Bolehkah Jika Wanita Tidak Memilih sebagai Emas?

♠ Posted by Aryni Ayu in at 06.11


Emas memang begitu berharga, namun jika itu membuat wanita serasa dipenjara dan tak punya kebebasan, bolehkah kita tidak usah memilih sebagai emas?

          
Semua tahu jika wanita itu selalu dan wajib untuk menjunjung tinggi kehormatan. Apalagi saat tata adat Jawa begitu eratnya mengatur pembawaan para wanita di depan publik, wanita seakan harus membuat tembok emasnya sendiri. Dari tata cara berpakaian, tingkah laku, hingga sosialisasi, semuanya diatur. Dan menurut aturan, semuanya tak boleh melewati batas. Jika pun terlewat, caci dan maki tak jarang harus ditanggung. Intinya, wanita itu emas, yang tak boleh disepuh sembarangan.

Ingatkah kita di suatu dulu mahluk yang disebut wanita ini tak boleh sedikit pun keluar bila malam telah tiba? Tak boleh berbicara atau bersifat terbuka kepada kaum laki – laki? Berpakaian menutupi aurat? Juga amat sangat ‘wajib’ menjaga wibawanya di depan masyarakat? Bukankah ini peraturan yang begitu harus ditakuti dan dihormati dibanding aturan – aturan lain sejagad raya ini? Sekiranya, wanita dianggap ‘sempurna’ yang tak boleh ‘tidak sempurna’. Adat tradisional ini, punya ‘sakti’- nya sendiri terhadap keluarga – keluarga yang menyebut dirinya ‘darah biru’. Bagi keluarga ini, sakralitas kesempurnaan wanita benar – benar dijunjung tinggi. Apabila memiliki mata, lihatlah kebaikan. Telinga, dengarlah untuk hal – hal baik. Mulut yang hanya untuk berdoa. Tangan, pergunakan untuk menolong orang lain, dan kaki yang tak boleh terlalu sering berkeliaran. Benar – benar emas!

Tak ada yang bisa menandingi emas, harganya mahal, kualitas maha baik, dan diminati banyak orang, seperti wanita. Namun disaat jaman menuju kebebasannya (global), wanita mulai berpikir “bolehkah aku sebebas kaum pria? Yang dapat tertawa terbahak – bahak tanpa menutupi mulutnya kalau – kalau seorang laki – laki memperhatikan. Berpakaian apa adanya, bersikap apa adanya, terbuka terhadap berbagai derasnya informasi. Bolehkah juga aku menirukan wanita bebas yang tak peduli bagaimana pendapat orang terhadapku?”

Semalam, wanita – wanita yang penulis temui di diskotik juga bersikap apa adanya. Meski pakaian mereka serba ‘mini’, make up bertebaran di muka, asap rokok mengepul dari mulut, dan bau alkohol keluar dari napasnya, namun sikap mereka baik. Tak ada tanda – tanda bahwa mereka penjahat, penggosip, ataupun wanita yang suka mencampuri urusan orang lain. Dari segi sosial, mereka memang terlihat tidak sempurna, bukan seperti emas. Berbeda dengan wanita – wanita dari keluarga berdarah biru yang ‘mungkin’ sempurna. Tak pernah berkeliaran saat malam, selalu menjaga wibawa di depan laki – laki baik dalam bentu ‘diam’ ataupun mereka cerdas, tidak terbuka terhadap derasnya arus informasi, kadang cenderung konservatif, dan orang kebanyakan menganggap diri mereka emas! Namun benarkah mereka lebih baik dari wanita – wanita yang ada di diskotik itu? Apakah sikap mereka sebagai pribadi begitu sempurna seperti penampilannya? Nobody knows!

Tak jarang wanita – wanita ‘sempurna’ itu bersikap ‘tak sempurna’ di belakang orang lain, kadang juga menunjuk wanita ‘tak sempurna’ sebagai pribadi ‘tercela’ tanpa tahu cela dalam dirinya sendiri. 

Wanita modern, sebagian dari mereka sudah tidak peduli dengan ‘apa kata orang lain’ juga tak peduli dirinya emas atau tidak. Mereka bekerja untuk masa depan yang cerah, tanpa tahu bahwa harusnya laki – laki lah yang bekerja, menjadi nomor satu. Namun mereka tetap tidak peduli! Yang terpenting bagi wanita – wanita itu adalah jati diri, bagaimana hidup diatur oleh diri kita sendiri, bukan orang lain! Emas memang begitu berharga, namun jika itu membuat wanita serasa dipenjara dan tak punya kebebasan, bolehkah kita tidak usah memilih sebagai emas? 

2 komentar:

Menurut aku wanita memang seharusnya bisa bebas memilih mana yang menurut dia adalah pilihan terbaik, toh kalau memang salah nanti dia juga menyadari pada saatnya. Tapi di sisi lain baik wanita maupun pria pastinya ingin menjaga kehormatan keluarga sehingga dalam kebebasan itu harus benar2 diperhatikan plus minus dari berbagai sisi, tidak hanya dari ego individu itu sendiri...

Ya itulah gunanya manusia memilih, ingin bebas apa sempurna?
karena semuanya sama2 memiliki resiko.
artikel ini masih lanjut, sampai ada jawaban yang benar2 pas..:)
makasih masukannya..

Poskan Komentar