Kebangkitan Nasional Indonesia, Utopiskah sekarang?

♠ Posted by Aryni Ayu in at 08.24
-Day 4-
13 Juni 2011



That’s good, sudah di hari ke – 4 ini saya mencoba merangkai kata demi kata menjadi sebuah rel kereta api tanpa palang bahaya disana - sini, upz, salah!(Just kidd,,). Kebangkitan Nasional Indonesia, Utopiskah sekarang? pasti pemikiran anak – anak muda langsung tertuju pada UTOPIA. Tapi saya percaya bahwa kalian adalah anak muda yang prokatif proaktiv. Tentu Anda bisa merasakan kata – kata Utopis yang begitu sering kita dengar tapi kagak tau artinya?haha, tenang saja kawan! saya bukan mencemooh tapi ‘ngece’ dikit. Of course, itz time to critis!

Utopis! Ya, kata – kata itulah yang sering keluar dari pemikiran kritikus – kritikus Barat mengenai ide Karl Marx, sebuah Communist Society atau masyarakat komunis, mereka juga terbahak – bahak atas ide itu. Tapi disini kita tidak akan membahas tentang komunis, itu sih sudah saya bahas pada artikel sebelumnya. But right now, I have some new Idea, this is about Kebangkitan Nasional Indonesia, sebuah pergerakan yang kini tengah berada dalam keabstrakan di mata bangsanya.

Kebangkitan Nasional Indonesia, utopiskah sekarang? benarkah hal tersebut masih ada di hati setiap muda Indonesia? Hal inilah yang akan saya kaji disini sebagai sebuah bentuk keprihatinan atas kondisi bangsa Indonesia yang kian mengalami degradasi moral, meningkatnya hedonisme, dan berkurangnya nasionalisme. Utopis, ya itu adalah sebuah kata yang menggambarkan betapa khayalnya suatu pemikiran untuk sekedar diwujudkan dan diterapkan dalam masyarakat. Di tengah – tengah mencuatnya berbagai kasus korupsi, skandal penyuapan yang mendera di kalangan elit Indonesia, nasionalisme menjadi taruhannya. Tak ayal jika ada sekolah – sekolah di Karanganyar, Jawa Barat yang meneterapkan anti nasionalisme. Jangankan mengerti arti nasionalisme, Pancasila saja mereka tidak tahu. Bandingkan dengan Inggris yang senantiasa melaksanakan upacara nasionalisme mereka yang bahkan hampir setiap hari tak jemu – jemunya dilaksanakan oleh pihak pengelola pendidikan setempat. Goodness, para pemerhati berita hanya bisa menggeleng – gelengkan kepala melihat kasus yang begitu real tersebut. Mengapa harus terjadi di Indonesia? Apakah mereka tidak mengerti nilai – nilai sejarah peninggalan foundgathers Indonesia?

Of course, berbicara mengenai Kebangkitan Nasional Indonesia di zaman sekarang tentu tak lepas dari kajian sejarahnya. Bahkan tanpa sejarah, Indonesia bukanlah apa – apa, benar kan?
Berawal dari disetujuinya Ide dari ayah Douwess Dekker oleh Ratu Wihelmina (Ratu Belanda) untuk melaksanakan sebuah politik balas budi kepada Indonesia di akhir abad – 19 atas segala income yang telah disumbangkan kepada Belanda. Tahu sendiri bahwa mereka telah mengeruk banyak keuntungan dari Indonesia, infrastruktur Belanda modern ini pasti tak lepas dari keringat deras bangsa Indonesia. Maka lahirlah Politik Etis, sebuah politik yang ditujukan kepada Indonesia mencakup emigrasi, edukasi, dan imgrasi. Meskipun pada realnya politik yang diselenggarakan ini tentu lebih menguntungkan pihak penjajah, rupa – rupanya cukup menjadi senjata ampuh bangsa Indonesia untuk mewujudkan semangat nasionalismenya. Namun sebelum kita menelusuri sebuah kebangkitan nasional Indonesia yang sekarang tengah berada di titik utopis, tentu harus paham terlebih dahulu apa itu sebenarnya ‘nasionalisme’. Bennedict Anderson menjelaskan bahwa nasionalisme tak ayal merupakan sebongkah perasaan bangsa yang ingin merdeka, memiliki kedaulatan, dan memiliki batas territorial bagi negaranya. Di rentang tahun 1901 – 1915, inilah yang menjadi periodisasi kursial, sebuah kesempatan bangsa Indonesia terutama kaum pelajar untuk menyerapi arti penting dari nasionalisme seperti yang telah diungkapkan oleh Bennedict Anderson.

Jika di tahun 2011 para mahasiswa, elit serta rakyat tertarik untuk berbicara hal – hal yang berhubungan dengan globalisme, maka 200 tahun lalu, mahasiswa lulusan sekolah – sekolah Belanda (STOVIA) lebih tertarik untuk membicarakan nasionalisme. Sungguh merupakan pembicaraan yang kontekstual dengan perkembangan zaman. Dulu tentang Nasionalisme dan sekarang tentang Globalisme. Namun ada baiknya jika kedua hal tersebut bisa disinkronisasikan sebagai sebuah wadah cerdas untuk melawan ke – Utopisan sebuah nasionalisme. Karena tanpa nasionalisme, suatu bangsa akan hancur. Ya, kita tinggalkan dulu yang sekarang, mari kita kembali lagi pada sejarahnya. Di awal tahun 1900, Dr. Cipto Mangunkusumo mengajak serta kawan – kawannya yang lulusan STOVIA (sebuah sekolah dokter buatan Belanda) untuk mendengungkan suara – suara nasionalisme di kalangan rakyat. Agar rakyat yang begitu menderita atas lamanya penjajahan kaum colonial mau bersatu dan berjuang untuk memerdekakan bangsanya sendiri, duduk sejajar dengan negara – negara lainnya. Sama seperti Jepang yang mampu membuktikan kepada dunia bahwa dirinya berhasil mengalahkan Barat untuk yang pertama kalinya dalam perang Rusia – Jepang di tahun 1905. Fakta ini bahkan menjadi stimulator tumbuhnya semangat nasionalisme di negara – negara Asia bahwa Kolonialisasi Barat pasti bisa diruntuhkan termasuk di Indonesia. Tertanggal 20 Mei 1908, tiga tahun setelah Jepang menang dari Rusia, lahirlah Budi Utomo sebagai organisasi sekuler pertama kali yang berhasil didirikan oleh putra – putra Indonesia. Tak pernah terpikirkan di pihak Belanda bahwa kebijakannya menjadi bom atom bagi kedudukannya sendiri. Karena di tanggal inilah pergerakan nasionalisme Indonesia semakin mengakar hingga menimbulkan teriakan – teriakan pemberontakan yang lebih keras lagi di kalangan rakyat. Mereka semakin mengerti bagaimana seharusnya perjuangan kemerdekaan Indonesia harus diteruskan sepenuh jiwa bangsa.

Sekali lagi kita ucapkan tanggal 20 Mei 1908, bukan sembarang tanggal, hanya terjadi di Indonesia, bahkan lebih penting dari Hari Valentine yang tampaknya lebih fanatic dirayakan kaum muda dibanding Hari Kebangkitan Nasional. Apalagi setelah terciptanya sebuah ‘manifesto politik’ di tahun 1925 dan ‘sumpah pemuda’ di tahun 1928, persatuan Indoensia semakin bergelora. Kaum radikal (kaum pelajar) dan konservatif (Bung Karno, cs) pun semakin memainkan peranannya masing – masing untuk membawa rakyat kearah kemerdekaan sejati, bukan hadiah dari Belanda!
Berkat kebangkitan nasional yang terlahir dari rahim Budi Utomo, ditambah lagi dengan semangat rakyat sejak jaman kerajaan yang rupa – rupanya menentang keras adanya pembodoh – bodohan colonial selama ini, membuat mereka mampu mewujudkan sebuah Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di tanggal 17 Agustus 1945. Hingga mampu duduk sejajar dengan negara – negara merdeka lainnya. Kini tinggal kita sebagai generasi penerus bangsa yang seharusnya mampu mempertahankan kebangkitan nasionalisme di dalam diri masing – masing guna menyongsong Indonesia yang lebih maju. Jangan biarkan nasionalisme tenggelam dalam dengan utopisme globalisasi. Ingat, konstruksi nasinonalisme kita masih belum selesai!

0 komentar:

Poskan Komentar