Tiga Republik dalam Satu Indonesia

♠ Posted by Aryni Ayu in at 07.42
-Day 9-
18 Juni 2011


Tiga Republik dalam satu Indonesia! Masa sih? Di Amerika saja tidak ada, yang ada hanya sebuah bentuk negara serikat. Apalagi di negara saya, republic saja tidak ada, maklum, numpang di tetangga sebelah, Palestina! Begitulah mungkin kata – ibu – ibu Amerika dan Israel saat bertemu ibu – ibu Indonesia di suatu dharma wanita (Just kid :)

Pagi ini di Metro ada kabar bahwa Angelina Jollie, sang artis Hollywood papan atas yang aduhai itu sedang mengunjungi kamp – kamp pengungsian di Turki. Ya, memang suatu pagi yang luar biasa ketika seorang artis Hollywood mendatangi tanah Arab. Lain halnya di Libya, negara tersebut malah mendapat santapan bombardir NATO di pagi hari. Alhasil rumah – rumah hancur dan warga pun berhamburan keluar. Heran saya mendengar dua berita tersebut, kenapa Angelina Jollie tidak sekalian saja berkunjung ke Libya?padahal kan tempat itu yang paling membutuhkan sentuhan perhatian dari seorang Duta Pengungsi PBB. Apa memang sudah ada scenario dari PBB supaya negara yang sedang berkonflik dengan Amerika tidak mendapat kunjungan dari artis Hollywood, isn’t it? Ditambah lagi hari ini warga Libya meminta PBB bertanggung jawab terhadap segala serangan kawan – kawannya.

Itulah tadi sekilas berita mancanegara yang sudah saya sampaikan, sekaligus sedikit mengkritisi dan kesal juga sebenarnya melihat tingkah orang – orang asing yang terus saja mengintervensi Timur Tengah tanpa ada penyelesaian masalah. Dengan tetap menghidupkan siaran televisi, yuk coba kita beralih ke berita dalam negeri. Hari ini ada berita tentang aksi demo mahasiswa di Jakart, mereka terlihat sedang membakar foto – foto Presiden SBY dalam unjuk rasanya. Mendingan bakar sate euy!bisa bikin perut sehat dan kuat (). Pada intinya mereka menilai bahwa SBY tidak tegas dalam memimpin Republik ini. Sebuah demonstrasi yang tampaknya memang real aspirasi dari rakyat dan jika saya boleh menilai, kepemimpinan SBY saat ini memang merosot di kalangan public. Ditambah lagi dengan adanya kesimpangsiuran isu di dalam partainya. Sekali lagi, Kejujuran masih menjadi krisis di Republik ini. Mana NKRI yang dulu diperjuangkan sebagai katalis suara rakyat saat Teks Proklamasi 17 Agustus 1945 diproklamirkan?

Sekali lagi tentang Indonesia, jujur sebagai generasi bangsa saya merasa sangat khawatir dengan nasib NKRI era hedonisme. Apa yang menjadi esensi pancasila sebagai pesan foundgathers kita untuk terus mengisi pembanguan bangsa Indonesia, telah luntur oleh derasnya arus globalisasi. Bung Karno pernah berkata “Jangan sampai kita menjadi pengemis bagi bangsa lain…” Nampaknya pesan ini menjadi terealisasi, riset menyatakan bahwa banyak sekali warga Indonesia yang tinggal di luar negeri untuk sekedar mencari segepok rupiah dan sesuap nasi. Jika untuk menjadi sosok yang begitu dihormati its alright, tapi jiak disana hanya untuk mendapat penyiksaan dari seorang majikan? Hingga artikel ini diturunkan, masih banyak diluar sana saudara – saudara kita setanah air yang masih harus mengalami ketidakadilan Hak Asasi Manusia akibat kurangnya ketegasan dari kaum elit, kebijaksanaan yang terealisasi dengan kepentingan – kepentingan tertentu, serta keruhnya kejujuran. Ironis sekali, tak seharusnya negeri yang pernah memiliki tiga republic dalam satu Indonesia ini mengalami penurunan kredibilitas identitas bangsanya.

Berbicara mengenai Indonesia, tahukah Anda jika Indonesia begitu istimewa dibanding dengan negara lainnya? Benar, Indonesia memang ‘istimewa’, negeri ini pernah memiliki 3 ke-Repubik-an dalam satu kesatuan bangsa. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera Barat, Republik Indonesia Serikat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tiga republik yang bervariasi itu adalah saksi perjuangan rakyat bersama para elit, antara militer dengan pro – diplomasi bersatu untuk mewujudkan sebuah negara merdeka yang tidak boleh ‘mati’ walaupun musuh menyerang. Tanpa kedua republik yang ada diawal kalimat tersebut, Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tenggelam dan putus dari tali proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Anda ingat saat bangsa Indonesia mengalami vacuum of power di bulan April 1945? Jepang yang saat itu sedang mengalami masa kehancuran saat dirinya kalah dalam Perang Dunia II, disusul dengan pembomborbadiran Hirosima dan Nagasaki di tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Nah disaat itulah para pejuang kita mengambil celah semaksimal mungkin untuk mengumandangkan kemerdekaan. Radio sebagai tekhnologi canggih, menjadi media bagi mereka untuk mengobarkan semangat rakyat melawan penjajahan dipimpin oleh Bung Tomo, Tan Malaka sebagai potret golongan radikalis, dan Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Agus Salim sebagai wakil golongan konservatif yang tentu pro – diplomasi. Memang tak jarang terjadi perdebatan masalah kemerdekaan diantara golongan konservatif dan radikalis. Tak ayal jika terjadi peristiwa Rengadengklok sebagai pelengkap perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Hingga pada tanggal 17 Agustus 1945 pagi, desakan kaum muda agar Presiden Soekarno untuk sesegera mungkin mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan dikabulkannya. Meski tentara Jepang tentu masih mencoba menghalang – halangi para pemuda di lapangan Ikada, namun perjuangan mereka terbayarkan sudah ketika Presiden Soekarno mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan pada pukul 12 siang di tanggal 17 Agustus 1945. Ingat, Upacara Kemerdekaan pertama bangsa Indonesia adalah awal negeri itu untuk menapaki masa Revolusi fisik, dan memerangi Neokolonialisme di era modern.

Masa Revolusi fisik sebagai bagian penting dari frame berubahnya NKRI menjadi bentuk PDRI dan RIS, adalah masa yang begitu kursial. Rentang waktu yang terjadi pasca 1945 ini adalah masa perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Melihat Indonesia merdeka menjadi negara bersatu, berdaulat, dan memiliki pemerintahan sendiri, membuat penjajah Belanda tidak bisa membiarkan begitu saja negara jajahannya lepas dari take control para kolonis. Maka dengan segera, Belanda mengibarkan dua Agresi bodohnya. What the hell is that? Belanda tidak menepati janjinya ketika Indonesia sudah berhasil menapaki tanah kemerdekaan. Diakhir tahun 1948, Agresi Militer Belanda II tak terelakan lagi, mereka menyerang Ibukota Jogjakarta sebagai Ibukota darurat. Tidak seperti pemimpin sekarang yang cenderung berpidato terlebih dahulu saat keadaan genting mendera bangsanya. Maka Bung Karno - Hatta memiliki inisiatif untuk mengirimkan sebuah telegram dengan isinya berbunyi, “Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah memulai serangan – nja atas Ibu-kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjiban-nja lagi, kami menegaskan kepada Mr. Sjafrudin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera.” Meski telegram ini tidak sampai ke Bukittinggi, namun Sjarifudin Prawiranegara memiliki inisiatif yang sama untuk mendirikan sebuah pemerintahan darurat somewhere in the jungle di Sumatera Barat. Beliau menjabat sebuah ketua yang setara dengan presiden. Inisiatif ini diambil demi mempertahankan eksistensitas Republik Indonesia, agar Indonesia tidak timbul tenggelam. Bayangkan jika tidak ada Sjarifudin Prawiranegara dan PDRI, maka RI akan mati suri.

Tidak gampang ternyata menenggelamkan Indonesia. Perhitungan Belanda salah besar jika agresi militer itu akan berhasil. Dalam plot selanjutnya, bagaikan sebuah Kristal mahal yang harus selalu dijaga agar tidak diambil oleh para pencuri. Maka itulah yang sedang terjadi pada bangsa Indonesia saat mereka baru saja merdeka. Para kolonis Belanda sebagai sekutu Amerika, begitu keluar sebagai pemenang Perang Dunia II. Maka, cita – cita mereka untuk segera menguasai Indonesia kembali di frame sedemikian rupa, direncanakan serapi – rapinya kedalam bentuk penjajahan yang lain direncanakan dibalik dalih perjanjian bodoh yang mereka sebut Roem – Royen. Dibawah bendera Konferensi Meja Bundar, Belanda memulai penjajahan mereka yang kedua. Hasil konferensi buatan Belanda ini diantaranya meneterapkan dan mengakui kemerdekaan Indonesia sebagai Negara Serikat bukan NKRI. Secara otomatis, Indonesia dibagi menjadi 16 negara bagian seperti Negara Bagian Indonesia Timur, Negara Bagian Sumatera Timur, Negara Bagian Republik Indonesia, dan lain sebagainya. Permasalahannya seperti ini, ketika Soekarno – Hatta menjabat sebagai presiden negara bagian Republik Indonesia. Maka terjadi kekosongan di dalam tubuh Negara Indonesia Serikat itu sendiri, dan dipilihlah Assa’at sebagai presiden Negara Indonesia Serikat. Indonesia saat bermetamorfosa menjadi sebuah bentuk Republik Indonesia Serikat maka, di masa itu pula rakyat Indonesia merasa dikecewakan. Pasalnya, ‘Serikat’ bukanlah aspirasi rakyat yang tertuang dalam teks proklamasi kemerdekaan NKRI. Beruntung negara – negara bagian itu secara bertahap tenggelam dan melebur didalam Negara Bagian Republik Indonesia. Menandakan bahwa NKRI telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Harus kita akui bahwa tokoh – tokoh kita terdahulu adalah orang – orang pemberani dan cerdas. Memframe Indonesia dalam potret Republik PDRI, Republik Indonesia Serikat, dan kembali lagi pada pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bayangkan jika PDRI tidak ada dan bentuk Republik Indonesia itu turut tenggelam seperti negara bagian lainnya, maka hancurlah NKRI sekarang.

0 komentar:

Poskan Komentar