Para Koruptor itu tak Ubahnya Penjajah Belanda

♠ Posted by Aryni Ayu in at 08.12
-Day 11-
20 Juni 2011



Rakyat sengaja ditenggelamkan kedalam pengalihan – pengalihan isu seraya elit – elit bermasalah tersebut menyusun taktik berikutnya untuk lebih mengeruk kekayaan negaranya tanpa perlu repot – repot lagi tentunya untuk memikirkan masa depan bangsa.

Para Koruptor itu tak Ubahnya Penjajah Belanda! Benar – benar segerombolan penjahat dari dua dimensi berbeda. Antara dimensi zaman edan atau era Hedonisme, sedang yang satunya berasal dari dimensi penjajahan colonial. Jika yang satu berkulit coklat kuning bahkan hitam, lain halnya dengan Kolonis Belanda yang berkulit putih tanpa harus ber-pedicure manicure ria didalam Hotel Prodeo. Itu tuh buih mewah yang khusus desain oleh sipir – sipir suapan para koruptor. Bahkan penjahat lainnya yang juga berprofesi kotor dalam pemerintahan turut meniru desain gila ini. Kenapa disebut gila? namanya saja zaman edan, ratu pandito ngawur, rakyat pun ngawur, benar kan?

Plok! Seraya meneplok nyamuk dengan buku – buku yang saya baca hari ini. Diantaranya ada yang membahas tentang kritik terhadap Globalisme dan Neoliberalisme, Demokratisasi, Dosa – dosa Orde baru, Menggugat Penguasa, lalu buku karangan R.E. Elson tentang The Idea Of Indonesia, serta buku yang pada intinya bercerita tentang Jawa yang diimplementasikan dengan kepemimpinan sekarang. Aha! Jamaah…! Oo Jamaah!haha, sorry, sekedar iklan. Itu tuh ceramah yang biasanya ada di Trans tv, kiainya Gokil plus agak lebay (). Great, Back to critis! Sembari mendengarkan Rihanna, Avril Lavigne, Jonas Brother yang biasanya diputar di radio kiss fm Jember, ya! Saya memutuskan untuk menulis tentang sejauh mana implementasi antara koruptor masa kini yang nampaknya sedang menjadi trend di kalangan elit Indonesia dengan para penjajah Belanda jaman dahulu. Pasalnya, keduanya sama – sama haus kekuasaan, uang, dan korupsi. Ya, tak jauh beda bagi mereka – mereka yang berprofesi sebagai Koruptor!

Dalam beranda modern, teori – teori koruptor didapat dengan mudah melalui demokrasi. Demokratisasi, ya! Koruptor, why not? Bagi mereka, Demokrasi adalah segala – galanya. Rakyat dan elit bebas untuk mewujudkan segala sesuatu sesuai keinginannya, yang penting Bebas dan damai! Itulah yang senantiasa didengung – dengungkan oleh Amerika pasca hancurnya Uni Soviet dan Jerman.

Fasisme nasionalisme Jerman kini telah hancur, begitu juga dengan Komunisme Uni Soviet. Tiada lagi sudah musuh – musuhnya yang menjadi batu untuk meliberalkan negara – negara di dunia hingga ke pelosok – pelosoknya. Bagi seorang liberal sederhana mungkin berpikir “tebas saja para pimpinan otoriter itu, agar demokrasi bisa berjalan.” Lain halnya bagi Liberal yang sedkit lebih canggih, mereka akan mempertimbangkan terlebih dahulu masalah stabilitas perekonomian suatu negara, budaya, rule of law, serta sejauh mana masyarakat pada akhirnya mau mendukung basis politik elitnya. Amerika adalah penganut paham yang kedua. Kenapa di artikel ini saya masih saja menyebutkan Amerika?karena Amerika merupakan sarat politik, agar – negara – negara di dunia bisa ikut dalam percaturan politik Internasional. Lihat saja sekarang Libya, sebagai contoh negara yang dianggap Obama membangkang kepada alat – alat pertahanan internasionalnya seperti PBB dan NATO. Otomatis, seluruh rantai perekonomian dan politik Libya ke seluruh dunia diblokir atas kehendak Kemaharajaan Obama. Begitu juga dengan Indonesia, seperti Amerika! suap – menyuap, bisik – bisik politik, melegalkan sesuatu yang illegal melalui cara – cara illegal mulai membudaya, isn’t it?

Koruptor dalam dimensi modern memang terkait dengan lengahnya Demokrasi sebagai ‘kado’ dari ‘polisi dunia’. Ya, memang saya orientasikan seperti itu agar pembaca bisa lebih mengerti bagaimana implementasinya dengan demokratisasi. Sekarang, coba kita lihat melalui dimensi sejarah, koruptor ini lebih pantas jika disandingkan dengan para ‘kompeni’ alias para penjajah Belanda di zaman Kolonial. Ingat saat guru – guru kita menerangkan tentang Perang Diponegoro? Perang Jawa? Dan VOC? Anda tahu apa yang sebenarnya pesan yang bisa diambil dari ketiga materi itu jika kita ambil sebagian kecilnya saja?

Di satu sisi memang harus kita akui para ‘kompeni’ ini berkontribusi besar dalam memajukan pendidikan Indonesia melaui Politik Etis – nya, karena dari sinilah menjadi Bumerang bagi Belanda karena nasionalisme Indonesia telah bangkit. Mereka juga berperan sebagai motivator pemikiran bangsa Indonesia bahwa antara Mikrokosmos (manusia) dan Makrokosmos (alam), antara pemerintahan dan agama harus dipisahkan secara jelas. Namun kita akan melihat sisi yang berbeda dari Belanda saat harus mamaknai Perang Diponegoro. Dalam perang ini menggambarkan kerakusan pihak Belanda yang sangat menginginkan perluasan kekuasaannya tanpa harus ada nasionalisme dari rakyat dan Pangeran Diponegoro. Perang Jawa, ini perang sangat besar dalam sejarah Indonesia, hingga banyak pengarang lokal dan Barat yang menulis tentangnya. Mereka menyimpulkan bahwa perang ini adalah katalis dari perang – perang sebelumnya termasuk Perang Diponegoro yang pada intinya tetap menunjukkan keinginan Belanda untuk menguasai wilayah Jawa secara total, berikut dengan taktik – taktik politiknya untuk mengelabui rakyat. Rakyat di masa Kerajaan Islam ini dikenai bermacam – macam pajak, diantaranya ada pajak pintu, pajak halaman, pajak umum yang wajib dikenakan bagi orang – orang yang memegang jabatan, serta pajak – pajak lainnya yang makin hari makin memberatkan. Namun ironis, hasil dari pajak – pajak yang dikenakan kepada rakyat itu nantinya digunakan Belanda untuk menutupi segala utang – piutangnya. Karena di masa itu juga mereka bangkrut akibat korupsi – korupsi yang dilakukan oleh pejabat – pejabat Belanda di VOC. Tanpa menafikan sejarahnya, tentu ini sangat mirip dengan para koruptor Indonesia versi Demokrasi hari ini.

Bagaikan Induk dan anaknya, sifatnya pun jatuh tak jauh berbeda. Sekali lagi, penjajah Belanda tak bosan – bosannya mengeruk kekayaan Indonesia. Dari awal kedatangan mereka yang menganggap dirinya sebagai ras yang jauh lebih berbudaya bila dibandingkan dengan negeri yang saat itu disebutnya Hindia Belanda. Mereka, para Hindia Belanda itu adalah orang – orang tidak berbudaya (savage). Ya, dari anggapan iinilah kemudian hegemoni kolonialisme mulai dibangun Belanda. Bermodal diplomasi dihadapan bangsa Indonesia yangsaat itu masih fanatic dengan kepercayaan animism dinamisme dan kepercayaan Jawa. Anda ingim tahu apa yang diperbuat Belanda dengan memanfaatkan kepercayaan masyarakat Indonesia ini? Para penjajah ini mulai membuat doktrin – doktrin asal. Mereka mengikrarkan mitos – mitos tentang Kanjeng Nyi Roro Kidul, yang kebanyakan orang sekarang menganggap bahwa kepercayaan ini asli mitos orang Jawa. Faktanya tidak, mitos ini sengaja dibuat Belanda untuk menurunkan minat rakyat terhadap pertahanan maritim. Pasalnya, apabila bangsa Indonesia memiliki niat untuk memperkuat pertahanannya di bidang maritim, maka hancurlah Belanda.
Ini akan sama saja jika kita melihat selangkah lebih maju tentang perkembangan berita – berita di televisi, apalagi jika bukan tentang Korupsi. Rakyat sengaja ditenggelamkan kedalam pengalihan – pengalihan isu seraya elit – elit bermasalah tersebut menyusun taktik berikutnya untuk lebih mengeruk kekayaan negaranya tanpa perlu repot – repot lagi tentunya untuk memikirkan masa depan rakyat. Bahkan saat Indonesia telah merdeka, di tahun 1947 Belanda masih mencoba menancapkan kekuasaannya kembali di Bumi Indonesia dengan bermacam dalih. Agresi militer, Perjanjian Roem – Royen hingga menjadikan negara Indonesia sebagai negara Federal layaknya Amerika, serta beragam taktik untuk merebut Irian Barat yang kaya akan sumber daya alam. Sekali lagi tak ubahnya seperti tikus – tikus kantor, meski kebobrokan mereka sudah terungkap di pengadilan, tapi masih saja bisa berkelit dengan membuka lubang disana – sini. Menuduh pihak sana – sini yang telah menjadi duplikatnya agar bisa memainkan aksinya kembali.

Antara Kolonialisme dan Neo-kolonialisme, antara penjajahan fisik dengan penjajahan mental. Menggunakan segala macam taktik politk dan bragam dalih demokrasi yang berlebel ‘warung kopi’ alias tidak berkualitas. Faktanya memang harus kita akui lebih sulit memberantas koruptor yang politik ‘grusa grusunya’ jauh lebih mantap jika dibandingkan dengan membasmi para penjajah Belanda yang saat itu masih aristokrat. Para Koruptor di masa ini dengan Kolonial Belanda di masa lalu memang seperti keluarga, layaknnya Bapak dan Anak!

0 komentar:

Poskan Komentar