Genosida 1965-1966, Tak Ubahnya Penjajah Belanda!

♠ Posted by Aryni Ayu in at 23.33

Bangsa ini sudah cukup menderita karena ulah para penjajah. Jika sekarang penjajah berganti kulit berwarna cokelat, maka dialah penjajah yang lebih mengerikan dibanding penjajah kulit putih


            Tahun 1965-1966, menjadi masa paling kelam bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Tanah Nusantara yang dulu dinamai Gajah Mada sebagai tanah paling subur dan makmur dibawah payung Majapahit, mulai dilanda kebarbaran, tak ubahnya sikap kejam penjajah Belanda. Apa yang sedang terjadi? Sampai-sampai dunia internasional, mancanagara sebutan raja-raja Hindu1, turut meliput duka mendalam kejadian 1965-1966. Hingga detik ini, melewati dekade yang tengah mengglobal, masyarakat masih saja tidak tahu sepenuhnya benar-salah dari kejadian ini. Banyak laporan palsu telah diciptakan untuk menutupi kebenaran. Tidak ada yang tahu tepatnya berapa jumlah korban bangsa Indonesia yang telah dibunuh, dicincang, dibuang, dihilangkan, dilecehkan di dua tahun tersebut, dan terjadi merata di seluruh wilayah NKRI. Benarkah ini warisan dari penjajah Belanda yang jauh lebih kejam atau barbarisme adalah ideologi bangsa paling baru?
            Kala itu, jenderal Belanda J.P Coen, tengah duduk di singgasananya sebagai the first governor of VOC, gubernur pertama VOC. Tepatnya tahun 1619, Coen berencana memperluas wilayah kekuasaan VOC di Batavia2. Sangat tidak mungkin untuk Coen memperlakukan rakyat dengan cara halus, hanya buang-buang waktu saja. Di hari berikutnya segera pasukan Belanda mengusir penduduk dari tempat persinggahannya. Caranya bermacam-macam ada yang diseret paksa keluar rumah, ada yang langsung dibunuh karena melawan, tidak sedikit pula yang disiksa berhari-hari akibat tidak patuh pada perintah sang gubernur. Tapi, itu hanya sedikit pesakitan yang dibuat Belanda diawal dirinya mengaklamasikan diri sebagai penjajah abadi rakyat Indonesia.
            Seabad kemudian, keadaan Indonesia tidak sepenuhnya membaik. Tahun 1719, nusantara baru saja didera kerja paksa yang mengharuskan pribumi terlunta-lunta dan kurus kering tanpa gizi untuk memenuhi titah sang Penjajah. Sampai biji kopi pun harus digigit secara manual oleh para tetua kita tanpa upah untuk dijadikan barang impor ke negeri Belanda. Pembangunan Anyer-Panarukan karya bangsa Indonesia yang diperintah Herman William Dandels sepanjang 1000 km, tanpa menggunakan alat, tanpa memakai alas kaki, dan tanpa makan. Tidak memungkiri sebanyak 3000 jiwa orang Indonesia berdasarkan arsip kolonial, atau sebanyak 5000 jiwa berdasarkan laporan di lapangan3, harus terbunuh karena pembuatan jalan tersebut.
            Di tahun 1965-1966, tepatnya 2,45 abad setelah mengalami kerja paksa yang serba mengerikan, rakyat harus kembali dihantui oleh peristiwa mengerikan bahkan sulit sekali tidur nyenyak untuk dapat membayangkan pembunuhan yang terjadi setiap hari. Kala itu, bangsa ini sudah mereka dari para penjajah kulit putih. Tidak ada lagi ‘bule bersenjata’ yang [2]berkeliaran di samping rumah-rumah penduduk. Tidak muncul lagi pembunuhan oleh Kapten Westerling yang menghabiskan 400 nyawa penduduk di Sulawesi yang konon dibedil serampangan hanya dalam waktu satu hari. Tetapi rupanya, mimpi buruk bangsa Indonesia kembali datang setelah pecah pembunuhan 7 jenderal penting di Lubang Buaya (Jakarta) yang diisukan ulah PKI. Sehari kemudian, perintah dari pemerintah bekerjasama dengan RPKAD (TNI) diharuskan membunuh semua orang yang terdaftar sebagai PKI ataupun underbouw (bawahan)-nya sekalipun.  
            Malam hari tepatnya bulan November 1965, tidak sedikit warga yang dianggap kekar, punya nyali, anti-PKI, dan mau membunuh, direkrut sebagai algojo. Menurut Anwar Congo, dan Supardi, dua dari ratusan algojo yang pernah membunuh ratusan anggota PKI, para anggota PKI dibunuh berdasarkan perintah dari para letnan “saya tidak tahu siapa yang memerintah, yang jelas sudah ada daftar berisi 200 orang PKI untuk dibunuh setiap harinya, kata Supardi dan Anwar yang kini sudah berusia 71 tahun4. Biasanya, orang-orang yang dianggap PKI ada yang dibunuh langsung dengan cara dipenggal kepalanya dan langsung dikubur dijadikan satu dalam sumur. Ada pula yang masih diinterogasi untuk ditanyai informasi mengenai pusat pergerakan PKI, antek-antek PKI yang lain. Cara untuk menginterogasi pun bermacam-macam, ada yang disetrum memakai listrik, diinjak kakinya dengan kursi penginterogasi, untuk wanita dilecehkan secara seksual, sampai ada yang disekap didalam wc selama tiga tahun5. Kerja paksa membangun jalan, terkadang juga harus dijalani para pemuda-pemudi yang dicap sebagai PKI, sedikit mirip dengan cara yang dilakukan Daendels.
Berbagai bentuk penyiksaan hingga pembunuhan tersebut dilakukan kerena tak lain PKI pun pernah melakukan pembantaian pada kelompok-kelompok pemuda dan pemuka agama di daerah-daerah. Hampir mirip seeprti yang dilakukan Belanda sepanjang tahun 1920an, dimana mereka menyiksa para pekerja paksa yang dianggap lalai melaksanakan tugasnya, jika wanita biasanya akan dijadikan budak seks oleh para kumpeni terutama yang terjadi di perkebunan-perkebunan di Sumatera Timur.
Bangsa ini sudah cukup menderita karena ulah para penjajah. Jika sekarang penjajah berganti kulit berwarna cokelat, maka dialah penjajah yang lebih mengerikan dibanding penjajah kulit putih. Apakah ini yang dimaksud dengan mewarisi sejarah bangsa? Bukankah hal-hal kelam di masa lalu haruslah dikubur hidup-hidup, bukan dihidupkan kembali untuk menyiksa sesama bangsa. Ini bukan salah siapa yang harus disalahkan, tetapi ini adalah persoalan ideologi yang tak pernah surut hingga saat ini. Betapa sulit terkadang bangsa ini untuk hanya sekedar tahu tentang pentingnya belajar bertoleransi dan mencintai Pancasila.
           
           




[1] Tafsir Kitab Nagarakretagama, Slamet Muljana : 2007
2 Vereenigde Oost Indische Compagnie, at www.leidetuniversity.com
3 dalam Buku ‘History of Java’, Thomas Stanford Raffles
4 dalam Buku “Pengakuan Algojo 1965”, Tempo : 2014
5 Ibid

0 komentar:

Poskan Komentar