Apa Kabar Komunis Hari ini?

♠ Posted by Aryni Ayu in at 07.27
-Day 10-
19 Juni 2011


Apa Kabar Komunis Hari ini? How’s Life? masih hidup atau mati segan hidup tak mau?karena masyarakat penganut ideologi komunis hari ini lebih memilih kapitalis untuk menentukan arah perekonomian mereka. Sama seperti Lenin yang terbujur kaku di Museum Moseloum Lenin di Rusia, mungkin dia berkata “Hey, siapa yang berani majang aku di museum?keluarin..!aku pingin teriak di telinganya Obama, I kick your ass!!”haha (just kid ). Berbicara mengenai Lenin pasti identik dengan Ideologi Komunis yang sering didengung - dengungkannya di telinga public. Apa yang menjadi esensi Komunis hari ini sederhana saja sebenarnya, ingin menyamaratakan semua, sama rasa, sama kasta. Kalau semua disamakan ya modyar!kata orang Jawa sih begitu. Kemampuan orang tidak bisa disamaratakan Mamen, masa pengemis nantinya disamakan sama presiden?wah, penghinaan tuh :)

Jika di hari ini kita sangat HERI atau Heboh Sendiri, mengadakan berbagai forum pendapat mengenai derasnya arus globalisasi yang membuat berbagai dampak positif dan negative, kasus Libya, dan membicarakan tentang kerasnya hukum pemerintahan Arab Saudi hingga sukses memenggal kepala – kepala manusia sebanyak 28 orang dalam setahun. Serta heboh mengenai pemberitaan Nunun, seorang penipu buron yang hinggga kini entah berada dimana. Di Thailand, Vietnam, Kamboja tidak ada, ‘walau sampai keujung dunia..pasti akan kunanti..’begitu mungkin lagu yang sering dilantunkan oleh KPK bekerjasama dengan Kapolri saat memburu Nunun. Berbeda pula di tahun 1950-an, pemberitaan dunia tengah sibuk membicarakan perkembangan Komunis dan Liberal. Di Asia dan Eropa yang paling heboh mendiskusikan hal ini. Mana kira – kira yang akan hancur terlebih dahulu, Lenin atau Kennedy? Ya, memang sudah terjawab Lenin yang paling hancur disini. Raga boleh hancur, tapi jiwa masih tetap hidup. Itulah kiranya semboyan yang kontekstual untuk membicarakan Komunis. Hingga hari ini walau sudah tidak sesuci esensinya dulu, namun komunis tetap ada sepanjang di perjalanan historis dunia. Itulah yang akan menjadi kajian kita, bagaimana kabar komunis Hari ini?

Bagaikan menikmati hidangan diatas sebuah meja besar yang disana terdapat berbagai makanan. Tuan rumah menentukan bahwa diantara banyaknya hidangan itu harus ada 2 jenis hidangan yang wajib dimakan. Entah dua makanan tersebut cocok bagi perut para tamu tersebut atau tidak, yang terpenting mereka harus wajib memakannya. Ya, banyak hidangan yang dimaksudkan adalah ideologi – ideologi yang bertebaran di dunia. Ada Ideologi Liberal, Komunis, Feminisme, Otokrat, Marxisme, dan Pancasila. Anggap saja dua hidangan itu adalah Ideologi Komunis dan Liberal dengan tuan rumahnya Amerika Serikat dan Uni Soviet. Lalu siapa yang menjadi tamunya?tentu saja negara – negara di Eropa, dan Asia. Jadi, para tamu boleh mengambil hidangan yang lain namun tetap harus memakan dua hidangan wajib tersebut. Negara – negara penganut ideologi selain Liberal dan Komunis harus menerapkan salah satu dari dua ideologi ini di salah satu sisi bidang kehidupan mereka. Di satu sisi negara penganut komunis mulai membuka dirinya terhadap perdagangan bebas yang menjadi akar dari Liberalisme. Namun di sisi lain, banyak juga diantara negara penganut Liberalisme yang mulai atheis dengan tetap mengagungkan kebebasan setinggi – tingginya. Apakah hal ini juga yang dapat menyebabkan tenggelamnya Pancasila secara bertahap di zaman sekarang, isn’t it?

Masih penasaran dengan keadaan komunis hari ini? mari kita simak perjalanan komunis 61 tahun lalu saat perang Dingin sedang berlangsung. Di tahun 1917, Lenin mengumumkan bahwa dirinya akan berusaha semaksimal mungkin agar komunisme mampu menguasai sebagian besar belahan bumi Barat dan Timur. Tak Ayal jika ikrar ini nantinya menjadi akar konflik berkepanjangan antara Komunisme dan Liberal, antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. Namun disini kita tidak akan berbicara panjang lebar mengenai dua polisi besar itu, karena telah diulas dalam artikel sebelumnya. Yang menjadi pembicaraan kursial dalam hal ini adalah bagaimana kabar negara Korea Utara, Cina, dan Vietnam sebagai negara yang hingga kini paling fanatic menganut pengaruh Lenin ini.

Korea Utara, begitulah nama negara ini tanpa ada sebutan ‘republik’ didepannya. Berbeda dengan negara tetangganya yang ‘republik’ menempati urutan lebih tinggi tingkat stabilitas perekonomiannya jika dibandingkan dengan Korea Utara. Saya masih ingat ketika kedua negara ini belum terpecah akibat Perjanjian Jenewa. Mereka adalah orang – orang yang tegar kerena rela menjadi negara protektorat dibawah Cina dan Jepang. Kebudayaannya yang masih serumpun, serta persatuan disaat pelabuhan vital Port Arthur milik Korea diperebutkan oleh Jepang dan Rusia di tahun 1904. Rusia memang kalah dalam peperangan ini, bahkan dapat dianggap sebagai kejadian paling memalukan sepanjang sejarah Rusia. Namun jangan salah, Jepang lah yang kemudian mendapat giliran kekalahan ketika Rusia dengan berat hati harus bersatu dengan Amerika untuk mengalahkan Jepang. Dua musuh yang bersatu demi mengalahkan musuh yang lain, no sense! Tentu saja kedua musuh tersebut kemudian harus berpisah untuk mendirikan basis politik dan militer masing – masing. Amerika Serikat di Korea Selatan dan Uni Soviet di Korea Utara. Sangat beruntung Indonesia yang saat itu secara bersamaan juga didatangi oleh dua polisi dunia ini, tidak terpisah menjadi Indonesia bagian barat dan timur, atau menjadi Indonesia bagian Utara dan Selatan. Karena Tanah air kita punya Ideologi Pancasila sebagai penangkalnya. Hingga saat ini, keberadaan komunisme di Utara rupa – rupanya tetap berdiri kokoh, begitu pula Liberalisme di Selatan. Semakin memantapkan keduanya bahwa meskipun sekarang adalah abad modern, namun perbedaan ideologi diantara mereka tetap ada, dan konflik masih terus nerlanjut. Anda tahu saat media memberitakan bahwa Korea Utara menolak keinginan PBB untuk berunding dengan Korea Selatan akibat hubungan mereka yang semakin memanas akhir – akhir ini? Dapat dianalisis sangat mencerminkan sikap konservatif elit Korea Utara. Memang, Komunisme di Korea Utara hingga kini kabarnya masih tetap konservatif dan otoriter merujuk pada sikap induk mereka, Lenin.
Masih ada satu lagu negara komunisme yang begitu terkenal karena kemegahannya di masa Shih Huang Ti dan Dinasti Tang. Ingat artis boboho yang dulu sering mengisi perfilman tanah air dengan aktingnya yang begitu kocak dan mengundang tawa? Lalu dengan actor Jackie Chan yang tak kalah tenar dengan James Bond? ‘cik, harga barang ini satu berapa ya, yang itu juga berapa ya?’tanya pembeli Indonesia kepada seorang ‘tacik’, begitulah sebutan mereka di Indonesia. Ya, pasti kita akan teringat dengan negara Cina. Negara yang bergitu besar jumlah penduduknya, layaknya ‘baby bom’ saat mereka mengalami lonjakan penduduk yang begitu drastis dari tahun ke tahun. Jika kita pergi ke Eropa, Amerika, ataupun Australia, pasti kita akan bertemu dengan orang Cina.

Of course, Cina sebagai negara ber-ideologi Komunis memang sebuah negara besar pesaing Amerika sekarang. Bahkan riset membuktikan bahwa perekonomian mereka mencapai angka tertinggi pertama di Asia yang siap menenggelamkan perekonomian Amerika. Sebuah negara penguasa kapitalis kedua karena memang mereka seorang liberal saat harus berhubungan dengan perekonomian. Namun tetap berpegang teguh pada Komunisme saat harus berhadapan pada sebuah ideologi.

Well,apabila dianalisis sekali lagi, komunisme dalam frame hari ini, menjadi semakin utopis untuk tetap dianut oleh negara – negara di dunia. Pasalnya, gobalisme telah merebak semakin tinggi bukan hanya di kalangan pebisnis, bahkan dikalangan menengah ke bawah. Cina, Korea Utara, dan Vietnam, hanya satu dari negara – negara itu yang mampu bertahan dengan tetap meneterapkan Komunis sebagai ideologi mereka. Lainnya, sulit untuk berkembang dibawah kurungan dogmatis dan konservatif komunisme. Pemberengusan ide – ide, kepemimpinan otoriter persis seperti yang terjadi di timur tengah menjadikannya sebuah ideologi yang begitu kolot.

0 komentar:

Poskan Komentar