Aneh, tapi sayang.. (Dyri, 8 Februari 2012)

♠ Posted by Aryni Ayu in at 05.29
“satu yang gak bisa aku penuhin, yang dari dulu selalu bikin aku tengkar dengan mantan – mantanku, perhatian!

Perhatian? bukankah itu milik setiap insan? Tiap – tiap mahluk bernyawa menginginkan hal itu. Bukan hanya sekedar memberi, tapi juga meminta. Aku semakin tak punya alasan untuk meruntuhkan segala protesku terhadapnya. Aku benar – benar harus kuat menghadapi keanehan ini. Hari itu benar – benar aku ingat, benar – benar aneh, benar – benar aku sayang.



Pagi itu hampir terang. Bulan di belahan barat pun belum mau menenggelamkan dirinya kedalam sayup – sayup subuh. Masih berkejora, besar, dan sedikit menakutkan. Layaknya vampire – vampire di film. Ketika bulan purnama datang, mereka akan menerjang, dan aku pun telah bersiap – siap menerobos kaca di depan kamarku, kalau – kalau di depan bulan itu muncul sesosok manusia bergigi tajam. Ah, secuil imajinasi membuat kepalaku pusing. Mataku yang sayu memandang jam dinding, berdetak meributkan detik – detik waktu. Sudah pagi ternyata. Pepohonan mengayun – ayun mengikuti sinar di ufuk. Suara dapur berdentum tak karuan, begitupun jantungku. Capek rasanya menjadi juru koki. Membantu manusia yang kusebut ‘ibu’, terkadang membuat dada sesak. Berusaha membantu ini itu, memasak ini itu, dan menerima omelan ini itu, nampaknya cukup membuat wajah ini manyun. Andai aku yang penggemar berat, seberat – beratnya sosok Avril Lavigne ini bukan wanita, sudah kubuang jauh – jauh segala peralatan masak. Lalu kuganti dengan peralatan musik. Rock, blues, pop, atau k – pop yang serba feminim itu, mantap! akan kujadikan rumah ini serba musik. Oh, mulai menghayal lagi!

Membolak – balik halaman milik Pramoedya Ananta Toer, mendengar ocehannya tentang hidup manusia bukan matinya, memberiku banyak tahu. Setidaknya membuatku sadar, kehidupan selayak – layaknya tempatkanlah di kursi yang terbaik. Terbaik, bukan terbalik. Ah, aku rasa itu yang terjadi di pagi kemarin. Pertengkaran kecil dalam egoistis, menjadi makanan pembuka, ya tepatnya setelah membantu ibu. Tergesa – gesa ku pergi ke tempatku belajar menaiki sebuah kendaraan besi keluaran Jepang. Suaranya menderu – deru sepanjang perjalanan, mengalahkan keramaian, berjalan sekilat mungkin, menyaingi kecepatan Valentino Rossi. Tapi kupikir, memberi makanan untuk orang yang kusayangi tampaknya sedikit lebih penting, daripada tergesa – gesa. Kuputar kemudiku, sedikit mengurangi kecepatan menambahnya lagi, mengurangi lagi, terus begitu layaknya pembalap liar.

Menit sekitar lima, aku sampai. Kujumpainya disana. Pakaiannya tampak lelah, wajah yang kusam, tangan yang terus mengotak dan mengatik tombol – tombol computer, lantas tersenyum melihatku. Oh, senyumnya membelah hati yang sedang membara. Kuusap – usapkan mataku, takut – takut aku masih di alam mimpi, tapi lebih baik begitu. Dipersilahkan duduk, akupun duduk. Melihat – lihat dunia maya yang sedang dibukanya. Tuhan, tidakkah dia lelah berada semalaman disini hanya dihibur dengan dunia yang maya itu? belum lagi hiburan, barangkali wanita kasat mata yang menjemukan hati itu, membuat kesedihanku bertambah.

“kamu gak kuliah?”, tegurku, “gak, dosennya gak ada.” “trus, kamu bakal jaga warnet terus? Gak capek?”, “Gak, aku lagi gak ada kerjaan”. Aih jawaban ini, membuat pikiran tak karuan. Waktu itu semakin memudar, kenapa tidak berusaha diisi dengan kegiatan lain? Membersihkan diri kek, belajar sesuatu kek, atau sekedar mengistirahatkan diri, pasti lebih menyehatkan. Dasar anak muda! batinku.

Pagi itu masih dingin. Kubiarkan dirinya mengisi perut dengan bekal yang kubawa. Aku masih belum ingin marah. Dalam hati aku terus mencari – cari bahasa apa dan kata apa yang indah tapi pedas, tak ingin membuatnya sakit. Hanya ingin mengingatkan dengan cara dewasa. “kamu sombong! Gak kirimin aku sms”, “aku lagi males sms-an”, “ya, tapi kan aku jadi bingung aku mau bawain bekal, tapi aku juga gak tahu kamu butuh perhatian atau enggak? Kan orang jadi bingung tanpa perhatian dari cowoknya, kamu gak sms aku seharian, tahu – tahu muncul di fecebook, berkomen – komen ria ama cewek lain”, dia tertawa dan menjawab “udahlah mi, masalah kayak gitu gak usah dibesar – besarin”, aku tertunduk, “oo biar besar sendiri gitu”, dirinya hanya tersenyum “ya enggaklah mi..”

Oalah le, aku ini kekasihmu, pantas toh kalau ingin dapat perhatian? Kenapa jawabanmu masih saja begitu? Dasar orang aneh! Hatiku sedikit mengerang kesakitan. Suasana tempat itu kian ramai. Kuminum setenggak botol dingin, tapi panasnya hati belum juga reda. Jam berdentang menggelitik tubuhku untuk segera pergi meninggalkannya, sekedar mengikuti jam perkuliahan. Aku pamit undur diri, “nanti aku kembali lagi”, ucapku.

Andai tak ada si dosen, aku pasti sudah keburu kabur. Mengitari jalanan raya yang padat, berlalu lalang seperti gembel yang tak memikirkan sesuatu apapun, hanya kesenangan yang ia tahu. Atau paling tidak bernyanyi – nyanyi di tempat karaoke sambil berfoto – foto ala narsis. Tapi aku tertipu, tak seperti yang kuharapkan. Kampus tetap ramai, dosen datang tepat pada waktunya meski pekan ini awal masuk kuliah. Dan aku pun terjebak dalam rutinitas, lagi. Tik dan tok, waktu terus bergulir. Si dosen yang biasanya ‘ogah – ogahan’ ini rupanya sedang terkena ‘demam’. Semangatnya menjadi tumbuh. Mahasiswa diajaknya terus untuk menangkap apa yang sebenarnya dia ajarkan. Bercerita, tertawa, bosan, bercerita lagi, bosan lagi, rasanya ingin cepat pulang. Ingin cepat – cepat tidur, sekedar menulis, membaca buku, atau yang paling nakal ingin berdua – duaan dengan belahan hatiku.

Sekedar bertanya atau mencatat – catat apa yang diocehkannya. Sebosan apapun, aku tetap memperhatikan dosenku itu. Menit ke sekian kalinya, perkuliahan selesai. Aku lega.

Terik matahari siang itu sangat menyengat, bahkan hampir menghapus kulit putihku. Apalagi yang akan kulakukan jika tidak menepati janjiku. Tepat tengah hari aku memutar arus, kembali ke tempatnya. Mataku panas, kepalaku makin menggila pusingnya, ditambah lagi dirinya, masih asyik sekali dengan dunia yang maya itu. rasanya ingin berteriak, ‘Im be frustrated my men’. Maka kuambil secarik Koran yang terbit hari itu, berusaha menenangkan batinku. Tertulis besar – besar di Koran itu, lagi dan lagi pemerintah dipesimisi masyarakat. Ah, lagi – lagi partai ini, orang – orang ini lagi, permasalahan ini lagi. Apa – apaan Indonesia hari ini, terlalu banyak etika yang telah terhapus, batinku.

Sembari mengilustrasikan apa isi Koran itu, mataku berpencar untuk memandang sekeliling. Tepat sekian detik ku memandangnya, masih saja lengket dengan dunia maya, masih saja lekat dengan lusuhnya badan, tak inginkah dia membersihkan diri? “kamu masih juga jaga? Belum mandi juga?”, “belum, lagi males”. Tak menjawab aku, entah kenapa perasaan ini semakin kesal. Dirumah kubayangkan tidur di kasurku yang empuk seperti permen. Membersihkan rumahku yang tengah berdandan, pun belum juga menghadap sang Kuasa untuk hanya sekedar shalat. God, aku benar – benar lelah, kataku dalam hati. Ingin pulang tapi hati ini tak bisa. Aku masih merindukannya, masih ingin mendampinginya. Tapi perut ini bergema, kepala memanggil – manggil pusing, mata yang tak kuat lagi untuk bersinar.

Kucoba menegur, “kamu dari tadi kok sibuk banget sih? Gak bisa gak usah facebook-an? Balesi komen – komen yang gak penting?” protesku. “ya namanya aja di depan komputer mi, pastinya ya aku balesi komen – komennya mereka lah.” “Ooo message – message-an ma cewek – cewek itu juga wajar ya? Sedangkan di sisi lain kamu ga ngasih kabar sama aku seharian, gitu?” sambungku. “ya gak gitu juga mi, mereka kan cuma sekedar temen, mereka dulu yang nyapa aku, jadi wajar donk kubales mereka?”. “iya aku tahu, tapi gak bisa kamu tu cuek ama cewek – cewek itu? kamu tuh dalam posisi punya pacar tau!”, tegasku. “Aku kan cuma berusaha mengakrabi, emang sih aku terkadang suka menggoda, tapi aku tuh sayang ama kamu.” “Oo dengan bikin teori sayang, terus kamu bisa seenaknya akrab – akraban sama mereka? Terus suatu hari bisa jalan ama mereka? Ya udah, urus aja dirimu sendiri, aku gak mau tau dan gak akan pernah menanyakan!”

Lantas aku berdiri terhuyung – huyung, membawa tas keluar dan siap – siap menghidupkan kendaraanku. Dirinya mencoba mengejar, tapi terhalang. Seorang pelanggan mengajaknya bercakap – cakap, lumayan lama. Entah apa yang dibicarakan, rupanya cukup membuat tensi egoku turun.

Setelah pelanggan itu pergi, dia memanggilku, mengajak duduk kembali, dan aku pun lupa apa yang sedang aku perkarakan. Menunjukkanku sebuah berita terbaru. Itu suara – suara aneh yang sedang ‘booming’ di seluruh dunia. Sedikit tertarik dengan berita itu, aku mulai lupa kelelahanku. Menit demi menit berjalan, tampaknya aku mulai bosan. Dirinya mulai mengotak dan atik lagi jejaring sosialnya, perutku pun kembali meraung – raung, hati kembali lelah, mata mulai mengantuk, dan hati mulai kesal, lagi. Aku pun tahu keadaannya sama denganku, mungkin.
“hahahha...lucu – lucu, gokil abis ini pakdekku, ini mi kenalin keluargaku yang ada di Bali”, serunya kepadaku saat melihat foto seorang lelaki membuang hajatnya di toilet umum. Aku hanya tertawa kecil, menyambut dengan sedikit keramahan. Ah, untuk apa seperti itu ditunjukkan padaku. Andai aku bos PLAYBOY, pasti langsung kupampang di cover, tanpa sensor!

Seperti anak kecil, atau wanita pada umumnya. Aku sedang ingin bermanja – manja dengannya, rindu aku, dan ingin diperhatikan. Ah, tapi hari itu dia berbeda. Mungkin kami berdua memang sedang berada dalam kelelahan yang amat sangat. “huu..aku capek, pusing, ngantuk”, “ya udah sana istirahat didalam.” Di dalam? Aih, sama saja aku sendirian di ruang kosong bersama jendela kecil, karpet berwarna gelap, dan nyamuk bergentayangan didalamnya. Aku cuma ingin diperhatikan, bukan dibiarkan sendiri, dasar aneh! Memang jarak kita duduk berdekatan. Tak jauh semeter pun. Tapi tetap, tak ada obrolan yang menenangkan.

Pertengkaran pun terjadi, lagi dan lagi. Hal sama terus didebatkan, antara aku dengannya. “satu yang gak bisa aku penuhin, yang dari dulu selalu bikin aku tengkar dengan mantan – mantanku, perhatian! Kalau aku menginginkan aku kerumahmu sekarang juga untuk meminta restu hubungan kita apa kamu juga bisa menuhin? Gak kan? Tolong jangan minta lebih sama aku!” Raungan dari abjad a hingga z aku dengar. Aku resapi, dan aku sambut juga dengan tangsisan. Raut mukaku serasa kusut. Rasanya sudah tak punya harga diri lagi aku berada di tempat itu. Perhatian? bukankah itu milik setiap insan? Tiap – tiap mahluk bernyawa menginginkan hal itu. Bukan hanya sekedar memberi, tapi juga meminta. Aku semakin tak punya alasan untuk meruntuhkan segala protesku terhadapnya. Aku benar – benar harus kuat menghadapi keanehan ini.

Ingin kutinggalkan. Menghidupkan kendaraan milikku sekeras – kerasnya, biar orang tahu keanehan macam apa yang ada di hadapanku ini. “maksudmu itu apa sih mi? masalahnya itu apa sih?”, tanyanya sambil mengambil kunci sepedaku. “bla….bla….!” Aku membentak tak karuan, sampai terlupa apa yang telah kukatakan. Aku kehilangan kesabaran, dan dirinya meninggalkanku sendiri di teras depan penuh tertawaan satu dua orang yang melihatnya seperti sinetron. Menggeram, meremas – remas tangan, menahan air mata, dan menunggu, hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.

Tak lama dirinya datang, memesan sedikit makanan pada seseorang di sebelahnya. Makanan datang, tak terasa ternyata, lama ada diluar. Dia menyuruh aku masuk kembali. Isyratnya memerintahku untuk makan, bukan bicara dan menangis. Beberapa menit berlalu, percakapan dimulai kembali, siap – siap aku harus mengalami perdebatan sengit itu lagi. Tapi tebakanku meleset total. Pembicaraan ringan, sabar, dan seakan – akan penuh ketenangan itu membuatku segar. Saling berbagi pengalaman di masa lalu membuatku dan dirinya mengerti akan kekurangan masing – masing. Dari umurku tujuh, delapan belas sampai hari ini. Aku dan dirinya bercerita tentang cinta, keluarga, dan segalanya hingga kami benar – benar mengerti. Berharap aku bisa mencintai kekurangannya, begitu sebaliknya. Aneh memang, tapi sayang, se sayang – sayangnya aku mencintainya. Terik berganti senja, berganti pula malam, kami saling menemani. Hari itu benar – benar aku ingat, benar – benar aneh, benar – benar aku sayang.

3 komentar:

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

hihihi..bagus..smoga sja ada sutrada yg baca tulisanmu dan membuatkan film yak..p.lucu memang kalo harus mengingatnya lagi,,entah masalah kecil yg di besarkan atau masalah besar yg coba di kecilkan,yg kuingat ketika itu ada seorang gadis muda yg mendatangiku,dan langsung membombardirku dengan segudang pertanyaan dan pernyataan,yg menurutku hanya merupakan pengulangan..kksd (kok kamu gitu sich?) itulah inti dri semuanya..tdak bsa dipungkiri Konsep cinta antara pria dan wanita memang berbeda. Namun, bukan berarti tak bisa disatukan. Karena sesungguhnya, justru perbedaan itu lah yang membuat mereka saling melengkapi satu dengan yg lain.menurut wanita cinta itu adalah sebuah perhatian,tpi menurut pria cinta itu adalah sebuah kepercayaan,jdi hanya sebuah perbedaan persepsi tentang arti cinta itu sendiri.maka jalani perbedaan ini,dan buat seunik mungkin..krena cinta menyatukan perbedaan tapi tidak utk dirubah..semua org butuh perhatian,iyaa!!dan perhatian yg kuberikan mngkin tdak akan sperti yg kmu harapkan skrang,tpi dengan caraku sendiri tentunya..ingatlah "SETIAP PASANGAN PSTI MENGINGINKAN PASANGANNYA BAHAGIA"jdi bkan km sja yg memikirkan hal ini sayank...hehe
gk usah difikirkan hal yg tk perlu utk di fikir,mksudnya jangan terlalu memikirkan perbedaan,tp apa yg bsa dlakukan utk menghadapinya,berfikirlah lurus kedepan..dan fositif thinkinglah,itu akan membawa hubungan kearah yg lebih baik..

nb:cara penyampaian tulisan mu sangat menarik utk di baca,buat aq tergoda utk membacanya..jangn lupa bsok masak buat aq lgi yak..(mskanmu enak)gkgkgk

cttan yg tertinggal :meskipun wktuku hanya 10 menit buat berkomentar,dan tdak sebanding dngan critamu yg butuh semedi utk membuatnya..tpi semoga kau bsa memahaminya,dn mengerti maksudku...i <3 u bkan di hape tapi di hati..niezya ramona lavigne is the best its my heart...

Poskan Komentar