TEORI KELAS

♠ Posted by Aryni Ayu at 03.01
Pendahuluan

Mempelajari Marxisme bukan hal yang mudah, disamping materinya banyak juga pembahasannya sangat mendalam. Saya mencoba untuk menuliskan tema-tema penting dalam teori Marxisme secara bersambung. Dengan harapan bisa menambah pengetahuan dan mengajak kawan-kawan semua untuk ikut berdebat aktif, saling berpolemik dan mengembangkan budaya kritik. Tak ada suatu kebenaran hakiki, tanpa didahului dengan perdebatan.

Seperti kita ketahui dalam ajaran Marxisme bersumber dari tiga bagian, namun untuk mempersempit pembahasan tema dan agar lebih intensif dalam mempelajari secara kronologis, maka sebaiknya dimulai dengan pembahasan tentang filsafat klasik jerman.

Pada abad ke 19, Inggris sudah menjadi negara Industri, Perancis berpengalaman dengan revolusi Perancis (1789), Jerman pada waktu itu masih dalam bentuk negara yang terpecah-pecah menjadi beberapa wilayah dan kota kecil. Namun di Jerman tumbuh pemikiran intelektual yang kritis, yang dikenal dengan kelompok Hegel muda (Junghegelianer[1]), yang sebelumnya terdapat pemikiran Immanuel Kant dalam idealisme spekulatif, serta utamanya pemikiran Hegel tentang hakekat kehidupan individu, yang dikembangkan oleh Marx menjadi sebuah ide yang realistis. Kelompok Hegel muda mulai merombak kesadaran dengan mengkritik pada agama, yang diibaratkan sebagai “Khayalan Kebahagiaan Rakyat” untuk menuju pada “Kebahagiaan yang sesungguhnya”). Menyikapi perubahan pada filsafat Feuerbach, bahwa kritik adalah sebuah pegangan awal: Watak ketuhanan hanyalah sebagai pakaian, watak manusia yang asing, yang sesungguhnya tak terletak pada jiwanya, tapi tertanam pada inti kehidupan. Jelas disini mulai merambah dari dunia “idealisme” menuju dunia “materialisme”. Tapi Marx tidak diam dalam pemikiran Materialisme abad ke 18, Marx terus mengembangkannya pemikiran filsafat itu. “Realisasi filsafat adalah tak ada bedanya dengan pengetahuan sejarah” (Marx/Engels). Dalam tesa ini teori masyarakat pada sejarah materialisme mulai di kembangkan dengan arah menuju sosialisme. “Filsafat tak dapat di realisasikan, tanpa mengangkat Proletariat, Proletariat tak bisa diangkat tanpa realisasi dari filsafat” (Karl Marx 1844).

Dialektika Materialisme:

Untuk mencari definisi yang jelas dari dialektika materialisme tidaklah mudah. Banyak tafsiran yang masih kabur.

Apakah Materialisme?

Marx menganggap sebagai sebuah “mekanis/seperti mesin” dan dikembangkan menuju “dialektika”. Dengan materialisme dia hubungkan dengan ilmu fisik klasik, namun tidak dibawa ke arah jembatan yang logis dari fisik ke filsafat, melainkan ke wilayah filsafat sejarah dan negara. Hobbes sudah mencobanya dengan sedikit hasil, dari ilmu fisik ke biologi, lalu ke psikologi sehingga mencapai pada teori politik. Filsafat materialisme adalah sebuah ajaran dari alam benda yang tetap tinggal mendekati fisik. Materialisme dalam etik atau sejarah materialisme, semata dimaksudkan sebagai materialisme saja. Kata materialisme mempunyai banyak arti. Dasar dari materialisme adalah materi sebagai salah satu realitas objektif, yang berdiri di luar dan tidak tergantung dari kesadaran manusia. Kesadaran sendiri, inti penemuan dan persepsi sedikit banyak loyal pada realitas objektif. Materi akhirnya sebagai hal primer, pokok, kesadaran sekunder di singkirkan. Materialisme adalah pengakuan objek a sich, atau di luar jiwa; sedang ide dan penemuan hanyalah sebuah tiruan atau salinan objek-objek. Materialisme arti selanjutnya bukanlah pandangan dunia, sejarah dan alam yang nyata, seperti keberadaannya tanpa keanehan idealis di dalamnya, alam dan masyarakat dalam keterkaitannya, dan bukan pada fantasinya. (Marx/Engels). Materialisme berkembang melawan idealisme dengan merujuk perkembangan ilmu pengetahuan dan perjuangan kelas.

Dialektika materialisme berakar dari filsafat Hegel. Sebuah perkembangan dialektika yang mengacu pada sebuah kontradiksi. Yang terus maju dalam jenis dialog, dari sini nama dialektika berasal. Pertama, kita taruh saja satu kalimat, yang disebut “tesa”; yang kemudian di jawab dengan lawannya dengan “anti-tesa”, terjadi sebuah kontradiksi; dalam beberapa perkembangan diskusi akhirnya menghasilkan “sintesa”, sehingga kontradiksi telah terjawabkan. Tesa dan anti-tesa walaupun mereka saling bermusuhan, tetap saja menjadi satu: mereka membentuk lawan parnernya. Hegel menganggap dalam ritme dialektika, hukum berkembang untuk mengetahui sejarah dunia. Baginya sejarah dunia sama artinya dengan sejarah ide. Seorang pantheis/pengikut ketuhanan menganggap “Jiwa Dunia” bermanifestasi ke dalam ide, yang perlahan-lahan menapaki ke dalam sejarah. Mereka menukar seperti dalam dialog: pertama tesa, kemudian anti-tesa, akhirnya sintesa. Marx mengatakan; “metode dialektika saya tidak hanya berbeda dengan Hegel, tapi justru kebalikkannya. Hegel merujuk pada peristiwa kehidupan otak manusia, maksudnya “proses berpikir” di bawah simbol “ide”, bahkan kadang mengarah sangat subjektif, dunia nyata ada di luar, dalam bentuk fenomena “ide”. Bagi saya bertolak belakang, ide tidak lain sebagai reflek jiwa manusia dan dalam bentuk pemikiran yang diterjemahkan menjadi dunia materi”. Dari sudut pandang Hegel, mistik jiwa dunia dan idealisme tak bisa dialihkan sama sekali ke dalam ajaran materialisme. Marx beranggapan; pandangan dari “materialisme mekanik” dari Hegel itu salah dan cenderung kepartaian; satu satunya bentuk yang benar dalam Materialisme adalah dialektik.

Teori Kelas

Kelas sosial atau golongan sosial merujuk kepada perbedaan hierarkis (atau stratifikasi) antara insan atau kelompok manusia dalam masyarakat atau budaya. Biasanya kebanyakan masyarakat memiliki golongan sosial, namun tidak semua masyarakat memiliki jenis-jenis kategori golongan sosial yang sama. Berdasarkan karakteristik stratifikasi sosial, dapat kita temukan beberapa pembagian kelas atau golongan dalam masyarakat. Beberapa masyarakat tradisional pemburu-pengumpul, tidak memiliki golongan sosial dan seringkali tidak memiliki pemimpin tetap pula. Oleh karena itu masyarakat seperti ini menghindari stratifikasi sosial.. Dalam masyarakat seperti ini, semua orang biasanya mengerjakan aktivitas yang sama dan tidak ada pembagian pekerjaan.

Saya uraikan sedikit mengenai gambaran kehidupan pada masyarakat Romawi. Ketika para penguasa Romawi pertama kali memperkenalkan istilah kelas (classis) untuk membagi penduduk ke dalam kelompok - kelompok pembayaran pajak, mereka tidak membayangkan akibat lanjut dari kategorisasi demikian. Kategori yang mereka buat setidaknya mengandung perbedaan penilaian terhadap penduduk. Di satu pihak adalah assidui[2], yakni orang yang termasuk ke dalam 100.000 penduduk yang mereka hormati; di lain pihak adalah proletarii, yakni orang yang memeiliki kekayaan yang terdiri dari sejumlah anak cucu (proles) dan yang menang atas lumpenproletariat, hanya karena dihitung menurut jumlah kepala (capita censi) mereka belaka. Seperti istilah golongan pendapatan orang Amerika, walau semula tak lebih dari sekedar kategori statistik, namun menyentuh sebagian besar persoalan peka mengenai ketimpangan sosial; begitu pula kelas-kelas Romawi kuno, membagi-bagi penduduk lebih dari sekedar unit-unit statistika belaka. Jika anak-anak muda itu mengatakan sebuah film itu hebat, itu berarti termasuk film kelas utama atau kelas tinggi. Begitu pula jika dikatakan: orang Romawi adalah classis atau classicus, itu berarti bahwa ia termasuk ke dalam kelas utama atau kelas tinggi, kecuali jika secara explisit ia dinyatakan sebagai orang dari kelas ke lima atau proletar.

Dalam makna istilah kelas dapat ditemukan di semua bahasa-bahasa Eropa di penghujung abad ke-18. di abad ke-19, konsep kelas secara bertahap memperoleh corak yang makin pasti. Adam Smith telah berbicara mengenai “si miskin” atau “kelas pekerja”. Di dalam karya Ricardo dan Ure, Saint Simon dan Fourier, dan tentu saja di dalam karya Marx dan Engels, “kelas kapitalis” muncul di sepanjang “kelas pekerja”, “kelas si kaya” di samping “kelas si miskin”, “kelas borjuis” disamping “kelas proleratiat” (yang telah menyertai semua konsep kelas yang yang semula berasal dari Romawi). Sejak konsep kelas khusus in diterapkan petama kali di abad ke-19, sejarah konsep ini telah menjadi sangat pentingnya dalam masyarakat yang dibentuknya.

Kesulitan pertama yang langsung kita hadapi ketika membahas mengenai kelas sosial dari pandangan Karl Marx adalah bahwa, meskipun Marx sering berbicara tentang kelas - kelas sosial, ia tidak pernah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan istilah “kelas”. Seakan - akan arti kata itu sudah jelas dengan sendirinya. Pada umumnya, mengikuti sebuah definisi Lenin, kelas sosial dianggap sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang dtentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. Itupun belum jelas seratus persen. Apakah para cendikiawan merupakan sebuah kelas tersendiri (pada umumnya disangkal oleh kaum marxis)? Bagaimana halnya golongan pegawai negeri baik sipil maupun militer. Mahasiswa dianggap bukan kelas sosial. Lalu mereka itu apa? Begitu pula tidak jelas apakah kelas merupakan kenyataan selama seluruh sejarah. Apakah dalam semua kebudayaan pasca primitif terdapat kelas sosial? Pertanyaan ini pada umumnya dibenarkan, terutama karena kalimat termasyhur pada permulaan manifesto komunis: “Sejarah semua masyarakat yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas”. Tetapi dalam tulisan Marx ada juga indikasi bahwa, bertentangan dengan hal itu, kelas sosial merupakan gejala khas masyarakat pascafeodal, sedangkan golongan sosial dalam masyarakat feodal dan kuno lebih tepat disebut “kasta”.

Dasar anggapan kedua adalah bahwa bagi Marx sebuah kelas baru dianggap kelas dalam arit sebenarnya, apabila dia bukan hanya secara objektif merupakan golongan sosial dengan kepentingan tersendiri, melainkan juga secara subjektif menyadari diri sebagai kelas, sebagai golongan khusus dalam masyarakat yang mempunyai kepentingan-kepentingan spesifik serta mau memperjuangkannya. Dalam arti ini hanya kelas buruh industri[3] yang merupakan kelas dalam arti yang sebenarnya, dan meskipun kurang tajam juga borjuis (dan pada akhir abad ke 20 juga kum tani di negeri industri maju yang barangkali merupakan kelas sosial paling militan dalam masyarakat mereka).

Ada beberapa unsur dalam teori kelas Karl Marx yang perlu diperhatikan. Pertama, tampak betapa besarnya peran segi struktural dibandingkan segi kesadaran dan moralitas. Pertentangan antar buruh dengan majikan bersifat objektif karena berdasarkan kepentingan objektif yang didasarkan kedudukan mereka masing-masing dalam proses produksi. Kedua, karena kepentingan kelas pemilik dengan kelas buruh secara objektif bertentangan, mereka juga akan mengambil sikap dasar yang berbeda terhadap perubahan sosial. Kelas pemilik, dan kelas-kelas atas pada umumnya mesti bersikap konserfatif, sedangkan kelas buruh, dan kelas-kelas bawah pada umumnya, akan besikap progresif dan revolusioner. Ketiga, dengan demikian menjadi jelas mengapa bagi Marx setiap kemajuan dalam susunan masyarakat hanya dapat tercapai melalui revolusi. Begitu kepentingan kelas bawah yang sudah lama ditindas mendapat angin, kekuasaan kelas penindas mesti dilawan dan digulingkan. Apabila kelas bawah bertambah kuat, kepentingannya pun akan mengalahkan kepentingan kelas atas, jadi akan mengubah ketergantungan dari pada pemilik dan itu berarti membongkar kekuasaan kelas atas.

Di dalam teori kelas Karl Marx ketiga dasar-dasar pemikirannya dihubungkan. Marx mengambil istilah kelas dari ahli ekonomi politik, penerapannya pada kapitalis dan proletariat berasal dari pemikiran sosial utopis perancis, konsep perjuangan kelasnya didasarkan atas dialektika Hegel. Teori kelas menetapkan hubungan problematis antara analisa sosiologis dan pemikiran filosofi di dalam karya Marx. Keduanya dapat dipisahkan dan harus dipisahkan, tetapi dalam proses pemisahan ini, teori kelas dipotong menjadi dua bagian, sebab teori kelas itu selain sebagai dasar bagi filsaat sejarah Marx, adalah juga sebagai peralatan analisisnya tentang dinamika masyarakat kapitalis[4].

Contoh Kasus yang berhubungan dengan Teori Kelas

Istilah proletariat di Indonesia seringkali diganti dengan kata ‘buruh’ (seperti dalam kalimat: “kediktatoran proletariat” diganti dengan “kediktatoran buruh”). Di Indonesia, kata ‘buruh’ di pikiran sebagian besar masyarakat di Indonesia seringkali hanya berarti ‘pekerja industri kerah biru[5]‘; yang dengan demikian terminologi tersebut justru mengalienasikan dan mereduksi makna proletariat itu sendiri (dalam kenyataannya pekerja kerah putih tidak mau mendefinisikan dirinya sebagai buruh). Hal ini sebenarnya digunakan untuk memecah kesadaran dan solidaritas yang dapat muncul apabila seluruh proletariat menyadari persamaan diri mereka semua sebagai sebuah kelas-satu-satunya kelas yang mampu mengubah arah sejarah. Dalam era masuknya ideologi Marxisme di Indonesia, para Marxis menggunakan terminologi ‘buruh’ untuk mendefinisikan proletariat dan “pemerintahan buruh tani” sebagai sebuah kediktatoran proletariat. Pada masa tersebut, proletariat di Indonesia yang terkuat dan menjadi basis massa perjuangan mereka adalah para pekerja paling rendah secara hirarki sosial di era kolonialisasi Belanda dan Jepang, karena hanya mereka yang paling signifikan untuk bangkit disebabkan oleh penindasan dan kemiskinan yang ekstrim. Tapi sejalan dengan perkembangan sistem kapitalisme internasional menjadi sistem kapitalisme lanjut, yang walaupun masih memegang pola dasar operasi kapitalisme lama, ia mengubah berbagai bentuk kerja dari awalnya yang sekedar kerja industri, menjadi bentuk-bentuk kerja dalam bentuk layanan jasa dan kerja abstrak (kerja dengan menekankan pada kemampuan otak dan kreatifitas, bukan lagi fisik) sebagai salah satu garda depan invasi mereka. Pemerintahan Suharto dengan jeli melihat hal ini dan mempopulerkan terminologi ‘pekerja’ atau ‘karyawan’ untuk menghapuskan dan memecah definisi ‘buruh’ yang dipopulerkan oleh gerakan Marxis sebelumnya.

Sementara di sisi lain, Suharto, dengan Menteri yang sangat anti-komunis Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dalam jajaran kabinetnya, mulai mempopulerkan terminologi ‘pekerja’ dan ‘karyawan’ bagi para pekerja layanan jasa dan kerah putih, serta ‘buruh’ bagi pekerja industri kerah biru. Hasilnya, para proletariat baru, yang mendefinisikan diri mereka berbeda dengan proletariat lainnya berdasarkan cara kerja mereka, upah dan kenyamanan material yang mereka peroleh, benar-benar mulai terpisah dari kesadaran akan kelasnya yang sesungguhnya. Memperhatikan bahwa terminologi ‘buruh’ kini hanya mendeskripsikan ‘pekerja industri kerah biru’ dan semakin mengalienasikan dan memecah kesadaran kelas proletariat, maka itu alasannya mengapa perlu ada batasan tegas antara terminologi ‘pekerja’ bukan ‘buruh’ sesuatu yang justru menjadi semakin kabur di tengah propaganda pecah-belah dari kapitalis. Hal ini dilakukan bukan untuk menyatakan bahwa rezim Suharto benar, tetapi karena terminologi ini memberi aspek penekanan pada kata ‘kerja’ itu sendiri semenjak seluruh kelas proletariat terikat dengan keharusan untuk ‘bekerja’ dan mengembalikan konteks dasar konsep Marxian bahwa kerja adalah bagian instrinsik dari perkembangan kehidupan manusia. Dan dengan penggunaan terminologi tersebut, saat di sini disebutkan tentang pekerja, maka yang dimaksudkan adalah seluruh proletariat, yang tentu saja bukan hanya sekedar pekerja industri kerah biru. Penggunaan terminologi PSK (pekerja seks komersial) yang digunakan dan dipopulerkan kebanyakan oleh para feminis untuk menggantikan terminologi WTS (wanita tuna susila) atau ‘pelacur’ adalah sebuah contoh yang baik tentang bagaimana mereka yang menjual seksualitas tubuhnya adalah juga bagian dari kelas pekerja atau proletariat; terminologi tersebut juga mulai mengubah paradigma umum bahwa hanya perempuanlah yang bekerja menjual seksualitas tubuhnya seperti dalam kata WTS yang begitu populer di tahun-tahun 1980-an. Kesadaran bahwa bahasa sangat berpengaruh dalam pembentukan proses kesadaran akan kelas, seharusnya mulai diperhatikan semenjak demagogi bahasa telah mendominasi mayoritas benak para pekerja kerah biru atas nama ‘budaya buruh’ atau ‘kultur proletariat’.

Dengan demikian juga, mengapa istilah proletariat menjadi penting. Karena ia mampu melampaui perdebatan antara mereka yang menganggap diri buruh, karyawan, pegawai, pekerja, dan mendefinisikan mereka semua dalam satu definisi: proletariat. Dan dengannya, maka May Day sudah selayaknya menjadi hari kita semua, hari di mana proletariat mengingatnya sebagai hari perang kelas, hari penentangan proletariat terhadap kerja-upahan, terhadap kapitalisme. Bukan hanya hari milik para Marxis dan pekerja industri kerah biru, melainkan juga pekerja kerah putih, pelajar dan mahasiswa, ibu rumah tangga, penganggur, pekerja jasa, dan siapapun juga yang merayakannya atas nama mereka sendiri, bukan lagi atas nama solidaritas terhadap pekerja industri kerah biru. Tapi atas nama diri kita sendiri, diri kita semua, demi solidaritas universal sesama proletariat, bukan hanya bagi kerah biru.

Tinjauan Pustaka

Dahrendorf, Ralf. 1986. Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Industri. Jakarta: CV. Rajawali.

Henslin, James M. 2007. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi. Jakarta: Erlangga.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kelas_sosial

http://reklamasimayday.multiply.com/journal/item/8

Kusumandaru, Ken Budha. 2004. Karl Marx, Revolusi, dan Sosialisme. Yogyakarta: Resist Book.

Ritzer, George. 2009. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Suseno, Franz Magnis. 2001. Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionerisme. Jakarta: PT. Gramedia.
[1] Junghegelianer, adalah kelompok mahasiswa yang memakai filsafat Hegel sebagai alat kritik terhadap kekolotan negara Prusia. (Sumber: Franz Magnis Suseno halaman 47).

[2] Baca Dahrendorf (1984) dalam bukunya “Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Industri”.

[3] Kelas buruh atau sering disebut Proletariat berasal dari revolusi industri… (yang mana) ditandai dengan ditemukannya mesin uap, berbagai mesin yang dapat berputar, perkakas tenun mekanik dan sederetan berbagai alat mekanik. Mesin-mesin ini, yang sangat mahal harganya dan yang dengan demikian hanya bisa dimiliki oleh para kapitalis besar, mentransformasikan corak produksi secara keseluruhan, dan menggantikan pekerja-pekerja pada masa tersebut, karena mesin-mesin tersebut mampu menghasilkan komoditi-komoditi yang lebih murah dan lebih baik daripada yang mampu diproduksi oleh para pekerja yang bekerja secara tidak efisien dengan menggunakan tangan. Mesin-mesin tersebut menempatkan keseluruhan industri ke tangan-tangan pada kapitalis besar dan membuat seluruh milik para pekerja menjadi tidak berguna. Hasilnya, para kapitalis dengan segera memiliki segalanya di tangan mereka dan tak ada yang tersisa bagi para pekerja. (Friederich Engels) dimabil dari :Henslin, James M. 2007. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi. Jakarta: Erlangga

[4] Diambil dari Suseno, Franz Magnis. 2001. Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionerisme. Jakarta: PT. Gramedia. Halaman 111-112.

[5] Istilah yang sering mendefinisikan kaum buruh yakni sebagai pekerja yang melakukan pekerjaan dengan tangannya atau mencari nafkah dengan tenaga fisik. (Sumber: pustaka.unpad.ac.id).

0 komentar:

Poskan Komentar