Antara Komunisme dan liberalisme, tentukan pilihan Anda!

♠ Posted by Aryni Ayu in at 20.24

-Day 2-
11 Juni 2011

Antara Komunisme dan Liberalisme, choose your choice! Ya, Itulah judul artikel yang saya buat di hari kedua ini. Tapi bukan Kid’s choice Award lho ya, tu tuh temennya Sponge Bob (Haha). Memang sedikit gila jika orang biasa seperti saya berani menuliskan ranah yang sensitive ini. I’m Just Ordinary girl, but I can change the world! Mungkin seorang Obama di seberang sana berkata “Hey Hillary Clinton, kayaknya ada yang ngarasani saya deh di Indonesia, aduh eke masuk inpotemen”, lalu Lenin yang jauh di dalam kuburnya sana berkata “Hey malaikat, berhenti dulu donk nyiksanya, perut saya mules nih, kayaknya saya juga digosipin deh di Indonesia”.
Jika di sebuah meja makan besar penuh dengan santapan lezat, beraneka ragam bentuknya hingga membuat seisi penghuni perut ingin segera memakannya, namun sayang hanya terbuat dari dua bahan baku saja,apakah Anda tetap berselera untuk menyantapnya? Ya tentu saja, No choises! Anda harus segera memakannya atau lebih memilih kelaparan dan pada akhirnya sakit. Of course, itulah analogi yang tepat untuk melukiskan bagaimana dua ideology yang berseberangan terhadir begitu saja di atas hamparan masyarakat dunia. Kita anggap saja komunis dan liberal sebagai bahan bakunya dengan bentuk – bentuk penerapan berbeda di setiap negara, dunia sebagai meja makannya, dan Anda sebagai pemilih. Jika Anda kelaparan maka makanlah salah satu dari mereka untuk mengenyangkan rakyat Anda, namun jika tidak ada pilihan apapun atau Anda lebih memilih untuk meracik sendiri bahan baku itu, percayalah bahwa apa yang Anda racik tersebut tidak akan cocok dengan lidah masyarakat internasional.
Di awal abad – 21, komunis beserta penciptanya (Uni Soviet) memang sudah terkubur didalam perpolitikan dunia internasional dengan Liberalisme tetap mengakar hingga sekarang. Namun embrio – embrio komunis tetap siap berkembang dalam rahim penerus terbesarnya, yakni Cina. Mungkin sebagian besar rakyat Indonesia melihat hanya dengan sebelah mata tentang keberadaan keduanya. “Kita sudah punya Ideologi Pancasila, Jauhkan Kapitalisme dari wajah masyarakat”, Bunuh semua bekas – bekas penganut PKI, dan Tegakkan Pancasila”. Ya kira – kira itulah statement dan suara – suara protes masyarakat. Padahal esensi dari Pancasila itu sendiri mereka masih terasa “alot” untuk melaksanakannya. Dari dulu hingga sekarang kalau saya boleh mengkritik, rakyat Indonesia itu sangat memang gampang sekali terlarut dalam berbagai isu! “Pokok’e Getno wez, pokok’e Unjuk rasa, mangan gak mangan pokok’e kumpul”, slogan – slogan yang digelontorkan oleh sebagian besar orang jawa saat ditanya alasan mereka melaksanakan berbagai protes. Tanpa memperhatikan dan memahami terlebih dahulu bagaimana esensi, siapa sih sebenarnya Komunis dan liberalis itu? Nah, hal – hal sepele semacam inilah yang juga akan saya bahas dalam tulisan ini dengan porsi secukupnya.
Komunisme sebenarnya terlahir dari cita – cita seorang atheis, Karl Marx yang sangat menginginkan sebuah keadaan masyarakat yang tanpa kelas, tanpa adanya diskriminasi dari pihak penguasa dan pihak terjajah, sama rasa dan sama rata, itulah Communist Society (Masyarakat Komunis). Tentu saja cita – cita ini menuai banyak kritikan, “Komunis itu Utopis”, begitulah banyak ilmuwan menyebutnya. Dalam artian bahwa terbentuknya masyarakat komunis hanyalah khayalan belaka dan tidak mungkin terjadi. Namun jangan salah, 100 tahun kemudian setelah kematian Karl Marx, Lenin (seorang pemimpin Uni Soviet) beserta peragkatnya mencoba mengadopsi ide ini. Akhirnya apa yang terjadi? Anda bisa melihat sendiri di pertengahan abad 20, komunis mulai merajalela ke hampir seluruh belahan dunia. Di Eropa Timur (tepatnya di Moscow), Asia Timur, dan Asia Tenggara. Bung Karno pun mencoba mencari celah diantara komunisme, sosialisme, dan kultur rakyat Indonesia sehingga terbentuklah paham Marhenisme (sebuah paham tentang perjuangan untuk semua rakyat jelata). Namun sayang paham tersebut tidak telalu populer di mata masyarakat Internasional. Jika dilihat dari terminology-nya sekali lagi, tujuan asli dari ideology Komunis adalah menginginkan sebuah bentuk masyarakat tanpa pembedaan strata sehingga tidak terlahir berbagai macam perbudakan, kepentingan – kepentingan individualis, kekayaan yang tidak boleh dimiliki oleh seorang saja layaknya para kapitalis, serta tidak adanya agama dalam masyarakat atau tanpa Tuhan. Ironisnya, penerapan ideology ini berjalan sangat kaku, pemberengusan ide – ide demokrasi, serta tertutup oleh kemajuan dunia luar. Bahkan dalam perkembangannya di tahun 1913, Lenin mengikrarkan bahwa komunisme harus berkuasa di seluruh belahan dunia. Pernyataan ini kemudian menjadi akar kecurigaan Amerika Serikat sebagai negara adidaya yang juga menginginkan penguasaan dunia berada dibawah benderanya, sehingga terlahir sabotase – sabotase dari kedua negara itu terhadap negara – negara yang lebih kecil untuk ikut serta dalam masing – masing kepentingan mereka.
Liberalisme, ya kita kaji paham yang kedua untuk mengimbangi dugaan – dugaan masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih terlarut dalam dangkalnya pemahaman tentang isme – isme terbesar di dunia ini. Di tahun 1800 – an, Amerika mulai tumbuh sebagai negara industrialis, negara yang pernah dijajah oleh Inggris dengan berbagai penghasilan di sana – sini. Dari Industri baja yang menghasilkan sebuah perusaahan besar bertaraf internasional “Rockefeller”, perkembangan pesat berbagai perkebunan teh dan kapas, sekolah – sekolah dan institute yang didirikan di masing - masing negara bagian Amerika Serikat, serta perbudakan juga tumbuh subur di daerah tersebut. Kesemuanya itu kemudian menjadi factor pendorong lahirnya sebuah negara Adidaya Amerika Serikat, tentu diikuti dengan sifat imperialis. Berdalih ingin membuka pencerahan bagi masa depan dunia, Amerika Serikat secara tidak langsung mulai mengintervensi negara – negara lain di bawah benderanya.
Lalu dimana letak liberalisnya? Ini semakin terlihat ketika kita mengamati tumbuhnya negara itu menjadi negara industrialis yang tentu modalnya dipegang oleh pihak – pihak berkuasa saja. Bahkan ketika mereka mengalami suatu Depresi Besar (Great Depression) di tahun 1930 – an. Perekonomian tidak stabil, harga barang – barang melonjak tinggi, inflasi besar – besaran, dan korupsi pun merajalela, persis seperti apa yang dialami Indonesia sekarang ini. Tapi bedanya, para elit Amerika segera memiliki gagasan, lagi – lagi tidak seperti elit – elit Indonesia yang bisanya hanya mencaplok sana – sini, kena radang payudara ketika terkait masalah korupsi, dan berpidato hanya untuk menanggapi sebuah pesan singkat yang sangat tidak penting bagi seorang pemimpin rakyat. Mereka, para elit Amerika, memerintahkan untuk membebaskan jenis – jenis barang yang dihasilkan oleh masyarakat. Mau seperti apa perdagangan yang diambil oleh rakyat Amerika, semuanya diberi kebebasan untuk mengembangkan berbagai kreativitasnya, guna meningkatkan perekonomian negara. Inilah Ideology Liberalisme yang mereka anut.
Kiranya telah cukup tentang essensi dari kedua –isme terbesar yang pernah hidup dan hidup sampai sekarang di dalam percaturan politik internasional. Ada yang lebih penting lagi sebenarnya disini, seandainya induk dari komunisme ini bangkit kembali, tentu bisa mengimbangi kekuatan liberilsme yang kini kian menjadi. Anda bisa melihat saat Perang Dingin di tahun 1950 terjadi, begitu dahsyatnya financial dan support yang mereka berikan kepada negara – negara yang baru merdeka dengan harus mengorbankan mayat – mayat rakyat yang tak sedikit jumlahnya. Di Korea dan Vietnam misalnya, di kedua territorial itu pernah tercatat dalam sejarah besar tentang perang saudara yang terjadi antara saudara – saudara mereka di bagian utara dan selatan. Amerika pernah mengalami kekalahan mutlak saat harus berhadapan dengan komunis di Vietnam. Gerakan dan taktik perang komunis yang cukup bagus diimbangi oleh perkembangan tekhnologi yang masih lebih unggul dibanding Amerika ternyata mampu meng-komuniskan Vietnam, RRC, dan Korea Utara. Sangat disayangkan mereka kalah diatas meja diplomasi, yang kita kita tahu bahwa kursi – kursi di PBB sebagian besar dibawah kendali Amerika.
Hingga detik nyatanya, kiblat dunia seakan – akan telah tertuju pada barat. Pergerakan perekonomian, bahkan kejadian bersejarah seperti WTC dihipotesis tidak terjadi secara kebetulan, semuanya diatur oleh para kapitalis. RRC, memang menyebut diri mereka sebagai komunis, tapi secara ekonomi, mereka adalah warga kapitalis. Begitu pun dengan negara lainnya termasuk Indonesia. Kapitalis adalah sarat politik. Berbagai bentuk ideology seperti pancasila bahkan, harus terbuka pada globalisasi (merupakan bentuk imperialisme modern para kapitalis) jika tidak ingin hancur seperti komunis. Satu – satunya –isme terbesar sekarang adalah Liberal, namun tidak menutup kemungkinan bahwa komunisme beserta peradaban Islam akan bangkit kembali di abad ini. Sekarang terserah pada Anda, pilih Komunis atau Liberal?Ingat, tidak ada ideologi yang benar - benar murni.

0 komentar:

Poskan Komentar