Jawa sebagai Penyumbang Terbesar Lahirnya NKRI

♠ Posted by Aryni Ayu in at 08.07
-Day 13-
22 Juni 2011


Karena ‘wong jowo’ sejak nasionalisme Indonesia belum terbentuk, bahkan saat menuju tangga terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, diantara mereka adalah orang – orang yang terlahir sebagai pemimpin.

Jawa, jika Anda melihat di layar televisi, layar lebar, ataupun dibalik layar warung kopi, pasti banyak sekali sinetron – sinetron dan film – film yang memakai istilah Jawa. Apalagi Box Office yang ada di salah satu tv swasta kita, sengaja menduplikat suara – suara para pemainnya memakai khas istilah – istilah Jawa ‘ngoko’. “Whats up brow” dalam bahasa Inggris bisa berganti nama menjadi “ya opo kabare cak?”, “Where is Brad Pitt”,menjadi “Nang endi si Brad Pitt iku?”. Artis Hollywood bisa jadi orang ‘ndeso’ juga ya ternyata.(Just Kid ). “ono opo? Opo ono? Ora popo”,begitulah saat Sule mencoba mengaplikasikan bahasa Jawanya di OVJ. Sontak saya langsung mengambil remote tv, mendrible-nya di lantai bak bola basket yang sedang dimainkan oleh Kobe Bryan, dan tertawa terbahak – bahak (hahaha). Inilah yang disebut ‘lucu’ dan ‘unik’, banyak orang – orang luar jawa yang men-jawa-kan dirinya. Karena Jawa secara historis, memang menjadi pusat kegiatan Indonesia bahkan sebelum Indonesia itu terbentuk.

Sebelum berpikir sedikit kritis, ataupun sok kritis, ya, lebih baik jika Anda mengikuti saya terlebih dahulu untuk memutar lagu wajib ala Avril sebelum kita memulai kegiatan ini. Pertama, mari kita buka lagu What the Hell by Avril Lavigne, Ke$ha with your love is my drug, Price Tag by Jessie J, and many more. Putar lagunya, dan keraskan! Come on, shake your body, lets be rockin! …All my live I’ve good but now…Ooow What the Hell..you save me baby..baby..! (Upz, ini potongan lagunya Avril). Ya, akhirnya saya menemukan ide dan berteriak keras, “Avril, orang Jawa itu Penyumbang Terbesar Lahirnya NKRI loh..!”

Great, back to critis! Meskipun tadi siang ada penggemar tulisan saya yang berkata bahwa tulisan saya ini dinilainya terlalu rumit dan meluas untuk dipahami khalayak umum. But ya, orang – orang Besar seperti Bung Karno sendiri bahkan lebih suka melakukan sesuatu yang rumit untuk memperoleh hasil yang lebih besar daripada hanya melakukan hal – hal sederhana yang tentunya menghasilkan sesuatu yang lebih sederhana pula. Suatu analogi yang tepat mungkin untuk berterima kasih kepada penggemar tulisan saya. Namun ada yang lebih penting disini, Anda tahu sejak kapan sebenarnya nama Indonesia itu sendiri mulai dikenal oleh rakyat? Untuk menjawab pertanyaan yang begitu jarang sekali terlontar oleh para mahasiswa yang bahkan senantiasa bercengkerama dengan ilmu Sejarah. Mari kita mencoba menganalisisnya melalui sederet perjalanan historis panjang bangsa Indonesia, dengan rakyat Jawa sebagai pusat terbentuknya kesadaran membangun sebuah NKRI.

Jawa secara tidak kita sadari memang sebagai penyumbang terbesar lahirnya NKRI. Dalam spectrum politik, jika seseorang ingin mengetahui dan memaknai secara luas bagaimana sebenarnya perpolitikan di Indonesia ini, maka para politisi itu harus sesegara mungkin mempelajari perpolitikan Jawa. Tanpa hal ini, para politisi yang berkeinginan sebagai pemimpin bahkan hanya akan jadi seorang yang adigang adigung alias hanya numpang tenar. Lihat saja sekarang banyak sekali diantara wakil – wakil rakyat kita yang duduk di kursi empuk volksrad (istilah dalam bahasa Belanda) atau di legislative hanya sok bersibuk – sibuk ria, naik mobil sana – sini bak artis Hollywood yang akan menghadiri sebuah acara penghargaan. Namun harus titip absen saat harus mendatangi sebuah rapat yang didalamnya bahkan terdapat berbagai inspirasi rakyat. Meski datang rapat juga, sebagian besar dari mereka mungkin hanya ikut duduk, mengobrol, mengantuk, atau sekedar mengotak – atik handphone, layaknya para siswa badung yang bosan mendengarkan gurunya berceramah di depan kelas. Begitulah yang tersiar di berbagai media pemberitaan. Banyak sudah pihak – pihak yang mengkritisi wakil – wakil rakyat itu, namun no sense, hanya sedikit yang mendengar. Padahal untuk berperan sebagai wakil rakyat, mereka harus bertingkah layaknya orang Jawa yang ‘njawani’ atau peduli terhadap rakyat. Karena wong jowo sejak nasionalisme Indonesia belum terbentuk, bahkan saat menuju tangga terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, diantara mereka adalah orang – orang yang terlahir sebagai pemimpin. Tanpa harus memandang sebelah mata peranan etnis – etnis lainnya. Untuk mengetahui realita yang sebenarnya bahwa orang Jawa sebagai penyuplai terbesar terbentuknya NKRI, mari kita pahami terlebih dahulu perjalanan sejarahnya.

Indonesia di masa kerajaan adalah bangsa yang masih tidak mengetahui siapa bangsa mereka sebenarnya, hanya sebuah fakta yang saat itu dapat dipercaya, bahwa mereka adalah orang – orang melayu yang berketurunan sama, berkulit coklat, dan berbahasa daerah plural. Hingga abad ke – 19, saat Kata “Indonesia” pertama kali digagas di tahun 1850 oleh salah seorang ahli etnografi Barat, E. Logan. Begitu pun saat para sarjana Barat mencoba memberi nama kepada sebuah gugusan kepulauan yang mencakup hingga kepulauan Formosa (Taiwan) itu (Indonesian’s), bangsa Indonesia pun bahkan masih terlelap dalam aristocrat kerajaan – kerajaannya. Tanpa mengetahui bahwa sebenarnya mereka tengah dibicarakan dan ditulis dalam jurnal – jurnal bangsa barat dalam sebuah nama “Indonesia”.

Saat kata “Indonesia” tengah dibicarakan di berbagai penulisan barat, bahkan saat berdiskusi, mereka tak segan – segan menyebut kata Indonesia secara berulang – ulang di hadapan pemerintahan barat untuk memberi penguatan terhadap penulisan mereka tentang gugusan kepulauan yang disebutnya sebagai Indonesia itu. Tentu secara politis, hal ini sangat dimanfaatkan oleh kaum kolonis yang memang sedang memperluas tanah jajahan untuk memenuhi Revolusi Industri mereka, tak terkecuali Belanda. Mereka yang saat itu memang sudah memberi nama Hindia – Belanda kepada Indonesia, mencoba merealisasikan nama ‘Indonesia’ itu dalam artian persatuan yang tidak terdiri dari banyak bendera. Maksudnya, kita tahu bahwa masa itu Indonesia masih tertanam kuat didalam hati mereka tentang structural kerajaan yang tentu saja membangkitkan masing – masing etnisitas mereka, seperti etnis Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan lain sebagainya. Dan inilah yang disebut Belanda sebagai ‘banyak bendera’. Sengaja mereka mengikrarkan hal tersebut agar seluruh Hindia Belanda tidak tunduk kepada orang Jawa, karena Jawa adalah pusat kehidupan rakyat di berbagai bidang dari perdagangan, social, etnis, hingga pemerintahan. Sejak zaman kerajaan layaknya Kerajaan Majapahit yang mampu menguasai wilayah setara dengan Hindia – Belanda hingga masa kolonis tiba, Jawa berperan besar dalam spectrum sendi – sendi kehidupan bangsa Indonesia. Bahkan para pembesar Cina, Arab, dan India tak segan – segan menjadikan Jawa sebagai satu – satunya negara yang dikenalnya besar diantara gugusan Hindia – Belanda.

Jika dikait – kaitkan dengan pembentukan NKRI, tentu peranan orang Jawa memasuki episode kedua. Tentunya saat Indonesia sedang memasuki zaman modern, dimana pembentukan sebuah negara Indonesia dimulai. Modernitas Jawa mulai terlahir disini.

Saat Ratu Wihelmina Belanda menyetujui sebuah Politik Etis yang didalamnya berupa politik balas budi mencakup emigrasi, irigasi, dan edukasi di awal abad 20 untuk membalas semua kontribusi yang telah diberikan oleh bangsa Indonesia kepada pemerintahan Belanda. Ya, kontribusi yang dimaksudkan tentu saja sumber daya alam dan sumber daya manusia yang diperas habis – habisan oleh panjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Tak ayal jika beberapa tahun kemudian gagasan tentang Politik Etis ini menjadi boomerang bagi Belanda.

Pendidikan ala Barat mulai diperkenalkan oleh bangsa Indonesia. Bahkan sebanyak dua puluh tiga pemuda – pemuda Indonesia yang sebagian besar berasal dari Jawa untuk pertama kalinya menempuh pendidikan tinggi ala Barat. Dari sinilah ide – ide untuk membentuk serangkaian tsunami nasionalisme untuk Indonesia tumbuh. Sebuah negara yang disebut Belanda sebagai negara jajahannya dalam julukan ‘Hindia Belanda’ kini secara politis harus kembali ketangan bangsa Indonesia. Maka berdirilah Budi Utomo di tahun 1908 yang didirikan oleh priyayi Jawa yang begitu ‘njawani’, berkharisma, cerdas dan mampu membawa putra – putri Indonesia lainnya untuk berjuang melawan penjajahan Belanda dalam satu kesatuan Indonesia, yakni Dr. Wahidin Sudirohusodo, adalah potret Jawa era modernitas. Tak heran jika nantinya muncul tokoh – tokoh yang sangat kita kenal sebagai golongan radikalis dan konservatif. Kaum radikalis yang berarti berisi kaum pelajar seperti Tan Malaka yang berasal dari etnis Sumatera, dan Bung Karno yang berasal dari etnis Jawa sebagai perwakilan dari golongan konservatif, yakni kaum yang setuju berdiplomasi dengan penjajah, berbeda dengan kaum radikalis.

Untuk plot selanjutnya, sebagian besar kegiatan dalam potret perjuangan bangsa Indonesia menuju tangga pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia dipusatkan di daerah Jawa. Pergerakan pemuda yang nasionalis pun pertama diisi oleh pemuda – pemudi jawa, tanpa memandang sebelah mata etnisitas plural lainnya. Wong Jowo dari sejarahnya telah membuktikan bahwa mereka selangkah lebih maju untuk memperjuangkan ide – ide Negara Kesatuan Republikk Indonesia. Maka jangan heran jika hingga sekarang orang – orang Jawa, dan kebudayaannya banyak diadaptasi tak hanya oleh masyarakat Indonesia melainkan juga masyarakat Internasional.

0 komentar:

Poskan Komentar