Jeritan Timur Tengah Masih Belum Selesai

♠ Posted by Aryni Ayu in at 07.16
-Day 14-
23 Juni 2011


Tidak mungkin jika jeritan mereka hingga hari ini ditujukan hanya karena serangkaian kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat, melainkan hal ini menurut analisis saya lebih disebabkan karena ‘harga diri’ masyarakat Timur Tengah yang selama ini terinjak oleh bendera Kapitalis.

Ditemani suara gemuruh yang begitu dahsyat bak speaker masjid. Ah saya heran, cuaca cerah begini kok ada gemuruh sih. Eh, setelah dicari ternyata suara perut saya yang miscall minta dikasih makan, maklum Avril kalau habis konser emang begini nih (haha). Sembari menunggu pizza datang, saya mencoba mengklik remote teve untuk mencari – cari berita yang bagus. Dari tv A, B, hingga D, wah kenapa acaranya gossip semua nih. Cuma masalah artis pakai operasi plastic aja dibesar – besarin, orang – orang di Hollywood sih udah biasa pakai begituan, dasar udik! Aha, akhirnya saya menemukan sebuah berita menarik tentang Timur Tengah.

Hari ini di Metro diberitakan bahwa Amerika akan tetap konsisten untuk menarik 10.000 pasukannya dari Afganistan. Eh American Idiot (seperti lagunya Greenday), kenapa enggak daridulu aja? Bosen ya karena disana enggak ada barang – barang bukti yang kalian cari, atau karena sudah ada planning? tahun ini yuk kita gempur Afganistan, tahun berikutnya bagaimana kalau Irak, dan di tahun 2011 coba kita adu domba negara – negara kawasan Timur Tengah, Isn’t it?

Di Libya juga ada kabar bahwa Khadafi menuduh NATO telah banyak melukai warga sipil. Ah, kagak usah dituduh sih memang mereka sudah banyak sekali melukai warga sipil Libya. Lihat saja gerak – gerik mereka, kalau memang berlindung di balik HAM dan kemanusiaan, seharusnya mereka tak usahlah begitu menggebu – gebu untuk memborbardir wilayah yang bukan kekuasaannya. Khadafi saja dilarang mati – matian oleh PBB untuk membantai rakyatnya sendiri, kenapa kalian begitu bernafsu untuk melakukan pembantaian massal? Sangat disayangkan Hittler telah tiada, jika masih ada ya mungkin tinggal nama saja kalian di Timur Tengah. Di tahun 2011, sungguh jeritan di negara – negara kawasan Timur Tengah masih belum selesai. Ada peradaban Islam yang masih harus dibangkitkan, maka jangan salahkan mereka jika harus menghasilkan serangkaian kaum fundamentalis sebagai pihak – pihak yang kontra terhadap kawanan Amerika.

Jeritan Timur Tengah memang masih belum selesai! Lihat saja negara – negara Islam tersebut kini tengah didera berbagai penderitaan. Dihantam berbagai tsunami demokratisasi yang sangat bertentangan dengan cultural mereka. Di Israel yang sesungguhnya asal mengklaim saja tanah – tanah yang ada di Palestina, menjadi akar dari berbagai kompleksitas permasalahan di Timur Tengah. Apapun dalihnya, tetap tak mengurungkan niat para pengamat politik Timur Tengah untuk menetapkan Israel sebagai sekutu Amerika dan inilah yang menjadi sebab krusial mengapa permasalahan diantara mereka berdua tidak kunjung selesai. Padahal secara gamblang telah diberitakan di berbagai media Internasional bahwa Israel tak jarang menyerang Palestina, menyerang warga sipil, serta menghalangi – halangi berbagai bantuan kemanusiaan yang berasal dari masyarakat Internasional. Namun keadilan tetap tidak dapat ditegakkan oleh polisi dunia kita. Menjadi pertanyaan besar sekarang mengapa disaat Sudan, Mesir, Libya, Suriah, dan negara lainnya di Timur Tengah sedang bergejolak Israel tidak mencoba memborbardir Palestina? Apakah memang ada rencana negara – negara besar di balik itu semua? Perlu Anda ketahui secara tertutup, memang ada sebuah organisasi rahasia “Bilderberg” yang didalamnya berisi orang – orang besar dari berbagai negara Aliansi Eropa dan Amerika serikat. Mereka adalah pengendali stabilitas ekonomi, pemilik berbagai perusahaan besar dunia, elit – elit penting di suatu pemerintahan dan berperan sebagai penentu semua kebijakan dunia. Bahkan PBB, NATO ataupun CIA adalah manuver andalan mereka untuk melancarkan rencana – rencana besar demi menaklukan dunia dalam satu bendera kapitalis. Tak menutup kemungkinan bahwa peristiwa – peristiwa besar dalam kerangka gejolak Timur Tengah ada didalam kertas rencana Orde Satu Dunia sebuah organisasi Birlderberg.

Jika kita amati, lengsernya Ben Ali dari pemerintahan Sudan dengan cepatnya menjadi efek domino bagi negara – negara Timur Tengah lainnya. Mesir, Libya, dan Suriah, adalah negara yang terkena efek domino tersebut. Hingga sekarang bahkan rakyat mereka masih menjerit keras “bagaimana nasib pemerintahan kami? Kami tidak ingin berada dibawah bendera Kapitalis, dan juga tidak ingin ada dibawah rezim militant otoriter.”

Ya, pertanyaan yang sulit dijawab bahkan oleh seorang Obama sekalipun. Di satu sisi dirinya sangat berkeinginan besar Timur Tengah mampu menghirup udara Demokrasi dan kapitalis. Namun di sisi lain, para pengamat politik kini tengah mengeluarkan prediksi – prediksi mereka tentang gejolak yang di wilayah tersebut. Pasalnya, perlu diingat bahwa masyarakat di negara – negara Timur Tengah itu terdiri dari masyarakat Tribalis atau bersuku – suku. Sekali mereka dikenalkan pada sebuah demokrasi, tak menutup kemungkinan akan terjadi perang saudara antar suku tersebut. Lihat saja Irak sekarang, lengsernya pemimpin mereka delapan tahun silam bahkan tak membuahkan hasil yang bagus untuk masa depan Irak. Mereka terus mengalami perang saudara antara suku – suku yang berkuasa akibat tidak adanya Demokrasi yang seperti apa bentuknya agar kontekstual dengan pemerintahan mereka.

Memang patut dipertanyakan disini, mengapa jeritan rakyat Timur Tengah baru terjadi berpuluh tahun kemudian setelah negara mereka merdeka? Jika kita mencoba menganalisis dari perspektif historisnya, negara – negara Islam tersebut dulunya pernah berjaya saat rezim Ummayah berkuasa. Bahkan mereka adalah pemenang dari Perang Salib yang pada akhirnya berhasil mempermalukan pasukan Barat dibawah bendera Turki Ottoman. Kunci vital perdagangan juga dimiliki oleh peradaban Islam. Namun ironis kemenangan ini hanya bertahan sebentar seraya bangsa Barat dengan cepatnya menyusun kekuatan kembali untuk menguasai dunia yang dimulai sejak abad ke – 17 dan mengalami puncaknya di abad – 19 saat Amerika Serikat tumbuh sebagai negara adidaya.

Dari sinilah kemudian negara – negara Arab mulai diperintah oleh orang – orang yang sebagian besar adalah sekutu kapitalis. Meski sekarang Amerika sebagai polisi dunia berdalih untuk memerintahkan untuk menggeser rezim – rezim otoritarian itu. Namun secara terselubung, mungkin ini adalah rencana rahasia buatan Biilderberg. Di pertengahan abad – 19, dipilihlah rezim – rezim dictator oleh polisi dunia untuk membungkam suara – suara rakyat yang ingin mengekspresikan aspirasinya kepada pemerintah. Jangan bersuara apa – apa, bahkan tembok pun mendengar. Begitulah istilah yang sering diungkapkan pemuda – pemudi terpelajar saat mengungkapkan alasan mereka mengapa negara – negara itu baru berani berdemonstrasi menuntut gejolak yang lebih besar.

Tidak mungkin jika jeritan mereka hingga hari ini ditujukan hanya karena serangkaian kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat, melainkan hal ini menurut analisis saya lebih disebabkan karena ‘harga diri’ masyarakat Timur Tengah yang selama ini terinjak oleh bendera Kapitalis. Jeritan mereka tentu saja menanti kebangkitan kembali sebuah Peradaban Islam yang selama ini terkubur.

0 komentar:

Poskan Komentar