Pendidikan Super Hedonis di Negeri Kleptokrasi

♠ Posted by Aryni Ayu in at 07.33
-Day 2-
12 Juli 2011


Karena Guru adalah akar dari pendidikan, dan pendidikan adalah akar dari kemajuan bangsa!


Pendidikan Super Hedonis di Negeri Kleptokrasi! Sederet kata yang bisa dijadikan slogan atau judul yang bisa dipampang dimana saja. Entah itu dinding sekolah, on the street, jalanan yang biasanya hanya terpampang sederet corat – coret iklan visual, di bangku kelas mungkin bagi siswa yang sangat gemar melukis diatas meja, maklum, terbiasa menulis contekan di bangku,haha. Atau lebih baik lagi jika sederet judul diatas bisa dipajang di museum, sebagai peninggalan elit – elit tak etis yang terbiasa melakukan pelanggaran terhadap hukum. Agar generasi kita tahu bahwa Indonesia memang kurang terbiasa dengan kejujuran, dan sangat menggemari sebuah mantera “Hedonis”. Well, Hedonis biasanya terlahir dari rahim pendidikan yang memang mungkin kurang mengedepankan moral, rendahnya apresiasi terhadap tunas bangsa yang berprestasi, dan sangat menggemari rupiah. Benar – benar layak disebut negeri Kleptokrasi, hingga mampu menomorduakan bentuk NKRI.

Sambil bergaya ala Avril yang sedang menulis lirik lagunya, Lady Gaga yang sedang duduk bersama ‘bad romance-nya’ untuk memikirkan selusin konsep – konsep gila, serta berlagak bak Einsten yang rambutnya sempat di-blonde gara – gara kebanyakan mikir. Saya mencoba memutar kepala, berpikir hingga roda – roda didalamnya bergerak menyapu debu – debu cinta, broken heart, dan frustasi, Ah! Cinta bak tai kucing rasa cokelat, mengalir di sungai jika sore hari, upz!just kid (). Begitu lama sebenarnya penulis tidak menorehkan pemikirannya untuk menulis artikel, yang ada di pikirannya kemarin hanya tentang love is shit, love is damn, and love are fuck. Really, is so waste my time! Ya, saya kemudian mencoba meneruskan kebiasaan favorit saya untuk memukul – mukul boneka (kalau tembok mah keras,hehe) dan berteriak kencang di depan foto – foto kembaran saya yang ada di Hollywood “Avril, I hate that boy like shit, semua orang sekarang emang Hedonis, 9 logika 1 perasaan!”

Teriakan ini cukup memberikan saya energi tambahan untuk kembali mengungkapkan sebuah opini. Dengan memakai speaker mesjid, penulis mengumumkan bahwa pendidikan Indonesia itu Super Hedonis, bukan Super Man!

Mengapa pendidikan tertulis Hedonis di tulisan ini? Jika Anda melihat pemberitaan di berbagai media cetak ataupun tulis, maka akan banyak sekali fakta – fakta yang lahir untuk mengungkapkannya. Beberapa minggu lalu saat skandal century mulai menguak kembali, kasus suap anggota DPR, skandal, dan berbagai isu bahkan fakta tentang kotornya wajah pemerintahan di Indonesia. Munculah sebuah pemberitaan heboh yang menginformasikan bahwa ada seorang anak SD yang bahkan diusir oleh masyarakat sekelilingnya akibat kejujuran yang dimilikinya, dengan tetap berkata ”tidak” untuk memberikan contekan kepada teman – temannya saat ujian akhir sedang berlangsung. Kejujuran elit kalah telak dengan seorang anak SD.Bila tentang kejujuran, tentu saja ada pihak – pihak yang menegakkan ataupun menghancurkan. Bagi pihak yang memang senang mengutamakan dirinya sendiri (hedonis) daripada harus bernegara, tentu saja kejujuran akan terasa hambar. Hal itu tidak saja terjadi di dunia perpolitikan, namun juga dalam ranah pendidikan. Banyak pihak – pihak berwenang yang lebih melihat hasil daripada proses, mendapatkannya dengan berbagai cara tanpa melihat konsekuensi yang harus ditanggung rakyat. Beban moral menjadi taruhannya.

Pendidikan, adalah akar dari segala pengetahuan. Jika Anda ingin berprofesi sebagai politikus, sejarawan, dokter, pebisnis, guru, ataupun seorang koruptor. Mau tak mau, suka tidak suka, harus menempuh suatu pendidikan, karena semua ada ilmunya. Wajah pendidikan di era reformasi terutama di masa kepemimpinan SBY memang mendapat perhatian serius layaknya pasien sekarat yang harus segera dioperasi dan disembuhkan. Why? Ya, sedikit memalukan sebenarnya, karena pendidikan di negeri kita sebelumnya masih jauh dari standar negara – negara maju. Jangankan memenuhi standar, lha wong guru – guru saja tidak dihargai! Padahal mereka adalah katalis penyambung lidah generasi bangsa yang ingin memajukan Indonesia. Namun itu dulu, sekarang, Indonesia mulai menata lagi wajah pendidikan meski selalu dihiasi dengan mafia pengendus rupiah dan kekuasaan.

Pendidikan di detik ini, masih tetap hedonis. Hal ini tentu mengingatkan saya pada serangkaian perjalanan historis. Dia memperlihatkan bagaimana sifat hedonis (mementingkan kepentingan pribadi) di dunia pendidikan ini, memang telah ada sejak Belanda mengeluarkan sebuah Politik Etis. Rangkaian politik yang didalamnya berisi peningkatan terhadap irigasi, edukasi, dan transmigrasi. Sengaja dibuat berdasarkan keinginan segelintir tokoh di Belanda sana yang memutuskan untuk membalas budi Indonesia yang telah memberikan banyak pemasukan bagi kas negara Belanda. Namun, tidak semua elit Belanda yang mau memahami bahwa politik tersebut seharusnya bisa memberi kemajuan terhadap tanah Hindia – Belanda. Hanya tokoh – tokoh seperti Van Deventer, Van Kol, Abendanon, dan Snouck Hurgronye yang sungguh bercita – cita etis. Sedangkan yang lainnya, no sense! Mereka tetap mementingkan kepentingan pribadi untuk bisa mendapatkan pegawai – pegawai pemerintahan murah dari politik etis tersebut.

Berdirinya sekolah – sekolah di berbagai wilayah Hindia – Belanda di pertengahan abad ke – 19, adalah relevansi dari adanya Politik Etis. Barat dimasa itu memang memiliki prioritas untuk memajukan wilayah jajahannya meskipun pada nantinya akan melahirkan kaum intelektual pencetus anti – Barat. Namun tak seperti Inggris dan Amerikas, pendidikan yang dijalankan oleh pemerintahan Belanda ternyata berjalan lebih lambat dinegeri calon Kleptokrasi ini. Banyaknya pertimbangan – pertimbangan dari Belanda tentang masalah rasial yang sangat takut jika rakyat Indonesia nantinya mampu menyaingi kemampuan kaum kulit putih, serta kepentingan akan eksploitasi yang terus berjalan melalui dunia pendidikan. Membuat Belanda mendirikan berbagai sekolah – sekolah rendah dan kelanjutan di berbagai daerah. Dan sangat ironis sekali hanya anak – anak aristokratlah yang nantinya boleh mengenyam pendidikan ala Barat. Sekilas perjalanan historis ini kiranya cukup menjelaskan berbagai jenis rasa hedonisme pihak Belanda yang menyediakan pendidikan hanya untuk membuat mereka sebagai pegawai rendahan.

Bersyukurlah karena kemudian sejarah mencatat bahwa hasil didikan Belanda ternyata mampu membawa Indonesia menuju gerbang kemerdekaan. Meskipun sungguh memalukan jika sekarang rasa hedonism ini kian hidup didalam ranah pendidikan. Lihat saja para mafia pendidikan itu yang berusaha mengeruk keuntungan dari berbagai program pemerintah yang diselenggarakan memang khusus agar para pendidik kita berpredikat professional. Karena Guru adalah akar dari pendidikan, dan pendidikan adalah akar dari kemajuan bangsa!

Hal tersebut juga mengingatkan saya pada sebuah perjalanan historis yang lain. Saat berjalan melewati sederet ruangan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di sebuah universitas. Saya kagum melihat guru – guru yang begitu bersemangat untuk diberi didikan profesional oleh para dosen disana, meski tidak sedikit pula dari mereka yang mengeluhkan banyaknya tugas yang diberikan. Diantaranya ada tugas untuk membuat rancangan pembelajaran, persiapan presentasi, dan lain sebagainya yang menurut saya, itu adalah anugerah bagi seorang pendidik professional seperti guru. Seraya terus berjalan dari koridor ke koridor, ternyata beberapa dari mahasiswa yang ada disana juga menawarkan berbagai jasa. Ada jasa pengetikan, printer, bahkan kantin dadakan juga tak menolak untuk mengambil keuntungan dari sebuah acara profesionalisme guru. Tak hanya mereka, bahkan mafia pendidikan pun tak mau ketinggalan untuk bisa menuai rupiah dari proyek tersebut.

Guru yang seharusnya dididik secara professional dan jujur, harus tergoda dengan para mafia pendidikan ini. Tak ayal jika banyak dari mereka yang melegalkan cara – cara instan untuk sekedar mendapatkan rupiah dari hasil predikat profesionalnya tanpa memperhatikan bagaimana nasib anak didiknya nanti. Dan saya bergumam pada diri saya sendiri, ternyata rasa hedonisme mereka tetap ada, pantas jika pendidikan di negeri Kleptokrasi menjadi Super Hedonis!

0 komentar:

Poskan Komentar