MANUSIA KOSONG _(Dyriku 11- 12 Februari 2012)

♠ Posted by Aryni Ayu in at 08.55
“kamu ya mi maen fisik, kalo aku maen fisik, kamu pasti mati..”

Aku sama sekali tak dengar ocehannya. Komat – kamitnya. Aku sibuk tercengang dengan kata – kata “..matinya”. Kosong benar hati, kosong sikapnya, kosong tindakannya sebagai manusia.

“Asal kau tau, aku bukan seorang ibu yang berumur 20 tahun, usiaku sudah empat puluh tahunan.
Mama tak perlu pendekatan untuk mengenal sifat – sifatnya. Mama sudah tahu seisi kehidupan sosial seumuranmu, apalagi aku sudah cukup jeli sebagai bimbingan konseling, aku tahu urusan kejiwaan nia. Makanya dari sedikit penjelasanmu tadi, aku bisa lihat pedalaman jiwanya.
Tak pernah tersadar olehku bahwa selama ini waktuku terisi oleh seorang yang tak dapat dipercaya. Dengan kata – kata, tindakan, dan sikap yang kosong! Terkecuali mulutnya yang tak pernah kosong.


“Manusia Kosong!”, umpatku. Hey kau, siapa kau! Aku tak mengenalmu, pergi kau, fungsimu sudah tak ada untukku..”kata laki – laki tinggi itu. Tak sempat melawan, air mataku deras menderai dipangkuan ibu. “Tenang nak, ibu ada disini.” Tiba – tiba kabut gelap datang bak televisi hitam putih. Aku berjalan tak tentu arah. Melintasi alam asing berlatar hitam putih, entah terdampar dimana diri yang lemas ini. “Brak..”, kepalaku terbentur sesuatu, tepuk tangan menggelegar pun segera terdengar. Suara jam kian berdentang diantara puing – puing benda kecil nan empuk. Oh, mataku membuka. Pening mengitari kepala. Tak sadar ternyata tubuhku terbengkalai di lantai kamar. Benda kotak ajaib yang biasanya bergosip, berdebat, menyanyi, serta berakting masih menyala – nyala berucap tak jelas. Ya, televisiku terjaga dari kelamnya malam hingga datangnya fajar. Uh, mimpi apa aku tadi, doa tidurku tidak manjur! Lelaki tinggi? Air mata? Ibuku? Pertanda buruk.

Mata masih sayu. Rasanya ingin bergelut lagi dengan mimpi. Berandai – andai memasuki arena tinju, aku ingin menjadi Mike Tyson. Melihat lelaki tinggi itu, yang membuat air mataku keluar. Sungguh, pasti kugigit telinganya sampai lepas. Oh imajinasiku kumat! Kuseka air yang menetes di hidungku. Ih, aku memang selalu pilek tiap pagi. Secarik dua carik kertas tissue kutarik kuat – kuat bak bermain layang - layang diatas atap orang. Masih saja kuseka hidungku yang mancung kedalam ini. Kuusap – usap seraya mata masih terbenam dibalik pelupuk. Aku menjerit terbungkam, warna apa ini Tuhan? Tak pernah aku menemui hal sesakit ini. Hey, siapapun, aku ingin berteriak, tapi tak bisa! Papa mamaku tak boleh tahu soal ini. Soal gampang ini, biarlah sahaya atasi sendiri. Tersentak otakku, kepala makin pening, mulut tersendat – sendat untuk sekedar kaget. Aku…aku, berdarah!

Kilauan hitam berderak – derak di telingaku, di mataku. Kepala tak kalah hebohnya, memutar – mutar layaknya kapal terbang tak tentu arah. Suara parau memanggil – manggil “Nia..nia, bangun, kamu kenapa?” Mataku kembali lunglai, masih tak ingat apa yang terjadi. “ndok bangun, kamu pingsan? Mukamu pucat”. Inderaku belum pulih. Tak ada kata kuucapkan.
Laki – laki berparas tampan, berbaju putih. Datang. Memeriksa ulu nadiku. Meraba – raba bagian mata, telinga, dan tensi darah. Terlihat angka mini sekali. Bertuliskan sembilan puluh / tujuh puluh. “adikku sayang, jangan bertingkah dulu ya, tensi darahmu turun lagi, datang bulanmu pun tiba. Jaga kesehatanmu, jangan memikirkan hal – hal yang bisa membuat otakmu serasa miring”, ucapnya sembari tetap memeriksa – riksa badanku. Pikiran ini melalang buana. Aku ingat malamnya. Sebelum fajar tiba. Di ruangan luas nan megah milik seorang dokter, duduklah aku diperiksanya. Kegiatan rutin setiap bulan yang harus aku penuhi. Aku punya sakit. Ya, aku ingat soal itu.

Serangkaian gambar terhisap dalam otakku. Mata sayu ini mulai membuka. “..apa ma? Kenapa ada disini? Aku..aku baru saja bangun.” “Benar kau tidur barusan? Yakinkan mama kalau kau tidak pingsan”, mulutnya bekomat – kamit, khawatir. “Benar ma, aku tak apa – apa, hanya tertidur, aku sehat - sehat saja”, syarafku memerintahkan dusta. “Ya sudah, bergegas sana, beraktifitas lah, nanti mama telepon.” “..baik”, jawabku ragu.

Matahari terlihat merekah, memerah, dan menguning. Fajar bertambah tinggi. Pemandangan rumah serasa indah. Suara ibu – ibu rumah tangga yang sedang membeli pangan di ‘mlijo’ pun terdengar sedikit bising. Kucing – kucing terlihat saling mengakrabi. Terutama si putih lorek – lorek yang sedang berpacaran itu. Jarang sekali berlibur untuk mengusili masakan dirumahku. Barangkali untuk hadiah sang pacar, aih kucing nakal!

Pagi itu memang cerah, sangat. Kulihat diriku dikaca memakai baju hitam, berselimut jeans, berjaket kuning pucat, terlihat sama dengan wajah ini. Kulengkapi bibir dengan sedikit gincu, bedak, dan cairan tipis hitam diatas kelopak mata. Kini, aku sudah mengkilat. Sembari memasukkan beberapa tebal kertas kedalam tas. Peningku mulai lagi. Tak kuhiraukan. Mungkin cukup mengurangi kegiatan hari ini. Aku ijin tak mengajari anak – anak dulu. SMA itu, untuk hari ini aku tak bisa kesana.

Lagi – lagi ijin untuk menuntut ilmu. Menuju ke kampus, tapi dusta. Ya, rasanya ini bukan diriku. Dalam otakku telah terpancang kegiatan hari ini. Padat. Meski tubuh ini melemah, tapi aku tak mau menjadi manusia kosong. Hidupnya hanya termangu – mangu di depan berhala. Hanya menunggu, menonton, berbicara, dan berharap, tanpa tindakan. Menjijikan!

Berangkatlah aku mengitari jalanan. Pelan – pelan aku membalap. Merasai pagi ini begitu sejuk, begitu nyaring ditemani artis – artis Hollywood. Mereka menyanyi di telingaku. Berteriak – teriak, mengalun merdu. Pikiranku terus beradu. Menghayal bak romeo dan Juliet, bak roro jonggrang dan kebo ireng. Seandainya hubungan ini diketahui papa mama, akan jadi apa aku? Dadar gulung, lumpia, atau benang ruwet? Ah, aku ingin direstui, tapi tak mungkin. Mereka pasti menggantungku. Menjewerku, aih mengigau lagi!

Menit sekitar lima, aku berhenti di sebuah toko roti. Membeli sedikitnya sebungkus untuk orang terkasih. Pun membeli secarik Koran untuk bacaan nanti. Nanti, seandainya aku jadi manusia kosong pula ditempatnya. Meter demi meter aku lalui. Berjalan menapaki aspal, rasanya akan ada buruk yang terjadi. Seandainya ini benar – benar mimpi. Tak lama, aku pun sampai ditempatnya. Kekasihku itu. Ya, orang yang pernah aku sayang. Dia masih ditempatnya, masih dengan keadaannya. Kurang manusia.

Tergopoh – gopoh dia menemuiku, sekedar melempar senyum menyambut kedatanganku yang baru beberapa detik. Aku terhenyak, oh, dia masih begitu. Bingkai senyumnya masih terasa manis di hatiku. Terlalu manis bahkan untuk segenggam cabai pedas sepertiku. Sedikit percakapan membuat hangat suasana pagi itu. Namun aku tak bisa menjelaskannya. Sudah terlalu kaku untuk hari ini, 13 Februari 2012. Aku sudah tak mampu mengingatnya lagi. Simpan saja dalam laci sejarah. Roti yang aku bawakan tertelan enak di mulutnya. Percakapan pagi itu masih indah. “Pi, aku ijin pergi dulu ya..ada urusan ke SMP, cari bahan untuk tugas.”, “ya mi..nanti ketemu disini aja ya..” “ya..” aku tersenyum seraya menggumam, semoga saja aku nanti tak menganggur menemanimu. Sungguh aku merugi jika itu terjadi.

Melawan arus terik mentari yang kian menguat. Ruang jalanan dihiasi kendaraan – kendaraan besi nan bising. Sungguh siang yang padat. Bersama seorang karib. Aku mulai mengerjakan tugasku sebagai mahasiswa. Dua puluh dalam hitungan menit, kami akhirnya sampai di sekolah. Ramainya tak terkirakan. Kebun binatang pun kalah. Apalagi pintu gerbang yang mereka punya hanya satu. Andai ini film buatan tom Cruise, pasti sudah aku terjang pagarnya. Asyik! Huzy, tapi bukan itu tujuanku. Sekedar berbasa – basi sedikit, kami diperbolehkan masuk. Menengok sana – sini para siswa itu. “Hey, kita disangka artis nyasar kawan!”, bisikku pada si karib.

Tak lama, tugas itupun selesai. Aku meminta cepat – cepat undur diri dari guru – guru di sekolah itu. Kupegangi kepalaku. Uh, peningnya mulai lagi. Sejenak bermenit – menit kemudian aku berdiam diri di rumah karibku. Sungguh, aku menghindari warna merah itu lagi. Tak mau aku ada orang yang tahu dan repot gara – gara sakitku. Istirahat sejenak sembari makan siang dirumahnya, membuat diri ini sedikit bugar. Jam dua siang itu juga lagi – lagi aku meminta undur diri dan berucap terima kasih. Ada urusan yang lebih penting, ucapku kepada tuan rumah. Urusan kosong, untuk manusia kosong.

Secepat kilat ku melangkah ke tempatnya. Lagi – dan lagi. Kegiatan dan keadaan yang sama aku temui. Seperti hari – hari yang lalu. Dirinya masih sibuk melayani pelanggan, pun lalu hanya mengotak dan mengatik dunia maya. Menjaga internet. Oh..Tuhan, aku tidak menyalahkan pekerjaannya. Tapi kenapa di mataku itu sungguh membuang – buang waktu. Tak adakah urusan yang lebih penting daripada itu? Tanya ku pada hati dan Tuhanku. Seraya hanya tersenyum kepadanya, lalu duduk sambil membaca lembar demi lembar karya Pramoedya Ananta Toer. Aku masih bisa bertahan. Masih ada yang kukerjakan selain duduk. Selain melihat dunia maya seharian penuh.
“hey mi, kamu baca apa? Novel ya?, “ya”, jawabku singkat. “tunggu ya, aku masih sibuk..”, “ya..its okey”. Memang aku penunggu setia manusia kosong. Menit bergeser. Saat membaca aku melihat seorang teman sedang memperhatikanku. hey, itu kan si Beslin. Sambil memegang handphone-nya dia menghindar. Ah, jujur aku sedikit malu beberapa kali bertemu dengannya di tempat ini. Tak tahu mengapa. Tapi seakan pandangannya menganggapku ikut membuang – buang waktu. Seperti manusia kosong.

Kesibukannya selesai begitu si pelanggan pergi. Aku kembali duduk disebelahnya. Turut mengimbangi kegiatan dunia mayanya. Kami bercakap – cakap luwes tanpa kesan. Aku pun tak mampu menjelaskan secara mendetail. Tahulah, kejadian ini sekali lagi terlalu kaku untuk diingat. Aku dan rasaku sudah mulai sirna. Yang aku ingat. Sore itu masih berhias percakapan – percakapan yang renyah. Begitu akrab, dan dia terlihat sangat lelah. Aku dan tubuhku pun tak bisa diajak kompromi. Rupanya pusingku muncul lagi. Sekilas gelap, tapi aku bertahan. Aku tahu dia sedang bercerita sembarang untuk menghiburku, untuk mengurangi rasa bosanku. Ya, aku benar – benar bertahan. Berdiri sedikit, mungkin aku tak bisa melihat apapun. Beruntung beberapa detik berikutnya kegelapan itu mulai menghilang.

Tiba – tiba aku mengajaknya untuk pergi. “pi..ayo ke tempatmu, aku ingin istirahat, ingin sekedar bersihkan diri..”, ucapku spontan. “nggak bisa mi..trus yang jaga siapa?”, “kan ada temenmu, bisa suruh ngganti..”, “Nggak bisa, udah disini aja”. Disini? Aku membatin, ya, bisa ambruk aku disini. Keadaan tempat mempengaruhi kondisi psikologis, bisa tambah turun tekanan darahku. Tapi aku diam, membisu, membiarkan dia sibuk dengan berhalanya, dunia maya.

Berusaha tersenyum, meskipun kecut. Ya, hanya itu yang bisa kulakukan untuk menutupi kesehatanku. Pun menutupi kekesalanku karena banyak waktu yang terbuang. Percuma bahkan. Petang menampakkan muka. Aku terhenyak, sudah waktunya pulang. Aku mohon diri. Dirinya sekedar mengiyakan sembari selesai membeli sedkit makanan. Dia berucap sesuatu, aku pun menjawab, meski sedikit kecut. Entah aku lupa kata – kata apa yang terlontar saat itu. Spontan dirinya marah. Berkomat kamit “..kenapa baru marah sekarang? Kenapa gak daritadi mi?” Daritadi aku bertahan. Menit – menit menyiksa itu aku gunakan untuk bertahan demi kesehatanku! hatiku berteriak.

Sontak pertengkaran hebat tak terelakkan. Suara – suara saling hantam terdengar cukup keras. Tiba – tiba aku merasa cukup kuat untuk melawan sikapnya. Aku merasa statusku sebagai wanita ‘diremehkan’. Sepatu yang biasanya melekat di kakiku ini. Secara reflek kutimpukkan saja di badannya. “Plak..” suara sepatu – sepatu itu. “Ambil..!” pekikku. “Heh, itu udah kamu buang ke aku, kenapa aku yang kamu suruh ambil? Kamu kalo mau pulang, silahkan, aku gak butuh kamu!” Apa? Jam – jam menyiksa tadi cukup membuang waktu. Daritadi aku bertahan karena sakitku, tapi aku diam. Sekarang berani kau berkata kasar kepadaku? Mana rasa manusia – mu? Tak terasa air mata ini menderai, benarlah terjadi sesuatu yang buruk.

Aku terduduk. Menangis. “kamu ya mi maen fisik, kalo aku maen fisik, kamu pasti mati..” Kata – kata ini sungguh membuat pecah kepalaku, pening kembali muncul dalam kekuatan yang lebih dahsyat, mata pun menjadi gelap kembali. Dia terus mengocehkan sesuatu, sedang aku? Aku tak mendengar sama sekali apa yang dikatakannya. Yang terakhir aku dengar hanya “pulango mi, sebelum aku berubah pikiran”. Pikiran apa yang berubah? Aku bertanya – tanya. Aku sama sekali tak dengar ocehannya. Komat – kamitnya. Aku sibuk tercengang dengan kata – kata “..matinya”. Kosong benar hati, kosong sikapnya, kosong tindakannya sebagai manusia.

Kini pikiranku tak karuan. Tensi darah, aku pastikan ada di titik terendah. Aku mencoba berdiri. Tapi rasa ini kembali lagi. Tiba – tiba saja semuanya menjadi gelap. Seakan aku berada di kekosongan. Dan sesuatu membenturkan kepalaku ke lantai. Detik itu aku tak ingat apa – apa. Mataku menerawang jauh, kosong.
Begitu tersadar, kutemukan dirinya, kebingungan. Kenapa kau kebingungan? Sebentar – sebentar sibuk merawatku yang sudah lemas tak berdaya ini. Menggendongku, menggosok perutku, memeluk. Mengapa tak daritadi saja rasa manusiamu ada? Manusia yang satu ini. sungguh, kadang iblis kadang malaikat. Namun aku tetap berterima kasih kepadanya. Telah merawatku dengan sebaik – baiknya.

Malam. Setelah jejakku pergi dari tempat itu. Orang tuaku datang, sejenak tak terlalu kaget melihatku pingsan. Tapi yang membuat mereka sakit penuh tanda tanya. Anak gadisnya ini tak henti – hentinya meneteskan air mata. Sejenak mereka pura – pura tidak tahu dan segera membawaku berobat. Dibiarkannya aku tidur tenang malam ini, tanpa mimpi.

Esok hari, Papa Mama tidak Suka


Fajar kembali menyingsing, menyingkirkan hari kemarin yang penuh sesak. Aku terbangun dengan muka kusut. Pikiran pun masih hampa, masih terbayang – bayang sesat di hari kemarin. Aku mencoba bersandar di dinding. Meruntuhkan segala perasaan manusia. Sedih senang susah gembira, kucoba menghapus. Beberapa detik aku terdiam, menangis. Oh, rupanya tak bisa menghadapi duka ini sendiri. Aku butuh orang tua. Ingin mendengar pendapat mereka tentang orang yang aku kasihi. Setuju atau tidak, suka atau tidak suka. Pasti aku menerimanya. Sungguh, baru detik itu ada keberanian untuk mengungkapkannya.

Tanpa disangka – sangka, mama menghampiriku. Berbasa – basi. Sekedar bertanya, “Nak, ada masalah apa kamu kemarin? Ceritalah, mama tak bisa dibohongi”, tuturnya dalam bahasa Jawa. Sahaya hanya terdiam lama, menangis lagi, malu, dan terbujur kaku di tempat. “Tak apa – apa ceritalah, kau sudah dewasa, aku tak akan marah, segenting apapun masalah itu. Apakah ini soal teman, jurnalistik, organisasi, atau masalah laki – laki”, tambahnya. Sontak ekspresiku makin beku.

Beberapa detik aku menjawab, “iya ma masalah laki – laki, aku..aku.. kemarin bertengkar sama dia. Aku sayang sama dia. Aku akan tunjukkan pada mama, terserah mama setuju atau tidak…aku terima”.

Mama mendesah panjang lalu berkata “nak, belum – belum kau sudah bertengkar dengannya? Yang namanya jodoh, tak pernah bertengkar hebat bahkan saat mereka pacaran. Tak perlu kau tunjukkan dia padaku, coba ceritakan tentang dia.”

“dia seorang dari B, dan menjalani studi di fakultas T. aku tak tahu ma harus mulai darimana. Yang jelas, dia seorang yang sifatnya tak jauh – jauh dari sifatku, keras. Ibunya seorang sama seperti mama,guru. Ayahnya jatuh sakit, kakaknya sudah bekerja tetap, angkatan laut. Sedang dia…dia..dia sendiri…ehm….”

“kenapa berhenti nia? Dia seorang yang pemalas? Masuk kuliah pun jarang? Apalagi mengerjakan tugas – tugas kuliah, pasti tidak, benar kan?
“iya ma…tapi dia pernah berjanji padaku ‘jika aku bersamanya aku tak mungkin tak punya uang, meskipun pas – pasan’, lalu dia juga bilang kalau dia mau berubah. Aku pun bersamanya karena aku ingin memperbaiki dia..”

“Nia, seorang laki – laki yang baik, tidak akan pernah berani menjajikan sesuatu yang memang belum dia pegang, jangankan dipegang, ulet saja dia tidak. Hanya pembual yang berani menjajikan seperti itu. Dan untuk masalah memperbaiki, sudah! Tak perlu kau teruskan. Sikapnya tak akan pernah berubah, siapa yang berani menjamin kalau nantinya kamu juga ikut terseret dalam kerusakan yang dibuatnya?” aku tahu niatmu baik nak, mama tidak marah. Tapi aku benar – benar tidak mau jika kau memilihnya.”

“iya ma maaf. Tapi bagaimana mama bisa menyimpulkannya begitu detail sedangkan mama sendiri tak pernah bertemu dengannya?”

“Asal kau tau, aku bukan seorang ibu yang berumur 20 tahun, usiaku sudah empat puluh tahunan. Mama tak perlu pendekatan untuk mengenal sifat – sifatnya. Mama sudah tahu seisi kehidupan sosial seumuranmu, apalagi aku sudah cukup jeli sebagai bimbingan konseling, aku tahu urusan kejiwaan nia. Makanya dari sedikit penjelasanmu tadi, aku bisa lihat pedalaman jiwanya.
“heem, aku tak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Mama – lah yang negesin ke dia, aku bawa dia kesini ya?

“Hey, untuk apa mama yang berbicara? Justru mama yang salah. Sekarang begini, anggap saja dia barang yang sudah dibuang, maka tak patut kamu ambil lagi, anggap hilang. Aku benar – benar tak sudi. Seandainya kau menikah dengannya, barang seminggu saja, akan kuboyong kembali kau kerumah ini. Jika dia bertanya, jawab saja orang tua tak setuju dengannya, tak ada jaminan masa depan lelaki seperti itu, nak, percayalah kepadaku.”

“benar apa yang dikatakan mamamu, papa sudah banyak mengenal pemuda – pemuda yang ada di daerah B itu. rata – rata sifatnya sama. Pemabuk, pemalas, keras, dan tak mau bekerja keras. Sungguh merugi jika putri papa dapat laki – laki seperti itu.”

“Sekarang mama tanya, telah berapa janji yang telah dia buat untukmu? Pasti hanya sekedar omongan kosong, tanpa tindakan, benar kan?

“ya pa ma, sifatnya memang pernah seperti itu. Ada yang telah ditinggalkan, ada yang tetap hingga saat ini. Dia selama ini telah banyak berjanji kepadaku. Berjanji akan melakukan A, B, C, D, berjanji akan berubah. Tapi kenyataannya terbalik. Katanya proses, tapi proses itu pun kosong.”

“Ya sudah, bertobatlah. Terimalah laki – laki yang benar – benar kamu cintai, benar – benar baik, dan mapan secara jasmani rohani. Tolong jangan hilangkan kepercayaan orang tua.”

Pembicaraan yang telah aku singkat tersebut terjadi tanggal 12 Februari 2012 lalu. Sontak membuat seluruh nadi cintaku putus, rasa itu tiba – tiba hilang, aku tersadar kata – kata orang tuaku lebih berharga dan lebih benar daripada kalimat yang keluar dari manusia kosong. Tak pernah tersadar olehku bahwa selama ini waktuku terisi oleh seorang yang tak dapat dipercaya. Dengan kata – kata, tindakan, dan sikap yang kosong! Terkecuali mulutnya yang tak pernah kosong. Maaf untuk selamanya, kau sudah kuletakkan di tempat terjauh dari segalanya tentang hidupku.

4 komentar:

semua orang tua punya keinginan yang sama.

critanya mantap. terasa, cuman. kalo boleh saran, diskripsi di awal-awal dikurangi sedikit,
karena untuk org 'awam' kyk aku, baca sesuatu yang terlalu byk 'ngelantur' alias ndak lurus langsung pada cerita, lama-lama bosan. (akhrnya yang aku baca di awal-awal tdi cuma percakapannya aja)

tpi itu semua pendapat sekilas orang awam. jdi jng full di dengerin
oke :D

jika km menganggap seluruh tulisanmu itu benar adanya...aq hanya bsa menggelengkan kepala.dan mengucapkan selamat,qm telah meyakinkan bnyak org utk mempercayainya,karena jujur ku akui qm mempunyai bakat dlam bidang menulis...dan aku harap,kelak baik qm maupun mamamu,tdk cepat menilai seseorang dan mengejustnya apalgi meramalkan nasib dari org tersebut,karena jujur bsa kubilang,qm dan mamamu bukanlah seorg peramal yg baik..dan tdak ada satu org pun yg bsa meramalkan nasib dri seseorang,sberapapun hinanya org trsebut.aq ykin mamamu memang sngat pnglaman dlam hal ini,krena pengalamannya.yg sangat aq syangkan knapa setega itu qm mencritakan semua tentangku ke mamamu pda saat qm dlm kndisi labil dan sngat membenciku,bkan pda saat qm benar2 berkata sayang padaku..lagi2 q hanya bsa menggelengkan kepalaku..q hanya berharap smoga suatu saat q bsa membuktikan semua yg qm dan mamamu tduhkan padaku tdak benar..ternyata butuh waktu setahun utk mengatakan tidak kepadaku.dan slama setaun hanya ini yg dpat kau critakan tentangku..sungguh aku berterimakasih utk penilaianmu tentangku.

Geje Mlete : hehe,,iaa mif,,q buatnya lima jam berturut2 sih,,jadix lama2 g konsen. oke2 mksh ya sarannya. heh,,duk wong awam km mif!la wong dah jadi pengarang buku,,ajari yoo,,hehe

MAnusia Kosong : Terimakasih banyak komentarnya. aku seorang penulis, tentu harus bisa meyakinkan banyak orang kalu tulisanku memang layak dipercaya. Ya memang, bukan peramal! setidaknya orang tua hanya bisa mmeprediksi, menasehati, dan aku percaya mereka. Aku menceritakannya dalam keadaan aku masih sayang, tidak labil, dan emosi. toh aku tidak berani bercerita banyak, krn baru detik itu aku bisa bercerita masalah hati.mungkin hanya sekali setahun. maav selama ini telah merepotkan.

Poskan Komentar