Indonesia dibawah Hegemoni Patih Gajah Mada, Soekarno, dan Hedonisme

♠ Posted by Aryni Ayu in at 00.00
-Day 7-
16 Juni 2011


Indonesia tanah tanah airku, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh! Mengaku kita hancur, berbohong kita Maju! Majulah terus dengan kebohongan sampai kecemplung lubang kuburan baru tahu rasa kalian.(Haha). Kiranya slogan itulah yang cocok mewakili Indonesia angkatan ’45 dengan Indonesia Angkatan ‘Modern. Apapun esensii yang akan tertuang dalam artikel ini, tak lupa penulis mendengarkan lagu – lagu wajib sebelum menulis. Alright, Put your hands up guyz! Turn on the Lights, and shake your body with Ke$ha, Avril Lavigne, Linkin Park, Bruno Mars, and many more artist. Nah, biarkan music – music itu berputar memenuhi pikiran saya dan pikiran Anda, hingga tercetuslah judul artikel “Indonesia dibawah Hegemoni patih Gajah Mada, Soekarno, dan Hedonisme”.

Sekali lagi tentang Indonesia, whats wrong? Ya ber- wrong – wrong kasus yang terjadi diantara elit pemerintah dengan rakyat. Saya itu gak bersalah! Pemerintah aja tu yang gak becus nangkep tikus! Rakyatnya juga gampang banget kena pengalihan isu! Ayo bapak – bapak, ibu - ibu, usir anak yang kagak mau ngasih contekan ke anak – anak kita pas UAN! emangnya anak – anak kita enggak bego apa kalo gak dikasih contekan?(aduh pak bu, salah ngomong tuh kayaknya,). Ya, itulah sedikit kasus kemunafikan yang terjadi diantara elit dan masyarakat baru - baru ini di tanggal 16 Juni 2011. Enggak elitnya, enggak masyarakatnya ‘karepe dewe’!bahasa jawanya sih begitu. Benar – benar agak susah sekali memang mengandalkan kejujuran kita di negeri Kleptokrasi!

Serasa berada dalam kehangatan matahari yang begitu sejuk di pagi hari bila kita mengingat Indonesia dibawah hegemoni Majapahit, begitu pula saat Indonesia baru saja merdeka. Bagaikan hidup di siang hari yang terik dan panas saat konflik – konflik terjadi di masa penjajahan colonial menyelimuti Indonesia, dan bagaikan berada dalam dinginnya malam hari yang pekat saat harus merasakan gelapnya hati para pemimpin yang sudah terbius dalam lembah Hedonisme. Hanya orang – orang jujur Indonesia yang tidak bisa hidup di negeri sarangnya tikus – tikus kantor. Saat para koruptor itu tahu bahwa Indonesia bukanlah lagi negara kuat, yang ditakuti bahkan oleh presiden Amerika saat hegemoni Soekarno memimpin, sejak itu pula pemerintahan mengkerdil. Layaknya Bonsai yang hanya dipajang dalam pameran – pameran public. Pemerintahan kian menguat sebagai symbol belaka tanpa ada ketegasan didalam tubuhnya, benar kan? Lihat saja saat elit tak bertanggung jawab yang sedang asik – asiknya melakukan berbagai pelanggaran itu. Setelah tertangkap yah paling – paling hanya masuk hotel prodeo selama satu atau dua bulan saja. Mungkin khalayak umum berani taruhan bahwa hukuman mereka pasti tidak sesuai dengan masa penahanan yang seharusnya dilakukan. Sebut saja Gayus! Coba divoting, berapa banyak masyarakat yang tidak setuju jika hukuman yang dijatuhkan kepadanya hanya berlaku 7 tahun penjara dengan tingkat korupsi tinggi hingga menyeret para elit lainnya. Belum lagi jika nanti ada intrik – intrik plesiran seperti yang sudah banyak dilakukan oleh para pejabat pemerintahan. Memang terlalu berani untuk mengkritisi ranah sekontra ini. Namun apa salah jika seorang anak muda sebagai public pendengar transparansi pemerintahan yang khawatir terhadap masa depan bangsa, mencoba mengkritisi dan mengemukakan pendapatnya terkait kondisi negara yang begitu memprihatinkan. Menjadi pertanyaan besar, apa yang salah dengan Indonesia? Apakah Demokrasinya, is’nt it?

Bolehlah kita berutopis sedikit, andai saja Indonesia seperti Majapahit yang kuat secara maritim dan agraris hingga mampu menguasai hampir seluruh wilayah Asia Tenggara. Andai Indonesia juga tetap menjadi bangsa saat Era Kemerdekaan berlangsung dengan rasa nasionalisme yang tinggi dan disegani oleh negara – negara lain, bahkan menjadi sorotan yang patut diperhitungkan dalam percaturan politik internasional. Semua khayalan itu memang benar adanya hanya menjadi bagian sejarah dari kegemilangan masa lalu bangsa Indonesia. Namun tidak ada salahnya jika mulai detik ini kita sebagai bangsa mulai mengingat dan memahami Indonesia beserta sejarahnya ketika masih dibawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Presiden Soekarno. Bisa kita bandingkan dengan kepemimpinan Indonesia sekarang yang lebih mengagungkan Hedonisme.
Indonesia dibawah hegemoni Kerajaan Majapahit dan patih Gajah Mada, adalah sebuah negara yang kuat, besar, dan disegani oleh musuh – musuhnya. Adalah kerajaan besar di Indonesia yang bahkan kebesarannya terdengar hingga ke belahan Afrika. Di bawah bendera Majapahit, untuk pertama kalinya penduduk Indonesia mengerti akan bangsanya sendiri, di luar kepulauan – kepulauan luas yang mereka tinggali itu, adalah orang – orang serumpun dan pluralistic. Menjadi bukti bahwa Kesatuan Republik Indonesia memang sudah ada sejak Indonesia itu sendiri belum terbentuk menjadi sebuah negara (state).
“..suatu hari wilayah – wilayah di seluruh kertaning bumi harus tunduk dibawah penyatuan Majapahit…” Seperti itulah kira – kira inti dari sumpah Palapa yang disematkan oleh Mahapatih Gajah Mada saat dilantik sebagai patih amangkubumi di tahun 1334. Menurut Kitab Pararaton, Orang – orang yang berusaha melawan politiknya itu akan disingkirkan agar tidak menjadi batu bagi penyatuan wilayah di bawah bendera Majapahit. Apabila kita mencermati substansial ini tentu tak jauh beda dengan elit sekarang bahkan di zaman Soeharto yang tidak segan – segan melempar orang – orang yang berusaha menentang kekuasaannya. Namun bedanya, politik Gajah Mada ini masih terlepas dari intrik – intrik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Karena tujuannya hanya untuk perluasan wilayah bagi eksistensitas kerajaan dan rakyatnya dengan kepemimpinan tetap diserahkan kepada Hayam Wuruk. Tanpa harus berebut kekuasaan memakai kedok Demokrasi. Memang harus kita akui bahwa kemaharajaan zaman dahulu lebih menitikberatkan perluasan territorial dan militer agar kerajaannya dapat dipertimbangkan oleh musuh. Berbeda dengan sekarang, sebuah negara dapat diukur tingkat kedigdayaannya melalui bidang politik dan ekonomi. Namun kita tetap harus melihat bahwa hanya dengan berbekal aristokrasi kuno, kepemimpinan Majapahit mampu menguasai negara – negara yang sekarang disebut sebagai ASEAN. Ironis wilayah – wilayah itu kemudian mengecil saat Orde Modern memimpin. Bahkan harus kehilangan beberapa kepulaun seperti Lipadan dan Sigitan, akibat kelalaian elit dan ketidak pedulian rakyatnya. Lalu bagaimana dengan NKRI sekarang? Melalui system demokrasi, mampukah Indonesia mempertahankan citranya sebagai negara yang dulu begitu disegani oleh masyarakat internasional?

Coba kita melangkah sedikit ke belakang untuk mencermati satu kepemimpinan lagi yang begitu gemilang setelah beratus – ratus tahun yang lalu Kerajaan Majapahit telah menjadi sejarah di buku – buku sekolah. Sukarnoisme, siapa yang tak kenal dengan ideologi ini? Apakah ada kepemimpinan sekarang yang mampu merancang konstitusi baru seperti yang pernah diciptakan oleh para found fathers kita? Seperti Soekarno, Moh. Yamin, Moh. Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Soekarno adalah penggali Pancasila yang biasanya kita peringati setiap 1 Juni, Moh. Yamin seorang politikus, sejarawan, pembuat undang – undang, dan penyelenggara pendidikan. Moh. Hatta adalah pasangan diplomatic Soekarno, dan Ki Hajar Dewantara adalah pencetus Tut Wuri Handayani sebagai symbol pendidikan Indonesia yang pluralistik. Tebak saja, para elit sekarang enak, hanya tinggal meneruskan dan menikmati saja, begitu pula dengan rakyatnya. Ya, saat kita mencermati keadaan Indonesia dibawah hegemoni Bung Karno memang banyak mendapat sambutan riuh tak hanya oleh bangsa sendiri, namun juga oleh masyarakat internasional. Indonesia dipercaya menjadi pengawas politik saat beberapa negara – negara di Asia Tenggara sedang mencoba memperjuangkan kemerdekaannya. Soekarno sebagai pemimpin negara juga begitu disegani oleh negara – negara besar seperti Amerika. Pemimpin Vatikan bahkan pernah memberikan 3 kali penghargaan kepada presiden Soekarno, hingga menumbulkan iri hati pada pemimpin bangsa lainnya yang belum pernah mendapat penghargaan itu. Indonesia juga berhasil menjadi pendobrak Konferensi Asia Afrika yang hingga kini masih berdiri tegak dengan esesensi yang tentu kontekstual dengan perkembangan zaman.

Bandingkan dengan Orde Hedonisme yang sekarang sedang berkembang di kalangan elit dan rakyat. Indonesia bukan lagi dipimpin oleh figure seorang elit tapi bisa dianalisis bahwa rakyat sedang diperintah oleh Hegemoni Hedonisme. Sebagian besar wakil rakyat di rumah pemerintah bukan lagi menjabat berdasarkan titah aspirasi rakyat, namun lebih mengutamakan kepentingan – kepentingan semata (Hedois). Kejujuran bahkan menjadi suatu utopis disini. Benar – benar menjadi canvas hitam bagi generasi bangsa. Indonesia sekrang tak lagi seperti Kebesaran Hegemoni Majapahit dan Soekarno, ternyata semakin terisolir!


3 komentar:

wawasan.mu luas banget yo....
suangarrrr e

hehe,,apanya yg sangar?emng preman,,,
oyi mksH y,,lo da kritik smPein ja gpa2...:)

Bersatu! Merdeka! Indonesia akan selalu Jaya. Waktunya akan tiba dimana pemerintahan kotor dan korupsi akan dipangkas dari Negeri tercinta ini. Indonesia! . This is not yet the time :). Semua sudah dalam perencanaan yang sempurna :).

Poskan Komentar