atik gadget saat rapat besar milik rakyat sedang diselenggarakan di rumah kolot bernama “Dewan Perwakilan Rakyat”. Kelas atas senang, kaum akar rumput sengsara. Ini adalah bukti kegaduhan! Mungkin pantas bila negeri ini berganti nama menjadi negeri Hedonis!

Bila Bung Karno hidup di zaman yang kian menglobal seperti sekarang, mungkin dia akan mengetikan sebuah sms kepada Bung Hatta “Bung, bagaimana rakyat Indonesia hari ini? Pancasila yang saya gali dengan basis kegotongroyongan kini kian luntur, sungguh saya ingin mengusir para kaum hedonis itu seperti saya melawan para petinggi Belanda.” Maka Bung Hatta pun membalas “Benar bung, penyakit ini nyatanya mulai menular di kalangan muda. Perpolitikan yang mereka bangun memiliki syarat tetap ‘hedonis’, dan merugikan banyak pihak. Entah racun jenis apa yang hinggap di kepala mereka!”

Andai kedua rekan ini juga tahu bahwa gagasan – gagasan yang mereka persembahkan untuk Indonesia mulai detik ini harus disatu padukan dengan kesenangan pribadi, alias Hedonisme. Pastilah akan sangat kecewa, menyesali kegotongroyongan yang dulu sempat diangkatnya sebagai indentitas dan etnisitas bangsa Indonesia, kini terlihat samar – samar. Mari kita tengok sekilas perpolitikkan Indonesia di kalangan mahasiswa! Sudah hedonisme kah?

Sebut saja klan (keluarga) Hedonis “X” di fakultas “Y” salah satu universitas ternama di kotanya. Keluarga besar ini terlihat berjaya, angkuh, dan berwibawa di salah satu organisasi mahasiswa. Memerintahkan A, B, C, dan D kepada segenap mahasiswa lain yang dianggapnya perlu untuk diperintah. JIka dianalogikan, antara bangsawan dan bawahan terdapat sekat tebal yang membatasi hak dan kewajiban. Kaum akar rumput harus dan siap untuk disetir misi hedonisme pemimpinnya. Tak ada yang boleh beropini sedikit pun tentang tindakan mereka, bahkan kotak kesengsaraan kebebasan mulai dibangun oleh orang – orang tak tahu malu ini. Bila berani menentang, maka tak segan – segan para kaum hedonis ini bertindak memalukan. Berbohong, bersilat lidah, mencaci maki para oposisinya, dan berdalih “Hanya kami yang memiliki otak disini, dan kaki hanya berhak menjalankan perintah” Inilah bentuk kegaduhan kaum hedonis, bagaimana jika kerajaan ini dimusnahkan saja?

Bahkan saat organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang Jurnalistik mulai berani menunjukkan prestise bahwa mereka cukup ‘independen’ dan ‘layak’ untuk mendapatkan hak – haknya, keluarga hedonis pun terlihat khawatir. Pasalnya, sejak tahun 2005 hingga hari ini, sebut saja Pers Mahasiswa “PP”. Kebebasan pers yang dimiliki oleh organisasi tersebut berada dibawah kepentingan kaum hedonis. Dengan dalih X, Y, dan Z, orang – orang tak berotak ini merekayasa segala kegiatan yang ada di didalamnya. Pers tak lagi terlihat independen, melainkan lebih terlihat sebagai pajangan dalam etalase Pers Mahasiswa.

Secara lebih spesifik, pernah di suatu waktu pers mahasiswa “PP” ingin mereforma keanggotaannya, mencoba bangkit dari keterpurukan, tak ayal monster besar pun menghadang. Lagi – lagi keluarga hedonis yang benar – benar tidak memiliki otak tersebut kembali dan mencoba mengacaukan segalanya. Degradasi etika kesopanan bahkan menjadi penyakit serius dalam tubuh kaum hedonis.


Lihat saja saat dua orang mahasiswa pers “PP” menjadi juri artikel dalam kegiatan P2MABA, salah satu kaum hedonis berkata “Apakah kalian bisa menilai?” Apakah pantas kalimat seperti ini diucapkan kepada seorang “juri”? melihat definisi dari ‘juri’ itu sendiri adalah orang – orang yang dipercaya mampu dan memiliki kualitas lebih dalam menilai suatu bidang kajian. Melihat fakta seperti ini, kaum hedonis bukannya tak pintar, melainkan hanya tak punya otak saja. Sungguh kasihan sebenarnya mereka, jika nantinya harus terus – menerus malu dalam wajah kaya tapi miskin.

Ada Rapat Besar Tahunan yang akan diselenggarakan pada tanggal 19 – 20 November 2011 oleh anggota “PP” terkait reformasi. Dan bisa ditebak, kaum hedonis ini tiba – tiba datang dan ingin menghacurkan semuanya. Dari ketetapan tanggal yang sudah di acc oleh pihak fakultas, sampai ke titik acara yang kemungkinan besar mereka akan terlibat didalamnya. Sudah ada rencana besar yang mereka desain untuk kembali memegang setir kepemimpinan. Benar – benar Kegaduhan Para Hedonis!

Tak ada noktah dalam kamus kaum hedonis. Ketika para anggota “PP” mencoba mempromosikan dan mengembalikan nama besar organisasi jurnalistiknya, niat itu pun digadang oleh segenap keluarga hedonis.

Mereka terus menerus ada diantara kami. Kami terus diawasi seolah – olah ada kotak yang tak memperbolehkan ke – independen-an sebuah PERS!!

2 komentar:

isi artikel anda sangat menarik,dan patut di acungi jempol..tapi ada satu yg menggelitik buat saya,ketika anda mengambil contoh dan menyamarkan suatu keorganisasian di sebuah universitas atau fakultas dmn anda menyebutkan x,y,z dan bla,bla,bla.tapi di akhir artikel anda menambahkan foto dan mnybut"Berikut beberapa dokumentasi saat anggota “PP” dikelilingi kaum hedonis"lalu "Di bagian depan, ada dua dari Keluarga Hedonis turut berfoto bersama kami"saran kalo pengen dsamarkan mending foto dsamarkan jga...msalahnya yg berfose ddpan cman 3 orang..kalo diatas 10 gpp..salam piss__maju trus avriL

iya makasih banget udah ngasih kritik dan sarannya.. Kalo mslh itu aku lupa kalo posisiq sedang menyamarkan muka2 mereka,terbawa emosi sih. Tapi oke,q bakal benerin yg msh kurang...

Poskan Komentar