Seribu Kata untuk Gejolak Mesir

♠ Posted by Aryni Ayu in at 05.08

Ingatkah Anda dengan peradaban tinggi Mesir? Negeri Seribu Menara yang melegenda, dan menjadi kunci peradaban – peradaban maju dunia itu kini sedang bergejolak. Kisah panjang tentang hegemoni Fir’aun yang sangat fenomenal dimasa perkembangan peradaban dunia seperti Yunani dan Romawi, tentang sifat Fir’aun yang begitu durhaka dimata relejiusme islam akibat dari kekejamannya kepada rakyat, rupanya tengah terulang kembali dimasa modern ini. Gejolak rakyat yang semakin tidak puas dengan rezim Husni Mubarak kian menjadi – jadi. Huru – hara pun semakin mencuat diberabgai kalangan masyarakat. Tapi siapa itu Husni Mubarak?Apakah dia seorang Fir’aun versi modern? Simpan dulu pertanyaan tersebut, karena bernostalgia tentang negeri Fir’aun akan menjelaskan secara berkesinambungan bahkan hingga seribu kata tentang mengapa dan bagaimana gejolak yang kian mencuat tersebut dapat terjadi.
Bentuk pemerintahan monarkhi menjadi pemerintahan republik yang disandang oleh Mesir pada 30 Juli 1952 sebagai lonceng tanda dimulainya revolusi Mesir setelah jatuhnya pemerintahan Raja Faruk, rupanya secara estafet dari generasi ke generasi masih terlihat cerminan pemerintahan Fir’aun didalam prosesnya. Terbukti dengan berkuasanya suatu rezim yang berakhir secara tidak wajar. Penggulingan sebuah kekuasaan seakan – akan telah menjadi tradisi dalam pemerintahan Mesir. Tradisi tersebut dapat dicermati saat pemerintahan Presiden Gamal Abul masih berkuasa yang diakhir kekuasaannya, secara paksa ia digulingkan oleh rakyatnya sendiri. Salah satu factor penyebabnya disinyalir akibat adanya sikap pro pemerintah terhadap kekuasaan Israel dan Amerika Serikat. Tidak berhenti sampai disitu saja, saat pemerintahan Anwar Sadat sebagai generasi dari presiden Gamal abul sedang berlangsung, iapun berakhir secara tragis. Saat upacara Peringatan Angkatan Darat Mesir berlangsung pada 6 Oktober 1981, yang didalamnya juga dihadiri oleh Anwar Sadat. Seorang perwira bernama Khalid Islambuli dilaporkan turun dari iring – iringan militer yang sedang berpatisipasi dalam acara tersebut, dan memborondong Presiden Anwar Sadat secara membabi buta. Kejadian tersebut secara fenomenal menorehkan kesan yang begitu negative di mata masyarakat tentang bobroknya keamanan terhadap presiden sehingga membuat kekuasaan yang ada bergeser ketangan seorang dictator, yakni Presiden Husni Mubarak pada tahun 1981, tepat setelah insiden penembakan tersebut terjadi. Dengan notabene bahwa pada tanggal 2 Juni 1995 Presiden Husni pun pernah mengalami percobaan penembakan saat berada di bandara. Sedikit ulasan mengenai histori dari perjalanan para pemimpin Mesir telah menunjukkan bahwa kekuasaan yang terjadi di Negeri Seribu Menara itu muncul dengan tidak berdasar pada suara pilihan rakyat atau pemilu. Melainkan muncul sebagai akibat dari penggulingan kekuasaan, peristiwa penembakan sehingga masa transisi kekuasaan yang terjadi tak pernah lepas dari pertumpahan darah. Begitu juga dengan pemerintahan Husni Mubarak yang akhir – akhir ini memicu kemarahan rakyat bahkan pemberitaan tanggal 3 Februari 2011 mengabarkan bahwa kekacauan politik atas sikap pro dan kontra terhadap pemerintahan Mubarak hingga saat ini telah membuahkan pertumpahan darah yang pada akhirnya dapat menurunkan stabilitas nasional termasuk perekonomian rakyat. Tradisi pertumpahan darah yang terjadi dalam perjalanan pemerintahan Mesir tak lepas sebab – sebab kediktatoran pemimpinnya yang berimbas terhadap jauhnya kesenjangan antara kesejahteraan pemerintahan dengan rakyatnya.
Mungkin kita akan mengerutkan dahi setelah mengetahui sebuah fakta bahwa pendapatan seorang presiden Mesir berumur 83 tahun itu jauh lebih besar dari gaji presiden Barrack Obama yang bernominal sekitar …(dalam ribuan $) dengan tingkat kesejahteraan dua negara yang sangat jauh berbeda. Pendapatan yang diterima oleh Presiden Husni Mubarak tersebut senilai 360 Triliun jika dirupiahkan, 28 kali lipat lebih besar dari pendapatan perkapita penduduknya. Ditambah lagi dengan kondisi 40% penduduknya yang masih berada dibawah garis kemiskinan, 15% diantaranya adalah pengangguran. Mengapa dngan kondisi yang sangat memprihatinkan seperti itu, kekayaan presiden justru semakin melambung tinggi? Tentunya ada banyak spekulasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun banyak menspekulasikan bahwa pemerintah menumpuk kekayaannya sendiri ditengah kemiskinan rakyat yang tak kian meretas. Nampaknya spekulasi dan fakta – fakta semacam ini sangat mirip dengan pemerintahan Orde Baru kita dulu. Dimana mantan presiden kita saat itu tengah sibuk memperbanyak nominal angka kekayaannya, sedangkan didekatnya masih banyak rakyat yang belum meretas dari angka kemiskinan dan korupsipun nampaknya turut berpesta pora saat Orde Baru berkuasa. Namun rezim Orba pun berhasil ditumbangkan oleh para demontsran mahasiswa pada 13 tahun yang lalu. Penggulingan kekuasaan rezim Soeharto pun mengalami kesuksesan diiringi dengan adanya dampak yang sungguh besar terhadap keluarga korban demonstrasi yang hingga kini “entah” bagaimana penyelesaiannya. Akankah pemerintahan Husni Mubarak berakhir seperti pemerintahan Era Orde Baru? Simpan dulu tanda tanya itu karena memantau perkembangan terbaru mengenai gejolak di Mesir, akan membawa kita berspekulasi tentang bagaimana akhir dari sebuah rezim Husni Mubarak.
Kerumunan massa berjumlah lebih dari 2 juta jiwa dengan hiruk pikuk suasana yang penuh dengan bunyi – bunyi teriakan, ledakan bom molotove, serta tembakan dari pihak militer, adalah sekilas ilustrasi tentang bagaimana para demonstran tersebut menuntut presiden Husni Mubarak unutk mundur. Unjuk rasa yang biasanya dilakukan secara kecil – kecilan oleh para mahasiswa Al Ahzar akibat tekanan pemerintah Mubarak, bahkan ada istilah “Jangan berbicara sembarangan, bahkan tembok pun mendengar” itu kini tak lagi berlaku bagi rakyat Mesir.
Angin yang berhembus dari Revolusi Tunisia rupanya mampu membuat rakyat Mesir bangkit utnuk merobohkan kekuasaan yang bahkan kuat sekalipun. Perut – perut mereka mulai lapar akibat dari kemiskinan dan pengangguran yang selama 3 dekade ini dikuasai Rezim Mubarak justru semakin meningkat. Sungguh sebuah aksi besar yang pernah terjadi di Mesir hingga mampu mencengangkan dunia internasional, karena selama ini Mesir nyaris tak pernah tersorot oleh pemberitaan dunia tentang kediktatoran pemimpinnya. Meskipun dubes Mesir di Indonesia, Ahmadil Kewainsky, mengatakan bahwa Mesir akan lebih demokratis dan pemerintah akan lebih mendengarkan demo rakyat. Tapia pa faktanya?hingga saat ini keadaan Mesir semakin memburuk. Para pendemonstran yang semula hanya terdiri orang – orang kontra anti – pemerintah, kini bertambah menjadi sebuah massa yang pro terhadap pemerintah dan keduanya pun mengalami bentrokan, seperti yang terjadi di Tahrir. Persenjataan lengkap yang dimiliki oleh massa pro pemerintah seperti bom Molotov, senjata api, disinyalir sebagai massa bayaran dan pihak militer yang ada dibawah kekuasaan pemerintah untuk mematikan massa anti – pemerintah.
Dilain pihak, pemerintah juga sempat memutus jejaring sosial yang ada di negeri tersebut. Hal ini tentu saja membuat kemarahan rakyat semakin mendalam terhadap pemerintah, yang kita tahu 80% dari lapisan masyarakat itu adalah pemuda – pemudi Mesir yang menjadikan jejaring sosial sebagai media untuk mengkritisi, dan mengabarkan kepada dunia serta menumpahkan luapan hati mereka terhadap keadaan negeri Fir’aun yang selama ini terbelenggu oleh demam kediktatoran. Ditambah lagi dengan keputusan Husni Mubarak yang masih ingin memangku jabatannya sebagai presiden. Semua hal – hal tersebut tentu saja berimbas pada rakyat, yang hingga detik ini mereka sudah tidak mengenal lagi lawan dan kawannya. Salah satunya terbukti dengan adanya serangan para demonstran terhadap iring – iringan ambulans yang digunakan untuk pengobatan korban pertikaian. Meskipun Presiden Barrack Obama terlah bersuara, Sekjen PBB, bahkan Uni Eropa pun telah memberi dukungan terhadap reformasi Mesir. Namun nampaknya, sedikitpun rakyat tidak merespon kabar baik tersebut, terkecuali jika..Husni Mubarak berikrar mundur dari jabatannya, segera merombak sistem pemerintahan dengan jalan pengadaan pemilu, dan mnenetapkan wapres didalam tradisi pemerintahan. Maka, Revolusi Mesir yang sesungguhnya akan Berjalan!

4 komentar:

oKe2,,mksh..
BAca ArtiKel yg lain y..

bagus.......hurufnya besarin dikit so yang baca ben ra ngelu.............ben ra dadi moco semut.....gimana lo gambar di perbanyak....di tengah2 atau antar paragraf di kasih gambar ben tambah well......n menarik........

Oke mz berez,,,
maklum msH belajar2,,,
oyiii2,,tengkyul..

Poskan Komentar