Karnaval Mini Desa Rowosari Located : Kec. Ajung, Kab. Jember

♠ Posted by Aryni Ayu in at 06.52
Aku lihat pakaian mereka yang benar – benar elektrik, dan lebih dari layak untuk sebuah marching band. Pun dentuman alat – alat musik indah selaras dengan sang pemimpin marcing band Aryni Ayu
Tak terasa sore ini begitu cerah. Langit tak menampakkan jeritan gelapnya, pun matahari enggan meninggalkan sang oranye. Jalanan setengah sesak oleh kendaran berbadan besi. Orang – orang berlalu lalang. Satu mencuci kendaraannya pinggir jalan sembari meringis ketika tubuh ini lewat, satu lagi tampak mengusir – usir burung penganggu di sawah. Aku pun terus berjalan melewati jalanan panjang sekitar berkilo – kilo meter. Tapi jauhnya tak terasa selama bersama seorang rekan, rekan kesukaanku. Muka ini terus berpapas – papas dengan orang di desa itu, senyum mereka, kernyitan dahi, dan tawa bebas mereka, seakan- akan tak pernah terpikir untuk mengejar seonggok Rupiah, berbeda dengan wakil – wakil mereka di kursi jabatan, memang terlahir untuk Rupiah! Semakin lama berjalan, semakin ramai pula jalanan ini. Kadang kendaraan berbadan gajah pun lewat, meraungkan suara belnya yang keras ke depan telingaku, sial! Pikirnya aku ini sudah renta apa, huh! Kesal memang, tapi biarlah. Andai aku spiderman, kulemparkan tubuhmu sampai ke Bunderan HI, tempat kubangan kendaraan mabuk! Kuteruskan saja jalanku, menuju sebuah desa. Desa memang sebutannya, tapi sudah beraspal. Maklum, desa ini adalah kunjunganku kepada teman – teman yang sedang mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat, lagi – lagi bersama rekanku. Rekan yang aku suka! Lima sekitar menit, sampailah di sebuah kantor desa. Tertulis besar – besar di sebuah besi bernama baliho, “Desa Rowosari kecamatan Ajung Kabupaten Jember”, ya inilah sebutan desa itu. Sungguh ‘ndeso’ yang cukup maju menurut kacamataku, cukup banyak pemuda pemudi bersekolah, dan cukup segerombolan manusia intelektual yang mengabdikan diri disana. Tak lupa memperkenalkan diriku dengan kaum intelektual yang mengabdikan diri. Ya kaum intelektual, alias mahasiswa. Mereka seumur dua umur lebih tua dariku, tapi aku tetap ingin belajar dari mereka, belajar pengalaman. Sembari mencakapkan banyak hal, aku pun tak bisa tenang jika tidak mendekatkan diri pada sekelompok bocah – bocah riang di tempat itu. Wajah mereka semakin ceria saat kuajak berfoto – foto ria, benar – benar manis!
Keasyikan ini tiba – tiba tergerai saat datang segerombolan suara, memecah gemuruh sorak sorai kami. Aku pun menoleh layaknya artis yang terkaget – kaget ketika dirinya berada di red carpet hollywood. Dasar memang diriku yang suka keartisan. Diri ini masih terkaget, takut – takut ada paparazi lewat! Tapi khayalan yang bodoh ini langsung buyar. Kekagetan pun belum berhenti, takjub pun iya. Munculah segerombolan marching band ala Dewa Rowosari. Tak begitu banyak memang, tapi sederhana, indah, dan mini aku menyebutnya.
Orang – orang segera berduyun – duyun datang melihat. Ibu – ibu lupa akan kompornya, bapak – bapak lupa akan cangkulnya, apalagi anak – anak yang lupa akan tangisnya. Aku dan rekanku, Yusuf namanya. Yang sibuk bercakap – cakap, pun dengan rayuan mautnya, juga hampir lupa dengan bakso yang kami makan, untungnya lapar sedang mendera! Sembari makan, aku pun memotret.
Bakso yang dilahap belum menemui habisnya, rekanku, Yusuf berusaha mewawancarai penduduk sekitar. Karnaval ini nyatanya diselenggarakan bukan untuk acara pesta apapun, melainkan untuk menyambut sebuah kegiatan pengajian menyambut Sya’ban, notabene memang menjadi tradisi turun – temurun, dari tahun bahula. Biasanya, karnaval sejenis ini hanya terdapat di pusat kota Jember, atau sekiranya daerah yang masih disebut kota. Beda ini tapi. Karnaval mini ini ternyata diikuti oleh sekolah – sekolah di desa setempat. Dari anak – anak yang masih berjubel dengan ‘emaknya’ sampai remaja yang sedang berindah – indahan dengan cinta, semua terlibat didalamnya. Entah siapa yang punya ide brilian ini. Aku lihat pakaian mereka yang benar – benar elektrik, dan lebih dari layak untuk sebuah marching band. Pun dentuman alat – alat musik indah selaras dengan sang pemimpin marcing band. Pantas untuk memperoleh penghargaan besar. Seluruh desa itu wajib melihatnya. Apalagi dunia, harus melihat ini, tradisi Rowosari ini. Tradisi yang memang tak boleh surut oleh banyaknya sajian kapitalistik di dunia yang kian mengglobal. Banyak konflik memang, tapi tradisi tak boleh ikut berkonflik. Indonesia memang plural. Dari desa hingga kota hingga metropolitan, punya budaya, punya tradisinya sendiri. Memang Indonesiaku multikulturalistik, berbeda dan beragam adatnya, tapi indah!
Penulis
Pewawancara

0 komentar:

Poskan Komentar