Thinking Out The Box

♠ Posted by Aryni Ayu in , at 08.08


Itulah sebabnya mengapa para ilmuwan, seniman, ataupun para pemikir besar sangat sedikit jumlahnya jika dibandingkan manusia umum di bumi ini. Karena mereka berpikir diluar kotak

Rutinitas hanya membuat kita jatuh ke liang lahat, dan ‘tak terduga’ akan mendorong kita untuk bangkit dari liang lahat

            Pernahkah Anda merasa nyaman – nyaman saja dengan kehidupan Anda? Seberapa sering tantangan yang Anda hadapi setiap harinya? Atau Anda adalah orang yang sering mengistirahatkan otak?

            Seorang desainer iklan rokok menghias kata – kata promosinya melalui “Thinking out the box”, belajarlah berpikir diluar kebiasaan. Iklan yang dibuat pun luar biasa bagusnya. Kreativitasnya benar – benar diluar kebiasaan, mengingat rokok yang harus terjual seluas – luasnya ditengah sempitnya peraturan merokok. Apakah Anda pernah melihat seorang Lady Gaga tampil normal? Albert Einsten yang dikira gila pada masa mudanya karena berpikir berbeda dari orang – orang sekitar? Atau Raden Ajeng Kartini yang bukan saja awalnya diremehkan oleh kaum lelaki tapi juga oleh elit Belanda karena keberaniannya menentang kebiasaan ‘wanita adalah posisi nomor dua’. Orang – orang seperti mereka sangat jarang kita temui di masyarakat umum. Pemikiran mereka bertentangan dengan aturan – aturan umum manusia. Itulah sebabnya mengapa para ilmuwan, seniman, ataupun para pemikir besar sangat sedikit jumlahnya jika dibandingkan manusia umum di bumi ini. Karena mereka berpikir diluar kotak.

            Definitifnya, berpikir diluar kotak (thinking out the box) adalah momen dimana manusia mampu mengandalkan otaknya untuk berpikir bertindak diluar batas kewajaran, tidak umum, dan cenderung melawan arus. Prinsip thinking out the box dapat saja dimiliki oleh semua manusia, tentu dengan beberapa syarat. Pertama, taking risk! Seorang yang berani mengambil resiko, biasanya orang – orang pemberani yang menyanggupi segala konsekuensi di depannya. Jika Anda berkata “saya akan selesaikan sisa 120 halaman ini besok pagi kepada seorang editor”, seorang guru sejarah yang berkata pada murid  muridnya “meski jam pengajaran terbatas, tapi besok Ibu akan membawakan veteran untuk menceritakan kisah historisnya, agar kalian mengerti pentingnya nilai sejarah”. Maka, merekalah yang akan berani membuat perubahan.

            Kedua, Open Mind! Bandingkan antara seorang kolot yang tidak mau mendengar apa kata orang dengan seorang kreatif yang selalu menjadi pendengar baik saat orang lain mengkritiknya. Bayangkan ketika mereka dihadapkan pada pada sebuah proyek besar yang sama. Mana diantara mereka yang lebih disukai klien? Mana dari mereka yang mampu beradaptasi dengan kegagalan yang mungkin saja terjadi? Tentu seorang yang kreatif. Dia adalah orang yang memiliki pemikiran terbuka, mau mendengar apa kata orang lain, dan cenderung menutup telinganya saat telah menemukan jawaban atas permasalahan. Orang – orang berpemikiran terbuka, akan cenderung berpikir kearah perubahan, kearah mana dunia yang dia miliki akan diarahkan, dan seberapa besar pengaruhnya untuk perubahan orang lain. Permikian terbuka, mendorong pikiran ke arah tak terbatas.

            Ketiga, jauhi rutinitas! Pernahkah Anda merasa bosan melakukan hal – hal yang sama setiap harinya? Bangun tidur, makan, mengirim email kepada bos, berangkat kerja, pulang kerja, dan tidur lagi. Tak bisakah jika kita sedikit mengisinya dengan pemikiran dan tindakan tak biasa? Bangun tidur, membeli coffe agar tak mengantuk, berangkat kerja, memberi ide – ide cemerlang kepada bos sekaligus mengkritik tindakannya yang mungkin tak sesuai dengan pemikiran kita, kemudian pulang kerja yang tak langsung pulang untuk mengikuti grup ‘pemberi nasi’ bagi orang – orang miskin di kota (di jakarta contohnya). Barulah kita boleh beristirahat lima jam agar badan kembali bugar. Rutinitas hanya membuat kita jatuh ke liang lahat, dan ‘tak terduga’ akan mendorong kita untuk bangkit dari liang lahat.

            Dengan memenuhi prasayarat tersebut, kita sudah punya modal untuk berpikir diluar kotak, diluar batasan. Memang, orang yang berbeda dari lainnya akan cenderung ‘dikucilkan (bullying)’ dari lingkungan sekitarnya, dan tak jarang hanya memiliki sedikit teman, karena mereka dianggap mengganggu. Namun orang – orang yang cenderung berpikir menggunakan otak kanan ini adalah orang – orang acak, kreatif, dan penuh inovasi. Jadi wajar – wajar saja jika mereka nantinya akan sukses dengan cara yang luar biasa. Karena thinking out the box akan mengajarkan manusia bagaimana cara mengguncang dunia. Ilmuwan, seniman, artis, inovator, penulis, adalah salah satu dari mereka, apakah Anda tertarik?

0 komentar:

Poskan Komentar