Skandal Watergate, Trik Konyol Presiden Paranoid

♠ Posted by Aryni Ayu in at 06.21


MENCERMATI fenomena di Tanah Air beberapa waktu lalu, lama-lama suasananya seakan menjurus pada pengulangan skandal superbesar yang meletup di Amerika Serikat (AS), negara yang mengklaim sebagai kiblat demokrasi, empat dekade lalu. Di mana perkara tersebut menyeret petinggi negara, dan berujung pada pengunduran diri kepala negara. Peristiwa pertama dan satu-satunya sejak kemerdekaan AS 4 Juli 1776. Cerita bernama skandal Watergate.

Ini adalah skandal politik terhebat di abad 20, rangkaian dari perpecahan-perpecahan, upaya tutup menutupi, dana sogokan, tipu muslihat, daftar hitam, paranoia presiden, rekaman ilegal dan kata-kata yang dihapus (mengingatkan kita pada pembukaan rekaman Anggodo Widjojo dengan beberapa oknum aparat penegak hukum kelas atas di Mahkamah Konstitusi (MK), juga rekaman pemeriksaan Antasari Azhar dan Wiliardi Wizar yang terkesan dipotong).

Akibat skandal megaheboh jelang pemilihan presiden 1972 itu pula Richard Nixon jadi presiden pertama, dan sejauh ini satu-satunya, yang mengundurkan diri dari jabatannya.
Musabab skandal ini sebenarnya berpangkal dari karakter Nixon sendiri yang licin dan paranoid, tapi ingin selalu terlihat sempurna.

Nixon lahir di sebuah kota kecil di California. Dia merasa dirinya adalah orang luar yang abadi (eternal outsider). Bahkan, waktu menjabat sebagai presiden, dia beranggapan bahwa pihak Pesisir Timur –basis lawan politiknya– dan pers kota besar yang liberal akan melakukan apa saja untuk menjebaknya. Dia merasa selalu jadi bulan-bulanan. Sangat paranoid (mengingatkan kita pada salah satu tokoh dalam negeri yang selalu merasa dizalimi).

Si Ambisius yang Sok Bersih
Nixon memulai karir politik sebagai anggota kongres (di sini DPR) muda. Dia duduk di House un-American Activities Commitee dan punya peran dalam kejatuhan Alger Hiss, seorang pejabat Departemen Luar Negeri –yang dituding sebagai mata-mata Uni Soviet. Pada perkembangannya, banyak orang percaya kalau Hiss tak salah dan dia jatuh karena tuduhan palsu.Dia berhasil merangsek ke kasta politik yang lebih tinggi setelah tampak menonjol ketika berdiri di pihak kanan Partai Republik. Dia dipilih jadi pendamping Dwight D Eisenhower –yang condong liberal– dalam pemilihan presiden tahun 1952. Dia dipandang punya peran sebagai penyeimbang.Jabatan Nixon sebagai orang nomor dua di Amerika ketika itu tak lepas dari dugaan skandal. Dia dituding menerima sogokan dari para praktisi bisnis kaya raya di California.

Nixon cukup reaktif menanggapi tudingan itu. Buru-buru dia muncul di televisi dan menyampaikan pidato. Dia menyatakan tak bersalah. Dia menyebar kabar ke seluruh jagat bahwa dia bukan tipe orang yang ke sana ke mari suka mengenakan jubah bulu yang mahal. Istrinya, Pat Nixon, pun hanya mengenakan setelan kain model kuno. Intinya, dia menolak cap doyan suap.

Pemberian satu-satunya yang pernah diterima, katanya, adalah seekor anak anjing bernama Checkers. Katanya ketika itu, sial amat kalau harus sampai mengembalikan si anak anjing. Ketika tampil di depan publik melancarkan jurus tangkal, performanya memang kinclong, terkesan bersih. Karena penampilan itu pula dia mendapat julukan dari lawan politiknya sebagai ”Tricky Dicky” atau si Dicky yang Licin. Dan penampilannya di televisi disebut pidato Checkers, merujuk pada anak anjing yang diberikan padanya.

Setelah dua masa bakti jadi wakil presiden, Nixon dicalonkan jadi pengganti Eisenhower, meskipun pihak Eisenhower tak begitu pede mendorongnya maju. Tapi dalam pemilihan tahun 1960 dia kalah tipis dari John F Kennedy. Dia menuding kekalahannya adalah akibat manipulasi kartu pemilih di distrik-distrik utama. Tahun 1962 ia coba maju dalam kompetisi yang kastanya lebih rendah, yaitu pemilihan Gubernur California, daerah asalnya. Tapi dia kalah. Dia pun memutuskan sementara mundur dari panggung politik.

Di sebuah konferensi pers pascakekalahan itu, dengan nada sinis dia bicara pada wartawan, ”Selama 16 tahun kalian banyak bersenang-senang. Sekarang kalian tak punya Nixon lagi untuk kalian tendang ke sana ke mari karena, tuan-tuan, inilah konferensi persku yang terakhir”.
Tetapi Nixon salah perhitungan. Setelah pernyataan itu dia malah mendapat tendangan yang lebih keras dari pers ketika dia dan manajer kampanyenya, Bob Haldeman, didenda karena terbukti menggunakan praktek-praktek kampanye curang selama pemilihan gubernur.

Syahwat politik Nixon untuk berburu kuasa rupanya tak pernah pupus. Kesempatan tampil kembali ke panggung politik level atas datang setelah anggota Partai Republik, Barry Goldwater, diobok-obok oleh Presiden Lyndon B Johnson –yang menggantikan Kennedy yang ditembak mati. Nixon mulai memoles dirinya sebagai sosok terkemuka dalam Partai Republik menggeser Goldwater. Tahun 1968, sekali lagi, dia memenangkan pencalonan partainya. Kali ini dewi fortuna memihaknya. Kebetulan ketika itu pesona Johnson sedang tenggelam karena terlibat dalam Perang Vietnam. Johnson menolak mencalonkan diri lagi karena merasa gagal.

Pembunuhan terhadap Robert Kennedy, Jaksa Agung dan kandidat kuat presiden AS, adalah bentuk angin segar lain untuk Nixon. Minimal berkurang lagi satu calon pemimpin hebat saingannya dari partai rival. Juga dia berusaha mengambil keuntungan dengan mencoba menjadi penengah dalam konflik rasial, buntut dari pembunuhan Martin Luther King, Jr, pejuang hak asasi kaum kulit hitam AS.

Dan kebetulan juga, kampanye Partai Demokrat, partai saingannya, di Chicago memburuk. Di saat bersamaan terjadi juga pertempuran antara polisi yang brutal, Wali Kota Daley dan para pemrotes damai serta aktivis hak-hak sipil.

Di tengah situasi itu, Nixon muncul dan menyatakan berbicara untuk ”mayoritas yang diam” dan berjanji mengembalikan hukum dan tata tertib. Dia juga ”mencuri” apa yang tersisa dari Partai Demokrat. Calon partai Demokrat, Hubert Humphrey, yang pernah jadi wakil presiden di era Johnson, ikut-ikutan tercemar oleh perang Vietnam. Saat itulah Nixon mengobral janji mengakhiri perang, dan membawa damai bersama kehormatan (pride and glory). Dia menang mutlak.

Paranoid
Nixon bukan seorang bernaluri damai. Pada janjinya dia abai. Bukannya mengerem agresi ke Vietnam, dia malah meningkatkan perang dan meluaskannya hampir ke seluruh dataran Indochina, yang meliputi Laos dan Kamboja. Agresi itu diputuskannya sendiri menggunakan hak preogratif.
Jelas ini tak sah. Karena peraturan di Amerika menyebut, perang hanya bisa diputuskan Kongres. Tetapi Nixon punya hitung-hitungan; kalau perang itu tidak mendatangkan kemenangan, seperti yang dijanjikan Pentagon kepadanya, Vietnam dia giring ke meja negosiasi.

Untuk menerapkan kebijakan yang begitu ”clandestine”, atau sarat kegiatan-kegiatan terselubung, memang butuh kerahasiaan ketat. Hanya sedikit orang di Washington yang dia percayai. Nixon ”membentengi” dirinya dengan orang-orang luar, orang-orang yang tidak memegang kedudukan publik dan tak punya gagasan politik, tapi berambisi memperoleh kekuasaan semata-mata. Singkatnya, dia pelihara para penjilat yang dia rasa tak membahayakannya.

Haldeman, seorang mantan humas, dia tunjuk jadi staf Gedung Putih, yang mengendalikan jalan masuk ke Presiden. Mantan mitra hukum Nixon dan manajer kampanyenya tahun 1968, John Mitchell, jadi Jaksa Agung. Seorang humas lainnya, yang juga teman Haldeman, John Ehrlichman, jadi Asisten untuk Urusan Domestik. Benar-benar nepotisme yang kental.

Nixon paling peka terhadap bahaya. Dia bisa merasakan bakal terjadi perpecahan karena tekanan oposisi untuk menghentikan perang Vietnam kian gencar. Di tengah situasi seperti itu dia tak percaya ”sekutu yang baik”, seperti Direktur FBI, J Edgar Hoover (tokoh legendaris yang menangkap mafia Al Capone melalui tim polisi antikorup pimpinan Elliot Ness). Nixon berkali-kali mencoba memecat Hoover.

Hoover sendiri jadi direktur FBI sejak 1920-an. Dia punya basis kekuasaan dan sulit digeser, bahkan oleh Presiden sekali pun. Nixon melihat Hoover sebagai kompetitor dan ancaman.
Nixon benar-benar paranoid bakal kehilangan kekuasaan. Dia bahkan mencurigai CIA, karena melihat badan ini adalah turunan kaum cendekiawan Pesisir Timur yang sejarahnya kurang bagus dengan musuh-musuh Amerika. Untuk membuang paranoidnya, Nixon mendirikan badan intelijen pribadi yang hanya bertanggung jawab pada Gedung Putih.

Ihwal Skandal
Ancaman lain yang dia rasakan datang dari kaum Demokrat. Partai ini dirasakannya sebagai ancaman paling berbahaya menjelang pemilihan berikutnya, tahun 1972. Untuk mengantisipasi ”hal-hal yang tidak diinginkan”, tahun 1970-1971 ia mendirikan beberapa proyek untuk menguping lawan-lawan politiknya dan mengawasi pers.

Pertentangan terhadap perang kreasi Nixon pun memasuki titik kulminasi. Juni 1971, New York Times mempublikasikan ”Berkas-berkas Pentagon” atau ”Pentagon Files”. Inilah rahasia perang Vietnam yang paling menggegerkan dan merusak performa AS, terutama soal serbuan tidak sah Nixon ke Laos dan Kamboja. Sumbernya adalah Daniel Ellsberg, seorang mantan analis intelijen Pentagon.
Menanggapi serangan media itu, Nixon mendirikan badan investigasi khusus yang berperan sebagai badan investigasi tandingan untuk membungkam Ellsberg. Nixon menugaskan Ehrlichman dan deputinya, Egil Krogh Jr, menjalankan unit itu dari Ruangan 216 dalam kantor Eksekutif sebelah Gedung Putih. Stafnya kurang lebih 50 orang. Orang-orang senior, temasuk pengacara staf Penasihat Keamanan Nasional, David Young, dan penasehat khusus dan pelaksana Nixon sendiri, Charles Colson, ikut andil di dalamnya.

Colson mempekerjakan E Howard Hunt, seorang mantan CIA yang pernah terlibat dalam invasi Teluk Babi, Kuba. Hunt didampingi mantan agen FBI dan asisten jaksa wilayah, G Gordon Liddy.
Sasaran utama mereka adalah memfitnah Ellsberg untuk menyungkurkannya. September 1971, Hunt dan Liddy memerintahkan tiga dari agen Hunt yang berkebangsaan Kuba untuk menerobos masuk ke kantor psikiater Ellsberg.

Liddy orang yang bisa diandalkan Nixon. Desember 1971, penasehat Gedung Putih, John Dean, memilih dia untuk bekerja di bawah John Mitchell dan Jed Magruder di Komite Pencalonan Kembali Presiden (Commitee to Re-elect the President) atau CREEP. Ini adalah badan khusus bentukan Nixon untuk suksesinya di periode berikut. Dalam prokem Amerika, ”creep” berarti orang yang menjijikkan. Entah kenapa bisa nama itu yang dipilih.

Posisi Liddy di CREEP adalah Penasehat Umum, tetapi secara teknis dia bertugas mengumpulkan intelijen politik. Pada 27 Januari 1972, dia menguraikan sebuah rencana yang disebut ”Operation Gemstone” kepada Mitchell, Magruder dan Dean. Benih-benih skandal mulai tumbuh.
Maksud operasi ini adalah, di pemilihan yang berikutnya, Liddy, atas perintah Nixon, bermaksud mengoperasikan kampanye sabotase, pemerasan, penculikan, pencurian dan pengawasan elektronis (penyadapan). Nilai operasi ini mencapai USD 1 juta!

Mitchell sempat menolak rencana ini karena terlalu mahal. Liddy pun berinisiatif menyederhanakan operasi itu, dengan dana ”hanya” USD 250 ribu. Operasi pertamanya adalah mendobrak masuk markas besar kampanye George McGovern, kandidat terkuat Partai Demokrat yang notabene saingan Nixon. Sayang, operasi gagal.

Pada 26 Maret 1972, Liddy, Hunt, dan tim yang terdiri orang Kuba membongkar kantor-kantor Komite Nasional Partai Demokrat di gedung Watergate. James W McCord, koordinator sekuriti CREEP, memasang dua alat penyadap. Tindakan ini jelas ilegal. Sayangnya hanya satu alat penyadap yang bekerja. Dan yang lebih celaka lagi, yang dihasilkan tak lebih dari obrolan para sekretaris yang tak penting.

CREEP pun memutuskan melakukan satu operasi lagi, malam hari tanggal 16 Juni 1972. Pelaksananya lima orang. Tapi operasi kali itu berakhir malapetaka. Seorang penjaga malam memergoki mereka dan menelepon polisi agar menahan lima ”tamu tak diundang” di lantai enam gedung Watergate.
Dalam pemeriksaan, lima penyusup itu menyodorkan nama palsu. Tapi setelah mendapatkan tekanan dari penyidik, mereka pun mengakui identitas sebenar-benarnya. Sangat mengejutkan, karena kelimanya ternyata adalah James McCord (yang menghubungkan pembobolan itu kepada CREEP), mantan agen CIA Bernard Baker; Frank Sturgis, seorang tentara bayaran kelahiran AS yang pernah bertempur melawan Castro; dan dua orang Kuba, Virgilio Gonzalez dan seorang tukang kunci bernama Euginio Martinez.

Sebenarnya ketika lima orang itu dibekuk, Liddy, Hunt dan seorang mantan agen FBI Alfred C Baldwin, tiga pengendali operasi, ada di dekat tempat kejadian mengawasi operasi. Tapi ketiganya lolos.

Orang-orang yang tertangkap itu bisa saja mengaku pembobolan atas inisiatif mereka sendiri. Tetapi, kalau ditelusuri, rantai komando kembali melalui Strachan dan Krogh, lalu ke Haldeman serta ke Ehrlichman –keduanya penasehat terdekat presiden– dan setelah itu sampai ke Mitchell dan bermuara pada presiden Nixon.
Tahu misinya gagal, Nixon coba memberikan klarifikasi dengan tampil di depan publik, bergaya layaknya politisi bersih. Dia mengaku, berita pembobolan diterimanya saat berlibur ke Key Biscane, Florida. Seolah-olah dia memang sama sekali tak ada hubungannya dengan aktivitas ilegal tersebut.

Dalam reaksinya yang sok suci itu, Nixon mengutuk bahwa penyadapan ke kantor Komite nasional Partai Demokrat sebagai hal yang bodoh. Katanya, siapa saja yang paham politik tahu kalau markas besar komite nasional adalah tempat yang tak berguna untuk disinggahi, apalagi untuk mendapatkan rahasia mengenai kampanye presiden. Setidaknya itulah yang ditulis Nixon dalam memoarnya untuk menghindari dugaan keterlibatan.

Waktu kelima pembobol dihadapkan ke pengadilan, 17 Juni 1973, mereka mengklaim sebagai anti komunis yang tak ada hubungannya sama sekali dengan pemerintahan Nixon. Dan McCord berbisik kalau dia adalah CIA kepada hakim.

Laporan-laporan pers pun berhasil mengidentifikasikan kalau McCord adalah koordinator sekuriti CREEP. Tapi Mitchell, bos CREEP, buru-buru menyangkal dengan mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa McCord hanya dipekerjakan sebagai konsultan sekuriti sementara dan sudah dibebastugaskan sebulan sebelumnya. Ini adalah upaya Nixon untuk cuci tangan menggunakan jasa Mitchell.

Bangkai pun Tercium
Sebenarnya trik licik Nixon tak akan terkuak dan kasus penyadapan akan berakhir di ruang sidang seandainya tak ada dua wartawan muda dari Washington Post (WP), Bob Woodward, 29 tahun, dan Carl Bernstein, 28 tahun, yang menemukan kalau buku-buku alamat yang disimpan pembobol berisi nama E Howard Hunt.

Pada 20 Juni 1972, WP melaporkan kalau Hunt bekerja pada konsultan Charles Colson, penasehat khusus Nixon. Fakta inilah yang kemudian menghubungkan pembobolan itu dengan sang presiden. Gedung Putih geger!

Upaya manipulasi coba dilakukan lagi. Buku-buku telepon internal Gedung Putih ditarik dan diubah untuk menyembunyikan kenyataan bahwa Hunt punya kantor di sana. Manipulasi habis-habisan.
John Dean memberi tahu Hunt agar ke luar negeri saja untuk menghilang sebentar. Liddy pun menawarkan pasang badan. Bahkan, bergaya melodramatis, dia menawarkan diri berdiri di sudut jalan dan diberondong peluru sampai mati kalau sampai skandal itu terbongkar.

Dean merancang kisah-kisah penutup aib yang rumit, untuk mencegah agar operasi itu tak terlacak dan hanya berhenti sampai Hunt dan Liddy. Uang tutup mulut dibayarkan kepada para pembobol. Upaya menutupi perbuatan mereka dijalankan dengan segala cara.

Sayang, masih ada kartu truf yang ketinggalan. Baldwin, yang kemungkinan agen FBI yang menyusup ke dalam kelompok sindikat Nixon, memberi tahu bahwa Liddy dan Hunt terlibat.
Nixon pun diberi tahu soal “nyanyian” Baldwin. Dan 23 Juni 1972, Nixon dan Haldeman memperbincangkan kemungkinan menggunakan CIA untuk merintangi penyelidikan FBI, untuk mematahkan kesaksian Baldwin.

Hunt dan Liddy harus dikorbankan, tetapi pemeriksaan dan peradilan “Tujuh Sosok Watergate” (lima penyadap yang ditangkap dulu ditambah Hunt dan Liddy) terlanjur dijadwalkan Januari 1973. Memang waktu itu menguntungkan, karena dilakukan sesudah pemilihan November 1972.Masih cukup waktu untuk memenangkan Pemilu dan menghanguskan semua bukti.

Dan dengan perhitungan waktu itu, Nixon tetap bisa menang. Karena partai Demokrat sedang kocar-kacir. Di bulan Juli Demokrat harus melepaskan calon wakil presiden mereka, Thomas Eagleton, karena diopname di rumah sakit sampai tiga kali. Dia disinyalir kelelahan dan kehabisan tenaga.
Satu-satunya penghalang adalah calon pesiden Demokrat, George McGovern, yang antiperang. Sementara Nixon sangat mendukung perang dan itu bisa mengurangi dukungan padanya.

Tetapi dalam situasi itu Nixon masih diuntungkan. Jarak antara persidangan sampai pemilihan berbulan-bulan, dan waktu itu cukup untuk menegosiasikan keterlibatan AS dalam perang Vietnam. Kalau Nixon bisa “menyelesaikan” masalah perang itu, misalnya merampungkannya di meja negosiasi, sangat masuk akal kalau dia berhasil meraih simpati untuk meraup dukungan dan menjabat untuk periode kedua.

Sementara itu, di dalam pengadilan, McCord dan Liddy mengaku tak bersalah soal penyadapan. Tapi di menit terakhir, Hunt tiba-tiba mengubah pengakuannya jadi bersalah (mengingatkan pada pengakuan mengejutkan Wiliardi Wizar dalam kasus pembunuhan yang diduga melibatkan Antasari).
Sementara selama pemeriksaan, hakim John Sirica yang memimpin sidang kasus itu, dibuat jengkel oleh para penuntut pemerintah (jaksa) yang kentara betul memperlakukan terdakwa dengan halus dan lembut hanya karena yang berperkara dekat dengan pemerintahan.

Proses pengadilan itu tak terpantau, dan nyaris muncul kesimpulan kalau pembobolan dan penyadapan Watergate benar-benar hanya melibatkan ketujuh orang tersebut.
Tetapi pemberitaan pers, sebagian besar dari Washington Post, kekeuh mengindikasikan kalau semua penyadap yang diadili itu berhubungan dengan Gedung Putih. Dan pembobolan Watergate hanyalah sebagian dari program tipu daya terkait pemilihan November 1972.

Akhirnya; Terlalu
Sebelum kasus ini ramai, Direktur FBI Edgar Hoover, yang dianggap sebagai ancaman oleh Nixon, meninggal bulan Mei 1972. Nixon ingin agar jabatan yang ditinggal Hoover dipegang Patrick Gray, orangnya sendiri. Apalagi maksudnya kalau bukan untuk melindungi misinya.
Ketika kasus ini kian panas, Gray menghadap Komite Ervin, sebuah komite yang dibentuk untuk mencari fakta sebenarnya skandal ini (mirip Tim 8 di Indonesia sekarang) dan Senat. Di sana dia mengungkapkan FBI gagal menginterogasi saksi-saksi kunci dalam kasus Watergate. Gray ingin melindungi Nixon.

Di saat bersamaan, penasehat presiden, John Dean, turut serta dalam wawancara dengan personalia Gedung Putih. Pers pun menyorot Dean, orang yang diduga membuat skenario upaya penyembunyian aktivitas penyadapan. Dean dipanggil untuk memberi kesaksian kepada Senat, tapi menolak. Nixon pun mengatakan dia tidak membiarkan stafnya memberi kesaksian dengan alasan hak istimewa eksekutif.
Ervin, Ketua Komite pencari fakta kasus tersebut, mengingatkan bahwa staf Gedung Putih bukanlah bangsawan atau anggota kerajaan. Jika mereka tak patuh pada panggilan tertulis menghadap pengadilan, dia akan mengusulkan Senat mengeluarkan surat perintah agar mereka ditahan.
Pada 23 Maret 1973, hakim Sirica menjatuhkan hukuman yang kejam pada komplotan Watergate; 30 tahun untuk Liddy, 35 tahun buat Hunt, dan 40 tahun buat Barker, Gonzalez, Martinez dan Sturgis. Total masa hukuman mereka semua adalah 225 tahun !

Pada 30 April 1973, atau beberapa bulan setelah dia terpilih kembali untuk periode kedua kepemimpinan, Nixon tampil di TV menyikapi vonis itu. Lagi-lagi dua berusaha menjual kesan bersih. Menurut dia, ada suatu upaya untuk menyembunyikan fakta-fakta dari masyarakat umum. Pembobolan itu, katanya, adalah ”tindakan bodoh dan ilegal”. Masih saja dia berusaha berkelit.
”Tidak ada implikasi apa pun mengenai perbuatan curang pribadi di pihak mereka (penyadap),” kata Nixon. ”Saya akan melakukan apa pun dalam kuasa saya untuk memastikan bahwa yang bersalah mendapat hukuman setimpal”, katanya manis dengan mimik serius.

”Tidak boleh ada yang menyembunyikan kejahatan di Gedung Putih”. (Ucapan ini mengingatkan kita pada salah satu sosok utama negeri ini saja, yang menyerahkan konflik KPK-Polri dalam jalur hukum dengan dalil menghormati supremasi). Sayang, tidak ada orang yang mempercayainya.
Tapi Nixon tak bisa berkelit terlalu lama. Pada 23 Agustus 1973, hakim Sirica memerintahkan agar sang Presiden menyerahkan rekaman delapan percakapan, setelah Sirica mendapat informasi dari Baldwin kalau Nixon punya rekaman itu. Nixon sempat menolak, tapi setelah mendapat banyak tekanan bertubi, akhirnya dia mau menyerahkan kesimpulan rekaman tadi. Bukan dalam bentuk rekaman asli yang utuh, hanya kesimpulan. Dan rekaman itu dianalisa oleh John C Stennis, seorang senator yang setengah tuli dari Mississippi.

Reaksi terhadap pembeberan hasil sadapan ini sangat luar biasa. Jutaan surat dan telegram protes mengalir ke Washington. Untuk pertama kali Kongres mempertimbangkan agar Presiden diperiksa.
Pada 10 Oktober 1973, wakil presiden AS yang sangat piawai berpidato, Spiro Agnew, mengundurkan diri setelah mengaku nolo contendre (tidak ada gugatan) terhadap tuntutan dia menerima jutaan dolar uang suap dari banyak kontraktor, waktu dia menjabat sebagai Pelaksana Kepala di Baltimore, awal tahun 1960-an. Sebagai ganti Agnew, Nixon menunjuk Gerald R Ford, pria yang membosankan tapi aman.

Tapi keputusan memilih Ford malah mengancam riwayat politik Nixon. Menurut perhitungannya, Ford bukanlah sosok yang berbahaya, yang bisa menunggangi situasi untuk menggesernya. Tapi penilaian publik berkata lain. Ford dirasa alternatif yang pantas menggantikan Nixon.
Pada 23 Oktober, Nixon menyerahkan rekaman yang diminta hakim Sirica. Di saat bersamaan dia terisolir dan kehilangan semua penasehat terbaiknya. Dia juga tidak berani bicara dengan siapa pun. Bahkan, Kepala Staf Gedung Putih yang baru, Jendral Alexander Haig, lebih setia pada Menteri Luar Negeri Henry Kissinger, bukan pada Nixon. Kissinger satu-satunya dari beberapa petinggi yang tak tercemar skandal ini.

Keadaan semakin buruk. Pada 21 November, penasehat Gedung Putih J Fred Buxhardt harus menyampaikan berita memalukan di persidangan; 19 menit pertama dari tape yang disita Sirica ternyata terhapus. Padahal di bagian itu berisi percakapan penting saat Nixon kembali ke Gedung Putih setelah pembobolan Watergate.

Cerita ini terjadi ketika Rose Mary Woods, sekretaris yang sudah lama bekerja dengan Nixon, tak sengaja menghapusnya. Nixon tak bisa berkelit. Kongres tak bisa mentolerir lagi. Akhirnya dilakukan voting, dan suara yang diperoleh menyebutkan; 401 mendukung bukti telah terjadi skandal, sedangkan 4 menolak. Tapi situasi ini tak mempengaruhi kemenangan Nixon di periode kedua. Karena, lagi-lagi, Demokrat si rival utama sedang semrawut.

Setelah pemilihan, Komite majelis Yudisial mulai membuat rancangan untuk memeriksa Presiden. Haldeman, Ehrlichman, Strachan, Mitchell dan Colson –orang-orang kepercayaan Nixon– semuanya dituntut Juri Agung karena berkomplot, bersumpah palsu dan merintangi keadilan.

Pada 30 April 1974, atau baru berjalan beberapa bulan jabatan periode kedua Nixon, si Presiden berusaha mengumumkan transkrip yang terdiri atas 200.000 kata ke publik. Maksudnya untuk memperbaiki citranya dan menunjukkan kalau dia sama sekali tak bersalah. Sama sekali tidak membantu Nixon. Malah timbul pertanyaan publik; cara apalagi ini untuk membenarkan kesalahan?

Akhirnya Nixon benar-benar habis ditelan gelombang mosi tak percaya. Dalam proses lanjutan kasus ini, Hakim Sirica mengungkapkan, ketika Haldeman dan kawan-kawan dituntut, mereka menyebut Nixon sebagai bos komplotan. Tapi tuntutan tidak bisa lugas diajukan karena Nixon masih presiden yang menjabat.Pukulan mematikan malah datang dari Kejaksaan Agung, yang dalam keputusan memaksa Nixon menyerahkan semua rekaman yang dimilikinya.

Sang Presiden tak bisa berkelit lagi. Di salah satu rekaman percakapan pada 23 Juni 1972, Nixon memerintahkan Haldeman mengarahkan CIA agar merintangi pemeriksaan FBI soal sumber uang untuk pembobol Watergate. Sebelumnya Nixon menyembunyikan keberadaan percakapan itu, bahkan dari pengacaranya sendiri.

Skandal memalukan pun kian terbuka vulgar. Buzhardt, Haig, Kissinger dan penasehat Nixon, James St Clair, mengusulkan agar Nixon mengundurkan diri. Tapi pengaruh Republik pro-Nixon di Kongres rupanya masih cukup kuat. Ketika pengunduran diri diajukan, Kongres tidak setuju.
Lalu diadakan briefing tertutup; para pemimpin partai Republik memberi tahu Nixon bahwa 425 dari 435 anggota Kongres akan memberi suara untuk pemeriksaan, dan hanya selusin senator akan menentang hukuman untuknya.

Gong berbunyi 8 Agustus 1974. Nixon menyampaikan pidato yang membanggakan prestasi-prestasinya di bidang kebijakan luar negeri, sekaligus mengumumkan pengunduran dirinya. “Saya sudah tidak punya landasan politik yang kuat dalam Kongres,” dalilnya.
Sehari setelah itu, dia resmi mengundurkan diri dan Gerald R Ford, wakilnya, jadi presiden AS pertama tanpa pemilihan dan tanpa wakil presiden.

Yah, inilah, skandal mahabusuk untuk merengkuh kekuasaan. Terbongkar karena banyak peristiwa janggal, menguatnya nuansa manipulasi, dan fakta-fakta yang diedit. Tapi, seperti peribahasa Indonesia; “Sepandai-pandai menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga”.

Yang perlu kita petik dari kejadian nyata paling menggemparkan dunia hampir empat dekade lalu itu adalah; akumulasi kebohongan, pemelintiran fakta, kesaksian palsu, pemanfaatan undang-undang untuk memuaskan hawa nafsu pribadi akan bermuara pada satu hal; kehancuran yang memalukan!Semoga saja skandal seperti ini tak pernah terjadi di Indonesia. Kalau sampai situasi sekarang berangkat dari pola yang sama dengan aib Watergate, sungguh terlalu!

2 komentar:

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Poskan Komentar