Barat Bukan ‘apa – apa’ Tanpa Timur

♠ Posted by Aryni Ayu in at 08.05
-Day 12-
21 Juni 2011


Jika seseorang telah mampu menguasai kebudayaan negara lain, maka dia akan menjadi penguasa negara tersebut. Sama halnya dengan Barat yang mampu menguasai Kebudayaan Bangsa Timur, maka jatuhlah seluruh kekuasaan vital bangsa Timur di tangan Barat. Sungguh, Barat bukan apa – apa tanpa Timur!

Barat boleh bangga saat dirinya turun dari sebuah limosin mewah, menenteng berlusin - lusin i phone ditangannya serta berhiaskan sederet accesoris blink – blink yang berkilauan bak toko emas berjalan. Memakai baju tren mewah ala Lady Gaga, Katy Perry, Selena Gomez, Avril Lavigne, atau artis – artis Hollywood lainnya yang konon biayanya sangat fantastic. Jangankan berlian yang di Indonesia semata – mata hanya dipergunakan sebagai perhiasan. Di Hollywood, berlian sudah digerus sebagai pengkilap rambut dan wajah. Apalagi saat Barat berhasil mendominasi stabilitas perekonomian dunia dengan produk – produk mereka yang menggiurkan. Diantaranya ada perusahaan Coca Cola yang dimiliki oleh George A. David (Yunani), Jorma Ollila pemilik produk NOKIA (Finlandia), New York Times, Lore’al, Dunkin Donuts, KFC, HUGO, Microsoft, dan berbagai bahan – bahan konsumtif lainnya. Ya, semuanya memang surga dunia, serba menarik, dan gila - gilaan. Barat begitu cerdas, kreatif, dan inovatif dalam mengolah berbagai bahan baku menjadi sebuah karya bernilai jual tinggi.

Tentu menjadi pertanyaan besar disini, peradaban mana yang begitu indah hingga mampu menciptakan generasi yang sebegitu hebat seperti bangsa Barat? Bahkan timur pun harus ikut – ikutan menjadi sebuah Barat bagian kedua.

Sembari mengamati foto – foto Avril Lavigne yang dipajang di dinding kamar, memutar – mutar saluran radio layaknya seorang DJ yang sedang memainkan lagunya di sebuah pesta, tak lupa saya mengayun – ayunkan tangan untuk menghalau pasukan nyamuk yang berkeliaran seperti NATO yang sedang membombardir Libya. Pikiran saya terus berputar memikirkan sebuah judul untuk artikel hari ini. Ya, sebuah pemikiran yang Einstein banget (haha). Barat Bukan ‘apa – apa’ tanpa Timur! Mungkin orang – orang Barat berkata “Eh Lady Gaga, masa sih kita bukan apa – apa tanpa bangsa timur?anyway, orang timur kan pinter – pinter dulunya, kalender aja kita harus dibuatin orang Mesir. Apalagi hotel – hotel di A.S yang ala Yunani itu, kan kita dulunya copy paste dari bangsa Persia”. “Tau gak sih lo?Loe Gue,End (upz salah).hehe. “Eh iya bener Pak Obama, coba kalo timur gak ada, kita pasti gak kebagian sumber daya alamnya yang melimpah itu loh..”haha (just kid). Namun jika dipikir – piker memang faktanya seperti itu. Keberhasilan orang – orang Barat adalah utopis tanpa Peradaban Timur, isn’t it?

Peradaban Timur dan Barat telah menyatu dalam kerangka modern. Tak ayal jika banyak kebudayaan Barat diserap bahkan kini menjadi style bagi Kebudayaan Timur. Ditambah lagi dengan adanya tataran global ala liberal menyatakan bahwa negara – negara yang masih hidup dibawah bayang – bayang otoritarianisme dan aristocrat akan hancur berkeping – keping seperti komunis. Pasalnya, dengan tataran perekonomian yang telah begitu global di zaman sekarang negara – negara di berbagai belahan dunia akan saling bergantung antara satu dengan yang lainnya. Tak heran jika pengembangan ide gila yang mulai disahkan di tahun 2010 oleh Pemerintah Indonesia ini mengakibatkan banyak pengusaha lokal gulung tikar. Liberalisme dan kapitalisme yang sedang berkuasa saat ini adalah dasar bagi terciptanya Demokrasi.

Peradaban Timur yang dulu sangat kontekstual dengan keberadaan aristocrat dan kesukuan. Kini harus bertabrakan dengan demokrasi yang secara kontekstual politik sangat bertentangan dengan nilai – nilai luhur bangsa Timur. Alhasil, tsunami gejolak pun tak dapat dihindari di negara – negara pemegang Peradaban Timur. Anda lihat saat berita – berita di pertelevisian nasional ataupun internasional yang hingga sekarang masih gencar – gencarnya memberitakan tentang Suriah, Libya, dan Israel – Palestina. Bahkan Mesir sebagai pemegang terbesar Kebudayaan Timur ironis sekali perekonomian mereka masih jauh dibawah garis kemiskinan, ditambah lagi dengan lengsernya kepemimpinan negeri Fir’aun tersebut yang sekarang harus ditunggangi oleh sekelompok liberalis kawanan Amerika. Apakah ini balas budi mereka terhadap keluhuran Budaya Timur sebagai pemasok terbesar kebudayaan Barat? Tunggu dulu, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Coba kita periksa dari perjalanan sejarahnya, apakah benar West is impossible without East.

Saat peradaban di dunia ini baru saja terlepas dari masa prasejarahnya dengan periodisasi waktu yang berbeda – beda. Anda tahu apa yang dimaksud dengan periodisasi ini? Periodisasi itu mencakup rentang waktu yang dikelompok – kelompokan berdasarkan zamannya, seperti Indonesia yang memiliki periodisasi dari zaman Kuno (Hindu – Budha), Islam, dan Modern. Okey lanjut! Peradaban Mikena, Mesir, dan Persia adalah tiga peradaban pertama yang berhasil mengenal tulisan terlebih dahulu dari kebudayaan lainnya seperti Cina, India, Yunani, Romawi, Inca, Indian, Maya, dan Astec. Lain halnya dengan Asia Tenggara, mereka – mereka ini termasuk Indonesia baru mengenal tulisan atau memasuki zaman sejarah sejak Abad 5 Masehi setelah mereka dimasuki oleh Kebudayaan Cina dan India. Serta saat bangsa Yunani Kuno telah melahirkan beribu – ribu sastra, bangsa Indonesia dengan suksesnya baru mengenal tulisan. Sedikit fakta yang bisa kita analisis sebagai penyebab mengapa bangsa kita masih jauh tertinggal dengan Cina.

Bagaikan kereta api yang terus berjalan kedepan, Peradaban di Timur pun terus berkembang. Kita ambil sample Peradaban Mesir sebagai peradaban tertua di dunia. Saat Anda melihat Piramid Gyza, Sphinx, Obelisk secara langsung ataupun hanya dari pemberitaan. Hal ini cukup menjadi bukti sejak 10.000 tahun sebelum masehi, bangsa Mesir telah mampu menciptakan arsitektur yang sebegitu rumitnya dengan tekhnologi tinggi. Bahkan manusia sekarang masih tidak sanggup menyamai mahakarya tersebut. Tidak hanya itu, bahkan jauh sebelum manusia mengenal ilmu kedokteran, dan perbintangan, bangsa ini telah mahir memainkannya. Ya, sama persis kisahnya jika Anda melihat film berjudul The mummy, akan terlihat jelas seberapa tingginya Peradaban Mesir.
Dari Mesir kita menuju ke Persia sebagai peradaban Timur jauh. Disini, kebudayaan pun berkembang secara besar – besaran ditambah lagi dengan adanya bangsa Mikena yang turut terkontaminasi dengan peradaban Persia dan Mesir. Bangsa Mikena adalah sebuah bangsa kuat yang didalamnya diklaim oleh para arkeolog sebagai akar dari Peradaban Yunani. Awalnya, bangsa Yunani menyerang bangsa Mikena hingga hancur, dan kebudayaan yang mereka miliki seperti ukir – ukiran, serta arsitektur dibawa oleh bangsa Yunani. Sehingga di kemudian hari, jadilah sebuah Peradaban Yunani yang kini terkenal indah, agung, cerdas, dan bernilai artistic tinggi.

Aristoteles, Plato, patung – patung klasik ala Hellenistik, serta Illad dan Odesai, Anda Pernah mendengar istilah – istilah itu? Pasti pandangan Anda langsung tertuju pada kebudayaan Barat. Tapi secara historis bukanlah Barat seluruhnya, hanya ‘Yunani’ yang patut memegang erat pandangan dunia tersebut. Yunani dengan berbagai mahakaryanya menjadi akar bagi Peradaban Barat era Modern. Selain artistic, karyanya yang begitu mahalpun tertuang sebagai sebuah bentuk ‘demokrasi’. Karena ya, dari sinilah Demokrasi itu berasal, meski ironis peradaban yang terkontaminasi dengan peradaban Timur ini pun harus hancur akibat demokrasi. Mengapa sekarang para liberalis itu begitu mengagung – agungkan mahakarya yang memang sudah hancur sejak zaman Yunani Kuno ini?

Sekali lagi peradaban Yunani adalah akar dari Peradaban Barat yang telah dianalisis berdasarkan perjalanan historisnya, kebudayaan Yunani itupun tak lepas dari ide – ide cerdas Peradaban Timur. Tekhnologi, system pemerintahan, kedokteran, astronomi bahkan keagamaan yang sekarang begitu pesat berkembang di hemispire (belahan bumi Barat) berasal dari Dunia Timur.

Dulu, Peradaban Timur menjadi kiblat Dunia. Namun kini, Barat harus menggeser kiblat tersebut dengan keberadaan dirinya sebagai pusat Dunia. Jika seseorang telah mampu menguasai kebudayaan negara lain, maka dia akan menjadi penguasa negara tersebut. Sama halnya dengan Barat yang mampu menguasai Kebudayaan Bangsa Timur, maka jatuhlah seluruh kekuasaan vital bangsa Timur di tangan Barat. Sungguh, Barat bukan apa – apa tanpa Timur!

0 komentar:

Poskan Komentar